Cekricek.id — Mereka menemukannya di dasar sumur, tertidur. Anak perempuan itu tidak menangis dan tidak terluka; ia hanya berbaring di tempat yang dalam kebudayaan Beduin dikaitkan dengan kematian serta hal-hal yang sebaiknya tidak disebut selepas magrib. Ketika akhirnya ditanya, jawabannya bukan permintaan maaf, bukan pula penjelasan. Pada halaman 51 novel itu tertulis kalimatnya: “Aku bersama Zahwa, wahai mama Sardoub.” Ia tidak mengaku bermimpi. Ia tidak mengaku berkhayal. Ia menyebut keberadaannya di suatu tempat lain sebagai kenyataan yang sederajat dengan sumur tempat tubuhnya baru saja diangkat.
Anak itu bernama Fatima, tokoh utama Al-Khaba’, novel karya sastrawan Mesir Miral al-Tahawy yang terbit pada 1996. Tiga puluh tahun kemudian ia dibaca ulang oleh Muhammad Baihaqi Hakimi, Aning Ayu Kusumawati, dan Mustari dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam artikel Disosiasi Fatima dalam Novel Al-Khaba’ Karya Miral At-Tahawy: Analisis Psikologi Sigmund Freud di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 1 tahun 2026. Yang mereka cari bukan kegilaan tokohnya. Yang mereka cari cara kerja pertahanannya, dan pada titik mana pertahanan itu akhirnya jebol.
Kajian terdahulu atas novel ini, catat tim tersebut, kebanyakan berhenti pada isu perempuan, patriarki, dan batasan budaya Beduin. Yang belum banyak dikerjakan justru membaca gejala kejiwaan tokohnya sebagai gejala. Sebagai pijakan, mereka menyebut temuan Asmillah dan rekan pada 2021 tentang mekanisme pertahanan ego yang kerap muncul pada tokoh perempuan di bawah tekanan patriarki dan kekerasan rumah tangga, serta kajian Ridho pada 2023 tentang pemicu disosiasi di lingkungan yang penuh stres. Fatima lalu dibaca memakai alat yang sudah dipakai orang lain untuk membaca tokoh-tokoh lain.
Alat utamanya psikoanalisis Sigmund Freud. Dalam kerangka itu, ego menyalakan mekanisme pertahanan ketika ia tidak sanggup lagi menahan tekanan dari dorongan id, dari tuntutan superego, atau dari kenyataan di luar dirinya. Salah satu bentuk pertahanan tersebut disosiasi: sebagian kesadaran dipisahkan supaya pengalaman yang terlalu menyakitkan tidak perlu diakui sebagai milik sendiri. Fatima memisahkan sebagian dirinya, lalu menaruh bagian yang terpisah itu pada seorang perempuan bernama Zahwa, tokoh yang datang dari cerita rakyat Beduin dan sejak itu tidak pernah benar-benar pergi.
Daftar Isi
Rumah yang Hanya Meloloskan Napas Cemas

Sumur itu bukan awal cerita. Sebelum sampai ke sana ada sebuah kamar berjendela jeruji yang ditutup rapat, dan pada halaman 10 novel itu tertulis satu kalimat yang dipakai tim peneliti sebagai kunci: “Tidak ada yang bisa keluar dari ruangan kecuali napas cemas.” Mereka membacanya sebagai gambaran penjara eksistensial, bukan kiasan yang dilebih-lebihkan. Fatima tidak punya akses ke ruang publik. Ia bahkan tidak punya akses kepada sesama perempuan di luar kastanya. Pengurungan itu dijalankan atas nama kehormatan keluarga, dan kehormatan keluarga tidak pernah meminta persetujuan anak yang dikurungnya.
Baca juga Kain Sembilan Meter dari Adat Kapan Salampih
Di dalam rumah yang sama, ibunya menanggung kekerasan suami. Novel mencatat bekas cekikan pada leher perempuan itu setelah pertengkaran malam hari, bergaris gelap seperti urat kebiruan. Seorang anak yang tumbuh dengan pemandangan semacam itu belajar dua hal sekaligus: bahwa tubuh perempuan bisa ditandai, dan bahwa tidak ada orang dewasa yang akan datang menghentikannya. Ruang untuk mengeluh tidak tersedia di rumah itu. Yang tersedia hanya ruang untuk pergi tanpa meninggalkan rumah, dan di titik inilah pembacaan psikoanalitiknya mulai bekerja. Merujuk gagasan Freud tentang repetition compulsion dalam Beyond the Pleasure Principle, tim itu menegaskan dorongan yang direpresi tidak lenyap, melainkan kembali sebagai gejala, mimpi, atau fantasi.
Cara kerja penelitiannya sendiri sederhana dan lambat. Novel dibaca berulang dari awal sampai akhir, lalu tiap penggal yang memuat gejala disosiasi, represi, konflik batin, atau pelarian imajinatif dicatat dan diberi kode menurut kategori Freud: id, ego, superego, dan mekanisme pertahanan. Sesudah itu barulah kutipan-kutipan tersebut dipetakan terhadap struktur cerita, latar keluarga Beduin, dan hubungan antartokoh yang membentuk pengalaman emosional Fatima. Yang dihasilkan bukan diagnosis atas seorang pasien, melainkan pembacaan atas sebuah teks. Perbedaan itu kecil di atas kertas dan besar dalam akibatnya.
Perempuan yang Berjalan Tanpa Meninggalkan Jejak
Zahwa datang dari dongeng, tetapi tidak berperilaku seperti tokoh dongeng pada umumnya. Pada halaman 12 novel itu tertulis satu kalimat yang dijadikan poros seluruh pembacaan: “Ia berjalan, tanpa meninggalkan jejak kakinya di tanah.” Tidak meninggalkan jejak berarti tidak bisa dilacak, tidak bisa diawasi, tidak bisa dihukum karena melewati batas yang ditetapkan orang lain. Semua yang tidak dimiliki Fatima ada pada perempuan itu, dan semuanya diberikan tanpa syarat, tanpa upacara, tanpa perlu izin siapa pun.
Baca juga Poster Keuangan dan Ujian Menulis Persuasif Digital
Dalam istilah Freudian yang dipakai artikel tersebut, Zahwa adalah ideal ego: versi diri yang bebas, dicintai, dan belum dilukai. Ia manifestasi dorongan id yang menolak tunduk kepada superego berupa norma patriarkal, sekaligus menolak kenyataan berupa pengawasan ketat dan kekerasan di dalam rumah. Dunia tempat Zahwa tinggal, lengkap dengan Musallam yang melindungi dan Sigeema yang penuh kasih, dibaca sebagai utopia bawah sadar. Di sanalah Fatima masih bisa melihat potret dirinya yang utuh, dan hanya di sana.
Kesimpulan penelitian itu justru menolak label yang biasa ditempelkan pada anak semacam Fatima. “Disosiasi yang dialami Fatima dalam Al-Khaba’ bukanlah gejala patologis, melainkan mekanisme pertahanan ego yang rasional dalam merespons trauma domestik dan penindasan patriarkal,” tulis Muhammad Baihaqi Hakimi bersama kedua rekannya. Rasional, dalam pengertian itu, berarti masuk akal sebagai jalan keluar terakhir ketika seluruh jalan keluar lain sudah ditutup rapat. Bandingkan dengan orang dewasa yang menutup pintu kamar sesudah bertengkar. Bedanya, Fatima tidak punya pintu, tidak punya kamar yang benar-benar miliknya, dan tidak punya siapa pun untuk diajak bicara sesudahnya.
Pembanding dari luar novel memperjelas letak temuan itu. Nurhasanah dan rekan pada 2020 mencatat mekanisme pertahanan ego kerap muncul pada tokoh sastra yang menanggung konflik batin berkepanjangan, sementara Pramitya dan rekan pada 2019 menemukan remaja yang hidup di bawah tekanan emosional kronis cenderung mengembangkan pelarian mental dan perubahan kesadaran. Fatima berdiri di persimpangan keduanya, tokoh rekaan yang gejalanya dikenali pula di luar halaman buku, dan itulah sebabnya pembacaan semacam ini dianggap berguna oleh penulisnya.
Panggilan yang Tidak Dijawab Siapa Pun
Pertahanan itu bertahan sampai tubuhnya sendiri diambil. Kaki Fatima diamputasi. Sesudahnya ayahnya, yang dulu menjadi sumber kasih sayang, memindahkan perhatian kepada Samawaat, putri barunya. Trauma yang semula datang dari luar mulai merembes ke dalam, dan mimpinya berubah. Ruang yang tadinya aman kini ikut terancam. Pada halaman 115 novel itu tertulis kalimat yang diucapkan Fatima kepada tokoh khayalannya sendiri: “Larilah, wahai Zahwa, agar mereka tidak memotong kakimu seperti Fathim yang pincang. Bersembunyilah... tidak ada apa pun yang dapat melindungimu di padang pasir yang terbuka... bersembunyilah, wahai Zahra, di dalam sumur... larilah.” Peneliti membaca larik itu sebagai titik balik. Tempat persembunyian terakhir kini harus mencari persembunyiannya sendiri.
Baca juga Soneta Wing Kardjo yang Menampung Novel Mochtar Lubis
Sesudah itu penarikan dirinya menjadi menyeluruh. Pada halaman 138 novel itu tertulis penolakannya berbicara dengan siapa pun, disertai perintah agar orang yang mendekat pergi saja kepada Samawaat. Tim peneliti menegaskan kalimat tersebut bukan isyarat kematian, melainkan penolakan eksistensial: Fatima menolak ikut serta dalam kenyataan yang telah merenggut tubuhnya, keluarganya, dan pada akhirnya imajinasinya. Ia tetap hidup. Ia hanya hidup tanpa satu pun ruang aman, dan itu, menurut pembacaan tersebut, bentuk penderitaan yang paling tinggi dalam novel ini.
Yang paling sunyi datang di halaman 128. Fatima merebahkan diri di hamparan tanah dan berteriak memanggil, dan yang tercatat sesudah teriakan itu hanya satu keterangan pendek: Zahwa tidak datang. Kehilangan tersebut, menurut pembacaan tim itu, bukan kehilangan tokoh rekaan. Zahwa adalah cermin yang selama bertahun-tahun dipakai Fatima untuk mengenali dirinya sendiri. Tanpa cermin itu, yang tersisa hanya tubuh yang merangkak, menangis, mendengar suara Sardoub, dan menyaksikan ayahnya memanggil nama anak yang lain di rumah yang tidak lagi menyediakan tempat baginya.
Pembacaan itu berhenti pada batasnya sendiri, dan penulisnya mengakuinya. Yang mereka periksa satu novel, dengan satu kerangka teori dari awal abad kedua puluh, dan mereka menyebut penggabungan dengan teori trauma kontemporer serta perbandingan lintas teks sastra Timur Tengah sebagai pekerjaan yang belum mereka kerjakan. Satu Fatima bukan seluruh perempuan Beduin. Satu novel bukan potret masyarakat mana pun, betapapun rapatnya jeruji yang digambarkan di dalamnya.
Di dasar sumur itu, menjelang akhir novel, tidak ada lagi Zahwa. Yang ada dengung batu penggiling dan desisan ular buta, dua bunyi yang tidak berhenti dan tidak menerangkan apa-apa. Fatima mendengarnya sampai halaman terakhir. Ia tidak dibunuh. Ia diabaikan.


![Lyodra sedang bernyanyi di Panggung. [Foto: Instagram]](https://cekricek.id/aset/u/2026/09/Foto-200x150.jpg)











