Simpati Mendominasi Kolom Komentar Najwa Shihab

A A

Ilustrasi dua orang berdiri berdampingan sambil menatap layar ponsel masing-masing. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Simpati 105 dari 161
  2. Maksim yang Dipatuhi
  3. Nada yang Dibentuk Peristiwa
  4. Batas Data yang Diakui
  5. Yang Tidak Tertangkap Angka
  6. Sisa Pertanyaan

Cekricek.id — Netizen lebih sering menyatakan iba daripada memuji.

Syukrini Nabila dan Siti Ainim Liusti dari Universitas Negeri Padang menghitungnya satu per satu. Dari kolom komentar akun Instagram @najwashihab sepanjang Desember, keduanya mengumpulkan 161 tuturan ekspresif. Simpati mengisi 105 di antaranya, jauh meninggalkan tiga bentuk lain yang ikut tercatat.

Hitungan itu terbit sebagai artikel Kesantunan Berbahasa dalam Tindak Tutur Ekspresif pada Kolom Komentar Netizen di Akun Instagram @najwashihab. Tempatnya di jurnal Persona, volume 5 nomor 1, tahun 2026, halaman 63 sampai 74. Pendekatannya pragmatik, metodenya kualitatif deskriptif, dan bahannya komentar tertulis.

Tiga bentuk sisanya kecil. Memuji tercatat 36 data, berterima kasih 17 data, dan mengucapkan selamat hanya 3 data. Bentuk ekspresif lain yang disebut John Searle, seperti mengeluh, mengkritik, atau menyalahkan, tidak muncul sama sekali dalam bahan yang terkumpul.

Simpati 105 dari 161

Ilustrasi dua pasang tangan saling menggenggam erat.
Ilustrasi dua pasang tangan saling menggenggam erat. [Foto: Pexels]

Salah satu data diberi kode TTE/18. Komentar itu ditulis di bawah unggahan tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam peristiwa hanyut. Isinya campuran antara pengakuan atas reaksi diri sendiri dan doa untuk orang lain, ditulis dalam satu tarikan tanpa tanda baca yang rapi.

“Aku nangisss nontonnya, ngebayangin gabisa nolongin anak hanyut depan mata, kuat ya bu,” demikian sebagian bunyi komentar itu menurut catatan artikel tersebut. Ejaannya tidak baku dan satu hurufnya sengaja dipanjangkan. Bentuk seperti itu tetap masuk kategori simpati, karena yang dihitung adalah maksud tuturannya, bukan kerapian ejaannya.

Dua bentuk terkecil hampir tidak terlihat di dalam tabel. Berterima kasih diwakili komentar sependek satu baris yang hanya menyebut nama dan ucapan terima kasih. Mengucapkan selamat muncul tiga kali, salah satunya berisi harapan agar program yang disapa tetap menyampaikan informasi aktual.

Peneliti membaca tuturan itu berlapis. Bagian awalnya menandai keadaan psikologis penutur, bagian berikutnya menandai bayangan penutur atas keadaan orang lain. Dua-duanya menunjuk keluar dari diri penutur, bukan berputar di dalamnya, dan itulah yang membuatnya digolongkan sebagai simpati.

Simpati mengisi 65,22 persen data. Memuji hanya 22,36 persen, berterima kasih 10,56 persen, dan mengucapkan selamat 1,86 persen. Selisih antara peringkat pertama dan peringkat kedua itu yang paling menonjol dari seluruh tabel, dan selisih itu pula yang mendorong seluruh analisis berikutnya.

Baca juga Kolokasi Bahasa Jerman dan Kalimat yang Janggal

Isi unggahannya ikut menentukan. Akun yang diteliti banyak memuat isu sosial dan politik, termasuk peristiwa yang menimpa orang biasa. Jenis unggahan seperti itu menarik jenis tuturan tertentu ke permukaan, dan tuturan yang tertarik ke permukaan pada Desember itu adalah tuturan iba.

Maksim yang Dipatuhi

Dari sisi kesantunan, angkanya bergeser. Maksim kesimpatian tercatat 116 data atau 72,05 persen, sedangkan maksim pujian 45 data atau 27,95 persen. Jumlah totalnya tetap 161 karena setiap tuturan dipetakan ke satu maksim saja, tanpa data yang dihitung dua kali.

