- ARIMAX ([1,11],1,1) dengan dummy Idulfitri mencatat MAPE 7,49, terendah di antara enam model yang diuji.
- Rata-rata penumpang Bandara Juanda tercatat 488.805 orang per bulan, dengan bulan paling ramai 899.548 penumpang.
- Dua model tanpa variabel eksogen mencatat MAPE 52,25 dan 40,63.
- Naskah tidak menjelaskan mengapa koefisien hari raya pada ARIMAX dan SARIMAX bertanda negatif.
Daftar Isi
Cekricek.id — 7,49 persen. Itulah rata-rata galat ramalan terkecil untuk jumlah penumpang Bandara Juanda dalam sebuah uji enam model. Model pemenangnya memuat satu penanda tambahan, yaitu bulan Idulfitri. Model tanpa variabel kalender terbaik masih mencatat galat 40,63 persen.
Uji itu dikerjakan Putriaji Hendikawati dan Anisa Oktaviani dari bidang Statistika Terapan dan Komputasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang. Hasilnya berjudul Calendar Variation Time Series Analysis for Forecasting the Number of Domestic Passengers of Juanda International Airport Surabaya. Artikel itu terbit di Jurnal Matematika UNAND Volume 15 Nomor 3, halaman 302–318, edisi Juli 2026.
125 Bulan Data Penumpang Bandara Juanda
Bahannya 125 observasi bulanan. Isinya jumlah penumpang pesawat yang berangkat dengan penerbangan domestik dari Juanda, periode Januari 2014 sampai Mei 2024. Datanya diambil dari situs resmi Badan Pusat Statistik. Naskah diterima 3 Mei 2025, direvisi 27 Januari 2026, disetujui 2 Mei 2026, dan tayang daring 31 Juli 2026.
Rata-rata penumpang Bandara Juanda tercatat 488.805 orang per bulan. Mediannya 521.681. Bulan paling sepi mencatat 5.397 penumpang, sedangkan bulan paling ramai 899.548. Simpangan bakunya 186.574,8. Menurut kedua penulis, angka itu menandakan variasi yang besar antarbulan.
Kemiringan distribusinya −0,504 dan kurtosisnya 2,664. Uji Jarque-Bera memberi probabilitas 0,052. Kedua peneliti membacanya sebagai sebaran yang mendekati normal. Grafik data mereka juga memperlihatkan pola naik-turun yang cukup teratur tiap tahun, kecuali penurunan drastis pada 2020 hingga 2021 akibat pandemi COVID-19.
7,7 Juta Orang pada 2019, Lalu Anjlok
Pada 2019, Juanda melayani 7.719.572 penumpang menurut data BPS yang dimuat naskah. Setahun kemudian angkanya jatuh menjadi 2.283.671 penumpang. Penulis menyebut pandemi COVID-19 sebagai penyebabnya. Pada 2022 jumlahnya naik lagi menjadi 4.500.000 penumpang. Naskah juga memuat laporan kepolisian tentang musim mudik. Sepanjang 2022 tercatat 138.673 kecelakaan lalu lintas, dan 29.679 di antaranya terjadi di Jawa Timur. Menurut penulis, kondisi itu menjadikan angkutan laut dan udara pilihan yang lebih aman.
Baca juga Lonjakan Penumpang Bandara SSK II Pekanbaru Capai 25.924 Orang di Long Weekend
Dua hari raya disorot khusus, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Pada 2 momen itu, tulis penulis, jumlah perjalanan udara cenderung naik signifikan karena banyak orang pulang kampung. Kenaikan permintaan penumpang Bandara Juanda disebut memicu kepadatan bandara, penundaan penerbangan, dan tekanan pada infrastruktur.
Selisih 11 Hari yang Menggeser Lebaran
Kalender Hijriah, jelas naskah, berpatokan pada peredaran bulan. Akibatnya, satu tahun Hijriah sekitar 11 hari lebih pendek daripada satu tahun Masehi. Karena itu, hari raya jatuh pada tanggal Masehi yang berbeda setiap tahun dan membentuk pola berulang dengan periode yang tidak tetap.
Penulis membedakan 2 jenis variasi kalender, yakni efek hari dagang dan efek hari libur. Penelitian ini memakai jenis kedua. Variabel eksogennya berupa dummy bernilai 0 atau 1 untuk menandai ada atau tidaknya hari raya. Selain itu, dicoba versi rasio yang menimbang intensitas atau durasi tiap hari raya.
Data kemudian dibagi dengan perbandingan 70:30. Data latih mencakup Januari 2014 sampai Desember 2021. Data uji mencakup Januari 2022 sampai Mei 2024. Pembagian tanggal itu setara 96 bulan data latih dan 29 bulan data uji. Naskah tidak menjelaskan mengapa komposisinya tidak persis 70:30.
6 Model, 3 Ukuran Galat
Ada 6 model yang diuji: regresi dummy, regresi tren, ARIMA, SARIMA, ARIMAX, dan SARIMAX. ARIMAX dan SARIMAX adalah ARIMA dan SARIMA yang ditambahi variabel eksogen hari raya. Akurasi ramalan penumpang Bandara Juanda diukur dengan 3 ukuran, yaitu MAPE, RMSE, dan MAE. Makin kecil nilainya, makin akurat ramalannya.
Langkah pertama menguji kestasioneran data. Uji Augmented Dickey-Fuller menunjukkan data belum stasioner, sehingga diperlukan 1 kali pembedaan. Plot ACF memperlihatkan potongan pada lag 1, 10, 12, dan 13. Plot PACF memperlihatkan potongan pada lag 1, 10, 11, dan 12.
Regresi dummy menghasilkan 4 varian yang lolos uji signifikansi. Dummy Idulfitri punya probabilitas 0,0008 dan AIC 29,18, dengan koefisien 504.505,1. Tiga varian lain, yakni rasio Idulfitri serta dummy dan rasio Iduladha, sama-sama mencatat AIC 29,22. Regresi tren bernasib lain. Keenam variannya berlabel tidak lolos, dengan AIC 28,64 sampai 28,68. Koefisien trennya berkisar 6.508,184 hingga 6.733,813. Anehnya, probabilitas koefisien tren di tabel tertulis 0,0000, sementara teks menyebut semua parameternya tidak signifikan.
AIC 24,33 Belum Tentu Juara
ARIMA terbaik berordo ([1,11],1,1) dengan AIC 24,586. Pesaing terdekatnya, ARIMA ([1,12],1,1), mencatat AIC 24,588. Selisihnya tipis. Varian terburuk, ([10],1,0), mencatat AIC 27,148. Semua varian ARIMA yang diuji memiliki parameter dengan probabilitas di bawah 0,05. SARIMA menguji 6 kombinasi dengan AIC 24,35 sampai 24,43. Semuanya lolos uji signifikansi. Model terbaiknya SARIMA (1,1,[10])(1,1,[2,12])12. Menurut penulis, SARIMA dipilih karena hari raya Idulfitri dan Iduladha berulang setiap tahun.
Baca juga Maskapai di Bandara SSK II Pekanbaru Ajukan Extra Flight Selama Lebaran 2024
ARIMAX ([1,11],1,1) dicoba dengan 2 variabel eksogen, yaitu dummy Idulfitri dan rasio Idulfitri. Versi dummy mencatat AIC 24,42, sedangkan versi rasio 24,55. Kedua versi lolos uji signifikansi parameter. SARIMAX justru mencatat AIC paling kecil di tabel model terbaik, yakni 24,33 untuk versi rasio Idulfitri. Versi dummy-nya mencatat 24,34. Angka kedua lebih menarik bila dibandingkan dengan ARIMAX, yang AIC-nya 24,42 tetapi kelak unggul pada ukuran galat.
Uji diagnostik residual lalu menyaring model. Regresi dummy dan regresi tren tidak lolos, masing-masing dengan AIC 29,18 dan 28,64 pada tabel model terbaik. Empat model lain lolos, yaitu ARIMA, SARIMA, ARIMAX, dan SARIMAX.

MAPE 7,49 Lawan 86,81
Penentu akhirnya 3 ukuran galat. ARIMAX ([1,11],1,1) dengan dummy Idulfitri mencatat MAPE 7,49, RMSE 41.133,26, dan MAE 34.119,06. Ketiganya terendah. SARIMAX versi rasio menyusul dengan MAPE 11,07, RMSE 53.306,27, dan MAE 45.579,46.
Jaraknya melebar pada model lain. Dua baris tanpa variabel eksogen, yang pada tabel model terbaik hanya milik ARIMA dan SARIMA, mencatat MAPE 52,25 dan 40,63. Baris teratas, dengan dummy Idulfitri, mencatat MAPE 86,81 dan RMSE 364.410,6. Tabel itu memuat 6 nama model, tetapi hanya 5 baris angka.
“Hasil analisis menunjukkan bahwa memasukkan variabel eksogen berupa variasi kalender ke dalam model peramalan dapat meningkatkan akurasi prediksi,” tulis Putriaji Hendikawati dan Anisa Oktaviani. Kalimat itu mereka tulis di abstrak, tepat setelah melaporkan MAPE 7,49 untuk model pemenang.
Alasan utamanya lonjakan Lebaran. “Lonjakan penumpang yang bertepatan dengan Idulfitri, yang mencerminkan pola tahunan arus mudik dan balik, dapat diantisipasi lebih baik menggunakan model ARIMAX,” tulis keduanya. Mereka menilai ARIMAX ([1,11],1,1) relevan untuk mengatur kapasitas penerbangan, tenaga kerja, dan layanan tambahan penumpang Bandara Juanda.
“Beberapa model peramalan menunjukkan hasil prediksi jumlah penumpang yang kurang akurat dengan galat prediksi yang cukup tinggi,” tulis Hendikawati dan Oktaviani. Sebagian penyebabnya, menurut mereka, data penumpang pesawat yang anjlok drastis selama pandemi COVID-19. Data latih mereka sendiri membentang hingga Desember 2021.
ARIMA dan SARIMA, lanjut kedua penulis, kurang akurat karena tidak dapat mengakomodasi variabel eksogen seoptimal ARIMAX. Regresi dummy dan regresi tren dinilai terbatas dalam menangkap pola musiman yang kompleks. Di luar 2 catatan itu, naskah tidak memuat bagian keterbatasan penelitian tersendiri.
Koefisien Minus 51.625 yang Tak Dibahas
Tabel ARIMAX memuat angka yang janggal. Koefisien dummy Idulfitri tertulis −51.625,93 dengan probabilitas 0,0000. Versi rasionya −26.911,81. Tanda minus juga muncul pada SARIMAX, yaitu −20.956,38 untuk dummy dan −13.770,3 untuk rasio.
Di bagian pembahasan, Idulfitri disebut sering memicu kenaikan tajam jumlah penumpang karena tradisi pulang kampung. Naskah tidak menjelaskan mengapa 4 koefisien hari raya pada ARIMAX dan SARIMAX itu bertanda negatif. Pada regresi dummy, koefisien dummy Idulfitri justru positif, 504.505,1.
Baca juga Nilai Tukar Rupiah Bergerak Ikut Uang Beredar, Bukan Bunga
Iduladha mengalami nasib lain. Dummy Iduladha lolos pada regresi dummy dengan probabilitas 0,0063, tetapi tidak muncul pada tabel ARIMAX maupun SARIMAX. Meski begitu, kesimpulan naskah menyebut ARIMAX dengan dummy hari raya seperti Idulfitri dan Iduladha sebagai model paling efektif.
6 Ramalan untuk Paruh Pertama 2024
Model terbaik lalu dipakai meramal 6 bulan. Hasilnya berturut-turut 51.404, 60.280, 51.644, 54.194, 58.316, dan 76.155 penumpang untuk Januari hingga Juni 2024. Penulis menyebut deret ramalan penumpang Bandara Juanda itu menunjukkan tren naik.
Dua hal mengganjal. Periode Januari hingga Mei 2024 sudah tercakup dalam data uji yang berakhir Mei 2024. Keenam angka ramalan itu juga jauh di bawah rata-rata bulanan 488.805 dan median 521.681 yang dilaporkan naskah yang sama. Naskah tidak menjelaskan kedua hal tersebut.
Angka terakhir di deret itu 76.155 penumpang untuk Juni 2024. Naskah tidak membandingkan ramalan tersebut dengan jumlah penumpang Bandara Juanda yang benar-benar tercatat pada bulan-bulan itu.














