Poster Ramadan Kampung Kuningan dan Setan yang Diborgol

A A

Gerbang dan bangunan masjid kampung Sambisari di Sleman, Yogyakarta. [Foto: Nerissa Lyra/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Empat poster Ramadan di Kampung Kuningan, Sleman, dibaca dengan semiotika sosial Halliday.
  • Setan merah diborgol pada tiga bola penahan berat menandai puasa yang berjalan tenang.
  • Tiap poster menonjolkan satu kata: PUASA diblok coklat, ngaji dengan font terbesar.
  • Latar posternya adalah kebiasaan menggosip, mengumpat, bermalas-malasan, dan mengeluh.
Daftar Isi
  1. Gambar burger bersilang
  2. Setan merah berborgol
  3. Dua menara masjid
  4. Posisi sujud
  5. Kebiasaan yang ditempel
  6. Catatan di badan naskah

Empat lembar poster menempel di tiang listrik dan tembok rumah warga Kampung Kuningan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Satu di antaranya memuat huruf kapital yang diblok coklat. Satu lagi memuat setan merah dengan tangan, ekor, dan kaki yang diborgol. Pengurus masjid kampung itu yang membuatnya, dan setiap Ramadan poster baru ditempel lagi di tempat yang sama.

Nurma Hardiyanti dan Aprillia Firmonasari dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada membaca keempat lembar itu satu per satu, sampai ke pilihan warna hurufnya. Hasil bacaan mereka terbit sebagai Analisis Semiotika Sosial dalam Poster-Poster Ramadan di jurnal Metahumaniora, 15(1), 2025. Kerangka yang dipakai adalah semiotika sosial M. A. K. Halliday.

Halliday menaruh tiga pintu masuk untuk membaca teks bersama konteksnya: tema wacana, orang yang terlibat di dalamnya, dan sarana yang dipakai menyampaikan pesan. Di atas tiga pintu itu, tiap tanda masih dibaca melalui tiga fungsi — makna pengalaman, makna antarpelibat, dan makna tekstual. Empat poster kampung itu melewati semuanya.

Empat poster Ramadan di Kampung KuninganEmpat poster Ramadan dibaca melalui tiga unsur konteks dan tiga fungsi tanda.Empat poster Ramadan di Kampung KuninganBahan yang dibaca dengan semiotika sosial Halliday4PosterDi tiang listrikdan tembok3Unsur konteksTema, pelibat,sarana3Fungsi tandaDibaca di tiaptanda2HadisDi poster puasadan ngajiJalan risetnyaPoster difoto di kampungTulisan dan gambardibacaMakna dikaitkan kekonteks sosial
Sumber: Nurma Hardiyanti dan Aprillia Firmonasari, Analisis Semiotika Sosial dalam Poster-Poster Ramadan, Metahumaniora, 15(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Yang keluar dari pembacaan itu bukan sekadar daftar gambar. Keempat poster menyimpan potret kebiasaan warganya sendiri: siapa yang bergosip, siapa yang bermalas-malasan, siapa yang mengeluh karena doanya belum juga terwujud. Poster-poster itu menempel di ruang terbuka, tetapi isinya menunjuk ke dalam rumah.

Gambar burger bersilang

Di poster pertama berdiri seorang anak berbaju koko putih, berpeci, memakai sandal jepit. Satu tangannya disembunyikan di belakang badan, satu lagi mengacungkan telunjuk, dan satu matanya mengedip. Di atas kepalanya ada gambar burger dan gelas minuman yang dicoret tanda silang merah.

Tanda silang itu tidak berhenti pada makanan. Di samping anak tadi ada dua anak lain, satu berbisik dengan gestur waspada dan satu mendengarkan dengan ekspresi takut-takut, dan di sebelah mereka silang merah yang sama. Di bagian bawah poster ada tiga anak: satu makan saat puasa, dua mengumpatinya, juga diberi silang.

Sepasang anak lain, laki-laki berbaju koko putih dan perempuan bergamis hijau, berjilbab dan bercadar, digambar saling membelakangi. Menurut pembacaan kedua peneliti, gambar itu berarti menjaga pandangan dari lawan jenis selama puasa. Tulisan di atasnya menegaskan hal yang sama lewat huruf: PUASA ditulis kapital, tebal, dan diblok coklat.

Kata “tetapi” ikut dicetak tebal, begitu pula kalimat tentang menjaga pandangan, telinga, dan lidah dari mengumpat. Sebaliknya, hadis riwayat An Nasai dan Ibnu Majah serta seruan penutup ditulis dengan huruf lebih kecil tanpa cetak tebal. Bagi kedua peneliti, bagian kecil itu berperan sebagai pendukung, bukan pesan utamanya.

Poster itu, kata kedua peneliti, muncul karena ada kebiasaan yang mereka lihat di kehidupan sehari-hari kampung: warga yang gemar bergosip, mengumpat, dan tidak menjaga pandangan, baik saat beraktivitas biasa maupun saat sedang berpuasa. Rangkaian gambar bersilang itu menjadi jawaban atas kebiasaan tersebut.

Baca juga Monumen Bundo Kanduang Sijunjung dan Empat Warnanya

Setan merah berborgol

Poster kedua memindahkan panggung ke sosok yang tidak bertubuh manusia. Setan merah bertanduk digambar dengan tangan diborgol ke atas, sementara ekor dan kakinya diikat pada tiga bola penahan berat. Ia berteriak, memejamkan mata, dan menangis. Warna merah itu, menurut naskah, menandai sosok yang jahat.

Di sebelahnya berdiri sosok berbaju koko biru, berpeci hitam, memakai sarung, tersenyum, satu mata berkedip, jempol teracung. Satu kakinya diletakkan di atas bola penahan borgol setan tadi. Kedua peneliti membacanya sebagai gestur menang: puasa dapat dijalani tanpa gangguan karena setan sedang dibelenggu.

Tulisan posternya dibagi tiga lapis. Frasa selamat menunaikan ditulis hitam, tanpa huruf kapital, tanpa miring, tanpa tebal, sehingga bukan fokus pembicaraan. IBADAH PUASA ditulis kapital berwarna merah, sedangkan frasa dengan tenang dicetak tebal sebagai penopangnya. Digabung, maksudnya adalah ibadah puasa yang dijalankan dengan tenang.

Di belakang gambar itu ada keyakinan yang sudah lama beredar di tengah warga, yakni bahwa Ramadan adalah bulan penuh berkah dan setan-setan dibelenggu selama bulan itu. Dari keyakinan itulah, menurut naskah, ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dengan tenang menjadi masuk akal untuk dipasang di tembok kampung.

Kata yang ditonjolkan di tiap posterTiap poster menonjolkan satu kata dengan cara yang berbeda.Kata yang ditonjolkan di tiap posterPilihan huruf, warna, dan blok warna dalam naskahKataCaranyaPUASABlok coklatPoster ibadahpuasaIBADAH PUASAHuruf merahPoster ucapanselamatngajiFont terbesarPoster ajakanmengajibukanMerah bergarisPoster ajakanibadah
Sumber: Nurma Hardiyanti dan Aprillia Firmonasari, Analisis Semiotika Sosial dalam Poster-Poster Ramadan, Metahumaniora, 15(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Dua menara masjid

Poster ketiga menaruh anak-anak di dalam masjid. Tanda tempatnya bukan papan nama, melainkan dua menara yang berdiri di kanan dan kiri gambar. Seorang anak perempuan bergamis putih berjilbab membaca Al-Qur’an sendirian di pojokan, sementara seorang anak lain belajar membaca bersama gurunya.

Ada pula anak laki-laki berbaju hijau yang membaca sementara anak di depannya menyimak dan mengoreksi bila bacaannya salah. Ketiga adegan itu dibaca sebagai tiga cara mengaji yang sama-sama dianjurkan: sendiri, berguru, dan saling menyimak. Naskah menambahkan, semuanya akan lebih baik bila dilakukan bersama-sama di masjid.

Hurufnya mengikuti isi gambar. Kata Ramadan di bagian atas ditulis kuning dengan ukuran cukup besar, kalimat tentang bulan penuh berkah memakai warna biru, dan hadis riwayat Muslim ditaruh di tengah sebagai penguat. Kata ngaji sendiri dicetak paling besar di antara seluruh tulisan yang ada di poster itu.

Baca juga Kucing, Jeruk, dan Gambar AI yang Kehilangan Gaya

Posisi sujud

Poster keempat paling sedikit isinya. Hanya ada satu orang di sana, seorang pria yang sedang sholat di masjid dalam posisi bersujud. Tidak ada tanda silang, tidak ada burger, tidak ada setan berborgol. Yang bekerja justru kalimat di atasnya, tentang doa yang belum juga terwujud.

Kalimat itu berbunyi bahwa bukan doanya yang tidak terwujud, mungkin kitanya yang kurang sujud. Kata bukan ditulis merah, miring, dan digarisbawahi sekaligus. Kata doanya dan kitanya dicetak miring berwarna kuning, sedangkan terwujud dan sujud diblok kuning dengan huruf hitam.

Menurut kedua peneliti, tiga lapis penanda pada satu kata sependek itu menunjukkan di mana tekanan poster diletakkan. Poster tersebut lahir dari pemandangan sehari-hari: orang yang banyak mengeluh, kurang bersyukur, merasa sudah banyak berdoa tetapi keadaan hidupnya terasa sama saja. Sindirannya halus, arahnya jelas.

Kebiasaan yang ditempel

Dibaca berjajar, keempat poster itu menunjuk ke satu daftar kebiasaan yang sama. Naskah menyebutnya menggosip, mengumpat, tidak menjaga pandangan, membuang waktu untuk hal sia-sia seperti main game dan membeli petasan, bermalas-malasan, terlalu banyak mengeluh, dan kurang berusaha. Daftar itu tidak ditempel di tiang, tetapi bisa dibaca dari balik gambarnya.

“Peristiwa-peristiwa atau perbuatan masyarakat yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan umumnya menjadi latar belakang munculnya poster-poster yang berisi peringatan, larangan, dan anjuran yang ditujukan kepada masyarakat,” tulis Nurma Hardiyanti dan Aprillia Firmonasari dalam naskahnya. Kesimpulan mereka, tulisan dan gambar itu berhasil merepresentasikan Ramadan sebagai bulan istimewa yang penuh keberkahan, ketenangan, dan kebaikan.

Bahan yang dipakai hanya empat lembar dari satu kampung di Sleman, dan kedua peneliti tidak menuliskan bagian keterbatasan di dalam naskahnya. Karena itu bacaan tadi berlaku untuk poster-poster Kampung Kuningan, bukan untuk poster Ramadan di kampung mana pun di Indonesia.

Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur

Catatan di badan naskah

Beberapa hal bisa diperiksa sendiri oleh pembaca yang membuka naskahnya. Pada poster kedua, sosok yang mengacungkan jempol disebut seorang laki-laki yang memakai sarung, lalu pada kalimat berikutnya berubah menjadi anak tersebut, dan pada bagian analisis menjadi anak laki-laki. Dewasa atau anak-anak tidak pernah dipastikan.

Pada poster pertama, ekspresi anak yang mendengar bisikan ditulis takut-takut di satu bagian dan cemas di bagian lain. Pada poster ketiga, tulisan posternya dikutip sebagai bulan pernuh berkah berulang kali, sementara di tempat lain kalimat yang sama dieja bulan penuh berkah. Seruannya pun berganti dari Ayo ngaji menjadi ayo mengaji.

Ada pula warna jilbab — orange untuk murid, merah untuk gurunya — yang baru muncul di bagian analisis dan tidak ada ketika poster ketiga dideskripsikan. Di daftar pustaka, nama Peirce yang dipakai di badan teks berubah menjadi Pierce. Semuanya bisa dicek baris per baris.

Di tiang listrik dan tembok rumah warga Kampung Kuningan, keempat lembar itu tetap kertas biasa yang dicetak untuk satu bulan saja. Yang berubah adalah cara membacanya. Huruf kapital yang diblok coklat, borgol setan, dua menara masjid, dan satu posisi sujud ternyata menyimpan catatan tentang kebiasaan warga yang menempelkannya.

Bagikan

Baca Juga

Rateb Mensa Nagan Raya Dipandu Ayunan Tangan Syeh
Tiga Sektor Unggulan Yogyakarta Lolos dari Empat Metode
Pariwisata Hijau Lumbung Mataraman Terganjal Prasarana dan SDM
Berkas Ultrasonik Medis Dipotret Lewat Pola Garis di Air
UGM Luncurkan Gerakan Kampus Hijau, Terapkan UGM Gate Bertahap
Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran