- Pengaruh penjaminan simpanan terhadap simpanan naik dari 0,0009 sebelum Januari 2020 menjadi 0,0029 pada Januari 2020 sampai Mei 2023.
- Selama krisis, koefisien bank nonpemerintah 0,0033, sedangkan bank milik pemerintah 0,0026.
- Bank pembangunan daerah memperoleh 0,0024 dan menjadi satu-satunya jenis bank yang tidak ditandai nyata.
- Celah simpanan dan celah simpanan yang diharapkan sama-sama nyata pada taraf 1 persen dalam persamaan kredit.
Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 1997–1998, izin usaha 16 bank swasta nasional dicabut. Pencabutan itu diikuti penarikan dana secara sistematis dari perbankan Indonesia. Untuk mencegah lumpuhnya sistem perbankan, pemerintah memberlakukan jaminan menyeluruh atas giro, deposito, dan tabungan. Dari titik itulah sebuah naskah tentang penjaminan simpanan memulai ceritanya.
Kebijakan itu mahal. “Walau berbiaya tinggi, kebijakan ini berhasil memulihkan kepercayaan penyimpan dan melindungi sektor perbankan Indonesia,” tulis Chandra Utama. Enam tahun kemudian, pada 2004, berdiri lembaga yang menawarkan jaminan terbatas atas simpanan masyarakat. Menurut naskahnya, lembaga itu dibentuk berdasarkan pengalaman tersebut.
Chandra Utama berasal dari Center for Economic Studies (CES), Fakultas Ekonomi, Universitas Katolik Parahyangan. Naskahnya berjudul From Depositors’ Confidence to Credit Stability: The Role of Deposit Insurance. Tulisan itu terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 2 tahun 2026, halaman 421 sampai 436.
Naskah itu diterima redaksi jurnal pada 30 September 2025. Revisinya masuk 19 April 2026 dan diterima pada 25 April 2026. Pertanyaannya dua: apakah penjaminan simpanan menjaga kepercayaan penyimpan, dan apakah simpanan yang stabil membuat bank lebih yakin menyalurkan kredit.
Naskah yang sama mencatat Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berdiri pada 2005. Untuk meredam moral hazard, jaminannya dibatasi pada simpanan tertentu. LPS juga menetapkan suku bunga tertinggi yang boleh ditawarkan bank kepada nasabah. Bila bank menawarkan bunga di atas batas itu, simpanannya tidak dijamin LPS.
Sejak 2002, Tiga Kumpulan Data Disusun
Chandra Utama memakai tiga kumpulan data bulanan. Yang pertama deret waktu Januari 2002 sampai Mei 2023 untuk model ekonomi makro. Yang kedua data panel September 2005 sampai Mei 2023 untuk model simpanan. Yang ketiga data panel Maret 2012 sampai Mei 2023 untuk model kredit.
Deret makro memuat inflasi tahunan, suku bunga kebijakan, suku bunga deposito tiga bulan bank umum, dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. PDB kuartalan berharga konstan 2010 disesuaikan musim dengan metode X-12 Census, lalu diinterpolasi menjadi bulanan. Sumbernya BPS, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia.
Simpanan yang dipakai adalah dana pihak ketiga, yakni giro, tabungan, dan deposito. Angkanya dihimpun dari bank persero, bank pembangunan daerah, bank swasta, serta bank asing dan campuran. Penjaminan simpanan diwakili suku bunga penjaminan, bunga tertinggi yang ditetapkan LPS. Masa pandemi ditandai sejak Januari 2020 sampai Mei 2023.
Semua angka lalu diolah menjadi celah, yaitu selisih nilai aktual dengan nilai keseimbangannya. Nilai keseimbangan dicari dengan penyaring Hodrick-Prescott. Menurut naskahnya, celah menggambarkan simpangan atau guncangan. Tren dianggap nilai keseimbangan yang sudah diantisipasi pelaku ekonomi.
Kebijakan makroprudensial dijadikan peubah boneka dari penerapan LTV, RIM, dan PLM. Nilainya 1 bila kebijakan diketatkan, 0 bila tidak ada kebijakan, dan minus 1 bila dilonggarkan. Penulisnya juga berasumsi kepercayaan publik menaruh simpanan di bank milik pemerintah lebih tinggi daripada di bank nonpemerintah.
Baca juga Uang Elektronik Menaikkan PDRB per Kapita, Dana BPR Tidak
Langkah Pertama, Ekonomi Makro Diuji
Langkah pertama memperkirakan tiga persamaan ekonomi makro: persamaan IS, kurva Phillips, dan aturan kebijakan moneter. Ketiganya diestimasi dengan kuadrat terkecil dan diuji satu arah, mengikuti arah yang diramalkan teori. Nilai dugaan ketiganya kemudian dipakai sebagai harapan dalam model simpanan dan model kredit.
Pada persamaan IS, celah output yang diharapkan berpengaruh positif, ke belakang 0,4393 dan ke depan 0,4790. Belanja pemerintah memperoleh 0,3230. Suku bunga riil memperoleh minus 0,0163. Depresiasi rupiah terhadap dolar memperoleh 4,8861. Semuanya ditandai nyata oleh penulisnya.
Perubahan efektivitas belanja pemerintah selama krisis tidak nyata, dengan koefisien minus 0,1923. Daya jelas persamaan ini 0,473 dari 240 amatan. Pada kurva Phillips, harapan inflasi ke belakang dan ke depan sama-sama positif dan nyata, 0,5033 dan 0,50446. Celah output hanya 0,0015 dan tidak nyata.
Menurut naskahnya, bank sentral menaikkan suku bunga saat inflasi melampaui sasaran, dengan koefisien 0,0054. Bank sentral juga merespons celah output sebesar 0,0048 dan celah kurs rupiah per dolar sebesar 0,0753. Daya jelas persamaan itu 0,949. Penulisnya menyimpulkan ketiga persamaan sejalan dengan teori.
Sebelum Januari 2020, Koefisien Penjaminan Simpanan 0,0009
Langkah kedua masuk ke model simpanan, yang diestimasi dengan model efek tetap pada 816 amatan panel. Untuk periode sebelum Januari 2020, suku bunga penjaminan memperoleh koefisien 0,0009 dengan statistik t 1,2956. Angka itu ditandai nyata pada taraf 10 persen.
Peubah lain dalam persamaan yang sama memperoleh koefisien berbeda. Celah simpanan bulan sebelumnya memperoleh 0,6873. Celah output yang diharapkan memperoleh 0,0072. Keduanya nyata pada taraf 1 persen. Harapan inflasi memperoleh minus 0,0021 dan tidak nyata. Daya jelas persamaannya 0,488.
Sebelum diestimasi, data panel diuji stasioneritasnya dengan lima cara. Celah simpanan lolos pada kelimanya. Suku bunga penjaminan tidak lolos pada uji PP-Fisher, dengan peluang 0,4518. Celah kredit, harapan output, dan harapan inflasi tidak lolos pada uji Levin, Lin, dan Chu. Naskahnya menulis sebagian besar hasil uji menyimpulkan data stasioner.
Baca juga Fintech Lending Syariah dan Lama Menarik Lebih Banyak Investor
Sejak Januari 2020, Angka Bank Nonpemerintah Lebih Besar
Mulai Januari 2020, peubah interaksi pandemi memperoleh 0,0020 dengan statistik t 2,0774, nyata pada taraf 5 persen. Uji Wald lalu menjumlahkan kedua koefisien itu. Hasilnya, pengaruh penjaminan simpanan terhadap simpanan naik dari 0,0009 sebelum Januari 2020 menjadi 0,0029 pada Januari 2020 sampai Mei 2023.
Tahap berikutnya memisahkan bank milik pemerintah dari bank nonpemerintah. Selama krisis, koefisien bank milik pemerintah 0,0026, nyata pada taraf 10 persen. Untuk bank nonpemerintah, angkanya 0,0033, nyata pada taraf 5 persen.
“Hasil ini menegaskan bahwa penyimpan memandang bank milik pemerintah lebih aman daripada bank nonpemerintah,” tulis Chandra Utama. Menurut naskahnya, penjaminan simpanan menaikkan kepercayaan nasabah pada bank milik pemerintah, dan lebih besar lagi pada bank swasta, bank asing, dan bank campuran.

Pemecahan terakhir lebih rinci, ke empat jenis bank. Selama krisis, bank persero memperoleh 0,0027. Bank pembangunan daerah memperoleh 0,0024 dan tidak nyata. Bank swasta memperoleh 0,0028, begitu pula bank asing dan campuran. Naskahnya menulis pengaruh itu nyata pada bank persero, swasta, campuran, dan asing, tetapi tidak pada BPD.
Kesimpulannya menyebut penjaminan simpanan menaikkan kepercayaan penyimpan pada masa normal maupun resesi, dengan pengaruh lebih kuat saat ekonomi melemah. “Dengan memberi rasa aman kepada penyimpan, penjaminan simpanan membantu mencegah penarikan dana besar-besaran, terutama pada masa tekanan keuangan,” tulis Chandra Utama.
Maret 2012 Sampai Mei 2023, Giliran Kredit
Langkah ketiga menguji kredit, dengan data panel Maret 2012 sampai Mei 2023 dan 120 amatan. Kredit yang dihitung mencakup kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi. Daya jelas persamaannya 0,750.
Celah simpanan memperoleh koefisien 0,2863. Celah simpanan yang diharapkan, hasil dugaan model simpanan, memperoleh 0,6681. Keduanya nyata pada taraf 1 persen. Celah kredit bulan sebelumnya memperoleh 0,4324, juga nyata. Penulisnya menyimpulkan kestabilan simpanan, bersama kebijakan makroprudensial, berperan penting dalam penyaluran kredit.
Celah suku bunga kredit memperoleh minus 0,5567. Kebijakan makroprudensial memperoleh minus 0,0036, artinya pengetatan menurunkan celah kredit dan pelonggaran menaikkannya. Celah output yang diharapkan memperoleh 0,0025, nyata pada taraf 5 persen. Penulisnya membaca hasil itu sebagai tanda kredit bersifat prosiklikal.
Celah suku bunga kebijakan tiga bulan sebelumnya memperoleh minus 0,0045 dan tidak nyata. Menurut naskahnya, kebijakan moneter dan harapan kebijakan moneter tidak berpengaruh nyata terhadap kredit. Dua peubah interaksi pandemi pada simpanan juga tidak nyata, masing-masing minus 0,4561 dan 0,0537.
Penulisnya menarik saran dari temuan itu. “Studi ini merekomendasikan penguatan lembaga penjaminan simpanan dan peningkatan koordinasi dengan kebijakan fiskal, moneter, dan makroprudensial,” tulis Chandra Utama. Menurut naskahnya, tiap otoritas berperan penting menjaga kestabilan simpanan dan kredit.
Mei 2023, Deret Data Berhenti
Naskah ini tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Beberapa hal di dalamnya perlu dicatat. Pertama, ringkasan naskah menyebut data panel simpanan dimulai Oktober 2005, sedangkan bagian metode menyebut September 2005. Ringkasan juga menyebut metode PLS dan OLS, sementara bagian metode memakai model efek tetap.
Kedua, naskah menyebut lembaga penjaminan dibentuk pada 2004, lalu pada paragraf berikutnya menyebut LPS berdiri pada 2005. Ketiga, badan naskah dua kali merujuk hasil uji Wald ke Tabel 7. Padahal Tabel 7 berisi persamaan kredit, dan uji Wald tercantum di Tabel 6.
Baca juga Nilai Tukar Rupiah Bergerak Ikut Uang Beredar, Bukan Bunga
Keempat, harapan suku bunga kebijakan pada persamaan kredit tercatat 0,1131 dengan statistik t 4,0890, tanpa tanda bintang. Badan naskah menyebut koefisien itu negatif dan tidak nyata. Kelima, baris bank asing dan campuran mencatat statistik t 1,4188, sama persis dengan baris bank swasta.
Keenam, ringkasan naskah menyebut akumulasi simpanan mendorong pasokan kredit selama dan sesudah krisis. Dua koefisien interaksi pandemi pada persamaan kredit, minus 0,4561 dan 0,0537, sama-sama tidak nyata, dan badan naskah tidak membahas keduanya.
Deret data penelitian ini berhenti pada Mei 2023, bulan terakhir masa pandemi dalam modelnya. Naskahnya terbit pada September 2026.















