- Empat jenis kutu putih ditemukan pada singkong di sembilan wilayah Bali dan tercatat di seluruh kabupaten yang disurvei.
- Dominansi keseluruhan tertinggi dipegang Paracoccus marginatus 46,23 persen, disusul Phenacoccus manihoti 45,72 persen di Denpasar.
- Seluruh 225 batang singkong diamati pada tiga lapisan tajuk, yaitu daun atas, daun tengah, dan daun bawah.
- Keempat jenis menunjukkan pola sebaran acak dari ketinggian 9 meter di Jembrana sampai 973 meter di Badung.
- Bagian hasil menulis indeks keanekaragaman terendah 0,66 di Badung, sedangkan tabelnya mencatat 0,73 di Bangli.
Daftar Isi
Cekricek.id — Daun singkong yang berjelaga hitam mudah dikira kena penyakit jamur belaka. Jelaga itu tumbuh di atas embun madu yang ditinggalkan kutu putih singkong.
Embun madu tersebut memicu tumbuhnya jelaga dan menurunkan efisiensi fotosintesis. Kerusakan lainnya datang dari isapan cairan tanaman dan racun yang disuntikkan serangga itu.
Kerugian hasil pada serangan berat disebut mencapai 30 sampai 50 persen. Kutu putih karena itu dianggap faktor pembatas utama produksi singkong di Indonesia.
Made Mika Mega Astuthi, Dicky Marsadi, dan I Wayan Dirgayana memetakan serangga itu di Bali. Astuthi dan Dirgayana dari Program Studi Agroteknologi, Universitas Dwijendra.
Dicky Marsadi berasal dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana. Made Mika Mega Astuthi bertindak sebagai penulis korespondensi.
Naskah berjudul Community Structure and Spatial Distribution of Mealybugs on Cassava Plants in Bali, Indonesia terbit di JPT: Jurnal Proteksi Tanaman. Penerbitnya Universitas Andalas.
Laporan itu mengisi Volume 9 Nomor 2 tahun 2025, halaman 83 sampai 94. Redaksi menerima naskahnya pada 25 September 2025.
Versi revisi pertama masuk 30 November 2025, lalu naskah diterima pada 26 Desember 2025. Penerbitannya jatuh pada 31 Desember 2025.
Empat Jenis dari 225 Batang Singkong
Pengambilan contoh dikerjakan di kebun singkong milik petani. Lokasinya tersebar di Jembrana, Tabanan, Buleleng, Badung, Denpasar, Gianyar, Bangli, Klungkung, dan Karangasem.
Kegiatan lapangan berlangsung dari Juni sampai September 2025. Naskah menyebut kesembilan wilayah itu sebagai kabupaten tempat singkong ditanam di Bali.
Penentuan lokasi memakai metode diagonal agar tiap kebun terwakili. Di tiap kabupaten dibuat lima unit contoh.
Tiap unit contoh diwakili lima batang singkong yang dipilih secara sengaja. Dasar pemilihannya adalah adanya serangan kutu putih pada tanaman tersebut.
Pada tiap batang diamati daun dari tiga lapisan tajuk. Lapisan itu meliputi daun atas, daun tengah, dan daun bawah.
Pengambilan berlapis itu dipakai untuk menangkap sebaran kutu putih secara tegak di dalam tajuk. Seluruhnya 225 batang singkong diamati di Provinsi Bali.
Baca juga Kutu Putih Pepaya dan Lapisan Lilin yang Menahan Racun
Pengambilan contoh dilakukan satu kali di tiap lokasi selama masa penelitian. Daun yang terkumpul dimasukkan ke kantong plastik berlabel lokasi dan ketinggian tempat.
Contoh itu lalu dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Penentuan jenis dikerjakan sampai tingkat spesies.
Kunci identifikasi morfologi susunan Williams dan Granara de Willink pada 1992 dipakai sebagai acuan. Penulis yang sama mencatat setidaknya 19 jenis kutu putih pada singkong di Amerika Selatan.
Hasilnya, empat jenis kutu putih ditemukan pada singkong di Bali. Keempatnya Phenacoccus manihoti, Paracoccus marginatus, Ferrisia virgata, dan Pseudococcus jackbeardsleyi.
