Tradisi Perang Pandan Tenganan Ditutup Megibung Tanpa Dendam

A A

Dua pemuda bertarung dengan ikatan pandan berduri dan tameng rotan dalam Perang Pandan di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. [Foto: Putu wijanatha/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Perang Pandan di Tenganan Pegringsingan dibaca para peneliti sebagai persembahan suci kepada Dewa Indra.
  • Para Daha membuat obat tradisional berbahan kunyit untuk merawat luka para peserta.
  • Megibung menutup rangkaian ritual sebagai tanda tidak ada sisa permusuhan ataupun dendam.
  • Kain gringsing yang dikenakan peserta disebut hanya diproduksi di Tenganan dan diyakini penolak bala.
  • Naskahnya tidak memaparkan keterbatasan penelitian dan hanya menyebut satu narasumber bernama.
Daftar Isi
  1. Tradisi Perang Pandan Dimulai Jauh Sebelum Pandan Diangkat
  2. Duri yang Melukai Sekaligus Menyucikan
  3. Megibung Menutup Arena dengan Lingkaran yang Setara
  4. Kain Gringsing, Selonding, dan Kisah Maya Denawa
  5. Satu Suara Bernama di Balik Banyak Kesimpulan

Tidak ada yang tampak rumit dari tradisi Perang Pandan, sebab yang terlihat hanyalah dua laki-laki saling menyerang dengan pandan berduri sambil menutupi tubuh dengan tameng anyaman rotan. Namun kesederhanaan itu justru yang dibantah lima peneliti yang menelaahnya di Desa Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem, Bali, karena menurut mereka di balik praktik yang tampak sederhana dan keras itu tersimpan lapisan makna yang sangat kompleks, dan pertarungannya sendiri bukan sekadar adu fisik melainkan persembahan suci kepada Dewa Indra.

Kelima peneliti itu adalah Ni Ketut Riska Dewi Prawita, I Wayan Putra Adi Subawa, Gede Sudha Cahyana, Gede Bagus Wira Diputra, dan I Gusti Agung Paramita, yang menuliskan kajiannya dalam artikel Tradisi Perang Pandan sebagai Ekspresi Religius, Simbolik, dan Sosial Masyarakat Bali Aga Tenganan di Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama & Kebudayaan volume 26 nomor 1 tahun 2026, halaman 35–44. Empat nama pertama tercantum berasal dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, sedangkan afiliasi nama kelima tidak dicantumkan terpisah di naskah.

Mereka menyebut tradisi yang dalam istilah lokal disebut mekare-kare ini sebagai salah satu warisan budaya Bali Aga yang sarat makna religius, simbolis, estetis, dan sosial, lalu menetapkan tiga tujuan, yaitu mendeskripsikan bentuk dan tahapan ritualnya, menganalisis makna simbolis yang terkandung di dalamnya, dan mengungkap perannya dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Tenganan, dengan Dewa Indra ditempatkan sebagai dewa perang yang dianggap pelindung dan pemberi kekuatan bagi masyarakat.

Jalannya pun mereka jelaskan. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, lokasinya ditentukan secara purposive di Desa Tenganan Pegringsingan karena desa itu dikenal mempertahankan tradisi Perang Pandan secara konsisten, dan datanya dikumpulkan lewat studi pustaka, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi visual, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan emik dan dibaca melalui kerangka teori interaksionisme simbolik dari Clifford Geertz.

Tradisi Perang Pandan Dimulai Jauh Sebelum Pandan Diangkat

Beberapa hari sebelum puncak acara, tulis kelima peneliti, masyarakat sudah menyiapkan banten, alat gamelan selonding, dan pandan yang akan dipakai sebagai senjata oleh peserta, sementara para Daha membuat obat tradisional berbahan dasar kunyit untuk merawat luka akibat goresan pandan. Persiapan itu dikerjakan krama desa adat, krama gumi, serta truna-daha Desa Adat Tenganan Pegringsingan, sehingga ritual ini sejak awal mereka gambarkan sebagai kegiatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, bukan urusan para petarung saja.

Urutan acaranya mereka ambil dari penuturan Yasa, seorang tokoh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan, yang menyebut pembukaan dengan doa oleh pemangku, lalu Tari Abuang atau Mabuang, baru kemudian peserta masuk ke arena secara berpasangan dengan pandan dan tameng rotan diiringi gamelan selonding. “Ini adalah simbol dari keberanian, pengendalian diri serta pengabdian tulus kepada Dewa dan Leluhur,” kata Yasa, sebagaimana dikutip para peneliti di halaman 38 naskah mereka.

