- Survei 116.939 pekerja di 736 tempat kerja mencakup tujuh sektor kritikal Malaysia
- Gangguan mental terduga 50,09% di hotel & restoran, jauh di atas manufaktur 24,34%
- Neurotoksisitas tertinggi justru di sektor perdagangan grosir-eceran, 17,05%
- Pembahasan sebut gangguan pendengaran manufaktur 58,38%, tabel hasil catat 11,84%
Daftar Isi
Kata terduga dalam judul penelitian ini bukan basa-basi. Sebuah “penyakit akibat kerja terduga” (dalam naskah asli disebut suspected occupational disease) berarti gejala pekerja itu cocok dengan kuesioner penyaring, tetapi belum tentu sudah diperiksa dokter dan dipastikan lewat pemeriksaan klinis. Istilah itu menjadi kunci untuk membaca seluruh angka dalam studi ini.
Temuan itu ditulis Siti Munira Yasin, Meram Azzani, dan enam belas rekan penulis dalam Prevalence of Suspected Occupational Diseases Across Critical Industries in Malaysia, terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Siti Munira Yasin dan Meram Azzani, dua penulis utama sekaligus penulis korespondensi, berasal dari Fakultas Kedokteran Universiti Teknologi MARA di Selangor, Malaysia.
Sebagai pembanding, catatan resmi Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Malaysia hanya mencatat 8.155 kasus penyakit dan keracunan akibat kerja yang terkonfirmasi sepanjang 2023, dengan 82,8 persen di antaranya gangguan pendengaran akibat bising. Jarak antara angka resmi itu dan skala terduga dalam studi baru ini menjadi alasan mengapa istilah terduga penting dipahami sejak awal.
Terduga, Bukan Dipastikan
Maksudnya begini. Peneliti menyebar kuesioner daring tervalidasi ke pekerja di tujuh sektor industri kritikal Malaysia: manufaktur, konstruksi, pertambangan dan penggalian, perdagangan grosir-eceran, hotel dan restoran, utilitas, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan. Undangan dikirim ke 2.000 perusahaan lewat Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Malaysia, dan hanya 525 perusahaan atau 26,3 persen yang bersedia berpartisipasi.
Karena sebagian perusahaan punya banyak cabang, jumlah akhir tempat kerja yang dianalisis menjadi 736, dengan 116.939 pekerja mengisi kuesioner secara lengkap sepanjang Januari sampai Oktober 2023. Enam penyakit disaring sekaligus: gangguan pendengaran akibat bising, gangguan kesehatan mental, neurotoksisitas, gangguan otot dan rangka, penyakit kulit, dan penyakit pernapasan.
Kerah Biru, Paparan di Depan
Istilah kerah biru dipakai peneliti untuk pekerja lapangan dan produksi, berbeda dari kerah putih yang bekerja di balik meja. Sembilan dari sepuluh responden, tepatnya 104.023 orang atau 89,0 persen, adalah kerah biru. Bedanya begini: kerah biru tercatat punya prevalensi lebih tinggi untuk penyakit pernapasan, gangguan mental, gangguan otot dan rangka, serta neurotoksisitas dibanding kerah putih.
Usia rata-rata pekerja yang disurvei 34,55 tahun, tergolong muda untuk standar angkatan kerja industri. Sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, 72.121 orang atau 61,7 persen, dan mayoritas warga negara Malaysia, 103.056 orang atau 88,1 persen. Pekerja bukan warga negara hanya 13.883 orang, tetapi tetap tercatat dalam enam kategori penyakit terduga yang sama.
Lebih dari separuh pekerja tergolong kelebihan berat badan atau obesitas, sekitar 51,2 persen jika digabungkan, dan 25.570 orang atau 21,9 persen berstatus perokok aktif. Kedua faktor itu, menurut naskah, berasosiasi bermakna secara statistik dengan keenam kategori penyakit terduga, meski pekerja bukan perokok justru mencatat prevalensi penyakit lebih tinggi dibanding perokok aktif di semua kategori.
Gangguan Mental, Paling Terasa di Meja Restoran
Gangguan kesehatan mental terduga, disingkat MHI dalam naskah, menjadi kondisi dengan sebaran paling mencolok antarsektor. Di manufaktur angkanya 24,34 persen, sedangkan di hotel dan restoran melonjak menjadi 50,09 persen, hampir separuh pekerja di sektor itu. Di utilitas, angkanya 36,45 persen, lebih dari sepertiga tenaga kerja.
Bedanya begini: manufaktur mempekerjakan paling banyak responden dalam studi ini, 44.100 orang atau 37,7 persen dari total sampel, tetapi prevalensi MHI di sana justru lebih rendah dibanding hotel dan restoran yang jumlah pekerjanya jauh lebih sedikit, 5.982 orang atau 5,1 persen. Ukuran sektor dan tingkat risiko ternyata dua hal yang tidak berjalan searah.
Sektor utilitas berada di tengah, mempekerjakan 18.704 orang atau 16,0 persen dari total sampel, dengan prevalensi gangguan mental 36,45 persen. Angka itu menempatkan utilitas sebagai sektor kedua paling terdampak setelah hotel dan restoran, mengalahkan konstruksi yang hanya mencatat gangguan mental terduga 4,16 persen, salah satu yang paling rendah di antara tujuh sektor.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Neurotoksisitas, Racun yang Menumpuk Diam-diam
Neurotoksisitas adalah istilah untuk gangguan sistem saraf akibat paparan bahan kimia di tempat kerja, biasanya berjalan pelan dan baru terasa setelah bertahun-tahun terpapar. Dalam studi ini, sektor perdagangan grosir dan eceran justru mencatat prevalensi neurotoksisitas terduga tertinggi, 17,05 persen, mengalahkan sektor manufaktur yang lebih identik dengan bahan kimia industri.
Pola itu berlawanan dengan dugaan awal, dan para peneliti menandaskan temuannya secara tegas. “This nationwide analysis reveals an urgent and uneven burden of suspected occupational diseases in Malaysia, with distinct sectoral patterns and strong demographic influences,” tulis Siti Munira Yasin dan Meram Azzani dalam naskah aslinya yang berbahasa Inggris. Kalimat itu bisa diterjemahkan: beban penyakit akibat kerja terduga di Malaysia timpang dan mendesak, dengan pola sektoral yang khas dan pengaruh demografis yang kuat.
Penyakit kulit terduga menjadi kategori dengan prevalensi paling rendah di seluruh tujuh sektor, berkisar dari 2,20 persen di pertanian, kehutanan, dan perikanan hingga 7,96 persen di pertambangan dan penggalian. Bedanya begini: sektor dengan paparan bahan kimia tertinggi belum tentu mencatat penyakit kulit tertinggi, karena pertambangan dan penggalian justru unggul di kategori itu, bukan manufaktur atau perdagangan.
WRMSD, Ketika Otot dan Sendi Protes
WRMSD adalah singkatan untuk gangguan otot dan rangka akibat kerja, mencakup nyeri punggung, bahu, dan pergelangan tangan yang berulang. Di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, WRMSD menjadi kondisi paling umum, 7,60 persen, mengalahkan lima penyakit terduga lain di sektor yang sama. Sementara itu, penyakit pernapasan justru paling terasa di utilitas, 22,38 persen, disusul pertambangan dan penggalian, 19,75 persen.
Konstruksi, sektor yang identik dengan debu dan bahan bangunan, mencatat penyakit pernapasan terduga hanya 9,00 persen, jauh di bawah utilitas dan pertambangan. Semua enam kategori penyakit terduga, menurut uji statistik dalam naskah, berhubungan bermakna dengan kewarganegaraan, etnis, jenis kelamin, indeks massa tubuh, tingkat pendidikan, dan status merokok pekerja.
Para peneliti mendorong industri berisiko tinggi memasang sistem pemeriksaan penyakit akibat kerja secara proaktif, bukan menunggu pekerja mengeluh lebih dulu. Basis data penyakit yang terhubung dengan pemetaan bahaya di tiap tempat kerja, menurut naskah, memungkinkan intervensi yang lebih terarah dibanding pendekatan yang berlaku selama ini.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Interval Kepercayaan, Batas Aman Sebuah Angka
Interval kepercayaan 95 persen, disingkat 95% CI, adalah rentang yang menunjukkan seberapa yakin peneliti pada satu angka prevalensi. Semakin sempit rentangnya, semakin stabil angka itu. Namun keyakinan pada rentang tidak menjamin keyakinan pada besaran itu sendiri, dan di sinilah batas istilah terduga tadi kembali relevan untuk diingat pembaca.
Naskah ini punya kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Bagian pembahasan menyebut prevalensi gangguan pendengaran akibat bising di manufaktur “alarmingly high at 58.38%,” atau mengkhawatirkan pada angka 58,38 persen. Padahal tabel hasil pada bagian yang sama memuat angka gangguan pendengaran manufaktur hanya 11,84 persen, dengan interval kepercayaan 11,49 sampai 12,20 persen, jauh berbeda dari yang disebut di pembahasan.
Penelitian ini juga bersifat potong lintang, sehingga tidak bisa memastikan hubungan sebab akibat antara sektor pekerjaan dan penyakit yang muncul. Karena seluruh ukuran penyakit berasal dari laporan sendiri lewat kuesioner, bukan diagnosis klinis dokter, peneliti mengakui kemungkinan bias pelaporan dan salah klasifikasi tetap terbuka pada seluruh angka yang disajikan.
Studi ini juga hanya mencakup tujuh sektor terpilih dan pekerja yang aktif secara ekonomi, sehingga generalisasinya terbatas pada sektor formal yang disurvei. Pekerja informal, sektor ekonomi lain di luar tujuh yang diteliti, dan kelompok pekerja lanjut usia tidak masuk dalam potret ini, sesuatu yang diakui sendiri oleh para peneliti sebagai celah penelitian mendatang.
Baca juga Kebun Pala Banda Naira dan Buruh yang Belum Tercatat
Istilah terduga pada akhirnya tetap berdiri sebagai batas, bukan sekadar formalitas judul. Ia memisahkan apa yang tampak dari kuesioner dengan apa yang benar-benar diperiksa oleh dokter di klinik kerja. Selama batas itu belum dijembatani lewat pemeriksaan klinis lanjutan, angka-angka prevalensi di tujuh sektor kritikal Malaysia ini tetap merupakan potret kecurigaan berskala besar, bukan potret diagnosis.















