Cekricek.id — Tim Ekspedisi Patriot 10 Universitas Airlangga memetakan aliran sampah, pelaku, biaya operasional, dan jalur pasar di kawasan transmigrasi Prafi, Manokwari, Papua Barat, sebelum menentukan teknologi pengolahan yang akan dipakai. Pemetaan berjalan sepanjang Agustus 2026 dan dilanjutkan pelatihan intensif mulai September.
Program itu menyasar pengelolaan sampah sirkular berbasis komunitas, menurut keterangan tertulis Universitas Airlangga, Selasa (01/09/2026). Sekolah percontohannya MAN Manokwari di SP4 atau Udapi Hilir, dengan badan usaha milik kampung Udapi Hilir dan Aimasi sebagai mitra.
Baca juga UNAIR Siapkan Kader Tangguh Bencana di Manokwari
Ketua tim, Rumayya, Ph.D., menyatakan urutan kerja itu diambil setelah mereka menilai pengalaman program serupa.
“Karena itu, kami tidak ingin memulai intervensi dari alat atau teknologi. Yang kami petakan lebih dulu adalah aliran sampah, aktor, biaya operasional, kapasitas pengelola, dan jalur pasar agar teknologi yang dipilih nanti benar-benar sesuai kebutuhan,” katanya.
Baca juga Mahasiswa UNAIR Olah Tujuh Limbah Jadi Pakan Domba
Tim menyiapkan Green Lab yang disatukan dengan Kebun Pangan Sirkular. Fasilitas itu tidak diposisikan sekadar sebagai tempat produksi kompos.
“Green Lab nantinya tidak hanya menjadi tempat membuat kompos. Tetapi menjadi tempat belajar bagaimana sistem pemilahan hingga pemanfaatan akhirnya seharusnya berjalan,” ujar Rumayya.
Baca juga Undip Serahkan Lima Unit Pengolah Air Bencana ke BNPB
Sepanjang Agustus, tim menggelar pemetaan, sosialisasi, diskusi, dan penandatanganan nota kesepahaman dengan pemangku kepentingan setempat.
Tim belum menyebutkan berapa volume sampah harian di kawasan itu maupun teknologi apa yang akhirnya dipilih setelah pemetaan rampung.














