Lagu Padha Nonton Gandrung Hidup Kembali di Kolom Komentar

Ilustrasi penari berkostum tradisional bermahkota bunga di panggung terbuka malam hari

Ilustrasi penari Gandrung di panggung malam. Lagu Padha nonton hidup kembali lewat kolom komentar YouTube. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Di kolom komentar sebuah rekaman tarian Gandrung, seseorang menuliskan penanda waktu: menit 18 sampai menit 20 adalah bagian kesukaannya. Di rekaman lain, seorang ayah menulis syukur karena anaknya ikut memeriahkan pergelaran itu, dan ia menontonnya dari Kota Pasuruan. Seorang lagi mengaku lahir di Lampung, tetapi ibu leluhurnya orang Banyuwangi. Ketiganya sedang menonton benda yang sama: sebuah lagu pembuka tarian yang usianya jauh lebih tua daripada platform tempat mereka menuliskan komentar itu.

Lagu itu berjudul “Padha nonton”, nyanyian pengiring yang wajib dibawakan pada bagian jejer atau pembuka setiap pergelaran Gandrung resmi. Gandrung sendiri adalah tari rakyat dari Banyuwangi, Jawa Timur, yang menandai rasa cinta dan syukur atas panen. Lirik lagunya memakai bahasa Osing, bahasa masyarakat asli Banyuwangi, dan menjadi salah satu penanda identitas mereka.

Perpindahan lagu itu dari halaman desa ke layar telepon genggam ditelaah Intan Mustika Sari, pengajar pada program sarjana bahasa Inggris terapan untuk komunikasi bisnis dan profesional di Universitas Sebelas Maret, lewat artikel Staging the commons through the “Padha nonton” song; YouTube, community engagement, and Gandrung cultural practice, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 1 pada 2026. Ia membacanya sebagai cultural commoning, yaitu keadaan ketika sebuah warisan budaya diperlakukan sebagai milik bersama yang terus dirawat, ditafsir, dan diwariskan banyak orang sekaligus, bukan koleksi yang dikunci oleh satu lembaga atau satu pemilik hak.

Ajakan yang Diulang Setiap Kali Video Dibagikan

Menurut Intan, ajakan itu sudah terkandung dalam judulnya. “Padha nonton” berarti mari menonton bersama-sama, dan kata padha tidak menunjuk satu orang, melainkan orang banyak yang dikumpulkan menjadi satu subjek. Kalimat itu bukan keterangan tentang apa yang sedang dilakukan penonton, melainkan perintah halus yang memanggil sebuah komunitas untuk terbentuk. Dalam pergelaran asli, panggilan itu ditujukan kepada warga Osing yang hadir secara fisik di upacara desa atau festival. Di platform video, panggilan yang sama diulang setiap kali rekamannya dibagikan, dikomentari, atau ditunjukkan kepada orang lain.

Lirik lagunya juga mengandung penunjuk tempat yang mengikat pendengar pada satu lanskap. Pada bait ke-26 sampai ke-28 muncul permintaan agar Mbah Teji kembali, dengan si penyanyi menunggu di paseban, tanah lapang tempat orang berkumpul, sambil menahan sedih. Bagi Intan, penunjuk ruang semacam ini tidak sekadar menyebut lokasi; penonton di Jakarta atau Lampung yang menyimaknya lewat layar dibawa masuk ke ruang bayangan yang sama, yang ditandai tanah, leluhur, dan ingatan Osing.

Lapisan berikutnya berupa makna yang tidak dinyatakan langsung. Pada bait ke-13 dan ke-14, lirik berisi perintah bertani: cangkullah gumuk, tanamlah kacang lanjaran. Sekilas ini petunjuk teknis, tetapi peneliti membacanya sebagai kiasan pengelolaan bersama atas tanah, budaya, dan tradisi, sejalan dengan etika gotong royong yang menopang hidup masyarakat Osing. Kiasan lain muncul pada bait ke-8 sampai ke-11 lewat bunga melati, benda halus yang harus dirawat supaya tidak layu, yang dibaca sebagai sikap merawat hal-hal dan hubungan yang rapuh. Cara mewariskan nilai lewat lagu seperti ini punya sepupu di banyak daerah, seperti dendang yang diwariskan kepada generasi muda di ranah Minang.

Terakhir, ada tata krama. Bait ke-21 dan ke-22 menyebut barisan di Temenggungan dan payung agung yang menaungi, dua tanda kekuasaan dan perlindungan dalam susunan sosial lama. Yang menarik, menurut Intan, tata krama itu ikut berpindah ke kolom komentar. Sapaan hormat seperti mbok, partikel santun nggih, dan ajakan monggo bermunculan di percakapan daring, memindahkan cara orang Osing berbicara di depan orang lain ke ruang yang tidak pernah dirancang untuk itu.

Tiga Hal yang Terjadi Ketika Tarian Pindah ke Layar

Intan memerinci tiga proses yang menurutnya berlangsung sekaligus. Pertama, pemindahan wadah. Pergelaran yang semula terikat tempat, waktu, dan tubuh berubah menjadi berkas yang bisa dijeda, diputar ulang, diperlambat, dan ditonton kapan saja. Salah satu contoh yang ia telusuri adalah rekaman “Padha nonton” dari 27 Juni 1991 yang dirilis label Smithsonian Folkways dalam seri Music of Indonesia dan diunggah ke platform video pada 2015. Rekaman ritual berubah menjadi objek audiovisual yang dilengkapi tautan rekomendasi, utas komentar, dan penanda waktu.

Kedua, pengalaman ulang. Penonton tidak diam. Salah satu komentar yang dikutip peneliti berbunyi “Kari apik yuh”, yang kira-kira berarti bagaimanapun juga tariannya bagus — bukan sekadar tepuk tangan, melainkan pembacaan lewat ingatan pribadi. Komentar lain, “Kami peserta dari Jakarta sangat senang dan terharu”, memperlihatkan orang yang tinggal jauh dari Banyuwangi menyambungkan diri kembali dengan warisan yang tidak bisa mereka datangi setiap saat.

Ketiga, dan menurut Intan yang paling mengubah keadaan, penafsiran ulang. Sebuah komentar berbahasa Osing yang mengajak orang lain mengeklik tautan di bawah mengubah kolom komentar menjadi alat kurasi, mengantar penonton baru dari satu video ke video berikutnya. Komentar berbahasa Indonesia seperti “Lanjutt pecinta seni budaya Nusantara” menarik lagu daerah itu masuk ke bayangan kebudayaan nasional yang jauh lebih luas daripada desa asalnya. Sementara komentar bertanda waktu, seperti yang menyebut menit ke-18 sampai ke-20, berfungsi sebagai jangkar bagi penonton yang belum pernah menyaksikan upacaranya secara langsung. Pergeseran panggung serupa juga sudah lama dialami seni tari daerah lain yang kini berpindah dari panggung adat ke layar digital.

Kolom Komentar sebagai Kamus Tak Resmi

Yang paling banyak ditelaah Intan adalah bagaimana penonton saling mengoreksi dan saling mengajari. Sebuah komentar menyebut gerakan penarinya lincah, lemas, dan sulit, khas orang Banyuwangi asli. Kalimat itu, menurut dia, bukan pujian biasa melainkan semacam sertifikasi budaya: penulisnya memakai patokan setempat tentang gerakan yang benar dan menempatkan diri sebagai orang dalam yang berhak menilai. Komentar lain, “Asikmen gandrunge mbok”, memakai kata Osing asikmen yang berfungsi menaikkan luapan rasa, bukan sekadar menyatakan suka, dan sapaan mbok yang menandai kedekatan sekaligus hormat.

Di ruang yang sama, dua bahasa hidup berdampingan dengan tugas berbeda. Komentar berbahasa Osing menandakan keberakaran, pengetahuan orang dalam, dan keterikatan perasaan. Komentar berbahasa Indonesia menariknya ke jaringan yang lebih besar, dengan kata lanjut yang berfungsi sebagai ajakan agar isi semacam itu terus dibuat. Dalam kolom komentar, penonton juga menjelaskan konteks upacara di balik gerak tertentu, arti lambang pada busana, serta kaitan tarian dengan siklus panen; bunga pada mahkota penari dibaca sebagai lambang keindahan, sedangkan dedaunan dibaca sebagai kesuburan dan berkah. Pengajaran seni tradisi lewat kelompok belajar juga masih berjalan di luar jaringan, seperti ketika seni tutur dan gerak diajarkan langsung kepada mahasiswa lintas daerah.

Percakapan itu tidak berhenti di satu platform. Intan mencatat forum Facebook bernama Lagu Gandrung Banyuwangi dengan sekitar 7.800 anggota yang rutin memutar video musik Gandrung, dan sebuah halaman publik Gandrung Banyuwangi dengan lebih dari 190 ribu pengikut yang menyebarkan cuplikan pergelaran beserta pengumuman acara. Ada pula video yang mendokumentasikan buruh migran Indonesia di Hong Kong menampilkan dan mengolah kembali tari Gandrung untuk acara komunitas mereka sendiri. Perayaan yang dikelola warga semacam ini juga menjadi cara daerah lain merawat warisan budayanya.

Warisan Bersama yang Menumpang di Lapak Orang Lain

Bagian paling kritis dari kajian ini justru menyangkut platformnya. Intan menegaskan platform video itu bukan wadah netral, melainkan lahan usaha yang bekerja dengan iklan, pengumpulan data, dan dorongan algoritma pada isi yang paling lama ditonton. Setiap komentar berbahasa Osing yang penuh rasa bangga sekaligus menjadi data perilaku yang menghidupi mesin rekomendasi. Akibatnya, rekaman upacara Gandrung buatan warga — yang tanpa dukungan lembaga, tanpa penyuntingan kata kunci, dan tanpa dana promosi — harus bersaing dengan hiburan komersial yang memang dirancang untuk memenangi angka-angka itu. Ia bahkan menunjuk contoh dari kajiannya sendiri: peredaran luas rekaman Smithsonian Folkways sebagian berkat kekuatan kelembagaan labelnya, bukan semata karena permintaan organik dari masyarakat Osing.

Kerapuhan itu terbaca telanjang pada satu permintaan yang ia kutip: ada pengunggah yang meminta dukungan untuk kanalnya supaya seni dan budaya terselamatkan sampai generasi berikutnya, sambil menawarkan pilihan menyawer atau mentraktir kopi seikhlasnya. Padahal pekerjaannya nyata — merekam, menyunting, mengunggah, memberi konteks, dan merawat arsip pergelaran Osing — sementara platform yang mengedarkannya nyaris tidak memberi imbalan apa pun kepadanya. Masalah lain adalah umur tayang yang pendek: isi di platform itu berputar dalam daur viral dan usang yang ditentukan kecepatan interaksi, bukan ketahanan budaya. Intan menyebut kata viral dan trending yang sengaja dipasang pada judul video justru menunjukkan bahwa para pengunggah sadar aturan main itu dan menyesuaikan diri dengannya.

“Commoning budaya yang terlihat di sekitar Padha nonton pada YouTube pada dasarnya rapuh”, tulis Intan, karena kebersamaan itu berjalan lewat, tetapi tidak ditopang oleh, sebuah platform komersial. Sekalipun begitu, ia menolak menganggap pekerjaan penonton sia-sia. Komentar, penerusan tautan, sumbangan kecil, dan penafsiran bersama itu, menurut dia, tetap merupakan bentuk penjagaan yang nyata dan berakibat.

Bahan yang Dipakai dan yang Belum Ditelusuri

Kesimpulan itu ditarik dari bahan yang cakupannya terbatas dan sebaiknya dibaca sebagai studi satu kasus. Intan mengumpulkan 514 komentar secara manual dari antarmuka platform tersebut, ditambah lirik lagu yang dihimpun dari rekaman, laman berita daring, dan situs pemerintah, dalam rentang 2 November 2024 sampai 5 Juni 2025. Komentar dipilih dengan sengaja, bukan diacak, dengan menyisihkan kiriman promosi dan yang tidak berkaitan, dan seluruh nama pengguna dihapus demi menjaga privasi. Ia tidak memakai alat analisis otomatis, dan ia juga tidak mewawancarai penari, penabuh, maupun pengunggah videonya; yang ia baca adalah jejak percakapan mereka. Karena itu, temuan ini menggambarkan apa yang terjadi di sekitar satu lagu dan satu tradisi pergelaran, bukan potret utuh masyarakat Osing.

Intan sendiri menyebut arah lanjutannya. Ia menganjurkan penelitian berikutnya melampaui satu pergelaran, membandingkannya dengan seni tradisi Indonesia lain di platform berbeda seperti TikTok dan Instagram Reels, serta menelaah unsur gerak, lambang visual, dan bunyi yang belum sempat ia bedah. “Kajian ini menempatkan media digital sebagai ruang yang dinamis dan diperebutkan, tempat makna budaya terus-menerus dibuat ulang lewat partisipasi bersama”, tulisnya dalam abstrak artikel tersebut. Sementara itu, Gandrung Sewu, pergelaran massal tahunan di pesisir Banyuwangi yang juga memakai perbendaharaan lagu yang sama, tetap berlangsung dalam dua bentuk sekaligus: tontonan langsung di ruang publik pantai, dan siaran yang diarsipkan di kanal resmi pemerintah kabupaten tempat komentar dari Jakarta, Pasuruan, dan Lampung itu ditinggalkan.

Baca Juga

ZZ Top bersama Frank Beard
Frank Beard, Penabuh Drum ZZ Top, Meninggal di Usia 77
Keyveatz dalam pertunjukan media EP OXY_GEN
Keyveatz Bicara Konsep Messy Girls dan EP OXY_GEN
BIGBANG dalam foto promosi single BiiiG
BIGBANG Rilis Single BiiiG di Ulang Tahun Ke-20
Iis Dahlia di panggung acara musik
Iis Dahlia Bagikan Potret Panggung dan Pesan Kebahagiaan
JRX bersama personel Superman Is Dead
JRX Tandai 31 Tahun Superman Is Dead lewat Unggahan
Ilustrasi kamera di atas tripod menghadap rumah kayu di kampung pada sore hari
Guru SMP di Pati Menggarap 100 Episode Film Pendek dari Desa