Tiga Menara Berkubah di Gereja Santo Yoseph Matraman

A A

Gereja Santo Yoseph Matraman, Jakarta Timur. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Pada 13 Desember 1906, para pastor di Katedral Jakarta membeli sebidang tanah di Meester Cornelis. Tanah itu disiapkan untuk umat yang tinggal jauh dari Weltevreden, kawasan yang sekarang disebut Gambir.

Meester Cornelis, yang kini bernama Jatinegara, saat itu sedang tumbuh menjadi kawasan gemeente dengan basis militer di dalamnya. Catatan tentang pembelian tanah ini terekam dalam kajian arkeologi berjudul Perpaduan Gaya Bangunan pada Gereja Santo Yoseph Rancangan F.J.L. Ghijsels di Matraman, Jakarta Timur, ditulis Kirana Chandra Bestari dan Dian Sulistyowati dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Kajian itu dimuat AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 44 No. 1 edisi Juni 2026. Dari tanah yang dibeli itulah kelak berdiri Gereja Santo Yoseph Matraman, salah satu gereja Katolik tertua di Batavia setelah Gereja Katedral Jakarta, yang baru bisa diresmikan pada 21 April 1901 — sembilan puluh tiga tahun setelah larangan ibadah Katolik di Batavia berakhir pada 1808, saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengumumkan kebebasan beragama.

Bangunan itu bukan objek baru bagi peneliti. Heuken, pada 2003, sudah menuliskan sejarah singkatnya: denah dasar berbentuk salib, ruang utama yang panjang, dua ruang samping, dan sebuah apsis pentagonal, ditopang tiga menara dengan satu menara utama di tengah. Sumalyo, pada 2017, menambahkan satu ciri lagi — bentuk simetris dengan balok-balok vertikal di kiri dan kanan yang makin tinggi ke arah tengah, seperti anak tangga. Namun kajian gaya bangunannya secara arkeologis belum pernah dilakukan sebelum penelitian Bestari dan Sulistyowati.

Daftar Isi
  1. 1906–1922: Tanah, Sayembara, dan Satu Nama Arsitek
  2. 1923–1924: Tujuh Bulan, 70.000 Gulden, Tiga Menara
  3. 1924–1969: Wujud yang Bertahan Empat Puluh Lima Tahun
  4. 1970: Delapan Ratus Umat, Satu Sayap Baru
  5. 2000–2002: Dibongkar, Wajah Lama Dipertahankan

1906–1922: Tanah, Sayembara, dan Satu Nama Arsitek

Foto lama Gereja Santo Yoseph Matraman dengan menara utama dan dua menara berkubah di sisinya
Gereja Santo Yoseph Matraman pada awal abad ke-20. (Foto: Paroki St. Yoseph Matraman, dalam Bestari dan Sulistyowati/Amerta, CC BY-SA 4.0)

Gereja ini kini berdiri di Jalan Matraman Raya Nomor 127, RT.19/RW.8, Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, menghadap ke arah barat daya, langsung berhadapan dengan jalan raya. Sisi selatannya berbatasan dengan Sekolah Marsudirini, sisi utaranya dengan gedung Soverdi Matraman dan Biara Santo Yoseph.

Dewan gereja kemudian menggelar sayembara desain untuk bangunan yang akan berdiri di atas tanah itu. Sayembara itu dimenangkan Biro Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau atau AIA, dengan Ir. Frans Johan Lauwrens Ghijsels sebagai arsitek yang bertanggung jawab.

Ghijsels lahir di Tulungagung pada 8 September 1882. Ia menempuh pendidikan di sebuah politeknik di Delft, lalu tiba di Batavia pada akhir 1910 dan mulai merancang bangunan di berbagai kota di Indonesia — mulai dari kantor, stasiun, hingga gereja.

Pada 1916, Ghijsels mendirikan biro Algemeen Ingenieurs en Architecten bersama dua insinyur lain. Enam tahun setelahnya, bironya sudah dikenal luas di Hindia Belanda, dan Ghijsels sendiri masuk kategori arsitek kolonial modern.

Baca juga Yang Tersisa dari Arsitektur Kolonial RS St. Carolus

Semboyan yang dipegangnya tercatat dalam kajian tersebut: “Kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju keindahan.” Semboyan itulah yang kemudian tampak pada rancangan-rancangan bangunannya, termasuk gereja yang akan berdiri di atas tanah Meester Cornelis.

