Tabut Bengkulu Kini Tujuh Meter, Dulu Tak Sampai Tiga

A A

Bangunan Tabot berhias lampu pada malam puncak ritual Tabot di Kota Bengkulu. [Foto: Muhammad Ikhsan/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Tabut Bengkulu dulu tidak lebih dari tiga meter, kini bisa mencapai tujuh meter.
  • Kerukunan Keluarga Tabut berdiri 1993, dua tahun setelah Bengkulu jadi daerah tujuan wisata ke-24.
  • Hanya Tabut Sakral yang sah di ritual puncak, Tabut Pembangunan dibuang seusai festival.
  • Doa ritual berbahasa Punjabi diganti doa yang lebih akrab bagi warga setempat.
Daftar Isi
  1. Benda Ritual yang Dibaca sebagai Dokumen Sosial
  2. Kerja Bersama yang Ditumpuk Menjadi Tinggi
  3. Warna yang Dipakai untuk Menyebut Semua Orang
  4. Sejarah yang Berpindah ke Meja Pemerintah
  5. Dua Jenis Tabut dengan Dua Nasib Berbeda
  6. Angka dan Nama yang Bisa Diperiksa Pembaca

Bangunan ritual biasanya dibayangkan berdiri di luar hitungan untung rugi, tegak semata karena keyakinan yang mewariskannya. Tabut Bengkulu mematahkan bayangan itu sejak tingginya berubah. Dulu bangunan itu tidak lebih dari tiga meter dan dipakai untuk berkabung; kini ia bisa mencapai tujuh meter, berkilau, dan masuk kalender wisata provinsi. Perubahan ukuran itu bukan urusan estetika belaka, melainkan jejak perpindahan tangan yang mengurusnya.

Pembacaan itu disusun Dea Anita Sari, peneliti Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta, dalam artikel Visualisation of the Tabut Bengkulu Building as a Reflection of Social and Cultural Identity di V-Art: Journal of Fine Art, Volume 5 Nomor 1 edisi Desember 2025, halaman 30 sampai 41. Naskahnya diterima 22 November 2025, disetujui 7 Desember 2025, dan terbit 15 Desember 2025.

Benda Ritual yang Dibaca sebagai Dokumen Sosial

Dua kerangka teori dipakai berdampingan di naskah itu. Sosiologi seni Arnold Hauser dipakai untuk membaca bentuk, ornamen, dan perubahan rupa Tabut sebagai cermin struktur sosial yang menopangnya. Teori arena produksi kebudayaan Pierre Bourdieu dipakai untuk menjelaskan mengapa rupa itu dipertahankan dan siapa yang diuntungkan olehnya. Dua pertanyaan diajukan: bagaimana bentuk Tabut mewakili nilai sosial warga Bengkulu, dan bagaimana rupanya menegosiasikan identitas kultural serta spiritual kelompok yang menopangnya.

Metodenya kualitatif deskriptif dengan tiga jalan pengumpulan data, yaitu pengamatan visual terhadap fisik bangunan, penelusuran dokumen dan arsip berupa foto lama dan baru serta catatan sejarah, dan wawancara semi-terstruktur dengan tokoh Kerukunan Keluarga Tabut dan pemerhati budaya. Analisisnya bertingkat tiga: identifikasi formal atas komposisi dan pengerjaan, kontekstualisasi sosial budaya, lalu sintesis makna sebagai negosiasi identitas di arena produksi kebudayaan.

Kerja Bersama yang Ditumpuk Menjadi Tinggi

Pengerjaan Tabut dimulai kira-kira dua bulan sebelum 1 Muharram dan menuntut kerja sama yang panjang. Kerukunan Keluarga Tabut dan warga mengerjakannya bersama-sama, sementara biayanya ditanggung sumbangan keluarga Tabut, pemerintah, dan warga Bengkulu. Keterangan itu diperoleh Dea Anita Sari dari wawancara dengan Heryandi Amin pada 2025. Di mata Hauser, bentuk monumental yang rumit seperti itu adalah wujud langsung dari kerja kolektif, bukan sekadar selera perancangnya.

Secara fisik, Tabut digambarkan sebagai bangunan piramida bertingkat yang mengecil ke atas, ditopang rangka bambu dan sasis atau kereta di bagian bawah. Bahannya kini papan atau tripleks, dulu bambu, dengan hiasan kertas warna-warni dan kaligrafi. Tingginya rata-rata lima sampai enam meter menurut rujukan yang dipakai naskah itu, sementara Tabut yang dibangun sekarang disebut bisa mencapai tujuh meter. Kata Tabut sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti peti kayu.

Tabut Bengkulu berpindah tanganTabut Bengkulu berpindah tanganTabut Bengkulu berpindah tanganDari ritual keluarga Sipai ke ajang wisata tahunan1700-anUlama asal India Selatan membawa ritual Asyura keBengkulu1980-anPemerintah daerah mengalihkan fungsinya ke atraksiwisata1991Bengkulu ditetapkan sebagai daerah tujuan wisatake-241993Kerukunan Keluarga Tabut berdiri dengan akta notaris2023Festival Tabut ditetapkan sebagai ajang nasionalTinggi bangunannya ikut berubah: dulu tidak lebih dari tiga meter, kinimencapai tujuh meter.
Sumber: Dea Anita Sari, Visualisation of the Tabut Bengkulu Building as a Reflection of Social and Cultural Identity, V-Art: Journal of Fine Art, 5(1), 2025, hlm. 30–41. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Tasawuf Rejang Diwariskan Lewat Tambo, Zikir, dan Ngarak

Warna yang Dipakai untuk Menyebut Semua Orang

Ornamennya dibaca sebagai daftar tamu yang diundang. Warna yang mendominasi disebut mewakili agama-agama di Bengkulu: hijau untuk Islam, kuning untuk Hindu, dan merah untuk Hindu, Kristen, Buddha, sekaligus Islam. Bentuk bertingkat yang menjulang disebut menyerupai wadah Ngaben di Bali, diperkaya pengaruh seni Tionghoa lewat lambang peti dan kaligrafi. Unsur Islam muncul pada kubah, bulan, dan bintang yang menandai keagungan, keesaan, cahaya, serta tuntunan.

Bahan bangunannya ikut bercerita. Bambu, rotan, daun nipah, karton, kertas, tali, dan bunga kertas dipakai bersama-sama sehingga rupanya tidak murni India dan tidak pula murni Melayu-Bengkulu. Motif rafflesia dan kaligrafi Arab berdiri di satu bidang yang sama. Bagi Dea Anita Sari, campuran itu adalah identitas hibrida kelompok pendatang yang memilih bertahan dengan cara menyerap, bukan dengan cara menutup diri dari lingkungan yang mengelilinginya.

Sejarah yang Berpindah ke Meja Pemerintah

Ritualnya digelar setiap 1 sampai 10 Muharram untuk mengenang peristiwa Karbala pada 61 Hijriah, yaitu gugurnya Husein bin Ali bin Abi Talib, cucu Nabi Muhammad. Tradisi itu diperkenalkan komunitas ulama asal India Selatan pada abad ke-18. Mereka adalah muslim India yang didatangkan Inggris untuk membangun Benteng Marlborough, lalu memperkenalkan ritual duka Asyura yang berakar pada tradisi Syiah, dan keturunannya dikenal sebagai keluarga Sipai.

Perubahan besarnya terjadi pada dekade 1980-an dan 1990-an, ketika pemerintah daerah mengalihkan fungsi Tabut dari kegiatan keagamaan menjadi daya tarik wisata tahunan. Bengkulu ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata ke-24 oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Soesilo Sudarman pada 1991, dan Kerukunan Keluarga Tabut berdiri dengan akta notaris pada 1993. Pada 2023, Festival Tabut ditetapkan sebagai ajang nasional yang mewakili warisan budaya Bengkulu.

Baca juga Tradisi Perang Pandan Tenganan Ditutup Megibung Tanpa Dendam

Dua Jenis Tabut dengan Dua Nasib Berbeda

Di ruang publik, Tabut terbelah dua. Tabut Sakral dibuat kelompok yang memegang garis keturunan dan hanya bangunan inilah yang diakui sah dalam ritual puncak di kompleks pemakaman Karabela, tempat leluhur mereka dimakamkan. Tabut Pembangunan dibuat pemerintah atau komunitas nontradisi untuk festival dan pariwisata, dan tidak memiliki modal simbolik yang sama; akhir perjalanannya adalah dibuang di pantai atau di pinggir jalan seusai perayaan.

