UNAIR Siapkan Kader Tangguh Bencana di Manokwari

Peserta pelatihan kader tangguh bencana Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga berfoto bersama di Manokwari, Papua Barat.

Peserta pelatihan kader tangguh bencana Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga berfoto bersama di Manokwari, Papua Barat. [Foto: Universitas Airlangga]

Cekricek.id — Kawasan transmigrasi di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, tumbuh menjadi pusat ekonomi baru sekaligus menyimpan sejumlah ancaman bencana. Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga menyiapkan kader tangguh bencana yang sekaligus berperan sebagai kader sadar wisata di Kampung Udapi Hilir, menurut keterangan tertulis Universitas Airlangga, Senin (24/08/2026).

Kampung Udapi Hilir dikenal sebagai kawasan transmigrasi yang berhasil berkembang menjadi pusat ekonomi baru di Kabupaten Manokwari. Kawasan itu memiliki beragam titik wisata yang pengelolaannya masih bersifat perorangan, namun tetap menarik kunjungan dari berbagai daerah. Kawasan tersebut juga kerap menjadi tujuan belanja warga karena harga barang ritel maupun sayuran yang relatif murah.

Tiga Potensi Bencana di Kawasan Transmigrasi

Tim enam Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga memetakan kondisi kawasan sebelum menyusun program. Hasil pemetaan itu menunjukkan wilayah tersebut memiliki potensi banjir, erosi tanah, hingga gempa bumi. Temuan tersebut menjadi dasar tim mengusung sistem mitigasi bencana yang melibatkan berbagai elemen masyarakat lokal.

“Pertama, potensi banjir di SP4 terkait dengan kondisi saluran drainase yang kurang lebar. Kedua, potensi erosi terjadi pada dua titik di kawasan lahan pertanian kampung yang berada di sebelah utara, kondisi tersebut berpotensi memakan lahan pertanian warga dan dapat memutuskan akses jalan setapak warga ke kawasan lahan pertanian. Ketiga, potensi gempa bumi bisa terjadi karena memang tercatat pernah terjadi di tahun 2010 dengan 7 SR,” kata Ketua Tim Enam Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga, Dr Neffrety Nilamsari.

Baca juga ITB Ultra Marathon 2026 Siapkan Filter Air untuk Daerah Bencana

Penguatan sistem mitigasi bencana dan perlindungan infrastruktur menjadi solusi yang ditawarkan tim untuk mengembangkan ekowisata di wilayah Prafi. Tim berupaya mengintegrasikan potensi wisata lokal yang sudah ada dengan pemberdayaan kader tangguh bencana yang juga bergerak sebagai kader sadar wisata. Langkah awal sudah terlaksana melalui sosialisasi pada 13 Agustus 2026 di Ruang KOSTRATANI, Kantor Balai Penyuluh Pertanian Distrik Prafi.

Satu Kader, Dua Kompetensi

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga menargetkan minimal 30 orang dari berbagai unsur masyarakat bergabung menjadi kader. Agar peran tidak tumpang tindih, tim menyusun matriks tugas yang memerinci siapa yang bertanggung jawab, siapa yang melaksanakan, siapa yang mendukung, serta kepada siapa pelaporan dilakukan.

“Intinya, strategi ini digunakan dengan prinsip satu kader, dua kompetensi, satu fungsi utama. Setiap kader memahami dasar kebencanaan dan kepariwisataan secara seimbang, tetapi memiliki tugas utama yang spesifik. Dengan mekanisme ini, Kader Tangguh Bencana dan Kader Sadar Wisata dapat bekerja dalam satu sistem yang terintegrasi. Hal tersebut untuk mewujudkan kawasan wisata yang aman, tangguh bencana, nyaman, dan berkelanjutan,” ujar Neffrety.

Dalam kondisi normal, fokus kader lebih banyak diarahkan pada pengelolaan dan edukasi wisata. Sebaliknya, ketika terdapat peningkatan risiko atau keadaan darurat, kader kebencanaan mengambil fungsi koordinasi utama. Pembagian peran itu dirancang agar kegiatan wisata tetap berjalan tanpa mengabaikan kesiapsiagaan warga.

Baca juga Timbangan Bersuara UNAIR Bantu Barista Tunanetra

Program Utama dan Pelatihan Pendukung

Selain pembentukan kader, tim menyiapkan sejumlah pembangunan fisik dan pelatihan keterampilan. Rangkaian program itu disampaikan kepada warga pada forum sosialisasi di Distrik Prafi.

“Kami menyampaikan berbagai program utama dan pendukung, seperti pembentukan kader tangguh bencana dan sadar wisata, pembangunan pos pantau bencana. Selain itu, membangun bedeng penahan banjir dan longsor serta membangun landscape penunjang ekowisata. Selain program utama, terdapat program pendukung yang akan kami selenggarakan. Antara lain pelatihan kepada para anggota kader mengenai pilah sampah, pembuatan eco enzyme, pemurnian minyak jelantah dan membuat lilin aromaterapi serta pengolahan keripik pisang berselimut coklat,” tutur Neffrety.

Tim juga memfasilitasi forum diskusi sebagai ruang bagi setiap kelompok menyampaikan aspirasi, kebutuhan, kekhawatiran, dan kontribusinya. Penyelarasan berlangsung dengan mengajak seluruh unsur masyarakat merumuskan tujuan bersama, yaitu pengembangan destinasi wisata yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga aman, tangguh terhadap bencana, dan berkelanjutan. Dengan strategi tersebut, keberagaman unsur masyarakat justru menjadi kekuatan kolaboratif yang bergerak dalam satu arah.

Baca juga TEP UNDIP Petakan Legalitas Lahan Transmigrasi Ogan Ilir

Warga Menjadi Pemilik dan Pengelola Sarana

Tim menekankan bahwa seluruh sarana yang dibangun bukan milik kampus, melainkan milik warga. Pendekatan itu diambil agar program tetap hidup setelah masa pengabdian berakhir.

“Sejak awal, masyarakat diposisikan sebagai pemilik dan pengelola sarana. Sedangkan tim berperan sebagai fasilitator yang membangun sistem, meningkatkan kapasitas, dan menyiapkan mekanisme serah kelola. Dengan demikian, setelah program selesai, pos pantau maupun infrastruktur pengendalian banjir dan longsor tetap dapat dipelihara, dipantau, dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” tegas Neffrety.

Program kerja kelompok enam Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga disebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals Perserikatan Bangsa-Bangsa. Program itu mendukung poin ke-11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan, poin ke-13 mengenai penanganan perubahan iklim, serta poin ke-15 mengenai ekosistem daratan.

Baca Juga

Peneliti bertopi keselamatan memantau data pada laptop saat persiapan demonstrasi guncangan gempa pada prototipe bangunan tahan gempa di Ponorogo.
ITS Uji Sensor Gempa Murah dan Rumah Tahan Gempa
Dokter spesialis THT-BKL Universitas Airlangga Rosa Falerina di ruang kerjanya.
Pakar UNAIR: Sound Horeg Bisa Picu Tuli Permanen
Pembukaan Program Studi Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro bersama PT Pertamina di Semarang.
UNDIP Buka Profesi Insinyur untuk 300 Perwira Pertamina
Tim riset gabungan Hydromodelling dan Arkana ITS berfoto dengan desain kapal berbahan bakar hidrogen rancangan mereka.
Tim ITS Juara 2 Desain Kapal Hidrogen di Kompetisi SNAME
Ilustrasi biji kopi hijau atau green bean di dalam karung goni.
Kopi Jawa Barat 10 Ton Diekspor ke Inggris Rp2,64 Miliar
Direktur Penanganan Darurat Wilayah III BNPB Nelwan Harahap menyerahkan bantuan obat-obatan kepada perwakilan tenaga medis di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
BNPB Kirim Starlink dan Obat ke Pulau Sukun Sikka