Daftar Isi
Cekricek.id — Sebuah poster digital tentang literasi keuangan dikumpulkan sebagai tugas kuliah. Di dalamnya ada grafik, ada angka persentase, ada sumber data yang dicantumkan rapi. Tidak ada satu kalimat pun yang membuat orang berhenti dan merasa perlu membacanya sampai habis. Poster itu benar, tertib, dan tidak membujuk siapa-siapa. Puluhan poster serupa masuk pada tugas yang sama, dan hampir semuanya berhenti di titik yang persis sama.
Poster-poster itu dikerjakan mahasiswa Program Studi Bisnis Digital Akademi Bisnis Lombok. Nurfidah, Vismaia Sabariah Damaianti, Dadang S. Anshori, dan Khaerudin Kurniawan dari Universitas Pendidikan Indonesia mengumpulkannya bersama lembar kuesioner, catatan pengamatan kelas, dan rekaman wawancara. Laporannya terbit dengan judul Student needs in digital persuasive writing: Integration of literacy, rhetoric, and reflective awareness di LITERA Vol. 25 No. 1 tahun 2026, jurnal terbitan Universitas Negeri Yogyakarta.
Angka pertama yang keluar dari kuesioner itu 73. Sebanyak 73 persen dari 30 mahasiswa yang disurvei kesulitan menyusun pesan persuasif secara runtut dan jelas. Tulisan mereka pendek, argumennya berhenti sebelum buktinya muncul. Pada tugas proyek lingkungan, sebagian menulis ajakan sesingkat “jaga kebersihan” tanpa satu kalimat pun yang menerangkan kepada siapa ajakan itu ditujukan dan mengapa hal itu mendesak.
Ruang Kelas di Akademi Bisnis Lombok

Tiga puluh mahasiswa bukan jumlah yang besar, dan tim itu memang tidak mengejar keluasan. Rancangannya campuran bertahap: kuesioner berskala Likert lebih dulu, baru pengamatan kelas dan wawancara semiterstruktur. Keandalan kuesioner diuji dengan alfa Cronbach. Tafsir peneliti dikembalikan kepada mahasiswa untuk diperiksa ulang sebelum dipakai. Kedalaman didahulukan atas jumlah, tulis tim itu, karena yang dicari adalah gambaran satu situasi belajar yang spesifik.
Kuesionernya menanyakan tiga hal yang sederhana. Seberapa jauh mahasiswa sanggup membangun argumen. Seberapa jauh mereka memakai unsur retoris. Seberapa jauh mereka menggunakan media digital ketika menulis untuk pembaca di luar kelas. Jawabannya diolah sebagai distribusi frekuensi dan persentase, lalu dipakai sebagai peta awal, bukan sebagai kesimpulan. Bagian yang menjelaskan sebab justru datang belakangan, dari pengamatan dan wawancara.
Baca juga Kesurupan Gen Z di Terbang Buhun Majalaya
Di ruang kelas, pengamatan mencatat pola yang berulang. Kuliah berjalan searah. Ceramah mendominasi, ruang untuk berdebat dan mengerjakan sesuatu bersama menyempit, dan mahasiswa duduk sebagai penerima. Retorika diajarkan sebagai istilah yang harus dihafal: etos, patos, logos. Mahasiswa dapat menyebutkan ketiganya dengan benar. Yang tidak muncul adalah momen ketika ketiganya dipakai untuk membujuk seseorang di luar ruangan itu.
Kesenjangan itulah temuan utamanya. Apa yang bisa dikerjakan mahasiswa sekarang tidak berimpit dengan apa yang akan diminta dari mereka di dunia akademik dan tempat kerja, tulis Nurfidah dan tiga rekannya. Bisnis digital adalah program studi yang lulusannya akan menulis untuk layar: keterangan produk, kampanye, utas, salindia presentasi. Menulis untuk layar menuntut lebih banyak daripada kalimat yang secara tata bahasa benar.
Poster Literasi Keuangan
Tugas poster literasi keuangan menempatkan kesulitan itu pada satu lembar yang bisa dilihat. Sebanyak 82 persen mahasiswa tersandung ketika harus menyatukan tiga hal sekaligus: bukti berbasis data, sentuhan emosi, dan tampilan visual. Sebagian besar poster memuat statistik dalam bentuk grafik. Desainnya datar. Tidak ada cerita yang membuat angka itu terasa menyangkut hidup pembacanya. Bukti berdiri sendirian di tengah lembar.
Dalam kutipan wawancara yang dimuat laporan itu, seorang mahasiswa yang hanya dicatat sebagai Responden 12 menyebut kesulitannya dengan sederhana: ia kerap hanya menyajikan data, tanpa cerita. Tim peneliti memakai kalimat itu sebagai penanda pola yang lebih luas, bukan sebagai kasus tunggal. Patos dan logos berjalan pada dua jalur yang tidak pernah bertemu di dalam satu karya.
Pengetahuan retorisnya sendiri tidak kosong. Mahasiswa memahami etos, patos, dan logos pada tataran definisi. Yang belum terjadi adalah pemindahan konsep itu ke persoalan sosial dan bisnis yang sedang berlangsung di sekitar mereka. Tim itu mencatat penerapannya masih bersifat teoretis, sehingga belajar berhenti pada pengulangan, bukan analisis. Konsep disalin dengan tepat tanpa pernah diuji pada pembaca yang nyata. Yang diminta tugas itu sebenarnya satu keterampilan gabungan. Fakta keras dipasangkan dengan bahasa yang menyentuh, lalu keduanya diletakkan dalam susunan visual yang membuat pembaca mau berhenti. Laporan itu menyebut kemampuan menggabungkan ketiganya sebagai literasi multimoda, dan justru di situ angka kesulitannya paling tinggi. Grafik yang benar tanpa alasan untuk peduli hanya menghasilkan informasi, bukan ajakan.
Baca juga Id, Ego, Superego dalam Lirik Sang Dewi Lyodra
Persoalannya karena itu bukan kemampuan teknis mengetik kalimat. Alhawamdeh dan KhairEddeen, yang dikutip di dalam laporan itu, menyebut kurangnya perhatian pada strategi retoris membuat mahasiswa menghasilkan teks deskriptif alih-alih persuasif: rapi, tetapi tanpa kedalaman dan tanpa arah. Regan dan rekan-rekannya menambahkan bahwa dukungan pengajaran yang tipis membuat mahasiswa gagal menata dan mengembangkan argumen.
Canva, Instagram, dan Video Pendek
Angka ketiga muncul dari pertanyaan tentang alat. Sebanyak 69 persen mahasiswa mengaku nyaris tidak memakai media digital interaktif untuk menguatkan pesan mereka. Pilihan yang diambil hampir selalu teks polos. Canva, Instagram, dan video pendek disebut di dalam laporan sebagai perangkat yang tersedia dan akrab, tetapi jarang benar-benar dipakai untuk tugas menulis. Pesan yang lahir dari kebiasaan itu terasa hambar bagi pembaca yang hidup di lingkungan serba visual.
Pengamatan kelas menambahkan satu detail yang menjelaskan sebabnya. Karya mahasiswa berhenti di platform internal kampus. Tugas dikumpulkan, dinilai, lalu selesai. Ia tidak pernah keluar menemui pembaca yang tidak berkewajiban membacanya. Tanpa pembaca semacam itu, tidak ada alasan mendesak untuk memilih gambar yang tepat, memotong kalimat yang bertele-tele, atau menimbang bagian mana yang akan menahan jempol orang berhenti menggulir layar.
Wambsganss dan rekan-rekannya, dalam kajian yang dirujuk laporan ini, menegaskan unsur visual bukan aksesori. Gambar ikut membentuk makna, bukan menghias makna yang sudah jadi. Kalau keterampilan teknologi tidak diarahkan untuk kepentingan retoris, penguasaan aplikasi tidak menghasilkan apa-apa. Mahasiswa yang lancar memakai Canva belum tentu tahu mengapa satu tata letak lebih meyakinkan daripada tata letak yang lain. Literasi digital dalam pengertian yang dipakai laporan ini juga lebih luas daripada kemampuan memencet tombol. Gilster memakai istilah itu sejak 1997 untuk kemampuan menilai, menyaring, dan membangun pengetahuan secara reflektif. Li dan Yu, yang dikutip tim penulis, menghubungkannya dengan keterlibatan dan capaian belajar. Di ruang yang penuh informasi tak terverifikasi, kemampuan menyaring itu justru menjadi bagian dari kemampuan membujuk.
Angka 73, 82, dan 69
Ketiga angka itu tidak berdiri sendiri-sendiri, dan bagian inilah yang paling menentukan. Kegagalan menyatukan beberapa moda membuat pesan melemah. Pesan yang lemah membuat struktur argumen kehilangan fokus. Argumen yang kehilangan fokus membuat media interaktif terasa tidak ada gunanya, sehingga tidak dipakai. Lingkarannya menutup sendiri, dan setiap putaran menjauhkan penulisnya dari pembaca yang ingin dijangkau.
Baca juga Sembilan Tuturan Humor Rina Nose Dihitung Peneliti
Yang tidak tertangkap ketiga angka itu adalah kebiasaan memeriksa pekerjaan sendiri. Tim itu menemukan hampir tidak ada ruang terstruktur bagi mahasiswa untuk menguji asumsinya, menilai hasil kerjanya, lalu memperbaiki caranya. Dewey menulis soal itu pada 1933, Mezirow pada 1997, dan keduanya dikutip di dalam laporan. Tanpa refleksi, keterampilan yang sudah ada pun sulit berpindah ke situasi baru.
Hutchinson dan Waters, yang dipakai sebagai dasar rancangan kurikulum, menyebut pengajaran baru berguna kalau berpijak pada kebutuhan nyata pembelajarnya. Karena itu usul yang diajukan bukan mata kuliah tambahan, melainkan pembelajaran berbasis proyek: menganalisis pembaca, memilih strategi, membuat materinya, lalu membahas hasilnya bersama. Canva, Padlet, media sosial, dan kecerdasan buatan disebut sebagai alat bantu, bukan sebagai jawaban. Bandura dipakai tim itu untuk menjelaskan mengapa kerja bersama penting. Belajar berlangsung lewat pengamatan, interaksi, dan refleksi dalam situasi yang bermakna, bukan lewat penjelasan searah. Menulis bersama membuat mahasiswa melihat pilihan orang lain, membandingkannya dengan pilihan sendiri, lalu menimbang mana yang bekerja pada pembaca. Kemampuan memantau cara belajar sendiri tumbuh dari sana.
Batasnya perlu disebut terang-terangan. Tiga puluh mahasiswa dari satu program studi di satu akademi bukan potret mahasiswa Indonesia, dan angka 73, 82, serta 69 persen adalah persentase deskriptif dari kuesioner yang mereka isi sendiri, bukan hasil pengukuran kemampuan menulis. Tim penulisnya menyatakan sendiri bahwa sampel sekecil itu dipilih demi kedalaman, dan bukan untuk digeneralisasi ke tempat lain.
Poster literasi keuangan itu sendiri masih tersimpan sebagai berkas tugas. Grafiknya tetap benar. Angkanya tetap akurat. Yang tidak ada di sana hanya satu kalimat yang membuat seseorang di luar kelas merasa angka itu sedang berbicara kepadanya.















