Ajip Rosidi dan Kegelisahan di Antara Dua Kesusastraan

Ilustrasi tumpukan buku sastra berbahasa daerah di meja kayu dekat jendela.

Ilustrasi tumpukan buku sastra berbahasa daerah di meja kayu dekat jendela. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Pada 31 Januari 2004, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-66, Ajip Rosidi berdiri di Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta, untuk menerima Hadiah Professor Teeuw. Pidatonya berlangsung sekitar satu setengah jam, disampaikan dengan tenang dan diselingi humor. Yang tidak biasa: ia berpidato dalam bahasa Sunda, sementara hadirin dibekali pamflet berisi terjemahan bahasa Indonesia dan Belanda. Judul pidato itu memuat seluruh persoalan hidupnya dalam tiga kata: Jatiwangi, Sunda, Indonesia.

Pidato itulah yang dijadikan sumber utama Teddi Muhtadin dari Universitas Padjadjaran dan Mikihiro Moriyama dari Nanzan University, Jepang, dalam artikel Ajip Rosidi’s “kegelisahan” (restlessness) in between Sundanese and Indonesian literature, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 2 pada 2025. Keduanya menelusuri satu hal yang jarang diangkat dari sosok sebesar Ajip: bukan daftar prestasinya, melainkan rasa tidak enak yang menemani seluruh kariernya karena ia berdiri di antara dua kesusastraan sekaligus.

Anak Jatiwangi yang Beruntung Pindah Kampung

Ajip Rosidi lahir pada 31 Januari 1938 di Ciborelang, sebuah desa kecil di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Daerah itu bercampur secara kebahasaan: bahasa Sunda dan bahasa Cirebon, sebuah varian Jawa, sama-sama dipakai. Kemahirannya berbahasa Sunda, menurut pengakuannya sendiri, bergantung pada satu kebetulan — kepindahan ke rumah kakeknya di Desa Pasukeran, tempat bahasa Sunda dominan dan menjadi bahasa pengantar di sekolah dasar. Ia menulis, kalau tidak pindah ke sana, ia tidak akan menguasai bahasa Sunda.

Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota

Kecintaannya membaca buku berbahasa Sunda tumbuh sejak sekolah dasar, di perpustakaan sekolah yang isinya sebagian besar terbitan Balai Pustaka dalam bahasa Sunda, baik karya asli maupun terjemahan dari bahasa Belanda dan Melayu. Pada jenjang yang sama, karya pertamanya dalam bahasa Indonesia dimuat di rubrik anak-anak surat kabar Indonesia Raya. Ia juga akrab dengan kesusastraan Jawa-Cirebon lewat wayang kulit, wayang cepak, dan pertunjukan teater. Ketika membuka bukunya Hurip waras! Dua panineungan (2001), Ajip mengutip Graham Greene: buku yang dibaca sampai umur empat belas tahun berpengaruh mendalam pada hidup seseorang, sementara buku sesudahnya cenderung hanya menegaskan apa yang sudah ada di kepala.

Setelah pindah ke Jakarta, ia berkenalan dengan sejumlah intelektual Sunda seperti Utuy T. Sontani, Rukasah S.W., dan Amir Sutaarga, dan lewat mereka memperoleh akses ke koleksi Perpustakaan Parlemen serta Museum Nasional. Di situ ia mulai membaca guguritan, bentuk puisi Sunda, karya H. Hasan Mustapa (1852–1930), salah satu penyair sekaligus filsuf Sunda terbesar. Karya Hasan Mustapa berpengaruh dalam pada Ajip, dan ia menghargai betul nilai sastra puisi berbentuk tradisional itu.

Realisme, Guguritan, dan Tuduhan Menjiplak

Di sinilah kegelisahan itu bermula. Ajip mencatat bahwa S. Takdir Alisjahbana dan Chairil Anwar berpendapat karya sastra tradisional menghambat kemajuan sastra Indonesia. Sejak 1930-an hingga 1950-an, realisme adalah aliran dominan dan dipromosikan sebagai kerangka paling modern serta paling pantas untuk kemajuan sastra. Ajip tidak bisa mendamaikan itu dengan seleranya sendiri. “Saya tidak bisa menghubungkan pendapat Takdir dan kawan-kawannya yang menganggap realisme sebagai aliran sastra yang paling akhir dan paling tepat bagi para sastrawan zaman sekarang, dengan karya-karya sastra (Sunda) tradisional yang sebenarnya saya sukai, yang jauh dari realisme,” tulis Ajip dalam pidato itu — kalimat aslinya berbahasa Sunda dan dikutip Muhtadin serta Moriyama lewat terjemahan Inggris.

Meski begitu, ia mengakui sebagian besar karyanya sendiri tergolong realis. Pada 1954 ia sempat menulis fiksi nonrealis, “Malam jika tiba” dan “Perjanjian dengan maut”, yang ia golongkan sebagai genre supernatural. Sebagian besar karya nonrealisnya ditulis antara 1954 dan 1955, dan justru cerita-cerita itulah yang memancing tuduhan menjiplak serta meniru narasi asing dari sesama kritikus. Ajip lalu memilih jalan keluar yang khas: menulis tentang dirinya dan keluarganya sendiri. “Hal itu membuat saya sampai pada pikiran bahwa tulisan saya tidak mungkin dianggap sama dengan atau dipengaruhi karya orang lain kalau saya menulis cerita tentang diri saya sendiri, sebab hidup saya belum dan tidak akan pernah dialami orang lain,” tulisnya.

Muhtadin dan Moriyama tidak menerima alasan itu begitu saja. Mereka menilai penalaran Ajip agak naif dan tidak sepenuhnya logis, sebab tokoh dan latar cerita mana pun bisa saja mirip dengan karya lain, dan penentuan plagiat justru terletak pada apakah alur, tema, atau gaya bercerita disalin atau ditiru. Mereka juga membantah keyakinan Ajip bahwa realisme harus menggambarkan keadaan masyarakat yang buruk, dengan alasan realisme semestinya memantulkan kenyataan sosial apa adanya, baik maupun buruk. Kritik itu penting dicatat karena artikel ini bukan panegirik.

Pandangan Ajip sendiri kemudian berubah, terutama setelah ia pindah ke Osaka pada 1980-an dan berjumpa dengan teori-teori sastra baru. Ia menyimpulkan realisme hanyalah salah satu aliran dalam kesenian dan kesusastraan, dan mengakui bahwa ia dulu meremehkan arti sastra Sunda tradisional yang belakangan ia anggap kekayaan budaya berharga bagi Indonesia. Yang paling penting bagi kehidupan bahasa dan sastra, tulisnya, bukan pengetahuan tentang teori sastra melainkan membaca karya sastra itu sendiri. Dari sana ia mengkritik kebijakan pendidikan Indonesia yang lebih mengutamakan teori sastra daripada kebiasaan membaca, serta Kementerian Pendidikan yang menurutnya mengabaikan penerbitan karya sastra dan terjemahan.

Sangkar yang Memualkan dan Lima Bulan di Jatiwangi

Sebelum itu, pada akhir 1950-an, Ajip sudah menerbitkan banyak buku dalam bahasa Indonesia: dua kumpulan puisi, Ketemu di jalan (1956) bersama S.M. Ardan dan Sobron Aidit serta Pesta (1956); tiga kumpulan cerpen, Tahun-tahun kematian (1955), Di tengah keluarga (1956), dan Sebuah rumah buat hari tua (1957); dan sebuah novel, Perjalanan penganten (1958). Namun ia merasa terperangkap. Dalam pengantar kumpulan puisinya Tjari muatan (1959) ia menulis tentang perasaan terkurung di Jakarta, kota yang ia sebut sangkar yang memualkan, dan tentang kebutuhan untuk keluar.

Baca juga: Istana Kesultanan Serdang Jadi Perumahan, Koordinatnya Meleset 10 Km

Pilihannya cuma satu. “Reaksi terhadap perasaan terperangkap adalah membebaskan diri darinya. Dan membebaskan diri dari kungkungan kota seperti Jakarta berarti pergi ke luar negeri atau kembali ke desa,” tulisnya. Ia memilih pulang, dengan dua alasan: pergi ke luar negeri mustahil baginya, dan bagi orang seperti dia yang merasa gelisah serta belum berpijak kokoh dalam pencarian identitas keindonesiaan, daerah menjadi sumber ilham sekaligus fondasi yang kuat.

Pada 1957 ia benar-benar pulang ke Jatiwangi, setelah singgah di Sumedang dan Bandung. Hasilnya deras: ia menyusun antologi sastra Sunda modern Kandjutkundang bersama Rusman Sutiasumarga, menulis ulang cerita lisan Sunda dalam bahasa Indonesia, mendalami karya Haji Hasan Mustapa, memimpin Mingguan Sunda yang kemudian menjadi Majalah Sunda, mendirikan penerbit Tjumupanik, dan terlibat dalam berbagai organisasi kebudayaan Sunda. Namun ia tetap gelisah. Ia hanya bertahan lima bulan di Jatiwangi dan mengakui usahanya pindah dari Jakarta gagal. Dari kegagalan itu justru muncul rumusan yang paling sering dikutip: “Dua dunia tempat saya pernah hidup sama-sama melelahkan. Tetapi masing-masing akan selalu punya daya tariknya, sebuah kekuatan yang memaksa untuk kembali ke yang satu — setiap kali lelah dengan yang lain,” tulisnya.

Kunyuk Rawun ti Leuweung Malayu

Kegelisahan itu bukan cuma soal selera estetik. Ajip merasa tidak dipercaya di kedua kubu. Di kalangan sastra Indonesia ia dicurigai karena keterlibatannya dalam sastra Sunda; di kalangan sastra Sunda ia dicurigai karena latar belakangnya di sastra Indonesia. Dalam otobiografinya, Hidup tanpa ijazah; Yang terekam dalam kenangan (2008), ia mencatat bahwa keterlibatannya dalam kegiatan Sunda tidak disambut hangat semua orang. Seorang tokoh sastra Sunda terkemuka bahkan menjulukinya kunyuk rawun ti leuweung Malayu — monyet gila dari hutan Melayu, yang tersesat di tanah Sunda dan bikin kacau karena tidak pernah sungguh-sungguh belajar bahasa Sunda. Sebaliknya, kawan-kawannya di Jakarta yang bukan orang Sunda menempelinya label si Sunda, separatis, dan aktivis kedaerahan. Banyak tulisan tentang dirinya menyebutnya sastrawan Sunda alih-alih sastrawan Indonesia, padahal ia lebih banyak menulis dalam bahasa Indonesia.

Justru ketegangan itulah, menurut Muhtadin dan Moriyama, yang menyalakan daya ciptanya, seperti tegangan listrik antara kutub positif dan negatif. Ajip sendiri merumuskannya: “Dari ketegangan antara dua dunia itulah puisi lahir, sebab puisi lahir dari usaha penyair untuk memastikan apa yang belum menentu.” Dalam kata pengantar Hidup tanpa ijazah, Arief Budiman menyebut Ajip dikenal sebagai penulis daerah dengan keterikatan Sunda yang dalam, yang bergema pada tingkat nasional.

Tanah Sunda, Lagu Jakarta, dan Janté Arkidam

Ketegangan dua kutub itu, kata kedua penulis, paling jelas terbaca dalam tiga sajaknya. “Tanah Sunda” ditulis dalam bahasa Sunda pada 1956, menjelang Kongres Pemuda Sunda yang digelar pada 5–7 November 1956 di Bandung. Ajip dan kawan-kawannya waktu itu berkeliling ke Subang, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Kuningan, Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut, dan menyaksikan langsung kondisi masyarakat Sunda akibat pemberontakan DI/TII. Sajak itu dibuka dengan gambaran alam yang tenteram — gunung hijau, laut biru — lalu berbalik menjadi kesaksian tentang darah yang mengalir dan jasad yang rusak, dan ditutup dengan keinginan dikubur di tanah kelahiran. Sajak itu populer di kalangan pelajar, kerap menjadi materi wajib lomba baca puisi Sunda, dan digubah menjadi lagu oleh musisi Sunda Nano S. Kembarannya dalam bahasa Indonesia, “Tanah Air”, dimuat dalam Tjari muatan.

Berbeda sama sekali suasananya dengan “Lagu Jakarta” dalam kumpulan yang sama: tiga bait, masing-masing empat baris, tentang bibir kering, tubuh menggigil karena malaria, hari yang pengap-pesing, dan segala yang hilang aslinya karena dibedaki lumpur Ciliwung. Yang tersisa di kota itu, tulis sajak tersebut, hanyalah pergulatan dalam kerja. Adapun jawabannya atas dua keadaan itu, menurut Muhtadin dan Moriyama, tersedia dalam “Janté Arkidam”, sajak epik tentang jagoan yang tak terkalahkan, mula-mula ditulis dalam bahasa Sunda pada 1956 di Jatiwangi lalu diterjemahkan sendiri oleh penyairnya ke bahasa Indonesia. Janté membunuh, mencuri, mabuk, dan berfoya-foya, namun selalu lolos: menembus jeruji, kabur menaiki cahaya, mengelabui mata orang sekampung, berlari di atas permukaan sungai. Bagi kedua penulis, tokoh itu adalah lambang penyairnya sendiri, yang berbekal aji panarawangan untuk menemukan jalan keluar dari setiap keadaan terjepit.

Hadiah Rancagé dan Reaksi Berantai yang Diharapkan

Keyakinan Ajip pada budaya daerah berujung pada kelembagaan. Pada 1989 ia mendirikan Hadiah Sastra Rancagé. Nilainya saat itu satu juta rupiah, jumlah yang luar biasa untuk sebuah penghargaan pada masanya, sehingga langsung menyedot perhatian komunitas sastra Sunda. Ajip merumuskan tujuannya sebagai rantai peristiwa: hadiah tahunan yang diberitakan luas diharapkan menimbulkan reaksi berantai, sebab dengan bantuan pers masyarakat akan tahu ada buku baru, pembaca yang berminat akan mencarinya, dan penerbit terdorong lebih giat menerbitkan buku.

Baca juga: Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran

Menurut Muhtadin dan Moriyama, dampaknya nyata pada industri penerbitan di Jawa Barat: penerbitan sastra Sunda tumbuh cukup besar sejak hadiah itu ada, dengan tonggak pada 2002 ketika 27 karya sastra Sunda terbit dalam satu tahun. Hadiah itu kemudian meluas ke daerah lain — untuk sastra Jawa pertama kali pada 1994 dan sastra Bali pada 1998 — dan kini diakui secara nasional. Warisan lain yang mereka sebut adalah Ensiklopedi Sunda; Alam, manusia, dan budaya yang terbit pada 2000. Adapun jumlah karyanya sendiri sukar dipatok: otobiografinya pada 2008 mendaftar 83 buku dalam berbagai genre, sementara Perpustakaan Universitas Leiden mencatatkan 324 buku dan 66 artikel atas namanya. Ajip meninggal pada 2020 pada usia 82 tahun.

Perlu dicatat bahwa artikel ini punya batas yang jelas dan penulisnya tidak memaparkan bagian keterbatasan penelitian secara khusus. Analisisnya bertumpu terutama pada satu pidato tahun 2004 beserta pamflet terjemahannya dan pada otobiografi Ajip sendiri — artinya sebagian besar bahan berasal dari ingatan dan penuturan tokoh yang sedang dikaji, bukan dari sumber independen. Muhtadin dan Moriyama juga hanya membedah tiga sajak dari ratusan karya, sehingga simpulan mereka menyangkut pola kegelisahan Ajip, bukan penilaian menyeluruh atas seluruh karyanya. Yang mereka tegaskan di akhir justru sisi manusiawinya: di balik keberhasilannya sebagai penulis, kritikus, dan pengusaha penerbitan, Ajip kerap bergulat dengan rasa tidak aman, ketidakpuasan, dan kurangnya kepercayaan diri.

Tag:

Baca Juga

Ilustrasi beranda rumah kampung Sunda pada dini hari dengan satu bohlam teras menyala.
Ketukan Tengah Malam dalam Cerpen Sunda Yus R. Ismail
Ilustrasi seorang ibu menggendong anak berjalan pulang menyusuri gang permukiman padat berwarna-warni di kota Amerika La
Bolsa Familia: Cara Brasil Mengekspor Program Bantuan Tunai
Ilustrasi perahu layar tradisional berlayar di muara sungai berkabut di pesisir barat Kalimantan
Arsip 1814: Bajak Laut Sambas Dipimpin Sultannya
Ilustrasi tangan menggenggam telepon pintar pada malam hari.
Riset Wacana: Kolom Komentar Ikut Menyusun Legitimasi Politik
Ilustrasi kumpulan naskah tulisan tangan kuno.
Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno
Ilustrasi tumpukan koran lama yang menguning termakan usia.
Doenia Baroe 1930 dan Suara Perempuan Peranakan