Id, Ego, Superego dalam Lirik Sang Dewi Lyodra

A A

Lyodra sedang bernyanyi di Panggung. [Foto: Instagram]

Daftar Isi
  1. Satu Lagu, Satu Tokoh
  2. Luka di Bait Awal
  3. Ego Mengambil Alih
  4. Sayap yang Tak Ada
  5. Superego yang Samar
  6. Batas Bacaan Ini

Cekricek.id — Satu lagu pop menyimpan tiga lapis kepribadian sekaligus. Lapis pertama ingin lari dari rasa sakit. Lapis kedua menawar dengan kenyataan. Lapis ketiga menuntut sesuatu yang sempurna dan hampir tidak pernah datang.

Sela Safitri dari Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Universitas KH Abdul Chalim, Mojokerto, membaca lirik lagu Sang Dewi dengan teori Sigmund Freud. Kajiannya, Analisis Psikologi Sastra Bentuk Emosi dalam Lirik Lagu Sang Dewi Karya Lyodra: Menggunakan Teori Sigmund Freud, terbit di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 1 tahun 2026.

Objek kajiannya satu lagu saja. Yang dibedah bukan penyanyinya dan bukan penulis lagunya, melainkan tokoh ‘aku’ di dalam liriknya. Sela mencari jejak Id, Ego, dan Superego pada setiap baitnya, dari kalimat pertama sampai bait penutup.

Satu Lagu, Satu Tokoh

Ilustrasi seseorang menulis di buku catatan sambil memangku gitar akustik.
Ilustrasi seseorang menulis di buku catatan sambil memangku gitar akustik. [Foto: Pexels]

Sang Dewi dipopulerkan Lyodra. Liriknya berisi seseorang yang pernah terluka berat, menutup diri rapat-rapat, lalu perlahan membuka pintu bagi cinta yang baru. Sela menyebut lagu itu semacam narasi mini, lengkap dengan konflik, trauma, dan penyelesaiannya dalam waktu kurang dari empat menit.

Lirik lagu jarang diperlakukan sebagai teks yang serius. Sela berpendapat sebaliknya. Menurut dia, lirik adalah wadah pengalaman batin, konflik, dan perjalanan psikologis seseorang. Sang Dewi, tulis Sela, menyimpan cerita tentang trauma, harapan, serta rekonsiliasi diri yang tidak diucapkan terang-terangan.

Dua pertanyaan dipasang di depan penelitian. Pertama, bagaimana Id, Ego, dan Superego muncul di tiap bait lagu itu. Kedua, bagaimana ketiganya menjelaskan perjalanan tokoh dari trauma masa lalu menuju penerimaan diri dan cinta yang baru.

Metodenya kualitatif dengan desain studi kasus. Sela membaca lirik berulang-ulang, menandai kata dan frasa kunci, lalu mengelompokkannya ke dalam tiga struktur kepribadian Freud. Tahap terakhir adalah menafsirkan bagaimana ketiganya saling bekerja di sepanjang lagu, lalu menyusunnya menjadi satu urutan.

Landasannya bukan bacaan sekilas. Sela mengutip Minderop, Semi, Ratna, dan Siswanto untuk psikologi sastra, lalu Hall, Lindzey, Corey, dan Feist untuk kerangka Freudnya. Wellek dan Warren dipakai untuk menegaskan bahwa karya sastra bisa dibaca sebagai dokumen kejiwaan, dan bahwa psikologi bisa membantu menafsirkan sastra.

Freud adalah neurolog kelahiran Austria. Ia berpendapat sebagian besar pikiran, perasaan, dan dorongan manusia bersembunyi di bawah sadar dan tetap menyetir perilaku. Tiga struktur kepribadian itu, menurut dia, berinteraksi setiap saat, dan benturan di antara ketiganya melahirkan kecemasan.

Definisi Id yang dipakai Sela cukup keras. Endraswara menyebut Id sebagai aspek kepribadian yang paling gelap, berisi insting dan nafsu yang tidak dikenali, dan agaknya berupa energi buta. Freud sendiri, dalam The Ego and the Id, menamainya reservoir energi psikis yang tidak terorganisasi dan sumber dari semua naluri.

Ego mendapat julukan lain. Hall dan Lindzey menyebutnya eksekutif kepribadian, bagian yang mengambil keputusan dan berusaha memuaskan Id dengan cara yang sesuai kenyataan. Schultz dan Schultz menambahkan bahwa Ego adalah komponen rasional yang menengahi Id, kenyataan, dan Superego, sekaligus yang menyusun mekanisme pertahanan diri.

