Cekricek.id — Pada 26 Januari 1918, harian Bataviaasch Nieuwsblad memuat artikel berjudul De Handen. Isinya tentang tangan perempuan. Artikel itu menyatakan tangan yang terawat menandakan perempuan yang memahami estetika pribadi. Tangan halus, bersih, dan berkuku rapi dibaca sebagai tanda perempuan berbudaya. Tangan yang kasar dibaca sebagai tanda pekerjaan kasar. Dua tahun kemudian, sebuah produk impor masuk ke toko di Bandung dan menempati jarak antara keduanya. Harganya memastikan jarak itu tidak benar-benar tertutup.
Produk itu cat kuku merek Cutex. Riwayat peredarannya di Hindia Belanda ditelusuri Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skober dari Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Laporan mereka, Cat Kuku sebagai Gaya Hidup dan Identitas Sosial Perempuan di Hindia Belanda Tahun 1920-1942, terbit di jurnal Metahumaniora, Volume 16 Nomor 1, tahun 2026, halaman 53 sampai 60. Naskahnya dikirim pada 31 Maret 2026 dan terbit sebulan kemudian, pada 30 April 2026. Keduanya menyatakan belum ada penelitian yang memakai satu produk tunggal sebagai kunci pembacaan periode ini.
Bahan penelitiannya sebagian besar berupa kertas berumur seabad. Iklan kecantikan di Bataviaasch Nieuwsblad, De Locomotief, De Sumatra Post, dan De Preanger Bode dikumpulkan lebih dulu. Ditambahkan arsip foto, artikel majalah perempuan, serta dokumen statistik perdagangan kolonial. Surat kabarnya diakses lewat portal digitalisasi Delpher.nl milik Koninklijke Bibliotheek di Belanda, sebagian lewat koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan repositori KITLV Leiden. Kritik sumber dilakukan dua arah: memeriksa tanggal terbit dan format iklannya, lalu memeriksa kecenderungan ideologis penerbitnya.
Daftar Isi
1869-1918: Jalan Laut dan Urusan Tangan

Titik awalnya bukan iklan, melainkan jalur pelayaran. Terusan Suez dibuka pada 1869 dan memperpendek jarak Eropa ke Asia. Barang mode dan kecantikan dari Eropa serta Amerika sampai lebih cepat ke pasar kolonial. Pelabuhan besar seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya menjadi pintu masuknya. Dari sana barang itu menyebar ke kota-kota yang gaya hidupnya menoleh ke Paris. Sepanjang 1920 sampai 1942, arus impor kosmetik dan perawatan tubuh itu menguat bersama budaya konsumsi kolonial.
Penyalurnya di darat adalah warenhuis, toko barang impor bergaya rumah dagang Eropa. Pembelinya terbatas. Perempuan Eropa, Indo-Eropa, dan kalangan pribumi terdidik di kota mempunyai peluang paling besar untuk membeli. Perempuan di desa dan kalangan berpenghasilan rendah tetap mengandalkan bahan lokal. Garis pemisah itu sudah ada sebelum satu botol cat kuku pertama dijual. Iklan di majalah perempuan berbahasa Belanda memperjelasnya, sebab pembacanya memang bukan semua orang.
Sebelum barangnya datang, wacananya lebih dulu dibentuk. Surat kabar dan majalah perempuan tahun 1920-an sampai 1940-an tidak hanya memuat informasi. Keduanya memproduksi ukuran tentang tubuh perempuan yang dianggap pantas. Kuku dan tangan mendapat perhatian khusus di dalamnya. Perawatan kuku tidak disebut sekadar urusan kebersihan, melainkan penanda modernitas dan kehalusan sosial. Surat kabar bahkan memuat petunjuk cara merawat kuku yang dianggap benar.
Kuku sebagai penanda kelas bukan penemuan abad ke-20. Peneliti mencatat, di Mesir Kuno cat kuku merah tua menandai kebangsawanan dan hanya dipakai perempuan kelas atas. Pada masa Dinasti Ming di Tiongkok, kuku panjang berlapis emas menandai status elit sekaligus jarak dari pekerjaan berat. Pola yang sama muncul kembali di Hindia Belanda dengan bahan dan merek yang berbeda. Yang baru hanyalah pabrik, kapal, dan iklan yang mengantarkannya.
Baca juga Soneta Wing Kardjo yang Menampung Novel Mochtar Lubis
Satu catatan perlu diberikan pada bahan penelitiannya. Salah satu artikel yang dikutip, Handen en voeten versieren atau Menghias Tangan dan Kaki, ternyata bertanggal 1 Juli 1995 dan berasal dari De Volkskrant. Artikel itu dipakai sebagai rujukan atas praktik pada periode sebelumnya, bukan sebagai sumber sezaman. Selebihnya, sumber primer yang dipakai memang terbit pada rentang yang diteliti, mulai dari iklan surat kabar sampai dokumen statistik pemerintah kolonial.
1920: Cutex Masuk Au Bon Marche
Tahun 1920 dipilih sebagai batas awal penelitian karena satu temuan arsip. Pada tahun itu ditemukan iklan pertama cat kuku merek Cutex di Hindia Belanda. Produk itu dipasarkan melalui Au Bon Marche, sebuah warenhuis di Kota Bandung. Sebelum tahun itu, pola distribusi dan konsumsi cat kuku belum cukup jelas untuk dianalisis. Periode sebelumnya tidak diabaikan peneliti, tetapi dinilai belum meninggalkan jejak iklan yang memadai.
Peristiwa itu menandai perpindahan jalur. Kosmetik modern tidak lagi beredar hanya lewat jalur eksklusif kalangan Eropa. Ia masuk ke ruang ritel kolonial yang terbuka dan berada di tengah kota. Siapa pun yang mampu membayar dapat melihatnya di etalase. Melihat dan membeli, pada masa itu, dua perkara yang berbeda jauh. Kehadiran barang di ruang publik justru memperjelas siapa yang berada di luar jangkauannya.
Merek itu kemudian menempel pada bendanya. Cutex menjadi eponim, nama dagang yang bergeser menjadi sebutan umum. Kata “kuteks” yang dipakai sehari-hari sampai sekarang berasal dari sana. Pergeseran itu sendiri menunjukkan seberapa dalam satu merek asing menancap di perbendaharaan bahasa penduduk yang sebagian besar tidak pernah membelinya. Nama dagang bertahan lebih lama daripada botolnya.
Tiga tahun sesudah iklan pertama, produk itu keluar dari etalase toko. Pada 1923 sebuah kios Cutex dibuka di Pasar Gambir, Batavia, dan peristiwanya terekam dalam koleksi foto Tropenmuseum. Pasar Gambir adalah pameran tahunan yang ramai dikunjungi berbagai kalangan. Cat kuku impor dipertemukan di sana dengan pengunjung yang jauh lebih beragam daripada pembaca majalah berbahasa Belanda. Foto pembukaan kios itu kini tersimpan sebagai arsip visual di koleksi museum Belanda.
1924: Dua Puluh Lima Gulden Sebotol
Harga menutup pertemuan itu kembali. Data statistik perdagangan Mededeelingen van het Centraal Kantoor voor de Statistiek Nomor 30 tahun 1924 dipakai peneliti untuk menghitungnya. Satu botol Cutex termurah tercatat 25 gulden. Jumlah itu setara dengan 147 kilogram beras pada masa yang sama. Sebuah benda kecil di meja rias berharga sekarung besar bahan pangan. Perbandingan harga dengan kebutuhan pokok itu memang salah satu tahap analisis yang dirancang peneliti.
Baca juga Simpati Mendominasi Kolom Komentar Najwa Shihab
Pembandingnya adalah upah. Buruh perkebunan dan buruh pabrik pada masa itu menerima 0,25 sampai 0,45 gulden per hari. Dengan upah rata-rata 0,30 gulden, seorang pekerja memerlukan 83 hari kerja untuk mengumpulkan harga satu botol termurah. Angka itu menutup perkara siapa yang mungkin memakai cat kuku dan siapa yang tidak. Akses ekonomi menentukan bukan hanya kepemilikan barangnya, melainkan juga keikutsertaan dalam gambaran perempuan modern yang dibentuk iklan.
Peneliti membaca angka itu dengan kerangka Pierre Bourdieu. Konsumsi cat kuku ditempatkan sebagai praktik distingsi sosial, yaitu cara kelas atas menandai batas dirinya lewat selera. Konsep habitus dipakai untuk menjelaskan bagaimana selera itu dibentuk oleh posisi kelas. Konsep modal simbolik dipakai untuk menjelaskan kuku bercat sebagai tanda status. Locher-Scholten pada 2000 lebih dulu menyebut proses itu sebagai kolonialisasi gaya hidup, ketika perempuan elit mengambil estetika Barat untuk membangun citra modern.
Di luar jangkauan harga itu, praktik lama tetap berjalan. Pewarnaan kuku dengan daun pacar atau inai sudah lama dikenal dalam budaya Jawa, Sunda, dan Melayu. Bahannya mudah didapat di sekitar rumah. Pemakaiannya berkaitan dengan upacara pernikahan, ritual keagamaan, dan perawatan sehari-hari. Pengetahuan itu diwariskan turun-temurun tanpa iklan dan tanpa toko. Bahan bakunya tumbuh di halaman rumah.
Media cetak kolonial menggeser kedudukan praktik tersebut. Cat kuku pabrikan digambarkan sebagai produk yang melalui pengujian laboratorium, diproduksi secara higienis, dan aman bagi kesehatan. Bahan alami seperti pacar tidak dibahas dalam wacana ilmiah itu. Ketiadaan pembahasan menghasilkan kesan bahwa praktik lokal kurang berdasar. Pacar mulai dipandang tradisional dan ketinggalan zaman. Film Hollywood yang diputar di bioskop elit Batavia menguatkan gambaran perempuan ideal yang sama.
Perempuan pribumi terdidik menempuh beberapa jalan. Sebagian meninggalkan praktik lokal dan mengambil standar Barat sepenuhnya. Sebagian lain memakai cat kuku hanya untuk acara resmi, sambil tetap memakai pacar dalam situasi yang lebih privat. Ada pula yang menggabungkan keduanya, memakai pacar sebagai dasar lalu mengoleskan cat kuku bening di atasnya. Ketiga jalan itu dicatat peneliti sebagai bentuk negosiasi, bukan sekadar pilihan rias.
1930-1942: Empat Puluh Tujuh Warna
Pada 1930-an wacana kecantikan kuku berubah menjadi teknis. Pada 27 Desember 1930, De Sumatra Post memuat artikel berjudul Zeven en veertig nagelkleuritjes, atau empat puluh tujuh warna kuku. Isinya bukan sekadar daftar. Artikel itu menjelaskan warna mana yang cocok untuk warna kulit tertentu, untuk acara tertentu, dan untuk suasana hati tertentu. Memilih warna kuku, sejak saat itu, menuntut pengetahuan yang harus dipelajari.
Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan
Tujuh tahun kemudian, urutan kerjanya ikut dibakukan. Pada 15 November 1937, Bataviaasch Nieuwsblad menerbitkan artikel Let op Uw Handen atau Perhatikan Tangan Anda. Artikel itu merinci tahapannya: memotong kuku dengan gunting khusus, mengikir ujungnya, membersihkan kutikula, lalu mengoleskan cat kuku. Perawatan kuku berubah menjadi prosedur yang menuntut alat, bahan, dan pengetahuan. Tidak semua kelas sosial punya ketiganya sekaligus.
Iklannya bekerja dengan pola yang tetap. Gambarnya hampir selalu memperlihatkan tangan perempuan yang halus, putih, dan terawat. Jari digambarkan langsing, kulit mulus, kuku rapi, sering ditambah cincin atau gelang. Narasinya menekankan aspek ilmiah dan kebersihan. Memakainya disajikan sebagai pilihan yang masuk akal, bukan sekadar mengikuti mode. Puluhan pilihan warna ditonjolkan, dari bening sampai merah menyala, sebagai tanda kebebasan memilih yang hanya berlaku bagi yang sanggup membeli.
Warna merah, terutama merah tua, menempati kedudukan khusus. Peneliti mengaitkannya dengan citra perempuan modern yang berani dan mandiri. Seperti lipstik merah, cat kuku merah bekerja sebagai tanda visual yang mencolok. Antara 1938 dan 1940, jumlah artikel dan iklan tentang cat kuku tercatat meningkat dan stabil di surat kabar kolonial. Peneliti membacanya sebagai tanda perluasan pasar sekaligus penyebaran nilai modernitas.
Kesimpulan peneliti diletakkan pada benda itu sendiri. Menurut Atika Salsabila dan Tanti Restiasih Skober, kuku yang dicat “bukan hanya bagian dari tubuh, tetapi pernyataan sosial yang eksplisit tentang modernitas, tentang status, dan tentang keterikatan pada nilai kolonial yang menempatkan budaya Barat sebagai tolok ukur superioritas.” Cat kuku dibaca sebagai artefak budaya kolonial, bukan barang rias yang netral. Tangan halus yang terawat, dalam pembacaan itu, dipasang sebagai lawan dari tangan yang bekerja.
Keterbatasannya diakui pada bagian penutup. Narasi yang tersusun sejauh ini bersandar pada suara media kolonial, dan peneliti menyarankan penelitian lanjutan memakai sejarah lisan untuk merekam sisi perempuan pribumi. Perbandingan dengan masa pendudukan Jepang juga disarankan. Apa yang berlaku bagi perempuan elit kota belum tentu berlaku bagi perempuan di luar jangkauan warenhuis. Satu merek juga bukan seluruh industri kecantikan pada masa itu.
Rentang yang diteliti berhenti pada 1942, tahun kekuasaan kolonial Belanda berakhir di Hindia. Iklan-iklan Cutex tetap tersimpan di arsip surat kabar yang kini didigitalkan di Belanda. Harga 25 gulden itu juga tetap tercatat. Delapan puluh tiga hari kerja untuk sebotol. Arsipnya berhenti di sana.














