Cekricek.id — Ningsih terjaga tiba-tiba. Jam dinding menunjuk pukul 02.45 dan rumah di sebuah kampung di Jawa Barat itu sunyi betul. Suaminya, Kang Acéng, tidur pulas di tepi kasur karena bagian tengah sudah dikuasai si Kunéng, anak lelaki mereka yang baru berumur lima tahun. Yang membangunkan Ningsih bukan mimpi buruk, melainkan sebuah salam. Seseorang di luar mengucapkan assalamualaikum, berulang-ulang, lalu suara itu lenyap ditelan gelap.
Adegan itu membuka cerpen berbahasa Sunda berjudul “Assalamualaikum…” karya Yus R. Ismail, yang terbit di harian Pikiran Rakyat Bandung pada 5 Agustus 2023 dan dibubuhi keterangan tempat serta tanggal penulisan: Rancakalong, 14 Februari 2023. Cerpen itu diterjemahkan ke bahasa Inggris sekaligus dibedah C.W. Watson dari University of Kent, Inggris, lewat artikel A translation of and commentary on Yus R. Ismail’s short story “Assalamualaikum…”, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 2 pada 2025. Watson adalah guru besar emeritus antropologi sosial di kampus itu, pernah mengajar antropologi dan filsafat di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB pada 2009–2019, dan sudah lama menerjemahkan sastra Sunda ke bahasa Inggris.
Salam yang Tidak Ada Pemiliknya
Watson menaruh terjemahannya berdampingan dengan teks Sunda aslinya, kalimat demi kalimat, sehingga pembaca bisa menimbang sendiri jarak antara dua bahasa itu. Alur ceritanya sederhana. Ningsih turun dari ranjang, berjalan ke ruang depan, dan menyibak hordeng pelan-pelan. Di luar tidak ada siapa-siapa: hanya kegelapan pekat dan lingkaran cahaya lampu teras. Pohon buah di halaman berdiri menjulang, dalam terjemahan Watson dibandingkan dengan wujud gaib guriang dalam legenda Tangkuban Parahu.
Baca juga: Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Dari titik itu cerpen berbelok ke ingatan. Ningsih teringat dongeng ibunya dulu: jangan heran kalau tengah malam terdengar orang mengucap salam, sebab itu mungkin pertanda akan ada yang datang membutuhkan perlengkapan mayit. Ibunya bercerita, suatu malam ia pun mendengar salam, mengintip dari balik hordeng, dan tidak menemukan siapa pun — kecuali, di kejauhan, seperti ada lima orang berjalan beriringan. Siangnya terjadi kecelakaan angkutan desa dan lima orang tidak sempat keluar. Ketika keluarga korban datang membeli perlengkapan mayit, persediaan di rumah itu tinggal tiga set, sehingga sebagian keluarga terpaksa mencari sampai ke kota.
Dari peristiwa itulah lahir amanat yang membentuk hidup Ningsih. “Jadi kalau kita menyediakan kain kafan, jangan pernah berhenti, Nyi. Kalau bisa, sediakan setidaknya sepuluh set,” kata ibunya sambil menyisir rambut Ningsih dengan sisir rapat — kalimat yang dalam versi Inggris Watson berbunyi lain karena diterjemahkan. Ibunya menambahkan bahwa untung sedikit atau menjual dengan harga pokok pun tidak apa-apa, sebab niatnya amal jariah. Ningsih meneruskan usaha itu: sepuluh set disimpan di lemari khusus, tanpa papan nama, tanpa spanduk, tanpa harga yang dipatok. Kalau yang berduka tidak mampu, sisa cicilan sering dilunaskannya sendiri. Seluruh kampung sudah tahu.
Ketukan Kedua dan Sosok di Bawah Pohon Asam
Salam itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan bersengau. Ningsih mengintip ke teras: kosong. Namun ketika pandangannya melayang ke kejauhan, di bawah pohon asam di pinggir jalan, ada sesuatu yang berdiri tegak tanpa bergerak. Bulu tengkuknya berdiri. Di kejauhan seekor anjing melolong. Ia hendak berteriak memanggil suaminya, tetapi yang keluar hanya bisikan.
Kang Acéng bangun, ikut mengintip, tidak melihat apa pun, lalu kembali ke kamar dengan kesimpulan yang sudah ia siapkan sejak awal: istrinya hanya berimajinasi. Ningsih memilih salat. Justru ketika ia khusyuk berdoa, terutama mendoakan kedua orang tuanya yang sudah meninggal, salam itu terdengar sekali lagi — kini disertai ketukan. Di teras berdiri dua orang. Salah satunya Mang Karta, kerabat jauh yang tidak tinggal di kampung itu.
Yang mereka minta bukan hal gaib. Mereka datang membeli perlengkapan mayit untuk Ibu Hajah Ageung, orang terkaya di Pasir Muncang, yang baru sehari pulang setelah sebulan dirawat di rumah sakit di Bandung lalu di Jakarta. Ada satu permintaan tambahan yang membuat Ningsih mengernyit: almarhumah berwasiat ingin dimandikan oleh Ningsih sendiri, bukan oleh keluarganya atau ahli memandikan jenazah yang jumlahnya banyak di sana.
Dendam Lama yang Padam di Depan Jenazah
Baru di paruh kedua cerpen pembaca tahu mengapa permintaan itu berat. Ningsih tidak melanjutkan sekolah setelah tamat SMP karena biaya dan karena adik-adiknya juga butuh sekolah. Ia ikut ibunya bekerja di rumah Hajah Ageung; ayahnya bahkan pernah mengurus sawah perempuan itu. Suatu hari, saat tandur di Sawah Léga bersama belasan orang, terdengar bentakan. Hajah Ageung memarahi ayah Ningsih karena tandur dimulai dari petak kecil di pojok yang menurutnya disiapkan untuk ketan. Yang tertinggal di ingatan Ningsih bukan soal petaknya, melainkan kata-katanya: goblog, bodo, balangsak, kokoro. Soal Ningsih yang tidak melanjutkan sekolah pun ikut disebut-sebut, lengkap dengan tuduhan bahwa itu keturunan.
Rasa sakit itu tidak hilang bahkan setelah kedua orang tuanya meninggal dan Ningsih berumah tangga. Maka ketika ia berangkat ke Pasir Muncang, sempat terlintas niat untuk tidak memandikan jenazah itu dengan sempurna — membiarkan kotoran yang belum keluar, atau menyingkap sedikit bagian yang seharusnya tertutup agar dilihat orang banyak. Niat itu padam saat ia melihat sesuatu meleleh dari sudut mata jenazah, terus dan terus, dan jelas bukan air. Ningsih beristigfar, memandikan jenazah itu dengan sungguh-sungguh, dan memilih tidak mencari tahu apa arti cairan itu, sebab pengetahuan manusia sedikit, apalagi menyangkut perkara gaib.
Baca juga: Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Menurut Watson, di situlah cerpen ini bekerja. “Bagi pembaca Sunda, cerita yang tampak sederhana ini memperoleh daya pikatnya dari cara dua peristiwa utama dalam alurnya — salam misterius di tengah malam dan permintaan untuk memandikan jenazah — ditanam secara strategis, nyaris tanpa terasa, di dalam konteks kehidupan sehari-hari orang kampung Sunda yang dianggap sudah semestinya,” tulis Watson dalam artikel itu, yang aslinya berbahasa Inggris. Anak lima tahun di tengah kasur, suami yang malas bangun, permintaan diantar ke jamban karena takut: semuanya lewat begitu saja, tetapi justru itu yang membuat pembaca percaya.
Dari Dogdog Pangrewong sampai Manglé
Sebelum masuk ke cerpennya, Watson memberi latar panjang tentang cerpen Sunda. Kumpulan cerpen Sunda pertama, Dogdog pangrewong karya G.S., diterbitkan Balai Pustaka pada 1930 — enam tahun lebih awal daripada kumpulan sejenis dalam bahasa Indonesia, fakta yang menurut Watson kerap dicatat dengan senang hati oleh para sarjana Sunda. Ajip Rosidi, yang dikutip Watson, menjelaskan cerpen cepat populer pada 1930-an karena sebagai genre dari tradisi Barat ia tidak bersaing dengan sastra Sunda tradisional, dan bentuk anekdot jenaka di dalamnya sejenis dengan tradisi lisan seperti cerita Si Kabayan.
Kumpulan kedua baru muncul tiga puluh tahun kemudian. Watson menyebut alasannya bersifat sosiologis: sejak 1942 dan makin kuat setelah 1945 ada dorongan menyebarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, sehingga bahasa daerah turun peringkat, dan penulis seperti Utuy Sontani serta Rusman Sutiasumarga beralih menulis dalam bahasa Indonesia karena pasarnya lebih menjanjikan. Titik balik datang lewat majalah Manglé, yang terbit di Bogor pada 1957 sebagai bulanan lalu menjadi mingguan pada 1965. Watson menulis oplahnya pernah mencapai 60.000 — dengan catatan “tampaknya” — dan kini tinggal sekitar 5.000.