Baca juga Arsip Lahar Marapi dan Peringatan dari Nagari

Superego mengurus soal benar dan salah. Ia tumbuh dari nilai orang tua, masyarakat, dan budaya yang diserap sejak kecil. Hall menggambarkannya sebagai wakil dari ideal, bukan hanya moralitas, melainkan juga kebaikan dan kesempurnaan. Ia bekerja lewat rasa bersalah dan rasa bangga.

Luka di Bait Awal

Bait pembuka lagu itu paling gelap. Tokoh ‘aku’ menyebut jiwanya pernah terluka sampai hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Sela membacanya sebagai dorongan Id yang paling mentah, yaitu melepaskan diri dari penderitaan secepat mungkin, tanpa perhitungan dan tanpa pertimbangan moral.

Larik berikutnya menyusul dengan pertanyaan retoris tentang perempuan yang sanggup hidup sendirian di dunia ini. Menurut Sela, itu bukan sekadar keluhan. Itu kebutuhan dasar akan kebersamaan, rasa aman, dan pengakuan yang menurut Freud dimiliki setiap orang.

Kesendirian menjadi persoalan besar di bait itu. Penolakan terhadap kesendirian, tulis Sela, bukan kelemahan watak, melainkan dorongan yang dimiliki semua orang. Id menggerakkan seseorang mencari pemenuhan kebutuhan sosial itu demi rasa puas yang paling cepat tersedia.

Lalu datang penutupan diri. Dalam lirik itu tertulis mata hati dan telinga sama-sama ditutup. Sela menyebutnya mekanisme pertahanan yang ekstrem. Id mencegah luka kedua dengan menolak seluruh kemungkinan sekaligus, termasuk kemungkinan yang baik.

Sela menyandarkan tafsir itu pada dua rujukan. Laplanche dan Pontalis menulis bahwa Id cenderung mencari pelepasan ketegangan secara seketika. Freud dalam Beyond the Pleasure Principle menyebut organisme cenderung menghindari ketidaknyamanan, dan penutupan diri itu masuk ke dalam pola yang sama.

Ada satu sumpah di bait yang lain. Tokoh ‘aku’ pernah bersumpah tidak sudi jatuh cinta lagi. Sumpah itu lahir dari pengalaman traumatis, dan langsung berbenturan dengan kebutuhan manusia akan kasih sayang. Dua dorongan itu tidak bisa menang bersamaan.

Ego Mengambil Alih

Pergeserannya mulai pada satu kata sambung. Sesudah semua pintu ditutup, lirik itu berbalik dengan kata namun, lalu meminta lawan bicaranya mendengarkan bila cinta memanggil. Sela menandai titik itu sebagai saat Ego mulai bekerja dan mengambil alih kemudi dari Id.

Ego tidak menghapus luka. Ego hanya mengakui bahwa menutup diri sepenuhnya bukan jalan keluar yang masuk akal. Sela mengutip Erikson untuk menyebut Ego sebagai bagian yang berhubungan dengan dunia luar dan menyesuaikan perilaku dengan tuntutan kenyataan. Menutup pintu selamanya bukan pilihan yang realistis.

Puncaknya ada pada larik yang paling dikenal orang. Bait itu berbunyi “Walaupun dirimu tak bersayap”, disusul kepercayaan bahwa orang itu tetap sanggup membawanya terbang tanpa takut dan ragu. Sela menyebut baris ini kerja Ego yang paling matang dalam seluruh lagu.

Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan

Alasannya sederhana. Tokoh itu menerima pasangannya apa adanya, tidak sempurna, dan tetap memilih percaya. Risiko diambil dengan sadar, berdasarkan penilaian atas kenyataan, bukan karena dorongan sesaat.

Ada pengakuan yang lebih jujur lagi. Lirik itu menyebut perempuan seperti dirinya pun ternyata mudah menyerah. Bagi Sela, kalimat itu bentuk refleksi diri yang realistis, bukan tanda kelemahan. Pengakuan atas kerentanan diri justru yang membuka jalan.

Anna Freud masuk di bagian ini. Putri Sigmund Freud itu menulis tentang peran Ego dalam mengelola kecemasan dan menyatukan dorongan dalam diri dengan kenyataan di luar. Sela memakainya untuk menjelaskan mengapa trauma tidak menghentikan langkah tokoh ‘aku’ sampai ke bait terakhir.