Pembagian itu, menurut pembacaan Bourdieu yang dipakai naskah tersebut, adalah cara kelompok minoritas menjaga posisinya. Monopoli atas kesakralan membuat Kerukunan Keluarga Tabut berdiri sebagai pemberi izin, sementara pemerintah dan media harus bernegosiasi bila hendak memakai Tabut sebagai komoditas budaya. Keyakinan bahwa Bengkulu akan tertimpa musibah jika Tabut tidak digelar setiap tahun ikut memperkuat kuasa simbolik itu tanpa perlu diperintahkan siapa pun.

Negosiasi yang lebih halus terjadi pada urusan keyakinan. Tradisi ini berakar pada ritual Syiah di tengah masyarakat Bengkulu yang didominasi Sunni, dan ketegangan itu diredam dengan tiga cara: narasi Tabut diarahkan pada keteladanan Husein yang juga dihormati kalangan Sunni, doa ritual berbahasa Punjabi diganti doa yang lebih akrab bagi warga setempat, dan ikonografinya memakai lambang yang bermakna ganda.

“Visualisasi Tabut menjadi titik temu warisan spiritual, etos kolektif, akulturasi budaya, dan kepentingan pariwisata,” tulis Dea Anita Sari di bagian simpulan naskahnya. Bulan sabit dan bintang di puncak bangunan disebutnya lambang Islam yang lebih lekat dengan kalangan Sunni ketimbang lambang khas Syiah, sementara payung kebesaran yang dipasang di atasnya menegaskan kedudukan Husein sebagai cucu Nabi yang diakui semua pihak.

Angka dan Nama yang Bisa Diperiksa Pembaca

Naskah itu memuat beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya. Daftar warna ornamennya tidak konsisten: kuning disebut mewakili Hindu, sementara merah disebut mewakili Hindu, Kristen, Buddha, dan Islam sekaligus, sehingga satu agama tercatat dua kali dan satu warna menanggung empat agama. Tidak ada keterangan di bawah uraian itu yang menjelaskan dasar pembagiannya maupun sumber yang dipakai untuk menyusunnya.

Ejaan nama leluhur yang dipakai juga berganti di dalam satu naskah, yaitu Imam Senggalo pada satu bagian dan Imam Senggolo pada bagian berikutnya. Angka tingginya pun berdiri bertiga tanpa perjumpaan: tidak lebih dari tiga meter pada masa lalu, rata-rata lima sampai enam meter menurut rujukan tahun 2021, dan mencapai tujuh meter pada bangunan sekarang, tanpa keterangan kapan pengukuran terakhir itu dilakukan.

Daftar pustakanya menyimpan dua keganjilan. Satu entri tercetak tanpa judul yang bisa dibaca dan hanya memuat potongan teks berhuruf Jepang, padahal entri itu dikutip dua kali di badan naskah sebagai sumber keterangan tentang bentuk Tabut dan pembentukan organisasinya. Satu rujukan lain bertahun 2026, sementara naskah ini sendiri terbit pada 15 Desember 2025, sehingga rujukan tersebut mendahului tanggal terbit artikel yang memuatnya.

Batas kajiannya harus dibaca dari metodenya, sebab naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Datanya berasal dari satu kota, wawancaranya menyebut satu narasumber bernama, dan foto pembandingnya tidak dicantumkan dalam bentuk deret waktu yang bisa ditakar pembaca. Pernyataan bahwa bangunan kini mencapai tujuh meter pun berdiri sebagai keterangan, bukan sebagai hasil pengukuran yang dilaporkan angka demi angka.

Baca juga Agama Leluhur Diakui, Tari Ritual Mappurondo Dibawakan Pihak Luar

Yang tersisa dari pembacaan itu adalah satu bangunan yang setiap tahun dibongkar dan dibangun ulang, dan dua kelompok yang sama-sama mengakuinya sebagai milik mereka. Keluarga Sipai memegang kesakralannya, pemerintah memegang kalendernya, dan warga Bengkulu dari berbagai latar memegang keramaiannya. Tiga pegangan itu berlangsung di atas satu rangka bambu yang sama, yang tingginya terus bertambah setiap kali penonton yang diundang bertambah pula.

Bagikan

Baca Juga

Sulapa Eppa, Empat Nilai Bugis yang Pindah ke Arena Baru
Tasawuf Rejang Diwariskan Lewat Tambo, Zikir, dan Ngarak
Sumpah Adat Bau Lolon Diusulkan Jadi Pelengkap Sumpah Jabatan
Tari Punan Leto Ditarikan di Setiap Upacara Adat Dayak Kenyah
Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang