Praktik Cegah Mpox Tinggi di Sarawak, Pengetahuan Tertinggal

A A

Suasana pasar rakyat Serian, Sarawak, Malaysia, tempat warga berinteraksi [Foto: Alvin Kho/Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0]

  • Survei 442 orang dewasa di Kuching dan Padawan, Sarawak, mencatat 95,0 persen berpraktik pencegahan Mpox baik, tetapi 64,7 persen berpengetahuan buruk.
  • Sikap positif dan literasi kesehatan digital baik berasosiasi kuat dengan praktik baik dalam model regresi logistik akhir.
  • Usia muda, laki-laki, dan status wiraswasta atau tidak bekerja berasosiasi dengan praktik pencegahan yang lebih baik.
  • Odds ratio sikap dan status tidak bekerja memiliki interval kepercayaan sangat lebar, diakui penulis sendiri sebagai tidak presisi.
Daftar Isi
  1. Sebelum survei ini: kasus Semenanjung, kekosongan data komunitas
  2. Sampel yang dijaring lewat lima tahap acak
  3. Praktik pencegahan tinggi, pengetahuan tertinggal jauh
  4. Sikap dan literasi digital yang mengangkat kepatuhan
  5. Usia muda, laki-laki, dan status kerja yang tak terduga
  6. Menyambung rantai riset dari Pakistan dan Malaysia Selatan
  7. Interval yang terlalu lebar untuk dipercaya penuh

Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengganti nama penyakit itu menjadi Mpox pada November 2022 dan wabahnya menyebar ke luar negara-negara endemis, kewaspadaan bergeser ke wilayah-wilayah yang terhubung lewat perjalanan udara dan pariwisata. Malaysia mencatat kasus Mpox pertamanya pada Juli 2023, mula-mula di Kuala Lumpur dan Selangor, sebelum satu kasus lain muncul di Sarawak dan menandakan risikonya tidak berhenti di Semenanjung.

Pada 2026, enam peneliti dari Universiti Malaysia Sarawak dan Jabatan Kesihatan Negeri Sarawak mendatangi rumah-rumah warga di Kuching dan Padawan. Mereka hendak mengukur seberapa siap warga menghadapi ancaman yang datang lewat jalur perjalanan itu, di tempat yang belum pernah mengalami penularan lokal berkelanjutan. Kuching dipilih karena berfungsi sebagai gerbang perjalanan sekaligus pusat kota Sarawak, sementara Padawan mewakili kawasan pedesaan dengan akses layanan kesehatan yang bisa jadi berbeda.

Faiz Mazlan, Sam Froze Jiee, Romano Ngui, Siong Hee Lim, Melvin Chung Hsien Liang, dan Fabiolla Lea menuliskannya dalam Mpox preventive practices and associated factors among adults in a travel-connected setting in Southern Sarawak, Malaysia: a community-based cross-sectional study, terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Studi ini menyurvei 442 orang dewasa di Southern Sarawak dari Januari sampai Agustus 2025.

Naskah ini menempatkan temuannya di tengah rantai riset serupa yang lebih dulu dilakukan di Pakistan, Malaysia Selatan, Vietnam, dan Ghana. Perbandingan itu yang membuat angka-angka Sarawak jadi lebih bermakna, bukan sekadar berdiri sendiri sebagai potret satu wilayah. Perbandingan lintas negara itu juga membantu menilai apakah pola praktik tinggi dengan pengetahuan rendah bersifat khas satu kawasan atau berulang di tempat-tempat lain yang tidak endemis Mpox.

Sebelum survei ini: kasus Semenanjung, kekosongan data komunitas

Yang lebih dulu diketahui adalah bahwa Mpox di Malaysia bersifat intermiten, bukan penularan lokal yang menetap, dengan kasus-kasus awal terkonsentrasi di Kuala Lumpur dan Selangor. Kuching berfungsi sebagai pusat administrasi, komersial, dan pariwisata utama Sarawak, sementara Padawan di sekitarnya memuat komunitas peri-urban dan pedesaan dengan akses informasi kesehatan yang mungkin berbeda.

Faiz Mazlan dan kawan-kawan mencatat bahwa penelitian tentang pengetahuan, sikap, dan praktik Mpox pada populasi umum, di luar tenaga kesehatan dan kelompok berisiko tinggi, masih terbatas di kawasan Asia yang tidak endemis. Kesenjangan itulah yang mereka coba isi lewat survei komunitas di dua wilayah Sarawak Selatan tersebut.

Sampel yang dijaring lewat lima tahap acak

Untuk mengisi kekosongan itu, tim menyusun sampling bertahap. Kuching dan Padawan dipilih secara purposif sebagai representasi kawasan terhubung perjalanan sekaligus kawasan pedesaan, lalu 24 lokalitas dipilih acak sederhana, dua belas dari tiap wilayah. Rumah tangga di tiap lokalitas kemudian dipilih dengan systematic random sampling, dan anggota rumah tangga disaring kelayakannya, usia delapan belas tahun ke atas dan tinggal minimal enam bulan berturut-turut.

Satu responden dipilih acak bila lebih dari satu orang memenuhi syarat dalam satu rumah, mengikuti prosedur pengundian sederhana. Prosedur ini menghasilkan target 221 responden per wilayah, dan pada akhirnya 442 kuesioner terkumpul lengkap tanpa satu pun yang perlu diimputasi. Usia median responden tercatat 37,5 tahun dengan rentang 18 sampai 61 tahun, dan lebih dari separuhnya, 53,4 persen, berstatus menikah.

Lima Tahap Menuju 442 Responden SarawakLima Tahap Menuju 442 Responden SarawakLima Tahap Menuju 442 Responden SarawakSampling bertahap studi Mpox di Southern Sarawak, MalaysiaPilihwilayahKuching,PadawanAcaklokalitas24 lokalitasAcakrumahSistematisSkriningUsia 18tahun+442responden
Sumber: Faiz Mazlan, Sam Froze Jiee, Romano Ngui, Siong Hee Lim, Melvin Chung Hsien Liang, dan Fabiolla Lea, Mpox preventive practices and associated factors among adults in a travel-connected setting in Southern Sarawak, Malaysia: a community-based cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Praktik pencegahan tinggi, pengetahuan tertinggal jauh

Begitu data terkumpul, kesenjangan yang paling mencolok muncul di permukaan. Sebanyak 420 dari 442 responden, atau 95,0 persen, digolongkan berpraktik pencegahan baik, dan 95,2 persen memiliki sikap positif terhadap Mpox. Namun 64,7 persen responden justru berpengetahuan buruk tentang penyakit itu, dan hanya 56,3 persen yang tergolong memiliki literasi kesehatan digital baik.

Responden banyak menjawab benar soal penularan hewan-ke-manusia, 76,0 persen, dan cuci tangan sebagai pencegahan, 99,1 persen. Namun hanya 6,6 persen yang tahu masa inkubasi Mpox 1 sampai 21 hari, dan hanya 12,9 persen yang tahu rasio fatalitas kasusnya secara historis berkisar 0 sampai 11 persen. Efektivitas vaksin cacar terhadap Mpox pun hanya dijawab benar oleh 38,2 persen responden.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Sikap dan literasi digital yang mengangkat kepatuhan

Setelah pola kesenjangan itu terpetakan, tim melanjutkan ke pertanyaan mengapa praktik tetap tinggi meski pengetahuan rendah. Dalam model regresi logistik akhir, yang secara keseluruhan signifikan, chi-kuadrat 10 derajat kebebasan sama dengan 102,664 dan p kurang dari 0,001, sikap positif berasosiasi dengan odds ratio teramat besar terhadap praktik baik.

Literasi kesehatan digital baik memberi odds ratio 28,18 dibanding literasi buruk, angka yang jauh lebih moderat dan lebih bisa dipercaya dibanding odds ratio sikap. Faiz Mazlan dan kawan-kawan menulis dalam bahasa Inggris, “Digital health literacy was also independently associated with good Mpox preventive practice,” yang jika diterjemahkan berarti literasi kesehatan digital juga secara mandiri berasosiasi dengan praktik pencegahan Mpox yang baik.

Praktik Baik Menonjol, Pengetahuan TertinggalPraktik pencegahan baik: Proporsi responden +95,0%; Sikap positif: Proporsi responden +95,2%; Literasi digital baik: Proporsi responden +56,3%; Pengetahuan baik: Proporsi responden +35,3%.Praktik Baik Menonjol, Pengetahuan TertinggalProporsi 442 responden pada tiap indikator (persen)25%50%75%100%0Praktik pencegahan baik95,0%Sikap positif95,2%Literasi digital baik56,3%Pengetahuan baik35,3%
Sumber: Faiz Mazlan, Sam Froze Jiee, Romano Ngui, Siong Hee Lim, Melvin Chung Hsien Liang, dan Fabiolla Lea, Mpox preventive practices and associated factors among adults in a travel-connected setting in Southern Sarawak, Malaysia: a community-based cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Usia muda, laki-laki, dan status kerja yang tak terduga

Selain sikap dan literasi digital, faktor sosiodemografi juga masuk ke model akhir dengan arah yang tidak selalu terduga. Usia berasosiasi terbalik dengan praktik baik, adjusted odds ratio 0,87, artinya tiap tambah satu tahun usia, peluang berpraktik baik turun 13 persen. Perempuan justru punya odds ratio jauh lebih rendah dibanding laki-laki, 0,01, kebalikan dari temuan di Pakistan dan Vietnam yang justru mencatat perempuan lebih patuh. Faiz Mazlan dan kawan-kawan menyebut pola gender ini kemungkinan mencerminkan perbedaan konteks lokal, bukan pola yang berlaku universal di semua tempat.

Sementara itu, responden wiraswasta memiliki odds ratio 16,04 dan yang tidak bekerja 232,80 dibanding pekerja sektor pemerintah. Dua angka itu, oleh para penulis sendiri, disebut harus dibaca hati-hati karena interval kepercayaannya sangat lebar. Diagnostik model tetap menunjukkan tidak ada multikolinearitas serius, dengan seluruh nilai variance inflation factor di bawah lima dan nilai toleransi di atas 0,20.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Menyambung rantai riset dari Pakistan dan Malaysia Selatan

Temuan Sarawak ini tidak berdiri sendiri, dan naskah secara eksplisit menyandingkannya dengan riset-riset yang lebih dulu terbit. Hashaam dan kawan-kawan di Pakistan pada 2023 mencatat 57,7 persen praktik baik dengan hanya 34,4 persen pengetahuan baik, pola yang serupa tetapi dengan angka praktik jauh lebih rendah dibanding 95,0 persen di Sarawak.

Sementara itu, Vallasamy dan kawan-kawan yang meneliti komunitas Malaysia Selatan pada 2022 hanya menemukan 25,8 persen responden berpengetahuan memadai tentang monkeypox. Mereka menyimpulkan pemahaman komunitas masih perlu ditingkatkan untuk kesiapan menghadapi wabah, kesimpulan yang senada dengan temuan pengetahuan buruk di Sarawak. Faiz Mazlan dan kawan-kawan menduga selisih besar angka praktik itu berasal dari perbedaan konteks, waktu survei, dan cara penilaian skor. Mereka juga menyebut kampanye kesehatan masyarakat pascapandemi COVID-19 sebagai kemungkinan pengaruh yang masih melekat di kebiasaan warga Sarawak.

Baca juga Poster Ramadan Kampung Kuningan dan Setan yang Diborgol

Interval yang terlalu lebar untuk dipercaya penuh

Menjelang akhir naskah, ada satu kejanggalan yang bisa diperiksa siapa pun yang membaca tabel regresinya sendiri. Odds ratio sikap positif pada model akhir tercatat 1739,39 dengan interval kepercayaan 95 persen dari 98,18 sampai 308.815,47, dan odds ratio status tidak bekerja tercatat 232,80 dengan interval 6,35 sampai 8.541,77.

Rentang seperti itu, dari puluhan ke ratusan ribu dalam satu angka yang sama, secara statistik menandakan estimasi yang nyaris tidak presisi. Para penulis sendiri mengakui hal itu dalam naskahnya, menyebutnya sebagai akibat dari sedikitnya responden dengan sikap negatif atau praktik buruk sehingga model kesulitan mengunci angka pastinya.

Faiz Mazlan dan kawan-kawan juga mencantumkan sejumlah keterbatasan sendiri, termasuk desain potong-lintang yang tidak bisa membuktikan sebab-akibat dan kemungkinan bias sosial pada jawaban tentang praktik yang dilaporkan sendiri. Pemilihan purposif Kuching serta Padawan pada tahap awal sampling turut membatasi generalisasi temuan ke wilayah Sarawak yang lebih terpencil.

Ambang skor praktik baik, yang diadopsi dari studi Pakistan, juga belum divalidasi secara khusus untuk konteks Sarawak. Angka 95,0 persen itu perlu dibaca sebagai hasil dari satu definisi tertentu, bukan patokan tunggal yang otomatis berlaku di tempat lain. Dengan segala catatan itu, survei di Kuching dan Padawan menempati posisinya sendiri dalam rantai riset Mpox di kawasan non-endemis.

Ia menegaskan pola yang lebih dulu terlihat di Pakistan, bahwa praktik bisa tinggi meski pengetahuan rendah, sekaligus menambahkan variabel yang belum banyak diuji sebelumnya. Variabel baru itu, literasi kesehatan digital, kini duduk sebagai faktor yang ikut menentukan kesiapan komunitas menghadapi penyakit yang datang lewat jalur perjalanan. Bagaimana rantai riset berikutnya menguji ulang temuan ini di wilayah Sarawak yang lebih terpencil, masih menjadi pekerjaan rumah bagi peneliti sesudahnya.

Tag:
Bagikan

Baca Juga

Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China