Baca juga Ular di Halaman, Babi di Jalan: Kutukan Lontar Bali

Pada hari pelaksanaan, seluruh warga berkumpul di bale agung, yang disebut para peneliti sebagai pusat interaksi adat dan sosial desa, dan upacara dibuka dengan doa pemangku yang memohon restu kepada Dewa Indra dan para leluhur desa. Sesudahnya para Teruna Tenganan Pegringsingan berkumpul untuk ritual mabuang, meminum tuak secara simbolik, lalu tuak itu dikumpulkan dan dibuang di samping panggung utama sebagai bentuk persembahan, sebelum para pemuda memasuki arena.

Bagian intinya justru dituliskan paling singkat. Para pemuda bertanding berpasangan, masing-masing dibekali ikatan pandan berduri dan tameng rotan sebagai pelindung, dan pertarungan berlangsung singkat diiringi gamelan selonding yang menurut para peneliti menghadirkan suasana sakral dan heroik, serta sorakan semangat dari penonton, sementara di bagian lain naskah rangkaian acara disebut dimulai dengan prosesi ngelawang atau mengelilingi desa sebagai permohonan keselamatan kepada para dewa.

Duri yang Melukai Sekaligus Menyucikan

Di titik inilah tafsir para peneliti mulai bekerja. Daun pandan berduri, tulis mereka, dipakai sebagai simbol penolakan bala dan perlindungan dari kekuatan negatif, dan duri itu dipercaya sebagai sarana pembersihan energi negatif serta pengusir roh jahat, sehingga tradisi Perang Pandan mereka baca sebagai ritual pembersihan spiritual, yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Tenganan mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ke dalam ritual yang menggunakan fisik.

“Luka yang timbul dari sabetan pandan berduri bukan dipahami sebagai bentuk kekerasan, tetapi sebagai persembahan suci (yadnya),” tulis Ni Ketut Riska Dewi Prawita dan rekan-rekannya di bagian pendahuluan, halaman 36. Dari kalimat itu pula pandan berduri kemudian mereka sebut melambangkan sifat ganda kehidupan, melukai sekaligus menyucikan, dengan luka yang diterima secara sadar sebagai jalan pemurnian batin.

Tafsir itu mereka dorong lebih jauh ke tetesan darah. Dalam kepercayaan masyarakat Tenganan, menurut naskah ini, darah yang jatuh ke tanah dipandang sebagai persembahan yang mampu menyuburkan bumi sekaligus menolak bala, dan penerimaan rasa sakit dengan penuh kesadaran dapat dipandang sebagai tapasya, latihan rohani untuk meneguhkan pengendalian diri, sehingga darah itu dibaca bukan sekadar hasil luka, melainkan tanda yang menghubungkan manusia dengan alam dan kekuatan ilahi.

Dari sana para peneliti menautkannya dengan konsep Tri Hita Karana, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Perang Pandan mereka sebut latihan keberanian kolektif, tempat para Teruna menunjukkan kesiapan melindungi desa, adat, dan dharma, bukan melalui kekerasan destruktif, melainkan melalui simbol perjuangan yang terkendali, jujur, dan ritualistik.

Megibung Menutup Arena dengan Lingkaran yang Setara

Para peserta, akui para peneliti, tidak dapat terhindar dari luka-luka yang ditimbulkan sabetan pandan berduri, sehingga obat tradisional berbahan kunyit buatan para Daha menjadi bagian dari rangkaian itu. Setelah ritual selesai, tulis mereka, peserta saling membantu membersihkan luka dan melakukan upacara penutupan dengan penuh kekeluargaan, lalu rangkaian berlanjut ke megibung, tradisi makan bersama yang diikuti peserta, keluarga, warga desa lainnya, Daha maupun Teruna, dalam satu lingkaran kebersamaan.

“Tradisi makan bersama ini menegaskan bahwa meski sebelumnya warga saling berhadapan di arena pertarungan, tidak ada sisa permusuhan ataupun dendam yang tersisa di antara mereka,” tulis kelima peneliti di halaman 38. Dalam pembacaan mereka, tradisi Perang Pandan dan megibung tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi, dan sesudah pertarungan semua kembali setara, duduk bersama dalam lingkaran kebersamaan, menikmati hidangan yang sama.

Detail motif kain geringsing wayang, kain upacara bermotif figur mitologis koleksi LACMA
Detail motif kain geringsing wayang, kain upacara bermotif figur mitologis koleksi LACMA. [Foto: Wikimedia Commons (Domain Publik)]

Fungsi sosial itu mereka perkuat dengan hasil wawancara bersama tokoh adat, yang menyebut ritual ini sebagai momen strategis untuk mempererat ikatan antarkeluarga serta kelompok banjar di dalam desa. Warga juga menyampaikan bahwa Perang Pandan berfungsi sebagai ajang penyelesaian konflik secara simbolis, karena kekerasan yang muncul bersifat terbatas dan terkendali, sehingga menurut naskah tidak menimbulkan luka serius ataupun permusuhan berkepanjangan, dan ketegangan antarindividu atau kelompok dapat disalurkan melalui aturan adat yang ketat.

