Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

A A

Pemulung memungut sampah plastik di tempat pembuangan sampah, Sidoarjo [Foto: Ivuvisual/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Studi terhadap 737 pekerja sanitasi di lima kota Nepal membagi mereka jadi penyapu, kolektor, pemulung, dan kelompok rujukan
  • Pemulung paling minim akses sarung tangan (42,1%) dan masker (40,4%), serta paling rentan masalah gigi (12,3%) dan luka gores (59,7%)
  • Risiko kesehatan kerja keseluruhan tertinggi pada pemulung 43,6%, disusul kolektor 32,7%, penyapu 28,9%, kelompok rujukan 27,3%
  • Studi potong lintang berbasis laporan sendiri; naskah memuat kejanggalan angka akses masker dan selisih jumlah total peserta
Daftar Isi
  1. Lima Kota, Empat Kelompok
  2. Sarung Tangan yang Tak Merata
  3. Gigi, Kulit, dan Panas
  4. Kontrak yang Tak Tetap
  5. Batas Datanya
  6. Kembali ke Tumpukan

Di tempat pembuangan akhir lima kota besar Nepal, pemulung berjalan tanpa alas kaki atau bersandal tipis di atas tumpukan sampah. Mereka memilah sisa rumah tangga dengan tangan telanjang, mencari barang yang masih bisa dijual dan dikumpulkan ke dalam karung besar, sementara kendaraan pengangkut dan alat berat terus bergerak di sekitar mereka sepanjang hari.

Adegan itu direkam dalam Occupational health risks and working conditions of sanitation workers in Nepal: a cross-sectional study, ditulis Sara Hagedorn Kragh bersama tiga belas peneliti lain dari Nepal Development Society, Odense University Hospital, dan Bharatpur Hospital. Studinya terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 811, tahun 2026.

Sebagian besar penulis bekerja di Nepal Development Society, Baluwatar, Kathmandu, sementara Sara Hagedorn Kragh dan Erik Jørs tercatat di Klinik Kedokteran Okupasi, Odense University Hospital, Denmark. Dinesh Neupane juga terdaftar di Bloomberg School of Public Health, Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Lima Kota, Empat Kelompok

Bharatpur, Janakpur, Nepalgunj, Biratnagar, dan Pokhara jadi lokasi kamp kesehatan tempat data ini dikumpulkan, dari akhir Februari sampai awal Juli 2024. Sebanyak 783 pekerja sanitasi datang dengan undangan terbuka. Empat puluh enam orang yang mengaku bertugas campuran dikeluarkan dari analisis karena tidak jelas pekerjaan spesifiknya, menyisakan 737 pekerja.

Peneliti membagi mereka jadi empat kelompok. Penyapu membersihkan jalan dengan sapu, berjalan tanpa alas kaki di antara sampah. Kolektor mengumpulkan sampah dari jalan dan mengangkatnya ke kendaraan, kadang di atas kepala, berkali-kali sehari. Pemulung memilah sampah di tempat pembuangan dengan tangan kosong. Sopir dan staf administrasi digabung jadi kelompok rujukan, karena kontak mereka dengan sampah paling minim.

Sebagian besar peserta laki-laki, kecuali di kelompok penyapu yang mayoritas perempuan, 53,4 persen. Usia median mereka 32 tahun, dan usia median saat mulai bekerja sebagai pekerja sanitasi 23 tahun. Lama kerja median lima tahun. Sebagian besar pemulung, 51,8 persen, berasal dari kelompok etnis Janajati, sementara lebih dari separuh penyapu dan kolektor adalah Dalit, kasta yang dianggap rendah di Nepal.

Baca juga Kebun Pala Banda Naira dan Buruh yang Belum Tercatat

Sarung Tangan yang Tak Merata

Kolektor dan pemulung sampah Nepal, dua risiko berbedaLuka gores 54,2% kolektor dan 59,7% pemulung; akses sarung tangan 69,9% kolektor dan 42,1% pemulung; akses masker 69,3% dan 40,4%; masalah gigi 3% dan 12,3%; gangguan otot-sendi 20,5% dan 21,1%.Kolektor dan pemulung sampah Nepal, dua risikoberbedaTabel 1-3, 737 pekerja sanitasi di lima kota NepalKolektorPemulung54,2%59,7%Luka gores kulit, 6bulan69,9%42,1%Akses sarungtangan69,3%40,4%Akses masker3%12,3%Masalah gigisetahun terakhir20,5%21,1%Gangguan otot dansendiKolektor lebih berisiko luka gores dan otot-sendi; pemulung lebih minimAPD dan lebih rentan masalah gigi.
Sumber: Sara Hagedorn Kragh, dkk., Occupational health risks and working conditions of sanitation workers in Nepal: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26(811), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di antara kolektor yang mengangkat sampah ke truk, 69,9 persen mengaku punya akses sarung tangan dan 69,3 persen punya akses masker. Di antara pemulung yang memilah dengan tangan telanjang di tumpukan sampah, angkanya jauh lebih rendah: 42,1 persen untuk sarung tangan dan 40,4 persen untuk masker. Pelindung mata paling jarang dimiliki kedua kelompok, hanya 22,9 persen kolektor dan 15,8 persen pemulung.

