Rateb Mensa Nagan Raya Dipandu Ayunan Tangan Syeh

A A

Ilustrasi jemaah laki-laki duduk berbaris memenuhi ruang masjid. [Foto: Pexels]

  • Tempo zikir Rateb Mensa diatur lewat ayunan tangan syeh di depan barisan.
  • Tradisi ini digelar tiga sampai empat malam berturut-turut di penghujung Ramadan.
  • Peneliti mencatat enam fungsi Rateb Mensa bagi warga Desa Kuta Teungoh.
  • Peserta tak jarang pingsan karena kelelahan saat tempo bacaan dipercepat.
  • Naskahnya memuat dua keterangan waktu yang saling bertentangan.
Daftar Isi
  1. Syeh yang mengatur tempo
  2. Empat malam di penghujung Ramadan
  3. Enam fungsi yang dicatat peneliti
  4. Tikar, penonton, dan goncangan meunasah
  5. Dua formasi badan
  6. Yang belum jelas dalam naskahnya

Tengku Jafar berdiri di depan barisan, lalu mengayunkan tangannya. Makin cepat ayunan itu, makin cepat pula zikir dilantunkan puluhan laki-laki di hadapannya, dan makin cepat pula badan mereka melenggok ke kanan dan ke kiri. Di Desa Kuta Teungoh, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, isyarat tangan itulah yang mengatur seluruh pertunjukan Rateb Mensa.

Tradisi itu dicatat Imam Wahyudi, Rika Wirandi, dan Benny Andiko dari Institut Seni Budaya Indonesia Aceh dalam artikel Fungsi Rateb Mensa di Desa Kuta Teungoh Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya di Jurnal Musik Etnik Nusantara, terbitan 2025. Imam Wahyudi dan dua rekannya mewawancarai para tengku, mengamati langsung pertunjukannya, lalu menyusun apa saja fungsi tradisi itu bagi warga setempat.

Syeh yang mengatur tempo

Dalam pertunjukan Rateb Mensa, Tengku Jafar berperan sebagai syeh, yaitu orang yang melantunkan syair lebih dulu untuk kemudian ditanggapi bersama-sama oleh para pemain. Perannya tidak berhenti pada suara. Ia juga memegang kendali tempo, dan kode perpindahan tempo itu diberikan lewat gerakan tangan yang bisa dilihat seluruh barisan.

Peserta yang berada di luar barisan depan ikut meneruskan kode tersebut kepada yang lain. Ketika Tengku Jafar mempercepat ayunan, lantunan berubah dari lambat menjadi cepat, dan peserta makin terbawa irama zikirnya. Di titik itulah, menurut catatan Imam Wahyudi dan rekannya, emosi yang ditunjukkan peserta mencapai puncaknya, dan kecepatan irama itu mereka baca sebagai ukuran kegembiraan yang sedang dirasakan.

Hentakan kaki dipakai untuk menambah tenaga dan semangat, sementara tangan saling merangkul saat badan mengayun. Peserta yang berdiri di luar barisan depan ikut memberi isyarat supaya seluruh rombongan menyesuaikan diri dengan tempo baru. Tengku Amrin Mukminin, yang diwawancarai pada April 2024, menyebut peserta tak jarang mengalami pingsan di tengah kegiatan karena kelelahan.

Dari ayunan tangan syeh sampai peserta terkulaiSyeh memberi kode lalu Tempo zikir naik lalu Gerakan badan mengikuti lalu Tenaga terkuras lalu Sebagian pingsan.Dari ayunan tangan syeh sampai pesertaterkulaiRantai kejadian yang dialami peserta Rateb Mensa di DesaKuta Teungoh1Syeh memberi kodeTengku Jafar mengayunkan tangan; makin cepatayunannya, makin cepat pula bacaannya2Tempo zikir naikPeserta menyesuaikan lantunan syair dan zikir dengantempo baru3Gerakan badan mengikutiBadan melenggok ke kanan dan kiri, kaki dihentakkan,tangan saling merangkul4Tenaga terkurasAktivitas fisik yang berat menaikkan detak jantung dansemangat peserta5Sebagian pingsanMenurut Tengku Amrin Mukminin, peserta tak jarangjatuh pingsan karena kelelahan
Sumber: Imam Wahyudi, Rika Wirandi, Benny Andiko, Fungsi Rateb Mensa di Desa Kuta Teungoh Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya, Jurnal Musik Etnik Nusantara 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Empat malam di penghujung Ramadan

Rateb Mensa bukan acara dadakan. Menurut keterangan Tengku Jafar yang dikutip Imam Wahyudi, tradisi ini digelar rutin di penghujung Ramadan, berlangsung tiga sampai empat malam berturut-turut, dan dimulai selepas Isya. Isinya pujian kepada Allah, selawat kepada Nabi Muhammad, serta sanjungan kepada Hasan dan Husein, yang seluruhnya dibawakan bersama gerakan tubuh.

Tengku Jafar juga menyebut Rateb Mensa tersebar di beberapa tempat di Aceh, tetapi seiring waktu keterlibatan masyarakat dalam pertunjukannya berkurang. Di Kuta Teungoh keadaannya justru sebaliknya: kehadiran dan keterlibatan warga dalam tradisi ini meningkat, dan itu yang membuat Imam Wahyudi memilih desa tersebut sebagai tempat penelitian. Penghujung Ramadan sendiri dipandang warga sebagai waktu terbaik memperbanyak zikir dan doa.

Tujuan yang disebut para tengku sederhana. Rateb Mensa dipakai untuk memeriahkan penghujung Ramadan dan mengajak generasi muda, khususnya laki-laki, berzikir bersama-sama. Pada masa lalu, kata mereka, tradisi ini juga menjadi sarana menyebarkan Islam dan memperkuat identitas keagamaan warga. Syairnya diwariskan secara lisan, turun-temurun, dan memakai bahasa daerah.

Enam fungsi yang dicatat peneliti

Di luar Nagan Raya, tradisi ini nyaris tidak dikenal. Imam Wahyudi menulis bahwa masyarakat di luar kabupaten itu belum banyak mengetahui Rateb Mensa, dan pembaruan penelitian ilmiah tentangnya tidak ada sejak kajian terdahulu pada 2015 yang bahkan tidak pernah dipublikasikan. Itu pula alasan ia menyusun artikel ini.

Dari wawancara dan pengamatannya, Imam Wahyudi dan dua rekannya menyusun enam fungsi Rateb Mensa yang menurut mereka masih kuat di tengah warga: pengungkapan emosional, hiburan, komunikasi, reaksi jasmani, penerapan norma sosial, dan fungsi sosial. Keenamnya dinilai saling menopang, dan itulah yang membuat tradisi ini bertahan.

Fungsi komunikasi, misalnya, dijelaskan Tengku Jafar lewat doa penutup yang ia bacakan sendiri. Isinya permohonan kesehatan, kemudahan rezeki, dan harapan agar tahun depan Rateb Mensa bisa diadakan lagi. Bagi para tengku, syair itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara warga menyampaikan syukur.

Fungsi jasmaninya diakui Tengku Jafar dalam wawancara pada Maret 2024. Gerakan dan suara keras Rateb Mensa, katanya, berdampak besar pada kondisi fisik peserta, menaikkan detak jantung, dan membangkitkan semangat. Berseru dan bergerak bersamaan, menurut dia, juga menciptakan ikatan emosional yang kuat antarpeserta.

Imam Wahyudi dan rekannya menulis bahwa Rateb Mensa “tidak hanya menjadi sarana untuk beribadah dan merayakan akhir bulan Ramadhan, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan yang diyakini oleh masyarakat setempat”. Kalimat itu merangkum posisi tradisi ini di mata warga Kuta Teungoh.

Rateb Mensa dalam angka6 fungsi dicatat; 3-4 malam berturut; 2015 kajian terakhir.Rateb Mensa dalam angkaCatatan dari penelitian di Desa Kuta Teungoh, Beutong AteuhBanggalang6fungsi dicatatDari ungkapanemosi sampaisolidaritas warga3-4malamberturutSelepas Isya, dipenghujungRamadan2015kajian terakhirSkripsi terdahulutidakdipublikasikan
Sumber: Imam Wahyudi, Rika Wirandi, Benny Andiko, Fungsi Rateb Mensa di Desa Kuta Teungoh Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya, Jurnal Musik Etnik Nusantara 5(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Tikar, penonton, dan goncangan meunasah

Keenam fungsi itu, menurut Imam Wahyudi dan rekannya, tidak berdiri sendiri-sendiri. Justru karena saling menopang, tradisi ini tetap kokoh di tengah warga, dan solidaritas antarwarga ikut terjalin setiap kali Rateb Mensa digelar.

Yang datang bukan hanya peserta. Nuraini, warga Desa Babah Suak yang diwawancarai Imam Wahyudi, menggambarkan warga membawa tikar dari rumah sebagai alas duduk untuk menonton sejak malam pertama hingga malam keempat. Bagi dia dan penonton lain, kesempatan menyaksikan kegiatan seperti ini jarang datang.

Bagian yang paling ditunggu Nuraini adalah momen yang ia sebut goncangan meunasah, saat seluruh tatapan penonton mengarah ke panggung Rateb Mensa. Di titik itu, menurut dia, kebahagiaan penonton mencapai puncaknya. Hiburan dan ibadah berjalan pada malam yang sama, di tempat yang sama.

Norma sosial ikut mengatur malam-malam itu. Peserta diharapkan menjaga etika, berpakaian dan bertingkah laku pantas, dan merokok dilarang keras di dalam tempat pertunjukan; Imam Wahyudi dan rekannya mencatat aturan itu dipegang untuk menjaga kesucian dan kehormatan pertunjukan. Kerja penyelenggaraannya sendiri ditanggung pemuda desa, yang bergotong royong menyiapkan acara sampai memasak makanan untuk peserta dan tamu.

Pada malam penutupan, ketua pemuda Kuta Teungoh mengucapkan terima kasih kepada panitia, kepada warga yang datang, dan kepada Tengku Jafar yang memandu kegiatan dari awal hingga akhir. Panitia lalu memberi tanda jerih payah kepada sang syeh. Bagi Imam Wahyudi dan rekannya, adegan penutup itu memperlihatkan bagaimana tradisi ini merawat hubungan antarwarga, bukan hanya mengisi malam Ramadan.

Dua formasi badan

Gerakan peserta Rateb Mensa mengambil dua bentuk yang dicatat Imam Wahyudi dan rekannya. Yang pertama disebut para tengku sebagai bentuk tawaf: peserta mengelilingi sisi meunasah sambil membaca zikir, membentuk lingkaran, dan setiap langkah mereka mengiringi bacaan yang sedang dilantunkan. Suasananya, menurut catatan itu, khusyuk dan khidmat.

Bentuk kedua adalah shaf. Peserta berdiri berbaris dengan tangan saling merangkul, lalu badan mengayun ke kanan dan ke kiri mengikuti bacaan yang dipimpin syeh. Imam Wahyudi dan rekannya mencatat kedua formasi itu dijalankan sebagai ibadah sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang diwarisi warga, dan tangan yang saling merangkul mereka baca sebagai lambang persatuan.

Di luar gerakan, ada satu hal yang tidak berubah: pelantunnya laki-laki, dan kegiatan ini memang diarahkan para tengku kepada kaum laki-laki, terutama yang muda. Tradisi serupa yang hidup di daerah lain bisa ditelusuri lewat catatan tentang tujuh babak Rapa’i Pulot Geurimpheng di Aceh, salawat kematian di Koto Panjang, dan kompangan yang mengiringi cukuran bayi.

Yang belum jelas dalam naskahnya

Ada dua keterangan waktu yang tidak bisa disatukan pembaca. Imam Wahyudi menulis Rateb Mensa diadakan setiap akhir Ramadan, tetapi pada kalimat yang sama menyebut waktunya malam keempat bulan Syawal. Dua keterangan itu menunjuk hari yang berbeda, dan naskahnya tidak menjelaskan mana yang dipakai warga Kuta Teungoh.

Keterangan jamnya juga janggal. Naskah itu menulis kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB, padahal kalimat yang sama menyebut pelaksanaannya selepas Isya, yang di Aceh jatuh pada malam hari. Pembaca yang ingin datang menonton tidak bisa memastikan jam berapa acara sebenarnya dibuka, dan Imam Wahyudi tidak memperbaiki angka itu di bagian mana pun.

Catatan lain yang perlu diingat: seluruh temuan ini berasal dari satu desa, dengan wawancara terhadap beberapa orang tengku dan seorang warga. Imam Wahyudi dan rekannya sendiri menyebut penelitian tentang Rateb Mensa masih terbatas, dan kajian sebelumnya bahkan tidak pernah dipublikasikan. Apa yang berlaku di Kuta Teungoh belum tentu berlaku di desa Aceh lain yang juga mengenal tradisi ini.

Yang bisa dipastikan hanya bagian yang terlihat dan tercatat. Ketika Tengku Jafar mempercepat ayunan tangannya pada malam-malam terakhir Ramadan, barisan laki-laki di depannya ikut bergerak lebih cepat, hentakan kaki terdengar lebih rapat, dan warga yang duduk di atas tikar menunggu tepat momen itu.

Bagikan

Baca Juga

Tabut Bengkulu Kini Tujuh Meter, Dulu Tak Sampai Tiga
Tradisi Melengkan Gayo Kini Jarang karena Syairnya Tak Dihafal
Tari Punan Leto Ditarikan di Setiap Upacara Adat Dayak Kenyah
Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang
Tujuh Babak Rapa'i Pulot Geurimpheng, dari Saleum hingga Gambus
Rumoh Aceh Jadi Enam Busana Unisex di Padang Panjang