Kolokasi Bahasa Jerman dan Kalimat yang Janggal

A A

Ilustrasi tumpukan buku pelajaran dan buku catatan terbuka di atas meja kayu. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Seorang pelajar Indonesia menulis satu kalimat bahasa Jerman untuk menitipkan salam kepada seseorang. Tata bahasanya rapi, semua katanya ada di kamus, dan gurunya tetap mencoretnya. Yang ia tulis einen Gruss schicken, sedangkan yang lazim diucapkan penutur Jerman einen Gruss ausrichten. Dua-duanya berarti menyampaikan salam, dan dua-duanya lolos dari semua aturan gramatika yang pernah ia hafalkan. Hanya satu yang terdengar wajar. Tidak ada bab dalam buku tata bahasa yang menerangkan mengapa.

Contoh persis itu dipakai sebagai titik berangkat dalam Grammatical collocations in German textbooks Beste Freunde A1 and A2: Forms, types, and thematic meanings, karya Iman Santoso, Sudarmaji, dan Retna Endah Sri Mulyati, dosen di Universitas Negeri Yogyakarta. Artikel itu terbit di jurnal LITERA Volume 24 Nomor 3, November 2025, halaman 226 sampai 235. Nama gejalanya kolokasi: pasangan kata yang cenderung muncul bersama dan sukar ditukar tanpa membuat kalimat terasa asing. Pasangan semacam itu jarang mendapat jam pelajaran sendiri. Ia diserap diam-diam dari bacaan, atau tidak diserap sama sekali.

Daftar Isi
  1. Cara Dua Kata Saling Mengunci
  2. Cara Buku Membagi Paparan dan Latihan
  3. Cara 1.524 Pasangan Kata Itu Dipilah
  4. Di Mana Peta Ini Berhenti

Cara Dua Kata Saling Mengunci

Ilustrasi sepasang tangan membuka halaman kamus tebal.
Ilustrasi sepasang tangan membuka halaman kamus tebal. [Foto: Pexels]

Kerangka yang dipakai ketiga peneliti berasal dari Franz Josef Hausmann, ahli leksikografi Jerman yang membagi tiap kolokasi menjadi dua peran yang tidak setara. Satu kata berdiri sebagai basis dan membawa makna sendiri tanpa bantuan siapa pun. Satu kata lagi menjadi kolokator, yang maknanya baru mengeras setelah menempel pada basis tadi. Pembagian sederhana itulah yang membuat kolokasi bisa dihitung dan dikelompokkan, bukan sekadar dirasakan oleh telinga yang sudah terlatih. Dari model ini pula Hausmann menurunkan enam susunan dasar, mulai dari verba dengan nomina sampai adverbia dengan verba.

Ambil Hunger haben dan Durst haben, dua ungkapan untuk lapar dan haus. Hunger dan Durst adalah basisnya, karena keduanya utuh bermakna sendiri. Haben, kata kerja yang berarti memiliki, adalah kolokatornya. Haben bebas berpasangan dengan hampir apa saja dan artinya menyesuaikan pasangannya. Hunger tidak sebebas itu; ia hampir selalu menuntut haben di sebelahnya. Ketidaksetaraan inilah inti persoalannya. Pelajar bisa menghafal Hunger dan menghafal haben secara terpisah, lalu tetap gagal menyatukan keduanya, sebab tidak ada kaidah yang memerintahkan penggabungan itu. Pilihannya harus dipelajari sebagai satu bongkah utuh.

Baca juga Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan

Karena batas antara kebiasaan dan kaidah setipis itu, ketiga peneliti menolak mempercayai kepekaan sendiri. Setiap gabungan kata yang mereka curigai sebagai kolokasi dicocokkan lebih dulu ke kamus kolokasi daring bahasa Jerman dan ke pangkalan data korpus, baru sesudah lolos ia masuk hitungan. Peneliti sendiri berperan sebagai instrumen utama, dengan keabsahan data ditopang pembacaan berulang dan diskusi terarah antaranggota tim. Langkah verifikasi itu yang kemudian menyingkirkan sebagian temuan, terutama gabungan nomina dengan nomina yang ternyata tidak terdaftar sebagai kolokasi.