Air minum dan bahan sanitasi seperti sabun juga lebih sulit dijangkau pemulung dibanding kelompok rujukan dan penyapu. Peluang pemulung mencuci tangan pakai sabun sebelum makan hanya 0,29 kali dibanding kelompok rujukan, dengan interval kepercayaan 0,13 sampai 0,66. Sementara itu, pemulung justru lebih sering makan sambil bekerja, dengan peluang 2,45 kali dibanding kelompok rujukan.

Sara Hagedorn Kragh dan rekan-rekannya menulis dalam bahasa Inggris, “temuan-temuan ini menunjukkan akses yang tidak setara terhadap langkah-langkah pencegahan di semua jenis pekerja sanitasi,” dengan kalimat asli these findings indicate unequal access to preventative measures across all types of SW. Kalimat itu ditulis di bagian ringkasan naskah, tepat di samping tumpukan angka yang mereka kumpulkan dari lima kota tadi.

Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta

Gigi, Kulit, dan Panas

Luka gores kulit paling sering dialami kolektor, 54,2 persen, dan pemulung, 59,7 persen, jauh di atas penyapu, 17,8 persen, dan kelompok rujukan, 14,7 persen. Setelah dihitung bersama faktor lain seperti usia dan pendidikan, peluang kolektor mengalami luka gores 6,29 kali dibanding kelompok rujukan, sementara pemulung 8,75 kali.

Masalah gigi jadi keluhan yang menonjol pada pemulung, dialami 12,3 persen dari mereka, dibanding hanya 3 persen penyapu dan kolektor, serta 2,4 persen kelompok rujukan. Peluang pemulung mengalami masalah gigi 5,84 kali dibanding kelompok rujukan setelah disesuaikan, angka tertinggi di antara semua keluhan kesehatan yang diukur dalam studi ini.

Stres akibat panas menimpa 26,3 persen pemulung, jauh di atas kolektor, 12,1 persen, penyapu, 9,8 persen, dan kelompok rujukan, 11,5 persen. Peneliti menduga jadwal kerja pemulung yang berlangsung sepanjang hari, termasuk saat matahari paling terik, jadi sebabnya, berbeda dari kelompok lain yang biasanya bekerja di pagi hari.

Cedera tusuk jarum dalam enam bulan terakhir, dihitung di antara pekerja yang pernah mengalami luka gores, dilaporkan oleh 70 persen pemulung, 56,5 persen kolektor, dan 26,9 persen penyapu, dibanding 38,1 persen kelompok rujukan. Angka-angka subkelompok ini dihitung dari jumlah peserta yang lebih kecil, sehingga peneliti meminta pembaca menafsirkannya dengan hati-hati.

Risiko kesehatan kerja keseluruhan, empat kelompokRisiko kesehatan kerja keseluruhan: pemulung 43,6%, kolektor 32,7%, penyapu 28,9%, kelompok rujukan 27,3%, dari 737 pekerja yang dianalisis.Risiko kesehatan kerja keseluruhan, empatkelompokProporsi pekerja yang melapor risiko kesehatan kerja setahun terakhir43,6%Pemulungtertinggi darisemua kelompok32,7%Kolektorluka gores danotot-sendi tinggi28,9%Penyapustres panaspaling rendah27,3%Rujukansopir & staf,kontak sampahJalan risetnya783 pekerja ikut kampkesehatan737 masuk analisis akhirdibagi empat kelompokkerja46 pekerja bertipe campuran dikeluarkan dari analisis karena tugasnyatak jelas.
Sumber: Sara Hagedorn Kragh, dkk., Occupational health risks and working conditions of sanitation workers in Nepal: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26(811), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika seluruh jenis keluhan kesehatan kerja digabung jadi satu ukuran, pemulung mencatat angka tertinggi, 43,6 persen, diikuti kolektor 32,7 persen dan penyapu 28,9 persen. Kelompok rujukan mencatat angka terendah, 27,3 persen. Gangguan otot dan sendi juga lebih sering dialami kolektor, 20,5 persen, dengan peluang 1,89 kali dibanding kelompok rujukan setelah disesuaikan.