1923–1924: Tujuh Bulan, 70.000 Gulden, Tiga Menara

Konstruksi Gereja Santo Yoseph dimulai akhir Juli 1923. Pengerjaannya memakan waktu tujuh bulan dengan biaya 70.000 gulden — angka yang tercatat rinci dalam dokumentasi gereja.

Rancangan Ghijsels didominasi elemen vertikal. Fasadnya berbentuk seperti tangga, dengan menara utama menjulang tinggi di tengah, diapit dua menara yang lebih pendek dan lebih rendah di kiri-kanannya.

Gereja diresmikan dengan nama Santo Yoseph pada hari Minggu Palma, tanggal 6 April 1924. Bangunan awal dirancang untuk menampung 400 umat.

Padahal jumlah umat Katolik di paroki itu saat peresmian sudah mencapai 1.413 jiwa — terdiri dari 1.400 orang Eropa, sembilan penduduk lokal, dan empat orang Asia lainnya. Kapasitas gereja jauh di bawah jumlah jemaatnya sejak hari pertama.

1924–1969: Wujud yang Bertahan Empat Puluh Lima Tahun

Denah dasar Gereja Santo Yoseph berbentuk salib Yunani dengan sisi sama panjang, mengikuti tradisi basilika Romawi yang lazim dipakai gereja-gereja Katolik pada masanya. Fondasinya ditinggikan sedikit dari permukaan tanah, sebuah adaptasi terhadap iklim tropis Jakarta yang lembap.

Sketsa lama gereja mencatat ada tiga anak tangga di depan pintu utama. Namun berdasarkan foto-foto dan kondisi bangunan saat ini, hanya tersisa satu anak tangga — perbedaan kecil yang menunjukkan bangunan ini sudah berubah sejak masa awalnya.

Baca juga Tiga Rumah Sakit Deli Maatschappij, 1871 sampai 1940

Dinding luar lantai satu dilapisi susunan batu kali berwarna hitam yang mengelilingi sebagian bangunan di sisi timur tenggara, barat daya, dan timur laut. Atapnya kombinasi atap perisai dan atap pelana, dengan ketiga menara berujung kubah — sebuah bentuk yang tidak lazim, karena kebanyakan gereja sezamannya memakai menara beratap runcing.

Jendelanya berkaca patri, disusun vertikal namun berjajar horizontal agar bangunan tetap tampak ramping. Ada pula dua jendela mawar segi delapan dengan motif geometris menyerupai roda dan ornamen bunga di titik pusatnya — berbeda dari jendela mawar gereja-gereja lain di Jakarta pada masa itu yang umumnya berbentuk lingkaran sempurna. Tangga menuju menara dibuat berbentuk spiral dari kayu.

Lima pintu masuk ke bangunan utama memakai bingkai menonjol bertingkat, atau stepped frame. Pintu utamanya memakai bingkai tiga jenjang, sementara empat pintu samping di sisi barat laut dan tenggara hanya memakai satu jenjang. Pintu utama berdaun ganda, masing-masing berpanel segi enam berjajar horizontal yang dipisahkan muntin berbentuk belah ketupat. Satu-satunya pintu berdaun tunggal menuju tangga balkon, berpanel persegi panjang vertikal yang dibuka ke arah dalam.

Handinoto, pada 2010, membagi gaya bangunan kolonial di Indonesia menjadi tiga periode: Indische Empire pada abad ke-18 hingga ke-19, gaya transisi antara 1890 dan 1915, dan kolonial modern antara 1915 dan 1940. Jejak Indische Empire masih bisa dilihat pada Museum Seni Rupa Jakarta yang dibangun 1870; gaya transisi tersisa pada bekas Kantor Pos Besar Medan yang kini jadi Posbloc Medan; kolonial modern antara lain tampak pada Hotel Savoy Homann di Bandung. Gereja Santo Yoseph, yang mulai dibangun 1923, berdiri di ujung periode ketiga itu — tapi perpaduan unsurnya membuat bangunan ini tidak pas masuk satu kategori pun secara tunggal.

Dinding susun batu kali yang sama juga dijumpai pada Gereja Santa Theresia Menteng, rancangan Biro Fermont-Cuypers pada 1934, dan pada Gereja P’Niel di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, yang berdiri sejak 1920. Ketinggian fondasi yang tak jauh berbeda ada pada GPIB Pniel di Jakarta Pusat, gereja awal abad ke-20 yang sama-sama memakai satu undakan kecil di bagian depan. Kaca patri yang disusun horizontal muncul lagi pada jendela Gereja Katolik Hati Kudus Yesus di Surabaya.

Denah dasarnya bahkan mengingatkan pada Alahan Kilise di Cilicia, bangunan dari akhir abad ke-5 atau awal abad ke-6 Masehi yang punya lorong dan apsis setengah kubah serupa — kemiripan yang tercatat lewat perbandingan dengan gambar arsip yang didokumentasikan MacDonald pada 1962.

Kajian ini menyimpulkan gaya bangunan tersebut sebagai kolonial eklektik: basilika Romawi untuk fungsi religius, adaptasi Indis untuk iklim, dan sentuhan Art Deco serta Art Nouveau pada kaca patri dan ornamen geometrisnya. Tangga spiral kayu bahkan menyisakan jejak pengaruh Arts and Crafts, meski hanya pada elemen minor.

Tidak semua bagian bangunan terjawab tuntas oleh kajian ini. Denah awal menyisakan satu ruangan di sisi timur laut yang tidak dijelaskan fungsinya dalam sumber-sumber referensi tentang gereja itu; catatan arkeologis hanya bisa memastikan ruangan tersebut belakangan difungsikan sebagai altar, dengan meja altar yang letaknya menyerong.

1970: Delapan Ratus Umat, Satu Sayap Baru

Pertumbuhan umat terus berlanjut empat dekade kemudian. Pada 1970, gereja diperluas di bagian kiri hingga menyatu dengan rumah pastor, bagian yang kemudian disebut “gereja samping.”

Baca juga Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera

Perluasan itu menaikkan daya tampung gereja dari 400 menjadi 800 orang. Di belakang gereja utama, dibangun pula aula kecil yang bersifat semi permanen serta sebuah Gua Maria.

Sebagian dari aula kecil itu kemudian dijadikan Perpustakaan Paroki dan poliklinik yang terbuka untuk umum, sementara sisanya dipakai untuk rapat kelompok dan latihan rektor.

2000–2002: Dibongkar, Wajah Lama Dipertahankan

Pertumbuhan umat yang terus berlanjut membuat pengelola gereja kembali mendiskusikan perluasan pada akhir abad ke-20. Pembongkaran dan pembangunan ulang dimulai pada 2000.

Berdasarkan keterangan pengurus gereja, bagian yang dibongkar saat itu adalah bagian belakang gedung gereja dan pastoran. Gedung pastoran yang baru dibangun berjumlah empat setengah tingkat, lengkap dengan basemen dan atap yang tinggi.

Tampak muka hasil rancangan Ghijsels tetap dipertahankan. Rancangan bangunan baru pun sengaja dibuat mengikuti gaya bangunan lama, sehingga gaya arsitektur yang khas itu tidak berubah. Bangunan baru diresmikan pada Mei 2002.

Dari sebidang tanah yang dibeli para pastor pada 1906 hingga gedung pastoran empat setengah tingkat yang berdiri hari ini, satu hal tidak ikut berubah: fasad rancangan Ghijsels dari 1923, yang bertahan meski separuh bangunan di belakangnya sudah berganti dua kali sejak peresmiannya pada 1924.

Bagikan

Baca Juga

Panil relief batu Borobudur memuat banyak sosok manusia duduk berjajar di bawah pohon
Tujuh Panil Borobudur dan Ajaran Menukar Penderitaan
Struktur bata Candi Jiwa di Kawasan Percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat
Dari 1980-an ke Kelas: Rencana STEAM untuk Batujaya
Barisan pramusaji membawa piring hidangan rijsttafel di ruang makan Hotel Homann, Bandung
Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Arca Ganesa Ekapada: Menari atau Sedang Bertapa?
Foto hitam putih pasar Payakumbuh sekitar 1910 dengan los beratap rumbia, pedagang duduk beralas tikar, dan keranjang hasil bumi di tanah
Payakumbuh, Kota Kolonial yang Dibentuk Lima Staatsblad
Ilustrasi kapal dagang kayu berlambung tinggi yang kandas miring di pantai berpasir gelap dengan tali tambang terbentang, keranjang anyaman, dan warga menarik tali dari kejauhan
Dua Kapal dan Laut Bali Utara dalam Babad Buleleng