Keempat jenis itu tercatat di seluruh kabupaten yang disurvei. Tidak ada wilayah yang hanya dihuni sebagian jenis saja.
Karangasem dan Denpasar Menampilkan Dua Wajah
Dua jenis mendominasi hampir seluruh lokasi pengamatan. Keduanya Paracoccus marginatus dan Phenacoccus manihoti.
Dominansi keseluruhan tertinggi dipegang Paracoccus marginatus dengan 46,23 persen. Kelimpahan nisbi tertingginya tercatat di Karangasem.
Phenacoccus manihoti menyusul dengan 45,72 persen. Kelimpahan nisbi tertingginya tercatat di Denpasar.
Dua jenis sisanya muncul dengan proporsi rendah yang konsisten. Ferrisia virgata dan Pseudococcus jackbeardsleyi selalu di bawah 10 persen di semua lokasi.
Kedua jenis itu dinilai kalah bersaing dibanding jenis dominan. Meski demikian keduanya tetap dipandang penting sebagai penunjuk ragam komunitas.
Paracoccus marginatus dikenal sebagai hama invasif dengan daya kembang biak tinggi. Inangnya pun luas, sedangkan Phenacoccus manihoti disebut tumbuh subur pada sistem tanam yang seragam.
Kelimpahan tinggi Phenacoccus manihoti di Denpasar dan Gianyar dikaitkan dengan praktik budidaya singkong yang intensif. Pola tanam di dua wilayah itu relatif seragam.
Paracoccus marginatus justru menonjol di Karangasem. Penulisnya mengaitkan hal itu dengan ragam tanaman inang yang lebih besar dan agroekosistem yang lebih beragam.
Perbedaan pola dominansi antarkabupaten dinilai dipengaruhi kondisi lingkungan setempat. Ciri agroekosistem disebut ikut menentukan jenis mana yang mengemuka.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
Kekayaan Jenis Rendah dan Nyaris Seragam
Kekayaan jenis dihitung memakai indeks Margalef. Jumlah jenis di semua lokasi sama, yaitu empat.
Yang berbeda adalah jumlah individu yang terkumpul di tiap lokasi. Rentangnya 2.264 sampai 3.496 individu.
Jumlah terbanyak tercatat di Bangli dengan 3.496 individu. Jumlah paling sedikit tercatat di Buleleng dengan 2.264 individu.
Denpasar mencatat 3.048 individu dan Gianyar 2.893 individu. Badung mencatat 2.841 individu, sedangkan Karangasem 2.741 individu.
Tabanan mencatat 2.490 individu, Klungkung 2.476 individu, dan Jembrana 2.338 individu. Selisih jumlah itu yang menggerakkan nilai indeks kekayaan jenisnya.
Nilai indeks Margalef hanya berbeda tipis antarlokasi, yaitu 0,368 sampai 0,388. Nilai tertinggi di Buleleng dan terendah di Bangli.
Wilayah dengan jumlah individu lebih sedikit justru bernilai indeks lebih tinggi. Pola itu sejalan dengan sifat indeks Margalef yang peka pada nisbah jumlah jenis dan logaritma jumlah individu.
Seluruh nilai indeks berada di bawah 2,5. Dalam kriteria yang dipakai naskah, angka tersebut masuk kategori kekayaan jenis yang buruk.
Kekayaan jenis yang terbatas itu dikaitkan dengan keseragaman agroekosistem. Jenis tanaman inang, kondisi iklim, dan sistem budidaya di lokasi kajian dinilai mirip.
Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener seluruh kabupaten berada di bawah 1,5. Angka itu masuk kategori keanekaragaman rendah.
Jembrana mencatat keanekaragaman tertinggi dengan nilai 1,22. Kemerataannya juga tertinggi, yaitu 0,24, dengan dominansi terendah 0,32.
Susunan komunitas di Jembrana karena itu dinilai paling berimbang. Tabanan yang bernilai 0,94 mengikuti pola serupa.
Bangli mencatat dominansi tertinggi dengan nilai 0,54. Keanekaragamannya 0,73, angka terendah di antara sembilan lokasi.
Kemerataan jenis di semua lokasi berada di bawah 0,4. Sebaran individu antarjenis dengan demikian tidak merata dan dikuasai satu atau dua jenis.
Sebaran Acak dari 9 sampai 973 Meter
Keempat jenis kutu putih hadir di seluruh kabupaten yang disurvei. Sebarannya membentang dari dataran rendah sampai dataran tinggi.
Catatan ketinggian tempatnya mulai dari 9 meter di atas permukaan laut di Jembrana. Titik tertinggi berada di 973 meter di atas permukaan laut di Badung.
Pola sebaran ditentukan dengan nisbah ragam terhadap rerata jumlah individu per unit contoh. Nilai nisbah yang mendekati satu menandakan pola sebaran acak.
Keempat jenis menunjukkan pola sebaran acak tersebut. Pola acak itu dikaitkan dengan perbedaan jumlah populasi yang nyata antarlokasi pengamatan.
Sebaran seluas itu dinilai menunjukkan singkong sebagai inang yang sangat cocok. Tidak ada penghalang geografis yang membatasi kehadiran keempat jenis.
Penyebarannya dibantu mekanisme alami seperti angin dan pergerakan hewan. Kegiatan manusia seperti perpindahan bahan tanam dan perdagangan hasil pertanian ikut berperan.
Baca juga Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun
Komunitas dengan keanekaragaman dan kemerataan rendah dinilai lebih rawan ledakan hama. Jenis invasif yang adaptif seperti Paracoccus marginatus paling diuntungkan keadaan itu.
Dari sisi pengelolaan, penulisnya menyarankan penanganan berskala kawasan. Tindakan setempat yang terpisah-pisah dinilai kurang memadai untuk dua jenis dominan yang tersebar luas.
Strategi pengendalian hama terpadu yang ditekankan mencakup pengaturan ekologi dan penataan habitat. Upaya pengendalian antarkabupaten disarankan dikoordinasikan.
Angka yang Tidak Cocok Antara Teks dan Tabel
Naskah ini menyebut hasilnya sebagai data dasar bagi pemantauan yang terarah. Sebelumnya kajian di Bali kebanyakan hanya menyoroti satu jenis atau satu kabupaten.
Pengambilan contoh hanya dilakukan sekali di tiap lokasi selama masa penelitian. Naskah tidak melaporkan perubahan populasi antarmusim.
Tanaman contoh pun dipilih secara sengaja karena sudah terserang kutu putih. Batang tanpa serangan tidak masuk hitungan.
Sejumlah angka di dalam naskah tidak cocok satu sama lain. Bagian hasil menulis indeks keanekaragaman berkisar 0,66 sampai 1,22 dari Badung sampai Jembrana.
Tabelnya justru mencatat nilai terendah 0,73 di Bangli, sedangkan Badung bernilai 0,96. Abstraknya sendiri menulis rentang 0,73 sampai 1,22.
Bagian hasil juga menulis kemerataan terendah 0,12 di Gianyar. Tabelnya mencatat Gianyar bernilai 0,22 dengan nilai terendah 0,16 di Denpasar dan Bangli.
Bagian pembahasan menyebut Bangli berkeanekaragaman terendah dengan nilai 1,04. Angka 1,04 pada tabel justru milik Gianyar, sementara Bangli tercatat 0,73.
Rentang dominansi di pembahasan ditulis 0,40 sampai 0,54. Tabelnya memuat nilai terendah 0,32 di Jembrana.
Penelitian ini dibiayai skema Penelitian Dosen Pemula tahun anggaran 2025. Dananya berasal dari program penelitian dan pengabdian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Nomor kontraknya 129/C3/DT.05.00/PL/2025 dan 2166/LL8/AL.04/2025. Penulisnya menyatakan tidak ada hubungan keuangan atau pribadi yang memengaruhi laporan ini.














![Ilustrasi tangan memegang smartphone yang menampilkan sebuah artikel berita. [Foto: Canva]](https://cekricek.id/aset/u/2026/09/Foto_11zon-100x75.webp)