Kolektor justru mencatat tingkat vaksinasi yang lebih baik dibanding kelompok lain. Peluang kolektor mendapat vaksin tetanus 1,87 kali dan vaksin hepatitis B 2,48 kali dibanding kelompok rujukan, keduanya bermakna secara statistik. Pemulung sebaliknya tidak menunjukkan perbedaan bermakna soal vaksinasi, meski akses mereka terhadap hampir semua bentuk perlindungan lain tercatat paling rendah di antara empat kelompok.

Kontrak yang Tak Tetap

Hanya 5,4 persen pemulung yang berstatus pegawai tetap, jauh di bawah 24,7 persen penyapu dan 15,9 persen kelompok rujukan. Sebagian besar bekerja informal atau berkontrak sementara. Undang-Undang Ketenagakerjaan Nepal mewajibkan jam kerja maksimal delapan jam sehari dan minimal satu hari libur seminggu, tetapi 59,7 persen pemulung tetap bekerja tujuh hari seminggu.

Peneliti mencatat bahwa pemulung cenderung pekerja informal, sehingga kemungkinan jumlah mereka yang sebenarnya di lapangan lebih besar dari yang tercatat dalam studi ini. Status kerja yang tidak tetap ini berkaitan dengan rendahnya akses asuransi kesehatan, hanya 0,34 kali peluangnya dibanding kelompok rujukan, meski selisih ini tidak lagi bermakna secara statistik setelah disesuaikan.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Batas Datanya

Studi ini bersifat potong lintang, direkrut lewat undangan terbuka tanpa cara memastikan berapa banyak pekerja sanitasi yang sebenarnya memenuhi syarat ikut. Peneliti menulis bahwa pekerja yang absen saat kamp kesehatan berlangsung mungkin lebih sehat atau justru lebih sakit dibanding yang datang, sehingga hasil studi berisiko condong ke arah kelompok yang lebih sehat.

Seluruh data kesehatan berasal dari laporan sendiri para pekerja untuk kejadian setahun ke belakang, terbuka pada bias ingatan. Kuesionernya juga disusun dalam bahasa Inggris, diterjemahkan ke bahasa Nepal untuk pengambilan data, lalu diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris untuk dianalisis, tanpa validasi linguistik dan budaya pada proses bolak-balik itu.

Tidak ada populasi umum Nepal yang dijadikan pembanding, sehingga peneliti tidak bisa memastikan apakah pekerja sanitasi benar-benar lebih rentan dibanding masyarakat pada umumnya. Pengelompokan jenis pekerja juga berdasarkan pengakuan sendiri para peserta, tanpa verifikasi tugas harian yang sesungguhnya mereka kerjakan di lapangan setiap hari.

Ada kejanggalan kecil di bagian pembahasan soal alat pelindung diri. Naskah menulis rentang akses masker sebagai “40–69.7.7%,” dengan titik desimal ganda yang tampak seperti kesalahan ketik dari angka 69,7 persen. Bagian awal naskah juga menyebut total peserta 783 orang, sementara sebagian bagian lain memakai angka 737, jumlah setelah 46 pekerja tipe campuran dikeluarkan dari analisis.

Pembaca perlu membedakan kedua angka itu ketika menelusuri tabel demi tabel dalam naskah. Keduanya sama-sama muncul tanpa penanda yang tegas, sehingga mudah tertukar mana yang dimaksud sebagai populasi awal kamp kesehatan dan mana yang sudah disaring untuk masuk analisis akhir.

Kembali ke Tumpukan

Di tempat pembuangan yang sama tempat pemulung tadi berjalan tanpa alas kaki, angka-angka ini menemukan bentuknya: sarung tangan yang jarang sampai ke tangan mereka, sabun yang jarang mereka pegang sebelum makan, dan gigi yang lebih sering bermasalah dibanding rekan kerja mereka di kelompok lain. Tumpukan sampah yang mereka pilah setiap hari tetap sama, tetapi risiko yang menempel di atasnya kini punya angka.

Bagikan

Baca Juga

Praktik Cegah Mpox Tinggi di Sarawak, Pengetahuan Tertinggal
Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia