Cekricek.id — Di sisi timur bangunan krematorium di kompleks makam Tri Suci, Singaraja, ada dua kuburan yang tidak lagi menyebut siapa pun. Bentuk dan bahannya sama persis dengan sepasang makam tua di kompleks Beten Buni, Kuta, di ujung selatan Bali. Salah satunya masih menyisakan bongpay. Sebagian besar batu nisan itu terpendam di dalam tanah, inskripsinya sudah aus, dan tidak ada lagi yang bisa dibaca dari permukaannya.
Kompleks itu sendiri terawat. Luasnya sekitar lima hektar, terletak di pinggir Pantai Surga di Banjar Banyuasri, dan berisi ratusan kuburan Tionghoa. Rumput dan tanaman merambat hanya tumbuh di sebagian kecil areal. Pohon mangga dan beringin ditanam sebagai perindang di sekitar krematorium. Arah hadap kuburannya bermacam-macam, ke selatan dan ke barat laut, tetapi semuanya bermuara pada satu hal yang sama: laut. Nisan tertua yang masih terbaca di sana berasal dari masa Dinasti Qing, abad ketujuh belas sampai kedelapan belas.
Delapan kompleks makam seperti itu didatangi Gendro Keling dan Ida Ayu Gede Megasuari Indria dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, bersama Muhammad Nofri Fahrozi dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN. Hasilnya mereka tulis dalam Identifikasi dan Pola Penempatan Kuburan Tionghoa di Bali, terbit di jurnal Purbawidya Volume 14 Nomor 1 tahun 2025. Sampelnya diambil dari empat kabupaten: Badung, Gianyar, Tabanan, dan Buleleng.
Daftar Isi
Blahbatuh
Di Gianyar, kompleks makam itu berdiri di sebelah timur Kelenteng Kim Sae Bio, di Jalan Wisma Gajah Mada Nomor 62, Banjar Laud. Posisinya sekitar tiga meter lebih tinggi daripada jalan raya. Luasnya kira-kira satu setengah hektar dan berisi ratusan makam. Ada dua kompleks di sana, dipisahkan jalan setapak selebar satu meter: yang di timur milik keluarga marga Tjan, yang di barat makam umum.
Arah hadapnya tidak seragam. Ada yang ke selatan, barat daya, barat, dan barat laut. Perbedaan itu ternyata mengikuti umur. Makam-makam bernisan muda umumnya menghadap jalan raya, sedangkan makam-makam tua menghadap aliran Tukad Petanu di sebelah barat, dan jumlah yang menghadap sungai lebih banyak daripada yang menghadap jalan. Nisan tertua di Bali yang berhasil dibaca ada di kompleks ini: berangka tahun 1838, atas nama Oei Lian Tjae. Bahannya batu diorit, marmer, bata, semen cor, dan keramik.
Baca juga Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?
Rumput tinggi menutup sebagian besar areal, dan kondisi itu ikut menyulitkan pembacaan. Beberapa bongpay rusak. Marga yang terbaca di sana antara lain Oei, Lim, The, Lie, dan Tjan, dengan asal leluhur menunjuk Provinsi Fujian di Cina bagian selatan.
Tuan Lange
Turun ke Kuta, di Jalan Tuan Lange Nomor 8F, ada kompleks makam seluas sekitar lima are. Dua belas kuburan berdiri di sana, lima di antaranya bernisan polos tanpa satu pun huruf. Seluruh kompleks menghadap ke timur, ke arah Tukad Gilingan, dibatasi jalan selebar empat meter. Satu kuburan di sudut tenggara membangkang: ia menghadap utara-selatan, dan alasannya tidak diketahui.
Nama kompleks itu diambil dari Mads Johansen Lange, saudagar asal Denmark yang menjadi syahbandar di Kuta pada abad kesembilan belas. Kuburannya sendiri berada di sudut timur laut, kini bertugu peringatan atas hubungan dagang yang ia jalin dengan Raja Badung. Di areal makam tumbuh pohon kelapa, sawo, mangga, ketapang, pisang, dan kamboja.
Nisan tertua di sana berangka tahun 1867 dan menyebut nama Da Zheng Zheng Jun. Bongpay itu terbuat dari batu diorit dan memuat keterangan asal: Distrik Dusan atau Du Shan, sebuah distrik kuno di Provinsi Guizhou, Cina bagian barat daya. Sekitar sepuluh meter ke selatan, di sudut jalan bypass Ngurah Rai, berdiri kompleks makam marga Kang. Enam belas kuburan, dua di antaranya tanpa inskripsi, sebuah pelinggih kecil di sudut barat laut, dan sebuah bale penyimpan alat kebersihan di sudut timur laut.
Nisan tertua di kompleks marga Kang berangka tahun 1944, dan yang tertulis di sana justru sebuah nama Bali: Ni Made Cobelok. Para peneliti mencatat dua kemungkinan tanpa memilih salah satunya. Mendiang bisa jadi perempuan lokal yang dinikahi orang Tionghoa, bisa juga orang Tionghoa yang memakai nama Bali. Nisan tidak menerangkan yang mana.
Pupuan
Di Banjar Semoja, Kecamatan Pupuan, Tabanan, dua kompleks makam berdiri berseberangan jalan dengan jarak sekitar lima puluh meter. Kompleks pertama berada di barat jalan, di selatan Masjid Al Muttaqien, seluas sekitar satu hektar dengan ratusan nisan. Kompleks kedua jauh lebih kecil: sebelas kuburan, seluruhnya keluarga marga Kang. Keduanya menghadap ke barat dan barat laut, ke arah jalan raya dan aliran air Subak Bantiran.
Baca juga Makam yang Menolak Pindah dan Kenduri Sko yang Berpindah ke Masjid
Konturnya melandai, tinggi di sisi timur dan paling rendah di sisi barat. Sebuah pohon berakar besar tumbuh di sudut selatan kompleks pertama, tetapi tidak mengganggu nisan di dekatnya. Nisan tertua yang bisa dibaca berangka tahun 1920. Marga yang terkubur di sana cukup panjang daftarnya: Kang, Tjoa, Kwa, Njoo, Kwee, Oei, Thio, Ong, Lim, dan Tan, dengan asal leluhur menunjuk Hainan dan Fujian.
Pupuan menjadi satu-satunya pengecualian dari pola yang ditemukan di tempat lain. Hampir semua kompleks makam Tionghoa di Bali berdiri dekat kelenteng tua, sedangkan di sini kelenteng terdekat, Ling Gwan Kiong di pusat kota Singaraja, berjarak dua puluh kilometer. Penduduk sekitar memberi tahu bahwa di sebelah barat lokasi makam dulu memang ada kelenteng. Bangunannya sudah tidak ada.
Labuhan Haji
Di Banjar Labuan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Seririt, kompleks makam seluas sekitar satu hektar terletak di sisi jalan raya Seririt-Gilimanuk. Seratusan kuburan berdiri di sana, dan tidak satu pun menyimpang: semuanya menghadap langsung ke laut di sebelah utara. Areal itu ditumbuhi pohon pisang, jepun, kelapa, kapuk, dan perdu liar. Beberapa kuburan tertutup tanaman merambat. Menurut keterangan warga, tempat itu tidak lagi dipakai untuk penguburan.
Inskripsi tertua di sana berasal dari masa Kaisar Guangxu, antara 1871 dan 1908, dengan satu nisan bertahun 1906 atas nama Han Liong Tik. Beberapa bongpay masih menyebut kampung halaman leluhur mendiang: Gaozhen, Zhangpu, dan Zhangzhou. Marga yang terbaca yaitu Tio, Lie, Tan, The, Shen atau Sim, dan Co. Sisanya lapuk.
Kedekatan dengan air itu bukan kebetulan. Gendro Keling, arkeolog Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN yang memimpin survei ini, mencatat bahwa hampir semua makam kuno yang mereka datangi berada dekat sumber air, entah laut, danau, maupun sungai, dan hal itu berkaitan dengan kaidah feng shui. Bagi orang Tionghoa, air adalah unsur utama yang diidentikkan dengan keberuntungan dan sumber rezeki. Pemakaman yang dianggap baik adalah yang menghadap laut, sungai, atau danau; kalau tidak memungkinkan, dicarikan sumber air terdekat.
Baca juga Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Bentuk ideal menurut feng shui sebetulnya lebih rumit daripada itu: bukit tinggi di sisi utara, bukit agak rendah di sisi timur, bukit paling rendah di sisi barat, dan sumber air di sisi selatan. Formasi seperti itu tidak diterapkan di Bali, karena bentang alam semacam itu memang jarang dijumpai di pulau ini. Muhamad Nofri Fahrozi, peneliti BRIN yang mengkaji penerapan feng shui pada tata ruang hunian komunitas Cina Hakka, mencatat arah selatan sebagai arah yang penuh rahmat dan keberuntungan, dan arah utara sebagai arah yang penuh energi.
Nisan sendiri punya aturan baca. Bongpay umumnya terbagi empat bagian: baris kanan memuat waktu pembuatan atau perbaikannya, biasanya dalam tahun kekaisaran, shio, dan musim; baris tengah memuat nama dan status mendiang semasa hidup; mata bongpay memuat kota atau kabupaten asal marga, peristiwa besar keluarganya, jumlah generasi mendiang, dan kampung halamannya; sisanya baris kiri. Sistem penulisan seperti ini warisan dari zaman Dinasti Ming.
Dari bacaan itu para peneliti menyusun peta asal: Guizhou di Cina bagian barat daya, Hainan dan Fujian di selatan, serta Sichuan. Marga yang terkumpul mencapai puluhan, dari Wang atau Ong sampai Kie dan Pan. Namun mereka juga menyebut batas kerjanya sendiri, dan batas itu bukan hal kecil. Masih banyak inskripsi yang tidak bisa dibaca karena aus, dan sejumlah bongpay memang tidak mencantumkan marga maupun asal leluhur pemiliknya.
David G. Kohl, pengkaji arsitektur Tionghoa di Semenanjung Malaya, menguraikan bahwa makam bagi orang Tionghoa berarti lebih luas daripada tempat peristirahatan terakhir, sebab bangunan itu sekaligus menunjukkan status sosial sebuah keluarga. Di Bali, status itu kini banyak yang tinggal setengah. Kuburan lama dipugar keluarga, nisannya diganti keramik, dan yang tidak dipugar perlahan tenggelam.
Dua kuburan di sisi timur krematorium Tri Suci termasuk yang tidak dipugar. Bentuknya sama dengan sepasang makam di Beten Buni, yang menurut perbandingan bentuk kemungkinan berasal dari abad ketujuh belas sampai kedelapan belas. Di Beten Buni, bagian nisannya sudah hilang sama sekali. Di Tri Suci, satu bongpay masih ada, tertanam sebagian, dan tetap menghadap ke laut yang sama.













