- Kemiskinan menurut ukuran uang 9,67 persen, sedangkan ukuran multidimensi mencatat 32,60 persen.
- Empat metode pada data yang sama menghasilkan 32,60, 25,93, 32,64, dan 27,34 persen.
- Yang menurunkan angka bukan pembobotannya, melainkan penggantian ambang dari 0,33 menjadi 0,6042.
- Bobot dimensi berubah dari sepertiga rata menjadi 0,0028, 0,0003, dan 0,9969.
- Ragam yang terjelaskan satu dimensi hanya 16,396 persen lalu 20,592 persen.
Daftar Isi
Pada Maret 2020, data Survei Sosial Ekonomi Nasional mencatat 72.791.519 rumah tangga di Indonesia. Dari jumlah itu, 9,67 persen tergolong miskin menurut ukuran uang. Ketika ukuran yang dipakai berganti menjadi ukuran multidimensi, angkanya melompat ke 32,60 persen.
Selisih itu yang diperiksa Novi Andy Dwi Setyawan, Eny Sulistyaningrum, dan Lincolin Arsyad dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, dalam artikel Harmonization of monetary and multidimensional poverty through a threshold alignment approach di Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, Volume 27 Nomor 1 tahun 2026, halaman 255–279. Naskahnya diterima 29 April 2025 dan disetujui 29 April 2026.
Langkah Pertama: Menghitung dengan Cara yang Sudah Ada
Metode Alkire-Foster dijalankan lebih dulu sebagai pembanding. Metode itu memakai 15 indikator yang tersebar pada tiga dimensi, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak, dengan bobot yang dibagi rata sepertiga untuk tiap dimensi. Indikatornya mencakup bahan atap, dinding, dan lantai rumah, kepemilikan dan jenis kloset, pembuangan akhir tinja, air minum, air mandi, akses listrik, bahan bakar memasak, kepemilikan aset, lama sekolah, melek huruf, serta konsumsi kalori dan protein.
Hasilnya 23.728.370 rumah tangga tergolong miskin, atau 32,60 persen, sementara 49.063.916 rumah tangga tergolong tidak miskin. Ambang dimensi yang dipakai 0,33, artinya rumah tangga dinyatakan miskin bila terdeprivasi pada sepertiga bobot indikator atau lebih.
Penulisnya mencatat angka itu sejalan dengan perhitungan Oxford Poverty and Human Development Initiative yang memakai data survei demografi dan kesehatan 2017 dan melaporkan sekitar 38,7 persen. Namun angka 32,60 persen itu lebih dari tiga kali angka kemiskinan menurut ukuran uang pada bulan yang sama.
Sumber selisihnya, menurut naskah tersebut, adalah tidak adanya ambang yang sama di antara kedua pendekatan. Ambang pada metode Alkire-Foster ditetapkan dari luar data, sementara ambang kemiskinan menurut ukuran uang dihitung dari garis kemiskinan, sehingga keduanya tidak pernah bertemu di titik yang sama.
Dua hal sekaligus hendak dikurangi penulisnya lewat pendekatan itu. Pertama, kesewenangan dalam menetapkan ambang tiap indikator, yang selama ini melekat pada metode Alkire-Foster. Kedua, kesewenangan dalam menetapkan bobot tiap indikator, yang hendak diganti dengan bobot yang dihitung dari sebaran datanya sendiri.
Baca juga Dua Garis Kemiskinan, BPS 8,07 Persen dan Bank Dunia 64,1 Persen
Langkah Kedua: Ambangnya Ditarik dari Data Sendiri
Cara yang diusulkan memakai analisis kurva karakteristik operasi penerima untuk mencari titik potong terbaik pada tiap indikator. Titik potong itu dicari dengan status kemiskinan menurut ukuran uang sebagai acuan, sehingga ambang yang dipakai tidak lagi ditetapkan dari luar. Kurva itu menimbang pertukaran antara kepekaan dan kekhasan pada berbagai nilai ambang, lalu memilih nilai yang ketepatan ramalannya tertinggi.
Luas area di bawah kurva dihitung untuk kelima belas indikator. Konsumsi kalori tercatat tertinggi dengan 0,814, disusul air minum 0,656, bahan bakar memasak 0,652, dan lantai 0,641. Empat belas indikator berpeluang 0,000 pada uji Z, sedangkan indikator pembuangan akhir tinja berpeluang 0,465.
Tiga indikator berada di bawah 0,5, yaitu atap 0,489, jenis kloset 0,469, dan lama sekolah 0,496. Bersama indikator pembuangan akhir tinja yang luas areanya persis 0,500 dan tidak berbeda nyata dari garis diagonalnya, keempatnya dinilai penulisnya tidak layak diteruskan ke tahap berikutnya.
Penyaringan kedua memakai indeks Gini pada tiap indikator. Empat indikator bernilai negatif dan dikeluarkan: atap minus 0,021, jenis kloset minus 0,062, pembuangan akhir tinja minus 0,041, dan lama sekolah minus 0,005. Yang tersisa sebelas indikator dengan titik potongnya masing-masing.
Dari sebelas indikator itu disusun skor kumulatif tiap rumah tangga, lalu skor kumulatifnya sendiri diuji dengan kurva yang sama. Luas areanya 0,688 dengan peluang 0,00, dan dari situ diperoleh ambang dimensi 0,6042, hampir dua kali ambang 0,33 yang dipakai metode sebelumnya.
Arah hubungannya pun terbelah. Pada sepuluh indikator teratas, makin besar nilai indikatornya makin besar pula peluang rumah tangga tergolong miskin; dinding rumah, misalnya, menandai miskin pada nilai 2,5 ke atas. Pada lima indikator berikutnya arahnya terbalik, seperti melek huruf yang menandai miskin pada nilai 1,5 ke bawah.
Langkah Ketiga: Bobotnya Ikut Ditarik dari Data
Tahap berikutnya mengganti bobot sepertiga yang dibagi rata dengan bobot yang dihitung dari data lewat analisis korespondensi ganda. Masukannya skor biner tiap rumah tangga pada tiap indikator, hasil perbandingan nilai indikator dengan titik potongnya.
Hasil pembobotan pada lima belas indikator menempatkan air minum di urutan teratas dengan ukuran pembeda 0,567 dan sumbangan 23,04 persen, disusul air mandi dan cuci 0,521 dengan 21,20 persen, lalu bahan bakar memasak 0,401 dengan 16,29 persen. Ragam yang terjelaskan satu dimensi 16,396 persen.
Di ujung lain daftar itu, empat indikator nyaris tidak menyumbang apa pun. Kepemilikan aset dan lama sekolah tercatat 0,000, melek huruf 0,001, dan konsumsi protein 0,002, sehingga sumbangannya berturut-turut 0,001 persen, 0,01 persen, 0,02 persen, dan 0,07 persen.
Akibatnya terlihat pada bobot dimensinya. Pada metode Alkire-Foster, kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak masing-masing berbobot 0,3333. Sesudah dibobot dari data, kesehatan tinggal 0,0028, pendidikan 0,0003, dan standar hidup layak 0,9969.
Baca juga Kemiskinan Nusa Tenggara Barat Turun Seiring Upah Minimum
Empat Angka dari Satu Kumpulan Data
Empat metode akhirnya dijalankan pada kumpulan data yang sama. Metode Alkire-Foster menghasilkan 32,60 persen, metode kurva menghasilkan 25,93 persen, metode Alkire-Foster berbobot data menghasilkan 32,64 persen, dan gabungan kurva dengan bobot data menghasilkan 27,34 persen.
Yang menurunkan angka bukan pembobotannya, melainkan ambangnya. Mengganti bobot saja hanya menggeser hasil dari 32,60 persen menjadi 32,64 persen, selisih 0,04 poin. Mengganti ambang dari 0,33 menjadi 0,6042 menurunkannya hampir tujuh poin.
Pada tahap terakhir, bobotnya dihitung ulang untuk sebelas indikator yang tersisa. Air minum naik menjadi 0,619 dengan sumbangan 27,345 persen, air mandi dan cuci 0,579 dengan 25,545 persen, dan ragam yang terjelaskan naik dari 16,396 persen menjadi 20,592 persen. Ambang dimensinya turun ke 0,5313.
Penilaian keempatnya memakai tabulasi silang terhadap status kemiskinan menurut ukuran uang. Rumah tangga yang miskin pada kedua ukuran tercatat 2,96 persen pada metode Alkire-Foster, 4,78 persen pada metode kurva, 5,56 persen pada metode berbobot data, dan 5,45 persen pada gabungannya. Dari 7.036.433 rumah tangga miskin menurut ukuran uang, metode Alkire-Foster menandai 2.156.403 di antaranya, sedangkan metode berbobot data menandai 4.043.887.
Di sisi sebaliknya, rumah tangga yang tidak miskin pada kedua ukuran tercatat 60,70 persen, 69,19 persen, 63,25 persen, dan 68,44 persen. Dari dua deret itu penulisnya menyimpulkan metode kurva dan gabungannya lebih sedikit menghasilkan ketidakcocokan dibanding dua metode lain.
Yang Belum Terjawab Sesudah Ambangnya Diselaraskan
Ragam yang terjelaskan tetap rendah di kedua tahap pembobotan. Angka 16,396 persen dan 20,592 persen diakui sendiri oleh penulisnya sebagai rendah, dengan catatan bahwa penambahan dimensi berikutnya pun hanya menaikkannya sedikit.
Bobot dimensi hasil pembobotan data juga menyisakan pertanyaan yang tidak dibahas panjang. Dengan kesehatan 0,0028 dan pendidikan 0,0003, ukuran multidimensi itu praktis menjadi ukuran satu dimensi, yakni standar hidup layak, meskipun kerangka yang dipakai tetap disebut multidimensi.
Empat indikator yang dikeluarkan pada penyaringan juga berasal dari dua dimensi yang kemudian nyaris kehilangan bobot. Lama sekolah termasuk dimensi pendidikan, sedangkan jenis kloset dan pembuangan akhir tinja termasuk dimensi standar hidup layak, dan keduanya dikeluarkan sebelum pembobotan dijalankan.
Perbandingan dengan angka acuan luarnya juga tidak sepenuhnya setara. Angka 38,7 persen dari lembaga luar yang dikutip berasal dari survei demografi dan kesehatan 2017, sementara seluruh perhitungan di naskah itu memakai survei sosial ekonomi nasional Maret 2020, sehingga tahun dan sumber datanya berbeda.
Ambang dimensi terakhirnya pun berpindah sekali lagi tanpa penjelasan tentang akibatnya. Setelah indikatornya dipangkas dari lima belas menjadi sebelas, ambangnya turun dari 0,6042 ke 0,5313, dan angka kemiskinannya naik kembali dari 25,93 persen ke 27,34 persen. Naskahnya menyebut ambang 0,5313 berarti rumah tangga bebas dari kemiskinan bila lepas dari deprivasi pada separuh dimensi standar hidup layak.
Baca juga Pendapatan Asli Daerah Mamuju 6,68 Persen, Transfer 88,84
Yang bisa diperiksa siapa pun pada tabelnya adalah dua ambang yang dipakai pada data yang sama: 0,33 pada metode lama dan 0,6042 pada metode yang diusulkan. Selisih kedua ambang itulah yang memindahkan hampir tujuh persen rumah tangga Indonesia dari kolom miskin ke kolom tidak miskin.