Keadaan mutakhir, tulis Watson, memburuk dibanding gambaran yang ia buat pada 2019: jurnal penting berhenti terbit, koran lokal mengurangi halaman berbahasa Sunda, dan penerbit menyubsidi buku sastra dengan buku pelajaran sekolah. Ia menduga hiburan daring dan ponsel pintar ikut menggerus jumlah pembaca. Namun ia tidak menutup catatannya dengan nada muram. Saat menulis artikel itu, ia baru membaca surat pembaca di Manglé edisi 2972 (21–27 Maret 2024) dari seorang perempuan yang mengaku membaca majalah itu sejak 1980-an dan mengusulkan agar dibuat antologi cerpen baru. Ia juga mencatat proyek digitalisasi SundaDigi, kerja sama Universitas Padjadjaran dan penerbit Pustaka Jaya, yang membuka akses ke seluruh nomor lama Manglé dan buku-buku Sunda yang sulit dicari.
Suara Siapa yang Sedang Bercerita
Bagian paling teknis dari telaah Watson menyangkut sesuatu yang tidak kelihatan di permukaan: siapa yang sebenarnya bercerita. Dalam banyak cerpen Sunda, kata dia, batas antara narator orang pertama dan orang ketiga sengaja dikaburkan. Dua ciri bahasa memungkinkan hal itu. Pertama, kata kerja Sunda — juga Melayu dan Indonesia — tidak berubah menurut kala, sehingga penanda waktu bergantung pada keterangan; ketika penanda itu tidak ada, pembaca menyimpulkan sendiri dari konteks. Kedua, ada kebiasaan sosial menyebut diri sendiri dengan nama, bukan dengan kata ganti orang pertama, terutama pada anak-anak dan perempuan.
Watson mencontohkannya dengan kalimat Kitu tadi téh. Kata tadi menunjukkan waktu, sementara partikel penekan téh membuat kalimat itu terasa seperti sapaan langsung kepada pembaca. Akibatnya, kalimat berikutnya yang menyebut nama Ningsih bisa dibaca seolah Ningsih sendiri yang berkata, “Aku terlonjak waktu mendengarnya.” Jarak antara pembaca dan tokoh menipis. Bagi pembaca Sunda sendiri, kata Watson, tidak ada kesadaran soal pembedaan orang pertama dan orang ketiga itu; teks dibaca apa adanya dan ambiguitasnya langsung diserap sebagai perasaan. Ia menyarankan pembaca yang ingin melihat gejala ini lebih jauh memeriksa semua kalimat yang memuat kata inget.
Yang Tidak Ikut Terbawa oleh Terjemahan
Watson tidak menyusun bagian keterbatasan penelitian secara terpisah, tetapi ia dua kali mengakui batas kerjanya sendiri. Sejak abstraknya ia menegaskan terjemahan Inggris tidak bisa memenuhi keadilan terhadap ambiguitas suara narator dalam cerpen itu. Ia juga mengakui melewatkan makna judulnya, dan baru terbantu oleh penelaah anonim naskahnya. “Saya menafsirkan judulnya sebagai rujukan kepada wasiat Hajah Ageung. Wasiat itu adalah caranya mengucapkan assalamualaikum kepada Ningsih, sebagai cara menciptakan semacam penutup bagi peristiwa masa lalu yang belum selesai,” tulis penelaah itu sebagaimana dikutip Watson — kutipan yang aslinya berbahasa Inggris. Watson menyebut tafsir itu tepat dan mengaku sebelumnya memahami assalamualaikum sekadar sebagai sapaan.
Baca juga: Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Perlu dicatat pula bahwa telaah ini berdiri di atas satu cerpen dari satu pengarang, bukan survei atas sastra Sunda mutakhir, dan sebagian keterangan pasarnya — termasuk angka oplah Manglé — disampaikan sebagai perkiraan. Yus R. Ismail sendiri, menurut keterangan biografis dalam artikel itu, adalah nama pena. Ia lahir pada 1970 di Sumedang, Jawa Barat, dan masih tinggal di sana; karyanya dalam bahasa Indonesia dan Sunda tersebar di banyak koran dan majalah, ia pernah bekerja sebagai wartawan, kini menulis penuh waktu, dan beternak ayam sebagai hobi. Sejumlah cerpennya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, termasuk empat cerpen dalam kumpulan In the small hours of the night terbitan 2019.
Bagi pembaca non-Sunda, kata Watson, cerpen semacam ini adalah pintu masuk. “Bagi pembaca non-Sunda, ‘Assalamualaikum…’ adalah contoh menonjol penceritaan Sunda yang, lewat detail etnografis dan teknik sastranya, memberi seseorang jalan masuk ke cara berpikir Sunda, sebuah ‘struktur perasaan’, yang selain lewat itu hampir mustahil ditangkap oleh orang luar,” tulis Watson dalam artikel berbahasa Inggris itu. Antropologi sosial, tambahnya, hanya bisa mengantar sampai batas tertentu; sisanya menuntut pemahaman yang akrab atas bahasanya sendiri.
















