- Pengelolaan dana desa di 42 desa Kabupaten Belitung dinilai cukup efektif dengan rata-rata 83 persen.
- Serapan terendah ada pada pemberdayaan masyarakat desa, hanya 45,56 persen.
- Korelasi efektivitas dana desa dengan kemiskinan hanya 0,02, disebut penulisnya hubungan positif yang sangat lemah.
- Pulau Gersik, Pegantungan, Dukong, Buluh Tumbang, dan Batu Itam masuk Tipologi A berprioritas tertinggi.
Daftar Isi
Cekricek.id — Pada Juli 2023, pengamatan lapangan tentang dana desa Belitung dimulai. Pengamatan itu berjalan sampai November 2023 dan menyasar 42 desa di Kabupaten Belitung. Hasilnya, tiga ukuran pembangunan desa yang diteliti hanya berkaitan sangat lemah satu sama lain. Lima desa kemudian ditempatkan di urutan prioritas tertinggi.
Penelitian itu dikerjakan Asep Hariyanto, Riswandha Risang Aji, dan Suci Rachmawati dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Islam Bandung (Unisba), bersama Sarah Nita Hasibuan dari Regional Autonomy Watch (KPPOD) di Jakarta. Hasilnya mereka tulis dalam naskah berjudul Classifying Villages by Rural Development Performance: Evidence from Belitung Regency, Indonesia.
Naskah itu terbit di Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Volume 27 Nomor 1 tahun 2026, halaman 149 sampai 172. Tanggal masuknya tercetak “Match 2025”. Naskah itu direvisi April 2026 dan diterima Juni 2026.
Empat Puluh Dua Desa dan Data Tahun 2022
Kabupaten Belitung dipilih karena statusnya sebagai wilayah kepulauan. Menurut naskah itu, kabupaten ini terdiri atas 98 pulau besar dan kecil, lima kecamatan, tujuh kelurahan, dan 42 desa. Pembagian desa per kecamatan mengikuti data Badan Pusat Statistik tahun 2023. Desanya tersebar, dan keterhubungan antarwilayahnya disebut relatif terbatas.
Penulisnya berangkat dari dua tantangan pelaksanaan Undang-Undang Desa. Dana desa harus dibagi adil sesuai kebutuhan desa, lalu dipakai secara efektif. Karena itu, tiga peubah diukur bersama: efektivitas pemanfaatan dana desa Belitung, tingkat kemiskinan, dan kinerja pembangunan desa yang dibaca lewat Indeks Desa Membangun atau IDM.
“Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak dapat dijalankan dengan pendekatan yang seragam, sehingga dibutuhkan pendekatan tipologi desa untuk menentukan kondisi dan prioritas pembangunan tiap desa secara lebih tepat,” tulis Asep Hariyanto dan rekan-rekannya. Mereka menyebut belum ada penelitian yang memakai ketiga peubah itu sekaligus.
Data primernya berasal dari pengamatan lapangan Juli sampai November 2023. Data sekundernya meliputi Indeks Desa Membangun, ciri wilayah Kabupaten Belitung, jumlah penduduk miskin, serta realisasi dan anggaran desa. Status IDM yang dipakai adalah data 2022 dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
Menurut data 2022 itu, 9 desa di Belitung berstatus mandiri atau 21,43 persen. Sebanyak 28 desa berstatus maju atau 66,67 persen, dan 5 desa berstatus berkembang atau 11,90 persen. Penulisnya menilai komposisi itu menunjukkan pemerintah masih perlu mengoptimalkan pengelolaan dan pengembangan potensi sumber daya desa.
Rumus Efektivitas dari Keputusan Menteri 1996
Efektivitas dana desa Belitung diukur dengan membandingkan belanja yang terealisasi dengan belanja yang dianggarkan, lalu dikalikan 100 persen. Hasilnya dinilai memakai standar Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900-327 Tahun 1996. Di atas 100 persen tergolong sangat efektif, 90 sampai 99,9 persen efektif, dan 80 sampai 89,9 persen cukup efektif.
Hasil 60 sampai 79,9 persen tergolong kurang efektif, sedangkan di bawah 59,9 persen tidak efektif. Pengukurannya dibagi ke empat bidang: penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Secara keseluruhan, pengelolaan dana desa Belitung dinilai cukup efektif dengan rata-rata 83 persen.
Serapan tertinggi ada pada penyelenggaraan pemerintahan desa, 91,43 persen. Pelaksanaan pembangunan menyusul dengan 85,84 persen, lalu pembinaan kemasyarakatan 65,05 persen. Serapan terendah ada pada pemberdayaan masyarakat desa, hanya 45,56 persen, di bawah batas 59,9 persen yang dalam standar itu digolongkan tidak efektif.
Metode analisisnya disebut tiga: rasio efektivitas, regresi terboboti geografis atau GWR, dan Indeks Moran. GWR dijelaskan sebagai model yang menghasilkan koefisien berbeda untuk tiap lokasi pengamatan, sehingga hubungan antarpeubah boleh berubah dari satu desa ke desa lain. Indeks Moran dipakai untuk melihat apakah nilai sebuah desa mirip dengan nilai desa tetangganya.
Teks dan tabel hasilnya tidak mencantumkan angka koefisien GWR untuk tiap desa. Yang dilaporkan adalah koefisien korelasi dari perangkat lunak EViews, rata-rata tiap peubah, dan pembagian desa ke empat kuadran. Rata-rata efektivitas dana desa Belitung pun berubah: 83 persen di bagian efektivitas, tetapi 78,58 persen di bagian hubungan antarpeubah. Naskahnya tidak menjelaskan selisih itu.
Dana Desa Belitung dan Rumah Tangga Miskin
Kemiskinan diukur dari jumlah rumah tangga miskin per desa, dengan rata-rata 407 rumah tangga. Gambar 3 naskah itu mencatat angka tertinggi di Tanjung Binga, 1.212 rumah tangga, disusul Air Saga 1.141 dan Aik Pelempang Jaya 1.013. Angka terendah tercatat di Perpat, 69 rumah tangga, lalu Pulau Sumedang 91 dan Pulau Seliu 97.
Sebaran kemiskinan itu dibaca dengan Indeks Moran dari analisis Hariyanto dan kawan-kawan pada 2023. Nilai autokorelasi spasialnya −0,013404 dengan nilai harapan −0,024390, dan pola sebarannya disebut acak. Menurut penulisnya, tidak ada pengelompokan kemiskinan antardesa yang bertetangga, dan kemiskinan satu desa tidak langsung dipengaruhi desa di sebelahnya.
Penulisnya mengaitkan pola acak itu dengan letak desa yang terpencar dan tidak saling terhubung kuat. Naskah itu tidak mencantumkan skor Z yang dipakai untuk memutuskan pola tersebut. Padahal, menurut rumus yang ditulis naskahnya sendiri, indeks yang lebih besar dari nilai harapan menandakan pola mengelompok bila hipotesis nolnya ditolak.

Hubungan pemanfaatan dana desa Belitung dengan kemiskinan kemudian dihitung. Koefisien korelasinya 0,02, yang oleh penulisnya disebut hubungan positif yang sangat lemah. Desa lalu dibagi ke empat kuadran. Kuadran I berisi 16 desa atau 38,09 persen dengan efektivitas tinggi dan kemiskinan rendah, dan Kuadran II berisi 6 desa atau 14,29 persen dengan efektivitas tinggi dan kemiskinan tinggi.
Kuadran III berisi 11 desa atau 26,19 persen dengan efektivitas rendah dan kemiskinan tinggi. Kuadran IV berisi 9 desa atau 21,43 persen dengan efektivitas rendah dan kemiskinan rendah. Kuadran III disebut penulisnya sebagai kelompok desa yang mungkin membutuhkan perhatian lebih besar, dan di bagian pembahasan disebut perlu perhatian serius pemerintah.
“Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan efektivitas pemanfaatan dana desa hanya berkaitan lemah dengan perbedaan tingkat kemiskinan antardesa, yang menandakan bahwa faktor lain juga berperan dalam variasi tingkat kemiskinan,” tulis Hariyanto, Aji, Rachmawati, dan Hasibuan. Di bagian pembahasan, kalimatnya lebih tegas: efektivitas yang tinggi disebut tidak berdampak signifikan menurunkan kemiskinan di tiap desa.
Baca juga DAK Nonfisik Tekan Kemiskinan, DAK Fisik Bekerja di Kepulauan
Naskah itu tidak melaporkan uji signifikansi untuk koefisien 0,02 tersebut. Pada tabel yang sama, Selat Nasik dimasukkan ke kelompok kemiskinan tinggi. Gambar 3 mencatat desa itu punya 406 rumah tangga miskin, sedangkan rata-rata seluruh desanya 407 rumah tangga.
Tiga Korelasi yang Mendekati Nol
Hubungan kedua mempertemukan efektivitas dana desa Belitung dengan kinerja pembangunan desa. Rata-rata IDM seluruh desanya 0,7631, dan koefisien korelasinya 0,003, yang disebut penulisnya mendekati nol. Kuadran I berisi 12 desa atau 28,57 persen yang efektivitasnya tinggi tetapi IDM-nya rendah. Kuadran II berisi 10 desa atau 23,81 persen yang efektivitas dan IDM-nya sama-sama tinggi.
Kuadran III berisi 11 desa atau 26,19 persen dengan efektivitas rendah tetapi IDM relatif tinggi. Kuadran IV berisi 9 desa atau 21,43 persen dengan efektivitas dan IDM yang sama-sama rendah. Membalong, Air Seruk, dan Perawas termasuk desa yang efektivitas dan IDM-nya sama-sama tinggi.
Hubungan ketiga mempertemukan kinerja pembangunan desa dengan kemiskinan. Koefisiennya 0,007, juga disebut mendekati nol. Kuadran I berisi 12 desa atau 28,57 persen dengan IDM tinggi dan kemiskinan rendah, sedangkan Kuadran II berisi 8 desa atau 19,05 persen dengan IDM tinggi dan kemiskinan tinggi.
Kuadran III berisi 8 desa atau 19,05 persen dengan IDM rendah dan kemiskinan tinggi. Kuadran IV menjadi kelompok terbesar, 14 desa atau 33,33 persen, dengan IDM rendah dan kemiskinan rendah. Di bagian pembahasan, IDM pada hubungan ketiga beberapa kali tertulis sebagai HDI.
Ketiga tabel itu tidak selalu menempatkan desa yang sama secara seragam. Selat Nasik tercatat berkemiskinan tinggi di Tabel 1, tetapi berkemiskinan rendah di Tabel 3. Batu Itam tercatat ber-IDM tinggi di Tabel 2 dan Tabel 3, tetapi masuk Tipologi A yang ber-IDM rendah di Tabel 4.
Baca juga Ibu Tunggal Bercerai dan Ditinggal Mati, Beda Jalur Kemiskinan
Nama desa juga ditulis berbeda antarbagian. Aik Pelempang Jaya pada Tabel 1 dan Tabel 2 tertulis Air Pelempang Jaya pada Tabel 4. Lassar tertulis Lasar pada Tabel 1, Aik Rayak tertulis Air Rayak pada Tabel 3, dan Air Seruk tertulis Air Seru pada Gambar 3.
Delapan Tipologi pada Akhir Analisis
Dari hubungan antara efektivitas dana desa Belitung, kemiskinan, dan IDM, penulisnya menyusun delapan tipologi desa. Tipologi A berisi 5 desa atau 11,90 persen dengan efektivitas rendah, kemiskinan tinggi, dan IDM rendah. Kelima desanya Pulau Gersik, Pegantungan, Dukong, Buluh Tumbang, dan Batu Itam. Desa-desa inilah yang diberi prioritas pembangunan tertinggi.
Tipologi B berisi 6 desa dengan efektivitas rendah, kemiskinan tinggi, dan IDM tinggi, tercatat 14,30 persen. Tipologi C berisi 5 desa atau 11,90 persen dengan efektivitas rendah, kemiskinan rendah, dan IDM rendah. Tipologi D dan E masing-masing berisi 4 desa atau 9,52 persen.
Tipologi D menggabungkan efektivitas tinggi, kemiskinan tinggi, dan IDM rendah. Tipologi E menggabungkan efektivitas rendah, kemiskinan rendah, dan IDM tinggi. Tipologi F hanya berisi Air Seruk dan Membalong, atau 4,76 persen. Tipologi G dan H masing-masing berisi 8 desa atau 19,05 persen.
Tipologi H, dengan efektivitas tinggi, kemiskinan rendah, dan IDM tinggi, disebut berada dalam kondisi relatif stabil. Upaya pembangunan di desa-desa itu diarahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi yang ada. Persentase Tipologi B tertulis 14,30 persen, sedangkan 6 dari 42 desa pada Tabel 1 ditulis 14,29 persen.
Baca juga Pisang Balai Panjang dan BUMNag yang Berhenti Bergerak
Untuk Tipologi A, penulisnya mengusulkan dana desa Belitung diarahkan ke layanan pendidikan dan kesehatan, termasuk beasiswa bagi warga yang membutuhkan dan berpotensi akademik. Usulan lainnya penguatan ketahanan pangan, pengembangan BUMDesa yang inovatif, pelatihan pengelolaan keuangan bagi aparat desa, serta dukungan kelompok tani. Polindes juga diusulkan diperluas untuk menangani stunting dan gizi bayi.
“Terakhir, perbaikan aksesibilitas fisik sangat penting bagi desa-desa yang terletak di pulau yang terpisah dari Pulau Belitung, tempat transportasi lebih sulit,” tulis para penulis. Perbaikan itu mencakup jaringan jalan dan prasarana penyeberangan laut.
Naskah itu tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Satu-satunya pengakuan batas muncul pada korelasi pertama: penulisnya menulis faktor lain ikut berperan dalam variasi tingkat kemiskinan. Ketiga korelasi dana desa Belitung itu dihitung dari 42 desa di satu kabupaten dan tidak disertai uji signifikansi.
Rekomendasi penutup naskah itu menyebut lima nama desa Tipologi A. Satu di antaranya disebut lagi secara khusus untuk perbaikan jalan dan penyeberangan laut: Pulau Gersik.