Cara Buku Membagi Paparan dan Latihan

Bahan yang disisir adalah seri Beste Freunde jilid A1.1 sampai A2.2, buku pelajaran bahasa Jerman untuk remaja yang dipakai di sekolah menengah dan kampus di Indonesia serta cukup populer di Eropa. Seluruh teks bacaan, dialog, dan latihan diperiksa satu per satu. Hasil hitungannya 1.524 kemunculan kolokasi di sepanjang seri. Bagi ketiga peneliti, jumlah sebesar itu bukan kebetulan yang lewat begitu saja, melainkan bukti bahwa penyusun buku memasukkan kolokasi secara sadar sejak jilid paling awal.

Sebarannya tidak rata sempurna, dan justru di situ polanya terbaca. Jilid A2.1 memuat kemunculan terbanyak dengan 465, sedangkan A1.2 paling sedikit dengan 301. A1.1 mencatat 408 dan A2.2 mencatat 350. Menurut ketiga peneliti, lonjakan di A2.1 berfungsi sebagai jembatan. Pada jilid pertama dan kedua, pelajar masih sibuk dengan bunyi, tata kalimat dasar, dan kosakata paling pokok. Begitu masuk A2.1, tuntutan untuk berbicara secara utuh naik, sehingga paparan gabungan kata yang lebih rumit ikut dinaikkan.

Pembagian kedua terjadi antarjenis buku. Buku utama atau Kursbuch memuat 822 kemunculan, sementara buku latihan atau Arbeitsbuch memuat 702. Perbandingan keduanya mendekati satu banding satu. Ketiga peneliti membacanya sebagai pembagian kerja yang disengaja: Kursbuch memperkenalkan pasangan kata untuk pertama kali, Arbeitsbuch mengembalikannya lewat soal supaya diulang dan dipakai sendiri oleh pelajar. Rasio yang nyaris berimbang itu menandakan hampir tiap kolokasi yang muncul di buku utama disiapkan pasangan latihannya. Kolokasi memang hanya menempel kalau ditemui berkali-kali.

Cara 1.524 Pasangan Kata Itu Dipilah

Dari seluruh temuan terdeteksi delapan bentuk gabungan, dan satu di antaranya mendominasi tanpa saingan. Gabungan nomina dengan verba muncul 1.115 kali atau sekitar 73 persen dari keseluruhan, dan menjadi bentuk terbanyak di semua jilid tanpa kecuali. Susunan preposisi bersama nomina dan verba menyusul jauh di angka 7,5 persen, sementara gabungan adverbia dan verba di 5,6 persen. Dominasi nomina dan verba itu, tulis ketiga peneliti, menunjukkan buku ini memusatkan perhatian pada cara menuturkan tindakan sehari-hari secara wajar.

Baca juga 124 Tuturan Emosi dalam Novel The Lady Escort

Contoh bentuk adverbia dan verba adalah hoeflich sagen, mengatakan sesuatu dengan sopan. Secara logika, nett reden yang berarti bicara ramah juga masuk akal dan tidak melanggar apa pun. Ketiga peneliti menengok pangkalan data frekuensi bahasa Jerman dan menemukan hoeflich sagen dipakai jauh lebih sering. Alasannya bukan gramatikal. Kombinasi itu menang karena begitulah orang terbiasa mengucapkannya. Pola serupa terlihat pada ziemlich alt, cukup tua, yang muncul dalam kalimat buku Unsere Schule ist ziemlich alt: adverbia ziemlich menguatkan sifat alt, tetapi menguatkannya secara sedang, tidak berlebihan.

Pemilahan berikutnya membelah temuan menjadi dua jenis. Kolokasi leksikal, gabungan sesama kata bermakna penuh, tercatat 1.397 kemunculan atau sekitar 92 persen. Kolokasi gramatikal, yang menyertakan preposisi atau unsur tata bahasa, hanya sekitar 8 persen. Angka pastinya sedikit berbeda antara tabel dan uraian dalam artikel itu, 127 pada satu tempat dan 125 pada tempat lain, selisih kecil yang tidak mengubah gambaran besarnya. Contoh yang mereka angkat untuk jenis gramatikal adalah im Bett bleiben, tinggal di tempat tidur, yang muncul dalam kalimat Wenn Sofie Fieber hat, muss sie im Bett bleiben.

Baca juga Ketika Perempuan Kuat dalam Novel Ikut Goyah

Verba bleiben selalu menuntut keterangan tempat, dan bentuk baku keterangan itu im Bett. Menggantinya dengan unter dem Bett tetap benar secara tata bahasa, tetapi maknanya tidak lagi beristirahat karena sakit. Perbandingan dua jenis tadi memuat kabar yang kurang menyenangkan. Justru kolokasi leksikal, yang paling banyak tersedia di buku ini, adalah jenis yang paling sulit dikuasai pemelajar bahasa kedua, sebab ia tidak bisa diturunkan dari kaidah mana pun dan harus dihafal sebagai unit. Kesulitan memilih antara schicken dan ausrichten pada ungkapan menyampaikan salam disebut ketiga peneliti sebagai contoh khas gangguan dari bahasa ibu.

“Kegagalan menguasai kolokasi dapat menghasilkan ujaran yang benar secara tata bahasa, tetapi terasa kaku atau janggal,” tulis Iman Santoso, Sudarmaji, dan Retna Endah Sri Mulyati. Kalimat itu menerangkan mengapa jumlah 1.524 tadi mereka anggap berarti. Paparan berulang adalah satu-satunya jalan agar pasangan kata semacam itu mengendap, karena tidak ada jalan pintas berupa rumus yang bisa diterapkan pelajar sendiri di rumah.

Di Mana Peta Ini Berhenti

Lapisan terakhir yang diperiksa adalah isi, bukan bentuk. Kolokasi yang ditemukan dikelompokkan menurut tema, dan hasilnya condong tajam ke satu arah. Waktu luang dan liburan menguasai 52,27 persen, sekolah dan pendidikan 28,72 persen, dunia kerja 10,74 persen, serta libur dan perjalanan 8,26 persen. Contohnya Rockmusik hoeren untuk mendengarkan musik rok, in der Schule lernen untuk belajar di sekolah, dan eine Reise machen untuk melakukan perjalanan. Perlu dicatat, pengelompokan tema ini menghitung 484 kemunculan, bukan seluruh 1.524 yang tercatat sebelumnya.

Satu kelompok kosong sama sekali. Tidak ada satu pun kolokasi bertema politik di seluruh seri. Ketiga peneliti membacanya sebagai keputusan didaktis, bukan kelalaian: standar tingkat A1 dan A2 memang mengarahkan pemula pada diri sendiri, lingkungan terdekat, dan urusan rutin, bukan pada tema abstrak yang menuntut latar pengetahuan besar. Peneliti didaktik bahasa Jerman, Targonska, yang dikutip di artikel itu, pernah menyebut kolokasi sebagai bidang yang terabaikan dalam pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing dan seharusnya diperkenalkan sejak tahap paling awal. Temuan pada Beste Freunde dipakai untuk membantah keluhan tersebut, setidaknya untuk buku ini.

Bantahan itu berlaku pada bahan ajarnya, bukan pada ruang kelasnya, dan di situ pula penjelasannya berhenti. Kajian ini memeriksa halaman buku, bukan orang. Ketiga peneliti menyatakan sendiri bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk melihat bagaimana guru sesungguhnya mengajarkan kolokasi yang sudah dipetakan, untuk membandingkan pilihan buku itu dengan korpus tuturan remaja penutur asli guna menguji kewajarannya, dan untuk melacak kolokasi mana yang benar-benar dikuasai pelajar dari waktu ke waktu beserta kesalahan yang mereka buat. Artinya angka 1.524 adalah peta ketersediaan, bukan peta penguasaan.

Jadi salam yang dititipkan pelajar tadi tetap menggantung. Bahan untuk membetulkannya sudah ada di dalam bukunya sendiri, terhitung, terpilah, dan tersebar merata sejak jilid pertama. Yang belum diukur siapa pun adalah apakah pasangan kata itu ikut pulang bersama pelajarnya, atau berhenti di halaman latihan.

Bagikan

Baca Juga

Kesantunan Bahasa Jerman di Buku Ajar Netzwerk
Metafora Bumi Manusia yang Pudar dalam Bahasa Jerman
Tiga Mahasiswa Prancis dan Bunyi Indonesia yang Sulit
Interferensi Dialek Banten dalam Lafal Bahasa Inggris
Latar Belakang Bangsa Eropa Menjelajah Dunia Hingga Tiba di Nusantara
Buku Sejarah Indonesia Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK