Cekricek.id — Di pintu masuk pemandian air panas Songgoriti, Kota Batu, seorang perempuan muda bernama Alma menemukan sehelai spanduk yang terpasang di tempat yang dulu ramai pengunjung. Isinya pemberitahuan bahwa area itu telah diamankan pemerintah. “Saya nyaris tidak melihat pengunjung di kawasan wisata Songgoriti [...] Bahkan di beberapa kawasan wisata, seperti pemandian air panas, terpasang spanduk bertuliskan: ‘Area telah diamankan oleh pemerintah’. Papan itu tergantung tepat di pintu masuk pemandian,” tulisnya. Catatan itu ia buat bukan untuk tugas sekolah, melainkan untuk sebuah buku antologi yang ditulis bersama belasan anak muda kampung wisata di Batu dan Malang.
Tulisan Alma dan kawan-kawannya menjadi bahan utama artikel Beyond creative tourism cities; Youth media commoning in urban Indonesia karya Amalia N. Andini dari Erasmus University Rotterdam, Mely Noviryani dari Universitas Brawijaya, Andhika Krisnaloka dari NIHR-Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change sekaligus Eutenika.org, serta Anton Novenanto dari Universitas Brawijaya. Artikel itu terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 2 pada 2026. Bahannya dikumpulkan lewat kerja lapangan dan pendampingan sejak September 2022 sampai Desember 2024.
Kerangka yang mereka pakai bernama media commoning. Commoning, kalau dijelaskan dengan bahasa sederhana, adalah kerja bareng mengurus sesuatu supaya tetap bisa dinikmati banyak orang dan tidak habis dikapling satu pihak; kata kerjanya sengaja dipakai untuk menekankan bahwa yang penting adalah kegiatannya, bukan bendanya. Media commoning berarti melakukan kerja bareng itu lewat film, tulisan, dan cerita yang dibuat sendiri oleh warganya. Andini dan rekan-rekannya memakai metode Youth Participatory Action Research, yang menempatkan anak muda bukan sebagai obyek yang diteliti melainkan sebagai mitra peneliti. Hasilnya dua hal: serangkaian film dokumenter yang dirilis lewat kanal YouTube Inside Songgoriti, dan buku antologi berjudul Pemuda dan pariwisata; Sebuah bunga rampai yang diterbitkan Perkumpulan Peneliti Eutenika pada 2025.
Dua Kota yang Menjual Citranya
Malang dan Batu sudah jadi tujuan pelesir sejak masa kolonial, ketika keduanya berada dalam Karesidenan Malang, dan diuntungkan oleh hawa sejuk serta pemandangan pegunungan di dekat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Belakangan keduanya menata diri lewat pencitraan kota. Malang mendirikan Malang Creative Center pada 2023 dan mengencangkan citra sebagai kota kreatif setelah ditetapkan sebagai UNESCO Creative City of Media and Arts pada 2025. Batu berjalan lebih dulu: merek Kota Wisata Batu diluncurkan pada 2007 pada masa Wali Kota Edi Rumpoko, disusul pembangunan taman-taman hiburan yang dipasarkan Jatim Park Group, lalu rencana pembangunan jangka menengah 2017-2022 dan cetak biru kota pintar lima tahunan.
Angka kunjungan memperlihatkan ke mana arus wisatawan mengalir. Data dinas pariwisata Batu yang diolah para peneliti mencatat kunjungan ke tujuh destinasi kelolaan Jatim Park Group naik dari sekitar 1,4 juta pada 2017 menjadi 3,35 juta pada 2019, anjlok ke 1,18 juta pada 2020, lalu pulih ke 3,4 juta pada 2022. Wisata berbasis kampung nyaris tidak kebagian limpahan itu. Di Malang, pembangunan koridor Kayutangan Heritage memang membuka ruang bagi usaha kafe, tetapi menggusur pedagang kaki lima yang sebelumnya berjualan di sepanjang jalan tersebut.
Anak muda menempati posisi yang serba ganjil dalam skema ini. Di pidato dan program, mereka disebut agen perubahan dan modal kreatif kota. Di lapangan, menurut para peneliti, saluran resmi seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan dan Forum Anak ada, tetapi keterlibatan yang sungguh-sungguh dalam perencanaan kota tetap minim, apalagi di tengah norma yang menempatkan orang tua sebagai pemegang keputusan. Data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam artikel itu menunjukkan lebih dari 44 persen penduduk berusia 16 sampai 30 tahun bekerja di sektor informal.
Songgoriti yang Ditinggal Pengunjung
Songgoriti adalah contoh paling terang. Setelah Batu memisahkan diri dari Kabupaten Malang dan menjadi kota otonom pada 2001, muncul sengketa kewenangan pengelolaan kawasan antara kabupaten dan kota. Sengketa itu berujung pada telantarnya sejumlah tujuan utama, termasuk candi dan pemandian air panas. Warga beralih ke ekonomi vila, menyewakan kamar untuk menginap singkat alih-alih mengelola vila keluarga. Sebagian bahkan menyewakan kamar per jam dengan tarif murah, dan lama-kelamaan kawasan itu — terutama Gang Macan — dilekati citra kawasan lampu merah.
Menurunnya kunjungan memukul pedagang pasar, penjaga karcis, tukang parkir, sampai pemilik vila. Selama pandemi mereka bertahan dengan cara masing-masing: menjadi buruh bangunan lepas, berdagang kecil-kecilan, atau kembali bertani untuk kebutuhan sendiri. Para peneliti menilai siasat itu bersifat bertahan hidup, bukan mengubah keadaan, karena tidak menghasilkan kestabilan ekonomi jangka panjang. Sesudah pandemi pun tingkat hunian vila naik turun dan jauh di bawah keadaan sebelumnya, sehingga yang terjadi bukan perlambatan sementara melainkan pelemahan struktural — berbeda dari sejumlah daerah yang kunjungan wisatanya kembali pulih sesudah pandemi. “Lebih memprihatinkan lagi, untuk membangun dan merawat vila, banyak pemilik vila terjerat utang. Sebagian vila akhirnya telantar atau terpaksa dijual,” tulis Alma dalam antologi tersebut. Vila yang dijaminkan ke bank bisa disita bila cicilannya macet.
Bagi anak muda, warisan yang paling berat justru bukan vilanya, melainkan cap yang menempel pada kampungnya. Generasi tua yang hidupnya bergantung pada sewa kamar cenderung menerima citra itu, sementara yang muda harus menghadapinya setiap kali bergaul di sekolah atau tempat kerja di luar kampung. Sebagian menjauh dari praktik yang dikaitkan dengan citra tersebut, sebagian lain justru terserap ke dalamnya karena pilihan mata pencaharian yang sempit. Persoalan semacam ini jarang muncul dalam bahasa promosi, berbeda dari cerita desa wisata yang sedang naik daun yang lebih sering diangkat.
Sinoman yang Kehilangan Anggota Muda
Film dokumenter Sinoman Songgoriti Seduluran Selawase, yang sebagian besar direkam dan dimainkan para kolaborator muda, berpusat pada tradisi sinoman. Dalam bahasa Jawa sinoman berarti anak muda, dan lazimnya merujuk pada kelompok pemuda yang melakukan rewang, membantu tetangga menyiapkan hajatan, festival, dan acara besar lain. Pembagian tugasnya bergender: laki-laki muda mengangkut, menata dekorasi, dan melayani tamu, sedangkan perempuan muda — kadang disebut biyodo — berada di dapur, memasak, menyambut tamu, dan mencuci piring.
Film itu mengikuti dua tokoh, Kabul dan Adul. Adegan pembukanya memperlihatkan Kabul, lelaki berusia tiga puluhan, menggergaji bambu sambil memberi aba-aba kepada kelompok yang menyiapkan dekorasi. Adul terlihat memimpin persiapan tarian untuk perayaan kampung dan, pada kesempatan lain, membantu menghidangkan makanan. Kerja itu sukarela tetapi berat dan makan waktu: berhari-hari dari pagi sampai malam, tanpa upah. “Saya ikut sinoman karena keinginan hati saya sendiri,” kata Kabul dalam film tersebut. Adul menimpali bahwa Kabul orang yang rajin, lucu, sekaligus cerewet dan teliti pada tugasnya.
Persoalannya, mencari anggota baru makin sulit sehingga keanggotaan condong ke laki-laki yang lebih tua. “Makin sulit mencari anak muda yang mau menjadi anggota [...] Kami tidak bisa memaksa mereka,” kata Kabul. Para peneliti menautkan pergeseran itu dengan urbanisasi yang digerakkan pariwisata selama dua dasawarsa terakhir: lapangan kerja di kampung menyempit, anak muda terserap ke pekerjaan lepas di hotel, vila, dan kafe di dalam maupun luar kota dengan upah sekitar Rp800.000 sampai Rp1.200.000 per bulan dan jam kerja yang bergantung pada musim liburan. Banyak yang merantau untuk kuliah ke Malang atau kota tetangga, sehingga waktu untuk kegiatan kampung menipis.
Toh mereka tidak menghilang sepenuhnya. Dalam film Suro 1957, Tiara yang berusia 22 tahun, mahasiswa sekaligus pekerja wisata, tetap aktif mengurus acara kampung dan menyebut jenang Suro sebagai bentuk syukur yang mengumpulkan warga jadi satu. Sabrina, penulis berusia 18 tahun dalam antologi, mengaku sering ikut rewang dan belajar membuat kue serta makanan tradisional dari sana. Namun ia juga mencatat rewang kini dipangkas demi kepraktisan: jenang cokelat jarang dibuat, sementara tugas mendirikan tenda, mendekor, dan menyiapkan makanan diserahkan ke penyedia jasa. Hitungannya sederhana, biaya menggelar hajatan di rumah dengan bantuan warga bisa setara atau bahkan lebih mahal daripada paket hotel. “Layanan biyodo dan sinoman sekarang sangat berbeda dibanding waktu saya kecil ... Bisa jadi dalam 10 tahun, model layanan biyodo dan sinoman tidak ada lagi,” tulisnya.
