Literasi Digital Tak Cukup untuk Esai Akademik

A A

Ilustrasi sekelompok mahasiswa belajar bersama di ruang perpustakaan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Mahasiswa yang sanggup menemukan sepuluh artikel jurnal dalam sepuluh menit dan mahasiswa yang sanggup menyusun satu paragraf argumen yang tidak goyah ternyata bukan orang yang sama, dan jarak di antara keduanya kini punya angka. Yang pertama lincah di layar. Yang kedua runtut di halaman. Sebuah kajian di Makassar mencoba mengukur seberapa jauh kelincahan di layar itu benar-benar berpindah ke halaman, dan jawabannya mengecewakan bagi siapa pun yang menaruh harapan besar pada pelatihan literasi digital sebagai jalan pintas menuju tulisan yang baik.

Kajian itu dikerjakan Abdul Haliq dan Ridwan Daud Mahande dari Universitas Negeri Makassar bersama Akhiruddin dari Universitas Papua. Laporannya, Exploring the impact of critical thinking and digital literacy on students’ academic essay writing skills, terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 2 tahun 2025 pada halaman 143 sampai 156. Celah yang mereka tuju sederhana dan dinyatakan terbuka: banyak riset terdahulu menguji berpikir kritis saja dalam menyusun argumen, atau literasi digital saja dalam mengakses informasi akademik, sedangkan riset yang menguji keduanya sekaligus terhadap mutu esai mahasiswa masih jarang di pendidikan tinggi Indonesia.

Respondennya 150 mahasiswa semester lima Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar, tahun akademik 2024–2025, dipilih dengan simple random sampling. Instrumennya kuesioner skala Likert satu sampai lima yang disebar lewat Google Forms dan divalidasi ahli lebih dulu. Analisisnya structural equation modelling dengan perangkat SmartPLS. Ukuran sampelnya mengacu pada Hair dan rekan, yang menyebut rentang seratus sampai seratus lima puluh responden memadai untuk model semacam ini. Desainnya korelasional dan bersifat asosiatif kuantitatif, dan itu satu hal yang perlu diingat sampai paragraf terakhir, sebab jenis desain menentukan sejauh mana angka yang keluar boleh dibaca.

Daftar Isi
  1. Cepat di Layar
  2. Runtut di Halaman
  3. Angka yang Menguatkan
  4. Angka yang Menahan

Cepat di Layar

Ilustrasi sepasang tangan mengetik di papan ketik laptop.
Ilustrasi sepasang tangan mengetik di papan ketik laptop. [Foto: Pexels]

Literasi digital, dalam kajian ini, diukur lewat empat hal: mencari informasi, mengolahnya, menilainya, dan mengomunikasikannya dengan bantuan teknologi digital. Definisi yang dipakai berasal dari Khosrow-Pour, yang merumuskan literasi digital sebagai keterampilan menemukan, mengonsumsi, menciptakan, mengomunikasikan, dan membagikan konten digital. Tinmaz dan rekan memperluasnya menjadi empat wilayah sekaligus: literasi komputer, literasi media, literasi kultural, dan literasi keilmuan. Semua rumusan itu bertumpu pada satu asumsi yang jarang diuji secara langsung, yaitu bahwa orang yang mahir menemukan bahan akan mahir pula memakai bahan yang ia temukan.

Baca juga Tiga Kata Arab untuk Cinta di Dalam Al-Quran

Butir-butir literasi digital dalam kuesioner itu bekerja cukup baik secara statistik. Muatan faktornya berkisar antara 0,614 dan 0,852, alfa Cronbach-nya 0,768, dan nilai AVE-nya 0,528. Artinya alat ukurnya konsisten, butir-butirnya benar mengukur hal yang sama, dan tidak ada indikator yang harus dibuang, meski papernya mencatat butir yang dekat ambang perlu dievaluasi agar sumbangannya optimal. Uji HTMT juga menunjukkan ketiga variabel masih bisa dibedakan satu sama lain, dengan nilai tertinggi 0,836 antara literasi digital dan berpikir kritis, masih di bawah ambang 0,90. Persoalannya jelas bukan pada alat ukur.

Runtut di Halaman

Keterampilan menulis esai akademik diukur lewat enam butir yang menyangkut pengumpulan, analisis, evaluasi, dan sintesis rujukan. Muatan faktornya berkisar antara 0,606 dan 0,819, dengan alfa Cronbach 0,825, angka reliabilitas tertinggi di antara tiga variabel yang diuji. Berpikir kritis sendiri diukur lewat tiga indikator: menganalisis informasi, mengelola data, dan mengambil keputusan yang relevan, dengan alfa Cronbach 0,779. Tiga variabel, tiga alat ukur yang layak, dan satu pertanyaan yang menunggu jawaban: mana di antara kedua keterampilan itu yang benar-benar menggerakkan mutu tulisan mahasiswa.

Tiga hipotesis diuji sekaligus, dan ketiganya dirumuskan dalam arah yang sama optimistisnya. Berpikir kritis diduga menopang literasi digital. Berpikir kritis diduga menopang keterampilan menulis esai. Literasi digital diduga menopang keterampilan menulis esai. Ketiganya dugaan yang masuk akal di atas kertas, dan ketiganya diuji dengan data yang sama, dari responden yang sama, memakai model yang sama. Yang membedakan hasilnya bukan asumsi peneliti, melainkan angka yang keluar dari bootstrapping model itu sendiri.

Jawabannya terbelah rapi. Berpikir kritis berhubungan kuat dengan literasi digital, dengan koefisien jalur 0,663, nilai t 15,632, dan p 0,000. Berpikir kritis juga berhubungan kuat dengan keterampilan menulis esai, dengan koefisien 0,531, nilai t 6,752, dan p yang sama-sama 0,000. Literasi digital terhadap keterampilan menulis esai berhenti di koefisien 0,112, nilai t 1,429, dan p 0,153. Dua jalur pertama signifikan secara statistik. Jalur ketiga tidak, dan selisihnya jauh dari tipis.

Baca juga Novel Deana dan Kelas Sosial yang Runtuh oleh Stigma

Penulisnya tidak berusaha menghaluskan hasil itu di bagian pembahasan. “Ini menunjukkan bahwa literasi digital saja tidak cukup untuk memengaruhi keterampilan menulis esai akademik secara signifikan; karena itu dibutuhkan faktor lain yang dapat berinteraksi dengan literasi digital agar dampaknya pada keterampilan tersebut lebih berarti,” tulis Abdul Haliq dan timnya. Kalimat itu ditulis tentang model mereka sendiri, dan ia menutup pintu bagi pembacaan yang terlalu bersemangat terhadap pelatihan literasi digital sebagai obat serba guna di ruang kuliah.

Angka yang Menguatkan

Kekuatan berpikir kritis dalam model ini punya dua bukti yang berdiri berdampingan. Pertama, ia sendirian menjelaskan 44 persen keragaman literasi digital mahasiswa. Kedua, bersama literasi digital ia menjelaskan 37,4 persen keragaman keterampilan menulis esai. Dua angka itu tergolong moderat, bukan besar, dan papernya menyebutnya persis demikian. Sisanya, 56 persen pada variabel pertama dan 62,6 persen pada variabel kedua, berada di luar model dan tidak terjelaskan sama sekali. Papernya mencatat kedua sisa itu apa adanya, tanpa mengubahnya menjadi klaim yang lebih besar dari haknya.

Baca juga Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa

Arah temuan itu sejalan dengan rujukan yang mereka pakai. Indah menyebut performa menulis terkait erat dengan berpikir kritis. Wang dan Shen menemukan mahasiswa dengan disposisi berpikir kritis yang kuat lebih baik dalam tugas menulis. Mehta dan Al-Mahrooqi menegaskan tanpa berpikir kritis orang sulit bernalar dan berargumen. Hamamah dan rekan menambahkan bahwa hubungan itu berjalan dua arah, sebab melatih menulis ikut menajamkan berpikir kritis, sementara Magno menempatkan keterampilan metakognitif sebagai penopang keduanya. Smith dan Peloghitis mengusulkan hal yang lebih praktis, yaitu pengajaran berpikir kritis di kelas menulis perlu memuat panduan menekan bias.

Angka yang Menahan

Lalu mengapa literasi digital berhenti di 0,112? Papernya menjawab dengan membedakan dua jenis keterampilan yang selama ini sering disamakan. Literasi digital, kata mereka, lebih banyak bertumpu pada kemampuan teknis: mencari informasi daring, mengoperasikan perangkat lunak pengolah kata, mengakses lantar kolaborasi. Menulis esai akademik menuntut hal yang berada satu tingkat lebih dalam: menyusun gagasan secara logis, membangun argumen yang kokoh, menyajikannya dengan jelas dan runtut. Yang pertama soal akses. Yang kedua soal nalar. Keduanya tidak otomatis saling menggantikan, dan kajian ini menunjukkan jarak di antara keduanya bisa cukup lebar.

Faktor lain yang mereka sebut ikut menentukan mutu esai adalah pemahaman kaidah penulisan akademik, kemampuan menstrukturkan argumen secara mendalam, dan pengalaman menulis itu sendiri. Ketiganya tidak dimasukkan ke dalam model. Perlu pula dicatat bahwa desain kajian ini korelasional, sehingga yang terbaca adalah pola hubungan antarvariabel pada satu titik waktu, bukan bukti bahwa satu keterampilan menyebabkan keterampilan lain. Koefisien 0,531 memberi tahu arah dan kekuatan hubungan antara berpikir kritis dan mutu esai; ia tidak memberi tahu urutan sebab dan akibat di antara keduanya.

Batasnya juga diakui sendiri oleh penulisnya di bagian akhir. “Kajian ini memiliki keterbatasan, seperti cakupan sampel yang terbatas dan konteks yang mungkin berbeda dari situasi yang lebih luas,” tulis mereka, seraya menyarankan riset lanjutan menguji model yang sama pada konteks pendidikan yang berbeda dengan sampel yang lebih beragam. Seratus lima puluh mahasiswa dari satu program studi di satu kampus jelas bukan mahasiswa Indonesia, dan mahasiswa sastra Indonesia bukan mahasiswa teknik atau kedokteran yang menulis dengan konvensi dan tuntutan rujukan yang berbeda.

Maka dua sisi itu berdiri berdampingan tanpa satu pun yang bisa dinyatakan menang. Literasi digital tetap terbukti berhubungan kuat dengan berpikir kritis, dan tanpa kemampuan menjangkau bahan, esai akademik tidak punya apa pun untuk diolah. Berpikir kritis tetap menjadi jalur yang paling terbaca menuju halaman yang runtut, dan tanpa itu bahan yang melimpah hanya akan menumpuk tanpa bentuk. Yang ditunjukkan angka-angka Makassar bukan bahwa satu keterampilan tidak berguna, melainkan bahwa keduanya bekerja pada lapisan yang berbeda, dan lapisan yang lebih mudah dilatih ternyata bukan lapisan yang paling menentukan. Pelatihan menelusuri basis data bisa selesai dalam satu semester; membangun argumen yang tidak goyah tidak pernah selesai secepat itu.

Bagikan

Baca Juga

Poster Keuangan dan Ujian Menulis Persuasif Digital
Ketika Prompt Jadi Pelajaran di Kelas Bahasa
Universitas Riau Latih Dosen dan Tendik Pakai Gemini AI
Universitas Udayana Resmi Berstatus PTN Badan Hukum
Jardine Danai 20 Mahasiswa Pascasarjana UGM Mulai 2026
Dua Praktisi Konstruksi Usia 65 dan 70 Mulai S3 di UNS