Cekricek.id — Setiap akhir Desember, Jalan KH. Zaenal Mustofa di pusat kota Tasikmalaya biasanya ditutup untuk sebuah pesta. Panggung berdiri di ruang terbuka, arak-arakan mengular di jalan, dan pertunjukan berlangsung sepekan penuh hingga puncaknya pada malam pergantian tahun. Pada 2020 jalan itu tetap sepi. Pandemi Covid-19 melarang kerumunan, dan festival tahunan yang sudah berjalan sejak 2011 itu terpaksa dipindahkan ke tempat yang tidak punya aspal: kanal YouTube.
Perpindahan itu dicatat dan dianalisis Neneng Yanti Khozanatu Lahpan dari Departemen Antropologi Budaya, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, lewat artikel A virtual art festival in West Java; Participatory culture during the pandemic, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 1 pada 2025. Lahpan meneliti Festival Syukur Waktu kesembilan yang digelar Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT) pada akhir 2020, dengan menggabungkan etnografi virtual — pengamatan langsung terhadap interaksi di ruang digital — dan wawancara dengan para anggota komunitas itu.
Komunitas yang Lahir Setelah 1998
Komunitas Cermin Tasikmalaya berdiri di kota itu pada 1998, tak lama setelah tumbangnya Orde Baru. Anggotanya, tulis Lahpan, adalah aktivis budaya muda yang berminat menempatkan tradisi dan pertunjukan Sunda lokal dalam konteks yang lebih luas: musik, tari, teater, hingga puisi. Sasaran utamanya anak usia sekolah, baik yang bersekolah maupun tidak. Mereka menggelar latihan rutin, pementasan bulanan, dan perayaan menurut kalender.
Baca juga: Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Ada tiga kegiatan pokok yang dijalankan komunitas itu. Pertama, kemitraan seni, yaitu mendampingi kelompok seni tradisi agar terus berkembang dan lebih diterima masyarakat luas. Kedua, penciptaan karya, dengan komunitas berfungsi sebagai laboratorium bagi anggotanya yang berlatar teater, musik, sastra, dan seni rupa; unsur tradisi dan modern sengaja dicampur agar kesenian yang nyaris punah hidup kembali. Ketiga, penyelenggaraan peristiwa seni dan budaya, ditambah pelatihan serta lokakarya untuk pelajar dan umum, termasuk program yang menautkan seni dengan isu lingkungan.
Pilihan mereka jelas berpihak. “Kami selalu mengutamakan kelompok pertunjukan tradisional. Kami juga menyarankan penyelenggara acara budaya lain di Bandung dan Tasikmalaya dalam jaringan kami untuk memasukkan pertunjukan tradisional itu ke dalam kegiatan mereka,” kata pemimpin komunitas itu sebagaimana dikutip Lahpan — kutipan yang aslinya berbahasa Inggris dalam artikel tersebut. Tiga bentuk kesenian lawas yang mereka rawat adalah beluk, seni vokal Sunda lawas yang biasanya dibawakan tanpa iringan alat musik; terebang, rebana bingkai tradisional; dan tarawangsa, yang menunjuk pada gaya musik sekaligus alat gesek berdawai dua.
Festival Syukur Waktu dan Riwayat Bentroknya
Nama festivalnya diambil dari dua kata: syukur dan waktu. Edisi pertama digelar pada penghujung 2011 sebagai cara komunitas merefleksikan perannya sepanjang tahun, dan sejak itu berlangsung setiap 30 dan 31 Desember. Isinya beragam: pertunjukan teater, musik tradisi, pembacaan puisi, permainan perkusi, instalasi seni, dan seni lukis. Tiap tahun ada tema. Pada 2018, misalnya, seniman membuat instalasi dari tumpukan kursi berbentuk menyerupai gunung, dengan lorong segitiga di bawahnya yang dipakai pengunjung untuk berswafoto. Tema tahun itu politik dan lingkungan, dipilih sebagai tanggapan atas suasana menjelang pemilihan umum.
Ahmansya Timutiah, yang akrab dipanggil Acong dan memimpin KCT, menjelaskan pilihan tema itu kepada Lahpan di kantor komunitas pada 31 Desember 2018. “Kami menanggapi kondisi politik saat ini ketika orang mengatakan tahun ini tahun politik, tetapi bagi kami ini tahun kebingungan yang serampangan, kekacauan, pemutarbalikan yang baik dan yang benar, isu positif dan negatif, semuanya kabur,” katanya — wawancara itu direkam dalam bahasa Inggris pada artikel tersebut. Sikap oposisional semacam itu, catat Lahpan, kerap membuat kelompok ini bersinggungan dengan pemerintah.
Gesekan paling terang terjadi pada 2014. Festival mula-mula dilarang polisi untuk menghindari kerumunan di ruang publik, sementara ada surat keputusan wali kota yang mengajak warga berzikir di masjid agung pada malam tahun baru dan meminta agar tidak ada pesta di jalanan. Komunitas itu mengabaikannya dengan alasan orang toh tetap keluar rumah, dan ruang publik terbukti tetap penuh. Konteksnya bukan kebetulan: Tasikmalaya, kota berjuluk Kota Santri, menerapkan kebijakan bernapas syariah setelah otonomi daerah, mulai dari surat edaran bupati No.405/SE/04/Sos/2001 yang mewajibkan jilbab bagi seluruh siswi hingga Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2001 dan Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya Nomor 7 Tahun 2014 tentang nilai-nilai kehidupan masyarakat yang religius. Penyair Acep Zamzam Noer, yang berasal dari keluarga ulama pendiri Pesantren Cipasung, mengkritik keras arah itu dan justru menyebut Tasikmalaya sebagai kota dangdut sambil mengajukan gagasannya, Islam Santai, Sunda Santai.
Sebulan Menyiapkan Festival Tanpa Anggaran
Festival kesembilan pada 2020 disiapkan dalam keadaan serba mustahil. Membuat festival daring menuntut peralatan berteknologi tinggi dan orang yang bisa mengoperasikannya, sementara di Tasikmalaya hanya mereka yang bekerja langsung di industri media digital yang punya keterampilan itu. KCT menempuh jalan jejaring: bekerja sama dengan orang-orang televisi dan media untuk mendapatkan peralatan, serta dengan pejabat daerah di bidang informasi untuk mendapat dukungan kecepatan internet. Menurut Lahpan, seluruh persiapan itu selesai dalam sebulan tanpa anggaran sama sekali.
Berbeda dengan festival luring, edisi daring justru dimulai lebih awal. Video pertama diunggah pada 1 Desember 2020. Pekan pertama diisi pembacaan puisi oleh komunitas-komunitas di Tasikmalaya, lalu kru berkeliling ke desa-desa untuk merekam pertunjukan seni tradisi: menyiapkan panggung, dekorasi, dan tata cahaya. Di dua desa mereka merekam tiga kesenian yang nyaris punah tadi — beluk, terebang, dan tarawangsa — dan proses perekamannya makan waktu hampir sepekan. Pada 26 Desember, 14 kelompok tampil dalam siaran langsung. Pada 31 Desember mereka meluncurkan galeri daring bernama C Art Gallery yang memuat lukisan, foto, kerajinan, dan karya rupa lain. Dua studio disiapkan: satu di Gedung Kesenian Tasikmalaya, satu lagi di kantor KCT. Seluruhnya melibatkan sekitar 17 kelompok dan seniman perorangan, termasuk 25 penyair, dengan sajian mulai dari tari tradisi, orkestra keroncong, teater, kelompok band, sampai seni kontemporer. Tagline-nya, seni meningkatkan imunitas.
Baca juga: Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda
Delapan Ribu Penonton dan Satu Komentar Negatif
Akun @KCT Official sebenarnya sudah dibuat pada Desember 2019, tetapi hanya diisi tiga video publikasi festival kedelapan lalu ditinggalkan. Akun itu dihidupkan lagi setahun kemudian ketika komunitas memutuskan festival harus daring. Hasilnya, menurut data analitik yang dikutip Lahpan, jumlah penonton mencapai 8.095 per Agustus 2021, dengan angka tertinggi 5.870 penonton pada Desember 2020. Angka itu jauh melampaui ratusan penonton pada festival tahun-tahun sebelumnya, ketika audiensnya terbatas pada warga Tasikmalaya dan sekitarnya.
Komposisi penontonnya condong: 75 persen laki-laki, dan didominasi kelompok usia muda, dengan penonton laki-laki berumur 25–34 tahun tercatat 42,92 persen. Perlu dicatat, rincian kelompok umur pada artikel itu dicetak tidak konsisten — salah satu rentangnya tertulis terbalik dan totalnya melebihi seratus persen — sehingga pembacaan yang aman hanyalah bahwa penontonnya muda dan mayoritas laki-laki. Adapun tanggapan penonton tercatat positif: 89 persen komentar bernada positif, 11 persen netral, dan hanya ada satu komentar negatif yang isinya pun sekadar mengeluhkan kualitas pencahayaan video.
Lima video terbanyak ditonton, berurutan, adalah tari Jaipongan, calung tarawangsa, pertunjukan seni lawas, video Festival Syukur Waktu, dan video berbagi untuk para musisi. Dari situ Lahpan menyimpulkan pertunjukan seni tradisi tampak menarik bagi penonton muda karena rasa ingin tahu mereka terhadap kesenian generasi sebelumnya. Perlu ditegaskan bahwa ini pola pada satu akun selama satu musim festival, bukan bukti bahwa seni tradisi secara umum sedang naik daun di kalangan anak muda Indonesia.
Jurang Digital yang Belum Tertutup
Semua itu terjadi di wilayah yang aksesnya timpang. Lahpan mengutip data yang menyebut penetrasi internet Indonesia 36,9 persen dengan 83 persen penggunanya tinggal di kota. Dari 82.190 desa di Indonesia, 55.870 punya layanan seluler yang baik, 18.603 bersinyal lemah, dan 7.717 tanpa jangkauan sama sekali. Pemerintah meluncurkan program Desa Pintar pada 2012 dengan memasang komputer untuk umum dan Wi-Fi di setiap desa, lalu disusul program Kota Pintar yang juga menyentuh Tasikmalaya, terutama untuk mendorong perdagangan elektronik dan pemasaran produk UMKM. Namun, tulis Lahpan, jurang digital tetap masalah serius: kawasan kota Tasikmalaya jauh lebih baik koneksinya dibanding desa-desa di sekitarnya, dan banyak wilayah pedesaan berkoneksi buruk atau tidak ada sama sekali.
Di titik itulah festival daring punya arti tambahan. Alih-alih sekadar memindahkan panggung, kegiatan ini mendorong penggunaan teknologi digital melampaui urusan transaksi ekonomi dan menyambungkan kota dengan desa. Lahpan juga mencatat efek samping yang tidak disangka: kontrol atas pertunjukan dan kegiatan festival oleh otoritas keagamaan, yang kerap diupayakan pada pementasan jalanan atau panggung, mustahil diterapkan pada festival daring.
Setelah Pandemi, Panggung Kembali ke Jalan
Yang menarik, keberhasilan itu tidak berlanjut. Pada tahun-tahun sesudah pandemi, tulis Lahpan, YouTube tidak lagi menjadi wadah utama Festival Syukur Waktu dan hanya berfungsi sebagai kanal promosi acara serta tempat mengunggah dokumentasi setelahnya. Ia menafsirkannya begini: “Kasus ini memperlihatkan hakikat perayaan komunitas lokal, sebagai sesuatu yang perlu dialami secara langsung di tengah penonton alih-alih secara virtual, sehingga orang bisa merasakan keseruan pertunjukan langsung,” tulisnya dalam artikel berbahasa Inggris itu. Para pelaku seni tradisi di Tasikmalaya pun, menurut dia, lebih menyukai tanggapan penonton yang langsung dan spontan.
Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota
Meski begitu, digitalisasi meninggalkan jejak pada bentuk pertunjukannya sendiri. Sebagian seniman menyesuaikan gaya pementasan agar cocok dengan format digital; peralatan harus dipasang lebih cermat untuk versi rekaman, dan komponen artistik panggung, pencahayaan, serta kualitas suara harus diukur dengan teliti. Acong menekankan bahwa gerakan itu tidak boleh berhenti. “Kita harus terus bergerak. Kalau kita menghapus gerakan seni, saya khawatir orang akan terbiasa dengan seni instan di internet, membuat konten hanya untuk rating, suka, dan berbagi; tidak ada kedalaman seni,” katanya dalam wawancara pada 28 Mei 2021 — kutipan itu juga aslinya berbahasa Inggris.
Sejauh mana temuan ini bisa dibawa? Lahpan tidak menyusun bagian keterbatasan tersendiri, tetapi batas kerjanya terbaca dari rancangannya: ini studi kasus satu komunitas di satu kota, bertumpu pada data analitik satu akun YouTube sampai Agustus 2021 serta wawancara dengan sejumlah anggota komunitas dan seorang pegiat budaya, tanpa wawancara sistematis terhadap penonton. Ia mencatat memakai nama asli narasumber dengan persetujuan mereka. Kesimpulannya pun ia rumuskan dengan hati-hati: yang terjadi di Tasikmalaya menunjukkan bagaimana YouTube membuat pertunjukan tradisi bisa dijangkau khalayak lebih luas di Jawa Barat, bukan bahwa panggung virtual dapat menggantikan panggung sungguhan.
















