- Sebanyak 93,1 persen petani percaya bahwa di tempat teduh mereka tidak berisiko terkena dampak radiasi matahari.
- Hanya 17,2 persen petani yang pengetahuannya tentang perlindungan dari matahari tergolong layak.
- Tetapi hanya 2,5 persen yang biasa menghindari matahari antara pukul 12.00 dan 16.00, dan hanya 9,8 persen yang sering memakai tabir surya.
- Seorang perempuan dari El Ron, P2, menyebut dirinya tidak memakai tabir surya karena harganya 60 soles.
Daftar Isi
- Enam sampai delapan jam di ladang, dan matahari jarang disebut sebagai bahaya
- Hampir semua petani percaya naungan sudah cukup menyelamatkan kulit mereka
- Tabir surya seharga 60 soles kalah oleh kebutuhan membeli produk untuk tanaman
- Bercak di wajah, air sungai, dan perjalanan satu setengah jam ke kota
- Angka-angka yang tidak saling cocok di dalam naskah itu sendiri
Dokter kulit itu menyuruhnya berhenti bekerja beberapa hari. Seorang petani lelaki dari Quebrada Seca, di wilayah Bagua Grande, Peru, mencari dokter kulit di Lima lewat konsultasi jarak jauh karena ada bercak di wajahnya. Saran itu tidak ia jalankan. Krim yang diresepkan ia buatkan di Chiclayo, ongkos perjalanannya mahal, dan bercak itu tidak juga hilang.
Kisah petani itu tercatat dalam Knowledge, practices and barriers to sun protection among farmers in Bagua Grande (Peru): a mixed-methods study karya Nelson Cesar Santisteban Salazar, Mirtha Yvis Santisteban Salazar, dan Magnolia Anacarina Arrasco Barrenechea, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel 558, tahun 2026. Para penulis mencatatnya sebagai P3. “Ia menyuruh saya tidak bekerja, tetapi saya tidak bisa,” katanya, dalam kutipan yang di naskah tertulis berbahasa Inggris.
Kalimat itu menggemakan banyak hal yang kemudian muncul dalam penelitian mereka. Nelson Cesar Santisteban Salazar bekerja di Seguro Social de Salud atau EsSalud di Lima, Mirtha Yvis di Universidad Cesar Vallejo di Chiclayo, dan Magnolia Anacarina di Universidad Ricardo Palma di Lima. Mereka menyurvei 203 petani pemegang asuransi agraria yang terdaftar di Rumah Sakit El Buen Samaritano, Bagua Grande, lalu mewawancarai tujuh di antaranya secara mendalam.
Enam sampai delapan jam di ladang, dan matahari jarang disebut sebagai bahaya
Bagua Grande terletak di region Amazonas. Menurut para penulis, kota itu menerima radiasi matahari tinggi sepanjang tahun karena dekat khatulistiwa, dan ekonominya bertumpu pada pertanian. Pada 2017, kanker kulit menjadi kanker paling sering di Amazonas, 21,6 persen dari kasus yang tercatat. Pada 2023, rumah sakit di kota itu mencatat 36 kasus karsinoma kulit, seperempatnya menimpa pemegang asuransi agraria.
Para petani yang disurvei rata-rata berusia 59 tahun, dan median masa kerja mereka di pertanian 17 tahun. Sebanyak 60,9 persen terpapar matahari tiga sampai empat jam sehari. Dalam wawancara, para petani lelaki dan perempuan bekerja rata-rata enam sampai delapan jam sehari, menanam untuk dimakan sendiri atau dijual. Para perempuan menggabungkannya dengan urusan rumah dan mengasuh anak.
Seorang perempuan dari Los Puquios, yang dicatat sebagai P1, bangun pukul empat pagi, mencuci, memasak, lalu turun ke ladang menanam daun bawang, kacang, ketumbar, padi, pisang, dan jeruk nipis. Pada Kamis dan Jumat ia berjualan kaldu ayam dan telur. Ia termasuk para perempuan yang menggabungkan kerja ladang dengan dapur dan pengasuhan.
Anehnya, bahaya matahari hampir tidak muncul dalam cerita mereka. Hanya dua peserta wawancara yang secara khusus menyebut paparan matahari yang lama sebagai risiko. Selebihnya berbicara tentang luka, parang, dan kampung yang terpencil. P3 menyebut matahari membakar kuat dan ia sudah 30 tahun bertani. Seorang lelaki dari El Zapote, P4, mengeluh matahari terlalu panas sampai ia tak bisa bekerja dengan nyaman.
Baca juga Praktik Cegah Mpox Tinggi di Sarawak, Pengetahuan Tertinggal
Hampir semua petani percaya naungan sudah cukup menyelamatkan kulit mereka
Angka survei memperlihatkan jarak yang lebar antara paparan dan pengetahuan. Hanya 17,2 persen petani yang pengetahuannya tentang perlindungan dari matahari tergolong layak. Sisanya, 82,8 persen, berada di bawah batas itu. Kuesioner yang dipakai berisi sepuluh pernyataan benar-salah tentang matahari dan kanker kulit, dan beberapa di antaranya dijawab keliru oleh hampir semua orang.
Pernyataan yang paling sering salah menyangkut naungan. Sebanyak 93,1 persen petani percaya bahwa di tempat teduh mereka tidak berisiko terkena dampak radiasi matahari. Sebanyak 84,6 persen tidak tahu bahwa perlindungan ekstra diperlukan ketika indeks ultraviolet di atas 3. Sebanyak 69,5 persen mengira kulit yang sudah cokelat tidak lagi membutuhkan tabir surya.
Para penulis tidak menyebut naungan sebagai langkah yang sia-sia. Mereka menjelaskan bahwa naungan memang mengurangi paparan langsung, tetapi radiasi yang dipantulkan tanah, pasir, atau air tetap bisa mencapai kulit, dan sinar bisa menembus sela daun. “Sebaliknya, naungan merupakan bentuk perlindungan dari matahari yang sederhana, gratis, dan berkelanjutan,” tulis Santisteban Salazar dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris.
Ada juga hal yang sudah dipahami. Sebanyak 83,2 persen tahu bahwa bayi di bawah satu tahun tidak boleh terkena matahari langsung, dan 73,9 persen tahu bahwa pakaian gelap lebih melindungi daripada pakaian terang. Para penulis juga mencatat bahwa petani di sana terutama bekerja di sawah padi, tempat tanah basah memantulkan radiasi dan menambah dosis yang diterima kulit.
Siapa yang paham, siapa yang tidak, juga terbaca dari survei itu. Petani berpengetahuan layak memiliki median usia 48 tahun, sementara yang pengetahuannya rendah 58 tahun. Setiap pertambahan usia menurunkan peluang berpengetahuan layak sekitar empat persen. Petani berkulit lebih gelap kira-kira sepertiga kemungkinannya dibanding yang berkulit terang, sedangkan pendidikan tinggi berkaitan dengan peluang yang lebih besar.
Temuan soal warna kulit itulah yang paling tajam. “Dalam konteks perdesaan kami, petani berkulit gelap cenderung meremehkan kerentanan mereka, karena kampanye pendidikan kesehatan secara historis diarahkan pada populasi berkulit terang,” tulis para penulis dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka juga mencatat bahwa kampanye nasional tentang keselamatan dari matahari lebih banyak diarahkan ke wilayah perkotaan.
Tabir surya seharga 60 soles kalah oleh kebutuhan membeli produk untuk tanaman
Kebiasaan sehari-hari para petani mengikuti pola yang sama. Sebanyak 42,4 persen selalu atau sering memakai baju lengan panjang dan celana panjang. Tetapi hanya 2,5 persen yang biasa menghindari matahari antara pukul 12.00 dan 16.00, dan hanya 9,8 persen yang sering memakai tabir surya. Sebanyak 87,7 persen tidak pernah memakai kacamata hitam, dan 83,0 persen tidak pernah memakai payung atau mencari naungan.
Wawancara menjelaskan mengapa. Seorang perempuan dari El Ron, P2, menyebut dirinya tidak memakai tabir surya karena harganya 60 soles. P3 menyebut krim seharga 40 atau 50 soles, dan menambahkan bahwa tabir surya luntur bersama keringat. Seorang perempuan dari Higos Urco, P7, berkata ia tak mampu membelinya karena harus membeli produk untuk tanamannya dan tinggal terpencil di kampung.
Pakaian pun tidak sepenuhnya jalan keluar. Para peserta menyebut pakaian berlapis membuat gerah dan memakan waktu, terutama bagi orang yang lebih muda. P5, perempuan dari La Victoria, mengaku menjaga diri karena anak-anaknya khawatir, tetapi putranya sendiri kadang tidak sempat melindungi diri. Tak seorang pun dari tujuh peserta wawancara tahu apakah dirinya peka terhadap cahaya matahari.
Para penulis merangkum pola itu dalam satu kalimat. “Temuan ini menunjukkan bahwa keterbatasan materi dan kondisi kerja berpengaruh menentukan terhadap praktik perlindungan dari matahari, melampaui usia kronologis,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris. Menurut mereka, bahkan ketika risiko sudah disadari, penerapan langkah perlindungan tetap dapat terhalang hambatan praktis dan ekonomi.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Bercak di wajah, air sungai, dan perjalanan satu setengah jam ke kota
Semua peserta wawancara melaporkan masalah kesehatan yang mereka kaitkan dengan matahari, dan juga dengan ketiadaan air minum bersih. P4 melihat bintik-bintik muncul di wajahnya tetapi belum memeriksakannya, dan memilih ramuan rumahan yang lebih terjangkau. P3 menyebut bercak di wajahnya berasal dari matahari dan dari air sungai, karena kampungnya tak punya air minum bersih.
Para penulis membaca campuran keluhan itu dengan hati-hati. Bintik, iritasi, dan infeksi jamur tidak seluruhnya berkaitan langsung dengan radiasi ultraviolet, tetapi mencerminkan kondisi lingkungan dan sanitasi tempat petani bekerja. Menurut mereka, tumpang tindih itu membuat petani memahami risiko matahari secara samar, karena luka kulit dikaitkan dengan matahari, air, atau panas tanpa pembedaan asal yang jelas.
Jalan ke layanan kesehatan pun panjang. P7 harus turun ke kota dengan kendaraan selama satu setengah jam dan membuat janji sehari sebelumnya, lalu diminta kembali sebulan kemudian. P2 berkata orang harus sekarat dulu untuk pergi ke pusat kesehatan, jadi lebih baik ke apotek. Karena jarak, waktu tunggu, dan perlakuan petugas, sebagian peserta memilih mengobati diri sendiri.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Angka-angka yang tidak saling cocok di dalam naskah itu sendiri
Beberapa bagian naskah perlu dibaca dengan cermat. Di bagian hasil, para penulis menulis bahwa mayoritas peserta adalah perempuan, 60,1 persen. Namun Tabel 1 mencantumkan laki-laki 122 orang atau 60,1 persen dan perempuan 81 orang atau 39,9 persen. Tabel 3 justru menjumlahkan 122 perempuan, sehingga salah satu label di Tabel 1 tampaknya tertukar.
Porsi petani yang terpapar pada jam puncak radiasi ditulis 62 persen di abstrak dan Tabel 1, tetapi 64 persen di bagian diskusi. Diskusi juga menyebut kelompok usia 48 sampai 67 tahun dengan tingkat pengetahuan rendah “(58%)”, padahal angka 58 di Tabel 3 adalah median usia kelompok berpengetahuan rendah, bukan persentase.
Di Tabel 4, dua rasio prevalensi berada di luar selang kepercayaannya sendiri, yaitu 0,67 dengan rentang 0,028–1,61 dan 0,57 dengan rentang 0,81–4,02. Masa kerja juga tampil bermakna pada analisis dua variabel dengan nilai p 0,015, tetapi tidak bermakna pada analisis regresi dengan nilai p 0,988. Ketiga selisih itu bisa dicocokkan langsung pada tabel naskah.
Para penulis sendiri mengakui keterbatasan penelitiannya. Pertanyaan tentang kebiasaan perlindungan bersifat umum, sehingga tidak diketahui apakah kacamata hitam berfilter ultraviolet, topi berpinggiran lebar, atau berapa faktor perlindungan tabir surya yang dipakai. Survei hanya mencakup petani berasuransi yang memakai layanan rumah sakit, sebagian besar paruh baya, dan jawabannya bergantung pada ingatan serta kejujuran peserta.
Karena itu, menurut para penulis, temuannya hanya bisa diperluas ke pemegang asuransi agraria di kota kecil kawasan hutan yang kondisinya mirip Bagua Grande. Di Quebrada Seca, bercak di wajah P3 tidak hilang oleh krim dari Chiclayo, dan saran dokter dari Lima untuk berhenti bekerja beberapa hari tetap tinggal sebagai saran.