Sampah yang Tak Masuk Brosur Wisata
Bagian lain antologi berisi kegelisahan lingkungan. Lintang, perempuan muda dari Kampung Wisata Sidomulyo yang warganya kebanyakan petani bibit dan tanaman hias, menulis bahwa sampah menumpuk tanpa dipilah dan warga mencari jalan pintas yang justru berbahaya, seperti membakarnya atau membuangnya ke sungai; kampanye kesadaran datang tanpa tindak lanjut. Ghayas, dari Songgoriti, menulis bahwa lahan subur menyusut karena penggundulan hutan dan pengambilan air berlebihan, sementara jumlah penduduk dan pendatang terus bertambah. Keduanya menaruh harapan pada kerja sama dengan pemerintah dan pada media sosial sebagai saluran kampanye.
Angkanya, sebagaimana dirangkum para peneliti, memang berat. Produksi sampah Kota Batu tercatat 49.359,22 ton pada 2022, naik ke 52.062,38 ton pada 2023, dan 52.910,59 ton pada 2024, dengan lonjakan diperkirakan sekitar 150 ton per hari pada puncak musim libur. Tempat pembuangan akhir Tlekung seluas 5,1 hektare sudah kelebihan muatan sejak 2017 dan sempat ditutup sementara. Menurut catatan Walhi Jawa Timur yang dikutip dalam artikel itu, air lindi merembes ke Sungai Sabrangan yang menjadi sumber air ratusan keluarga, dan sejak 2020 airnya berubah kecokelatan serta berbau. Di Malang, produksi sampah sekitar 778,34 ton per hari berhadapan dengan kapasitas pengolahan tempat pembuangan akhir Supit Urang yang hanya 35 ton per hari. Persoalan air dan lahan seperti ini pula yang membuat sebagian daerah mencoba jalan lain, misalnya bertani tanpa tanah yang hemat air.
Kampung Organik dan Sehari di Giripurno
Bagian terakhir temuan justru berisi bayangan tentang masa depan, dan sebagian besar datang dari perempuan muda. Ocik menulis tentang Mojorejo, desa wisata di Kecamatan Junrejo yang punya punden yang diyakini sebagai lokasi asal Prasasti Sangguran dari abad kesepuluh — batunya sendiri sampai kini berada di Skotlandia meski berkali-kali diminta pulang — serta Vihara Dhammadipa Arama. Sejak 2019 warga menanam sayur organik di pekarangan, dan Kampung Organik lahir dari kebiasaan menanam di polibag ketika lahan pertanian kian tergerus bangunan penginapan. Kelompok Wanita Tani menjadi penggeraknya, memberi pelatihan sekaligus menguatkan ketahanan pangan.
Nabila menulis tentang Giripurno di Kecamatan Bumiaji, kampung bertema pertanian yang popularitasnya menurun sehingga beberapa fasilitas wisatanya telantar. Ia membayangkan paket wisata budaya dan pendidikan sehari bernama “A Day at Giripurno” yang memanfaatkan cerita kampung dan angkutan mini bus lokal Tayo yang kini sepi peminat. Para peneliti menyebut gagasan itu masih berupa cita-cita, tetapi menawarkan alternatif berskala kecil di hadapan atraksi bermodal besar. Model rintisan warga seperti ini bisa dibandingkan dengan cara komunitas anak muda di kota wisata lain menggerakkan kesadaran lingkungan tanpa menunggu program resmi.
Para penulisnya sendiri menandai batas kerja mereka. Meski anak muda yang menentukan topik dan tokoh film serta menulis kisahnya sendiri, sumber daya penelitian tetap dikelola peneliti kampus. “Kami menyadari keterbatasan ini mungkin memengaruhi dinamika di dalam kelompok YPAR,” tulis mereka, dan menjadikannya bahan evaluasi untuk kolaborasi berikutnya. Temuannya juga terbatas pada empat kampung — Songgoriti, Sidomulyo, Mojorejo, dan Giripurno — di dua kota, sehingga bukan potret pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Mereka pun mencatat bahwa gagasan commoning sebagai siasat ganda, sekaligus merangkul dan menolak kapitalisme, belum sepenuhnya terwujud di kampung-kampung tersebut. Film dan antologi itu kini beredar di kanal YouTube komunitas dan dipakai dalam diskusi film, kemah pemuda, serta kegiatan kampung, sementara kerja sama peneliti kampus dengan kelompok pemuda di Batu dan Malang masih berlanjut.