Baca juga Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng

Kain Gringsing, Selonding, dan Kisah Maya Denawa

Simbol lain yang mereka urai adalah kain tenun gringsing yang dikenakan para peserta, yang menurut naskah ini hanya diproduksi di Tenganan dan diyakini memiliki kekuatan magis penolak bala, sehingga dengan mengenakannya masyarakat memperlihatkan identitas mereka sebagai Bali Aga yang berbeda dari komunitas lain di Bali. Gamelan selonding, yang hanya dimainkan dalam konteks sakral, mereka sebut sebagai penguat suasana ritual yang menyatukan masyarakat dalam kebersamaan spiritual.

Namun tradisi Perang Pandan, dalam pembacaan kelima peneliti, tidak hanya hidup di arena. Seluruh warga, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa, disebut memiliki peran, dengan para pemuda sebagai peserta utama pertarungan, generasi yang lebih tua menyiapkan perlengkapan, doa, dan ramuan penyembuh luka, sementara anak-anak dilibatkan secara tidak langsung dengan menyaksikan, belajar, lalu menginternalisasi nilai yang ditampilkan, sehingga pewarisan berlangsung melalui pengalaman, bukan sekadar tuturan lisan.

Pewarisan itu juga mereka kaitkan dengan upacara metruna, tahapan penting dalam perjalanan hidup seorang pemuda Tenganan yang memperkenalkan generasi muda pada nilai adat, filosofi hidup, dan makna simbolik Perang Pandan. Akarnya sendiri mereka tarik ke kisah mitologis Dewa Indra yang berperang melawan Raja Maya Denawa, penguasa yang menolak pemujaan kepada dewa-dewa Hindu, dan dengan merepresentasikan kisah itu masyarakat Tenganan disebut mengenang sejarah leluhur sekaligus menginternalisasi nilai keberanian dan pengorbanan.

Di situlah pula para peneliti menaruh soal wisata. Masyarakat, tulis mereka, menampilkan ritual ini kepada dunia luar dengan penuh kebanggaan, bukan hanya sebagai tontonan, dan pelaksanaannya setiap tahun tanpa terputus mereka baca sebagai bentuk resistensi terhadap pengaruh eksternal. “Dalam konteks globalisasi, peran ganda ini menjadi sangat penting, karena melalui ritual tersebut, masyarakat lokal dapat mengontrol narasi tentang budaya mereka sendiri, bukan sekadar menjadi objek konsumsi wisata,” tulis mereka di halaman 41.

Satu Suara Bernama di Balik Banyak Kesimpulan

Keterbatasan penelitian tidak dipaparkan kelima penulisnya di bagian mana pun naskah, termasuk di penutup yang hanya berisi simpulan. Naskah itu juga tidak menyebut kapan pengumpulan data dilakukan, berapa informan yang diwawancarai, ataupun tanggal dan bulan pelaksanaan tradisi Perang Pandan yang diamati, dan dari seluruh tuturan lapangan hanya Yasa yang disebut namanya, sementara pernyataan tokoh adat dan warga lainnya dilaporkan tanpa nama.

Beberapa ketidakcocokan juga terbaca langsung di naskahnya. Bagian metode menyebut wawancara semi-terstruktur, tetapi pembahasan menyebut hasil wawancara mendalam dengan tokoh adat; satu paragraf menulis rangkaian acara dimulai dengan prosesi ngelawang, sedangkan urutan yang dituturkan Yasa dan paragraf sesudahnya menulis upacara dibuka dengan doa pemangku, tanpa penjelasan bagaimana kedua keterangan itu berurutan; dan aturan adat yang ketat disebut sebagai pengelola ketegangan tanpa dirinci isinya.

Baca juga Makam Tionghoa Bali dan Nisan Tertua Tahun 1838

Kesimpulan kelima peneliti tetap tegas, bahwa tradisi Perang Pandan adalah sistem hidup yang terus direproduksi dan diwariskan lintas generasi. Yang tidak mereka jawab adalah hal yang paling menentukan bagi klaim itu: jika kekerasannya disebut terbatas dan terkendali oleh aturan adat yang ketat, siapa di Tenganan Pegringsingan yang menetapkan batas itu, dan bagaimana batas tersebut dijaga ketika pertarungan berlangsung?

Bagikan

Baca Juga

Suku Nuaulu Mengantar Jenazah ke Kampung Orang Mati di Hutan
Kinerja Pertumbuhan Ekonomi Bali Berbalik Arah Usai Pandemi
Kesejahteraan Nelayan Gerokgak Paling Dipengaruhi Modal Sosial
Bumi Minangkabau Festival 2026 Digelar Empat Hari di Batusangkar
Suku Togutil Keluar dari Hutan setelah Dakwah Sejak 1984
Kutu Putih Singkong Bali, Empat Jenis di Sembilan Wilayah