Daftar maksim itu diambil dari Geoffrey Leech. Leech menyebut enam maksim: kearifan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan kesimpatian. Empat maksim sisanya tidak dipakai dalam analisis karena datanya tidak ditemukan di dalam komentar yang dikumpulkan. Kesantunan di kolom itu hanya bekerja lewat dua jalur.

Maksim pujian bekerja dengan memaksimalkan penghargaan kepada orang lain. Maksim kesimpatian bekerja dengan memaksimalkan rasa empati atas kondisi orang lain. Keduanya sama-sama menaikkan posisi lawan tutur dan menurunkan posisi penutur, dan keduanya sama-sama menjauhkan percakapan dari potensi konflik.

Contoh maksim kesimpatian diberi kode TTE/03. Komentar itu berisi permohonan agar kehilangan yang dialami korban diganti dengan rezeki yang mencukupi. Peneliti membacanya sebagai gabungan rasa iba atas musibah dan harapan baik yang ditujukan kepada pihak yang tidak dikenal penutur.

Contoh maksim pujian diberi kode TTE/27. Komentar itu menyebut program yang dibahas sebagai media yang netral dan vokal. Penutupnya berupa permintaan agar program itu terus membawa fakta dan bukan sensasi, sebuah kalimat yang tidak lagi murni berisi pujian.

Peneliti menandai bagian penutup komentar itu sebagai lapisan tambahan. Pujiannya tidak berhenti pada penghargaan atas yang sudah dikerjakan. Ada tuntutan yang diselipkan di ujungnya, dan tuntutan itu disampaikan tanpa menurunkan derajat pihak yang dipuji. Pujian dan permintaan berjalan dalam satu kalimat.

Nada yang Dibentuk Peristiwa

Bagian ketiga artikel memakai model SPEAKING dari Dell Hymes. Model itu memecah satu peristiwa tutur menjadi delapan unsur pembentuk. Nabila dan Liusti hanya memakai lima unsur yang datanya benar-benar tersedia dalam komentar sependek itu. Tiga unsur lain dilewati karena tidak muncul secara eksplisit.

Lima unsur itu setting dan scene, partisipan, ends, key, dan norms. Settingnya kolom komentar yang terbuka untuk umum dan bisa dibaca siapa saja. Partisipannya netizen sebagai penutur di satu sisi dan pemilik akun sebagai pihak yang dituju di sisi lain.

Hubungan keduanya tidak berlangsung tatap muka. Penutur menulis tanpa kepastian bahwa tulisannya akan dibaca oleh orang yang disapa. Bentuk sapaannya tetap mengarah kepada satu orang tertentu, lengkap dengan nama panggilan dan tanda pagar akun yang bersangkutan.

Baca juga Ketika Madeline Berhenti Mencari Alice

Unsur ends berkaitan dengan tujuan tuturan. Tujuan yang muncul berupa penyampaian simpati, pemberian dukungan, doa, serta pernyataan kagum atas kerja seseorang. Tidak ada tujuan berupa bantahan atau ajakan berdebat dalam seluruh data yang dikumpulkan pada bulan itu.

Unsur key berkaitan dengan nada. Nada yang dominan adalah haru, simpati, semangat, dan rasa peduli. Unsur norms menunjukkan bahwa netizen memakai ragam informal tanpa masuk ke kata kasar, sebuah kombinasi yang tidak selalu terjadi di ruang komentar mana pun.

Ragam informal itu terlihat dari ejaan yang dipanjangkan, singkatan percakapan, dan campuran bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Bentuknya jauh dari ragam baku sekolah. Isinya justru berisi doa, dukungan, dan penghargaan, tiga hal yang biasanya diucapkan dengan bahasa yang lebih rapi.

Batas Data yang Diakui

Peneliti tidak menutupi kelemahan bahannya. “Penelitian ini memiliki keterbatasan karena data berupa komentar singkat di media sosial, sehingga tidak semua unsur konteks situasi tutur menurut model SPEAKING muncul secara lengkap,” tulis Syukrini Nabila dan Siti Ainim Liusti.

Bahannya juga terbatas pada satu akun dan satu bulan. Desember dipilih karena rentang itu memuat beragam interaksi netizen dalam berbagai konteks sosial. Angka 161 karena itu tidak mewakili kolom komentar Instagram di Indonesia secara umum, dan artikelnya tidak mengklaim demikian.

Sifat datanya tertulis, bukan lisan. Peneliti menyimak tanpa ikut terlibat percakapan, merekam melalui tangkapan layar, lalu mencatat dan mengelompokkan hasilnya. Teknik itu disebut simak bebas libat cakap, dan namanya menjelaskan sendiri jarak yang dijaga peneliti dari lapangan. Tidak ada wawancara, tidak ada penutur yang dimintai keterangan.

Urutan komentar yang tampil di layar ditentukan oleh platform. Sebagian komentar bisa terhapus, tenggelam, atau tersembunyi sebelum sempat dicatat oleh siapa pun. Faktor itu berada di luar jangkauan teknik simak dan tidak dibahas dalam artikelnya.

Yang Tidak Tertangkap Angka

Ada hal yang lepas dari klasifikasi. Bentuk tuturan dapat dihitung, sedangkan kesungguhan penuturnya tidak dapat diukur dari bentuk itu. Komentar yang santun belum tentu lahir dari perasaan yang sama santunnya, dan artikel ini memang tidak masuk ke wilayah tersebut.

Baca juga Fiksi Ilmiah Indonesia dan Kata yang Dipinjamnya

Temuan ini juga tidak berbicara tentang kolom komentar pada umumnya. Ia berbicara tentang satu akun yang isinya berat dan pemiliknya dikenal luas. Akun dengan muatan berbeda hampir pasti memberi susunan angka yang berbeda pula, meski metodenya disalin persis. Satu akun bukan Instagram, dan satu bulan bukan setahun.

Perbandingan dengan penelitian terdahulu disebut sejalan. Nor Rofi’ah pernah meneliti kolom komentar akun Sandiaga Uno, sedangkan Erawati meneliti akun Lambe Turah. Keduanya sama-sama menemukan banyak ungkapan apresiasi dan penilaian positif, meskipun ketiga akun itu memuat isi yang sangat berlainan.

Sisa Pertanyaan

Satu pertanyaan tertinggal dari tabel itu. Apakah dominasi simpati berasal dari kebiasaan penuturnya atau dari isi unggahan yang kebetulan berat pada bulan tersebut? Data satu bulan belum cukup untuk memisahkan dua kemungkinan itu, dan artikelnya berhenti sebelum sampai ke sana.

Pertanyaan kedua menyangkut bentuk yang absen. Mengeluh, mengkritik, dan menyalahkan sama-sama termasuk tindak tutur ekspresif dalam pembagian Searle. Tidak satu pun dari ketiganya masuk ke dalam 161 data yang akhirnya dianalisis oleh kedua peneliti.

Ketiadaan itu bisa berarti dua hal. Bentuk tersebut memang jarang muncul di kolom komentar itu, atau ia tersaring lebih dulu sebelum sampai ke tangan peneliti. Artikelnya tidak memilih salah satu jawaban dan tidak pula mengaburkan pilihan itu. Keduanya dibiarkan berdiri sebagai kemungkinan.

Yang tercatat tetap berguna. Kesantunan masih bekerja di ruang yang biasa disebut kasar, setidaknya pada satu kolom komentar sepanjang satu bulan. Angka itu tidak membantah adanya ujaran kasar di tempat lain; ia hanya menunjukkan bahwa tempat lain itu bukan satu-satunya yang ada.

Kolom komentar juga bukan ruang tunggal. Satu unggahan bisa menampung ribuan tulisan, dan yang dianalisis hanya sebagian yang memenuhi syarat sebagai tindak tutur ekspresif. Sisanya, termasuk komentar yang hanya berisi lambang atau sapaan kosong, tidak masuk ke dalam hitungan mana pun.

Yang paling banyak ditulis orang di bawah unggahan itu ternyata bukan pujian, melainkan doa.

Bagikan

Baca Juga

Hoaks Kesehatan di Media Sosial Lebih Sering Dijumpai Anak Muda
Meta Hapus Klausul Ambil Konten Situs Bisnis untuk Latih AI
Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Sama Cemasnya Saat Mengasuh Bayi
Remaja Norwegia Lebih Percaya Pesan Antivape dari Teman Sebaya
Sekali Berhenti di Video Sedih, Layar Remaja Inggris Ikut Muram
Media Sosial Menjerat Lebih dari Sepertiga Mahasiswa di Kerala