Sayap yang Tak Ada

Dua benda ganjil muncul di lirik itu. Yang pertama sayap, yang kedua titisan dewa. Keduanya milik dunia yang tidak mungkin ada, dan keduanya disebut hanya untuk ditiadakan.

Sela membaca keduanya sebagai ukuran ideal. Ada standar tentang pasangan sempurna yang mengendap di kepala tokoh ‘aku’. Standar itu tidak terpenuhi. Lirik menyatakan tokoh itu tetap tidak kecewa, dan di situlah letak temuan Sela.

Justru pertukarannya yang menarik. Pasangan yang bukan titisan dewa itulah yang menjadikan tokoh ‘aku’ seorang dewi, dalam larik yang menyebut taman surgawi. Ideal tidak dibuang. Ideal hanya berpindah tempat, dari pasangan ke dirinya sendiri.

Perpindahan itu ada harganya. Tokoh ‘aku’ melepas gambaran pasangan sempurna dan menukarnya dengan pengakuan atas dirinya sendiri. Sela menyebut Ego berhasil menemukan nilai dan kebahagiaan di dalam kenyataan yang memang tersedia.

Superego yang Samar

Di sini kajiannya paling tipis, dan Sela mengatakannya sendiri. Ia menyatakan Superego tidak tergambar sejelas Id dan Ego dalam lirik Sang Dewi. Pengaruhnya ada, tetapi tidak pernah tampil sebagai penghalang yang menghukum tokohnya.

Baca juga Simpati Mendominasi Kolom Komentar Najwa Shihab

Superego dalam kerangka Freud punya dua sisi. Sisi pertama adalah hati nurani yang menghukum dengan rasa bersalah. Sisi kedua adalah ego ideal yang mendorong orang mengejar kesempurnaan dan memberi rasa bangga bila tercapai.

Yang muncul di lagu itu hanya sisi kedua. Sela mengutip Flugel, yang menyebut Superego bukan sekadar hati nurani yang menghukum, melainkan juga ego ideal yang memberi cita-cita dan tujuan hidup. Di lagu ini, ego ideal itu melunak.

Perbedaannya terasa kalau dibalik. Superego yang kaku akan menuntut sayap dan status dewa lebih dulu sebelum mengizinkan cinta. Superego di lirik ini menerima orang biasa, dan tokohnya tetap merasa dihargai.

Batas Bacaan Ini

Bahannya hanya satu lagu. Satu lirik tidak mewakili musik populer Indonesia, dan satu tokoh tidak mewakili orang yang pernah patah hati. Temuan Sela berlaku untuk teks yang ia baca, bukan untuk pendengarnya dan bukan untuk penyanyinya.

Metodenya pun terbuka pada tafsir. Sela merujuk Moleong yang menyebut penelitian kualitatif mengambil data pada kondisi alamiah dengan peneliti sebagai instrumen kunci. Pembaca lain, dengan teori lain, bisa sampai pada peta yang berbeda atas lirik yang sama.

Ada juga soal sumber teksnya. Sela mengambil lirik dari platform musik resmi dan situs lirik terverifikasi, bukan dari transkrip pendengar. Untuk kajian yang bertumpu pada kata per kata, asal teks ikut menentukan hasilnya.

Yang tidak berubah adalah urutannya. Luka lebih dulu, lalu penolakan, lalu tawar-menawar, baru penerimaan. Sela menempatkan Ego sebagai penengah di sepanjang urutan itu, dari bait pertama sampai bait terakhir.

Urutan itu pula yang membuat lagunya bertahan. Pendengar tidak perlu tahu istilah Id atau Superego untuk mengenali gerakannya. Sela hanya memberi nama pada sesuatu yang lebih dulu terasa di dada pendengarnya.

Lagu itu tetap terdengar seperti lagu cinta, sampai seseorang menghitung apa saja yang harus dilewati tokohnya sebelum sampai ke baris terakhir.

Bagikan

Baca Juga

Lirik Evakuasi Hindia dan Beban Jadi Figur Publik
Novel Al-Khaba dan Ruang Aman yang Runtuh
Lirik Ghea Indrawari di Bawah Kacamata Freud
Tiga Outfit Lyodra Manggung di Puteri Indonesia 2023, Cantiknya Ngalahin Peserta
Lyodra Beberkan 5 Rahasia Pribadi, Salah Satunya Kejadian Paling Memalukan
Potret Lyodra Pakai Rok Mini Mirip Idol Kpop, Disuruh Putar Balik Karena Cantiknya Kelewatan