Tongkat, Wortel, dan Cara Kuasa Bekerja di Rumah Hasan

A A

Buku dan majalah lama Indonesia dalam sebuah pameran arsip. Ilustrasi untuk kajian atas novel Atheis terbitan 1949. (Foto: Wikimedia Commons)

Cekricek.id — Bahasa dianggap alat yang netral, sekadar kendaraan untuk memindahkan maksud dari satu kepala ke kepala lain. Anggapan itu yang dibongkar kajian ini.

Yang dibongkarnya bukan pidato politik atau iklan, melainkan sebuah novel yang sudah tujuh puluh tahun lebih dibaca orang. Novel itu Atheis.

Kajiannya ditulis Andi Farid Baharuddin dari Universitas Sawerigading Makassar. Judulnya Language, power, and the reproduction of dogmatic ideology in Mihardja’s Atheis: A critical discourse analysis.

Artikel itu terbit di jurnal Litera Volume 25 Nomor 2 keluaran Universitas Negeri Yogyakarta. Naskahnya masuk Januari 2026 dan terbit pada 28 Juli 2026.

Objek materialnya novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja, dipakai dari edisi Balai Pustaka tahun 2011. Novel itu pertama kali terbit pada 1949.

Pendekatannya analisis wacana kritis atau critical discourse analysis, mengikuti kerangka Norman Fairclough. Kerangka itu punya tiga lapis: analisis teks, praktik diskursif, dan praktik sosial.

Daftar Isi
  1. Ketika Kata Bekerja Tanpa Terlihat Bekerja
  2. Kartini yang Kritis dan Tetap Tergoyah
  3. Tongkat, Wortel, dan Bayangan Neraka
  4. Yang Hilang Ketika Pertanyaan Tak Pernah Diajukan
  5. Pembacaan yang Sudah Ada dan Celah yang Tersisa
  6. Apa yang Belum Tertutup dari Kajian Ini

Ketika Kata Bekerja Tanpa Terlihat Bekerja

Dinding pameran bertuliskan Balai Poestaka dengan deretan sampul buku lama dipajang di bawahnya
Pameran koleksi lama terbitan Balai Pustaka. Edisi Atheis yang dipakai peneliti adalah terbitan Balai Pustaka 2011. (Foto: Wikimedia Commons)

Yang menarik dari kajian ini adalah pilihan istilahnya. Tokoh-tokoh dalam novel dibelah menjadi dua kubu yang ia namai sendiri.

Kubu pertama disebut the shapers, mereka yang memegang kuasa dan membentuk cara berpikir orang lain di sekitarnya. Kubu kedua disebut the shaped.

Yang masuk kubu pertama adalah Haji Kosasih, ayah Rukmini, seorang pedagang yang juga kepala keluarga. Bersamanya ada Raden Wiradikarta, ayah Hasan.

Wiradikarta dikenal sebagai tokoh agama di lingkungan keluarganya sendiri. Satu nama lagi masuk kubu itu, yaitu Bung Anwar, kawan Hasan yang anarkis.

Yang masuk kubu kedua adalah Hasan sebagai tokoh utama, lalu Rukmini, dan Kartini yang kemudian menjadi istri Hasan. Ketiganya diposisikan sebagai pihak yang dibentuk.

Pembelahan itu tidak berhenti pada label. Dari situ peneliti memeriksa gaya bahasa apa yang dipakai kubu pertama untuk menanamkan pikirannya.

Gaya yang ia temukan ada tiga, yaitu persuasif, provokatif, dan figuratif. Ketiganya bekerja tanpa satu pun ancaman fisik dijatuhkan.

Haji Kosasih, misalnya, melarang anaknya bermimpi menikah dengan keturunan menak dengan menyebut nasib bibinya yang dibuang setelah hartanya habis. Larangan itu dibungkus panggilan sayang.

Wiradikarta menempuh jalan lain terhadap Hasan. Ia mengatur bacaan anaknya dan menyebut buku-buku tertentu bisa merusak iman.

Kajian ini menyebut peran itu sebagai polisi intelektual di dalam rumah. Membatasi bacaan, tulisnya, menurunkan literasi kritis dan berdampak pada perkembangan kognitif Hasan.

Kartini yang Kritis dan Tetap Tergoyah

Yang paling menarik justru bukan Hasan. Kajian sebelumnya menempatkan Kartini sebagai sosok feminis-marxis yang mandiri dan sadar politik.

Baharuddin tidak membantah gambaran itu, tetapi ia menunjuk satu titik lemahnya. Kartini menelan mentah-mentah pendapat Anwar tentang Hasan tanpa menyaringnya lebih dulu.

Alasannya, menurut kajian ini, terletak pada modal sosial Anwar. Ia dikenal sebagai anarkis dan kawan Rusli, sosok yang selama ini mengajari Kartini pemikiran marxis-feminis.

Dari situ Anwar berpindah peran. Ia yang tadinya berdiri di sisi yang sama dengan Kartini berubah menjadi pembentuk.

Kerangka yang dipakai untuk membaca ini datang dari Pierre Bourdieu. Kuasa, menurut Bourdieu, lahir dari penumpukan tiga modal, yaitu ekonomi, budaya, dan sosial.

Baca juga Riset Wacana: Kolom Komentar Ikut Menyusun Legitimasi Politik

Dari tiga modal itu Bourdieu membagi masyarakat menjadi tiga lapis. Ada kelas dominan, ada kelas borjuis kecil, dan ada kelas populer yang tak punya modal apa-apa.

Kelas terakhir itu disebut populer justru karena ia mempopulerkan segala produk dan wacana kelas dominan. Di sanalah, tulis kajian ini, kekerasan simbolik bekerja.

Tongkat, Wortel, dan Bayangan Neraka

Yang menahan seseorang tetap patuh biasanya bukan satu perintah, melainkan sistem yang mengulang perintah itu terus-menerus. Kajian ini menamainya dengan metafora lama.

Metafora itu tongkat dan wortel, istilah politik yang dipopulerkan Winston Churchill lewat tulisannya berjudul The Rape of Austria pada 1938. Tongkat berarti hukuman, wortel berarti ganjaran.

Di dalam novel, tongkat itu berbentuk peringatan tentang akibat di dunia dan akhirat. Wiradikarta melarang Hasan melanggar ajaran agama dengan menyebut konsekuensinya.

Ibu Hasan memakai gambaran yang lebih keras lagi. Anak nakal yang tidak mau salat, katanya berulang kali, akan direbus di neraka.

Wortelnya datang dari mulut yang sama. Orang yang rajin berpuasa, kata ibunya, akan masuk surga.

Ada pula ganjaran yang tidak berbentuk janji akhirat. Ayah Hasan menceritakan kepada setiap kenalan bahwa anaknya kini sudah bisa salat, dan para kenalan itu memujinya.

Kajian ini membaca pujian tersebut sebagai bentuk ganjaran sosial. Pengakuan dari luar rumah ikut mengunci kepatuhan di dalam rumah.

Yang Hilang Ketika Pertanyaan Tak Pernah Diajukan

Yang tidak ada di rumah Hasan, menurut kajian ini, adalah ruang untuk bertanya. Doktrin sampai utuh, tetapi alat untuk mengujinya tidak pernah diberikan.

Baharuddin bahkan menyusun daftar pertanyaan yang menurutnya tak pernah muncul di keluarga itu. Apakah Tuhan ada, dan apakah agama satu-satunya jalan mendekat kepada-Nya.

Pertanyaan lain menyusul di daftar yang sama. Apakah surga dan neraka satu-satunya cara mengingatkan manusia bahwa ada Pencipta yang harus disembah.

Menurutnya, pertanyaan semacam itu justru bisa menaikkan kesadaran kritis Hasan tentang hakikat penyembahan. Teologi dogmatis, tulisnya, bisa bergeser menjadi teologi analitis.

Baca juga Ajip Rosidi dan Kegelisahan di Antara Dua Kesusastraan

Peneliti mengutip Jukim yang menyatakan iman bukan sekadar warisan orang tua. Iman, menurut kutipan itu, adalah prinsip yang harus direnungkan dan dipelajari dengan nalar.

Rujukan teoretis lain diambil dari Louis Althusser tentang aparatus ideologi negara. Aparatus itu bekerja lewat pendidikan, kebudayaan, dan media, bukan lewat kekerasan langsung.

Dari sudut itu, doktrin di rumah Hasan dibaca sebagai kuasa lunak. Ia menormalkan kepentingan pihak yang berkuasa tanpa perlu memaksa siapa pun.

Pembacaan yang Sudah Ada dan Celah yang Tersisa

Yang membuat kajian ini merasa perlu ditulis adalah tumpukan pembacaan sebelumnya yang, menurutnya, selalu berhenti sebelum sampai ke soal kuasa. Tumpukan itu ia daftar satu per satu.

Dua kajian ia sebut menempatkan Kartini sebagai figur feminis ideal. Alasannya, tokoh itu punya kecantikan sekaligus kesadaran sosial-politik sebagai aktivis feminis-marxis.

Kajian lain membandingkan Atheis dengan Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka. Temuannya, Hasan tidak konsisten dalam praktik keagamaan karena tidak mampu bernalar terhadap imannya sendiri.

Ada pula pembacaan yang tidak berhenti di ruang akademik Indonesia. Novel ini dipakai sebagai bahan ajar bahasa Indonesia untuk pelajar menengah di Brunei Darussalam.

Di sana fungsinya bukan hanya melatih bahasa. Ia juga dipakai untuk menanamkan nilai moral, pendalaman spiritual, dan filsafat hidup kepada pembacanya yang masih remaja.

Pembacaan terbaru yang ia catat justru bersifat teknis. Sebuah kajian pada 2025 menghitung jenis tuturan ilokusi yang muncul di sepanjang novel itu.

Hitungannya cukup rinci. Tuturan asertif muncul delapan kali, direktif empat kali, ekspresif enam kali, dan deklaratif tiga kali.

Semua pembacaan itu, menurut Baharuddin, membuktikan satu hal saja. Novel terbitan 1949 ini masih relevan digali dari hampir setiap sisi kehidupan manusia.

Yang belum satu pun menyentuhnya adalah relasi kuasa di dalamnya. Tak ada yang memeriksa bagaimana bahasa dipakai untuk menanamkan ideologi kepada tokoh-tokoh yang tak berdaya.

Dari celah itulah dua pertanyaan penelitiannya disusun. Gaya bahasa apa yang dipakai pemegang kuasa, dan bagaimana mereka mempertahankan pengetahuan yang sudah mereka bangun.

Apa yang Belum Tertutup dari Kajian Ini

Yang perlu dicatat, seluruh temuan kajian ini bersandar pada tiga kutipan di tabel pertama dan lima kutipan di tabel kedua. Jumlah itu tidak banyak untuk sebuah novel setebal Atheis.

Peneliti bekerja sendiri, tanpa pembaca kedua yang memeriksa penandaan kutipannya. Teknik pengumpulannya pun sederhana, yaitu menandai dengan stabilo warna dan mencatat.

Warna stabilonya dijelaskan secara rinci di bagian metode. Biru untuk kelas sosial, hijau untuk penggunaan bahasa, kuning untuk dampak indoktrinasi.

Penomoran kutipannya melompat. Tabel pertama memuat kutipan satu sampai tiga, lalu tabel kedua langsung dimulai dari kutipan lima.

Baca juga Dari Kerusuhan Suwawa 1849 sampai Perebutan Kekuasaan Gorontalo 1942

Sumber metafora Churchill juga disebut dengan dua cara berbeda di dalam artikel yang sama. Sekali disebut sebagai artikel, sekali sebagai buku.

Novel yang dibedah pun tidak dianalisis sebagai peristiwa sosial pada masa terbitnya. Konteks 1949 disinggung sekilas lewat satu rujukan tentang budaya patriarki di Jawa.

Pertanyaan yang ditinggalkan peneliti di penutupnya justru pertanyaan yang lebih besar dari novelnya. Bagaimana kuasa dikelola secara demokratis, agar orang tetap punya ruang menyatakan pikirannya?

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi nisan berbentuk salib batu yang ditumbuhi lumut berdiri di atas rumput di sebuah pemakaman tua.
Frankenstein yang Dijahit Ulang oleh Remaja Perempuan
Ilustrasi seorang anak lelaki menelungkupkan kepala di atas meja sementara beberapa anak lain berbincang di belakangnya.
Kekerasan terhadap Anak di Aku Juga Ingin Dianggap
Pintu kulkas terbuka memperlihatkan botol dan wadah makanan di dalamnya
Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga
Ilustrasi halaman buku beraksara Arab dilihat dari atas.
Satu Peristiwa, Empat Cara: Kalimat Aktif di 4 Bahasa Dunia
Ilustrasi seorang pelari bersiap di garis start lintasan atletik.
Cara Bahasa Kampanye Nike di Instagram Bekerja
Ilustrasi kampung Minangkabau dengan rumah gadang dan petak sawah di lereng perbukitan.
Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik