Hari Lansia India: Perempuan di Rumah, Laki-laki Mencari Upah

A A

Lelaki lansia berpakaian putih duduk di beranda rumah desa di Chandesh, India [Foto: Raidurgesh/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Perempuan lansia menghabiskan 188 menit sehari untuk pekerjaan rumah tangga, hampir lima kali 39 menit milik laki-laki.
  • Di sisi lain, laki-laki lansia menghabiskan 171 menit sehari untuk kerja berupah, empat kali lipat 42 menit milik perempuan.
  • Selisih terbesar ada di waktu luang pasif, 212 menit di kota dan 152 menit di desa.
  • Tabel rata-rata menunjukkan kerja tak berupah lansia desa 55 menit sehari, sementara lansia kota hanya 12 menit.
Daftar Isi
  1. Perempuan lansia: menit yang tertahan di dalam rumah
  2. Laki-laki lansia: menit yang dibawa ke luar rumah
  3. Lansia desa: bangun lebih pagi, bekerja lebih lama
  4. Lansia kota: sore yang lebih longgar
  5. Yang tertulis di dalam tabel
  6. Yang tidak tertulis di dalam tabel

Dinding rumah dari bata dan menit yang dihabiskan seorang lansia untuk bersantai tampak tidak punya urusan satu sama lain. Di India, keduanya ternyata bergerak bersama. Lansia yang tinggal di rumah pucca, berdinding dan beratap bata, semen, atau beton, mencatat sekitar 36 menit waktu luang lebih banyak per hari, setelah faktor lain ikut diperhitungkan, dibanding lansia di rumah kutcha yang dibangun dari lumpur, jerami, atau bata tak dibakar.

Temuan itu tercatat dalam Time use patterns and activity sequences among older adults in India: socio-demographic correlates from time use survey karya Robin Raj dan Dipti Govil, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1514 tahun 2026. Robin Raj bekerja di Shailesh J. Mehta School of Management, Indian Institute of Technology Bombay, sedangkan Dipti Govil di Department of Family and Generations, International Institute for Population Sciences, Mumbai. Keduanya membaca catatan harian 52.414 orang berusia 60 tahun ke atas dari Time Use Survey 2019 milik National Statistical Office India.

Gambaran umumnya tidak rumit. Menurut Raj dan Govil, hari lansia India didominasi empat kegiatan, yaitu tidur sekitar 10 jam, merawat diri 3 jam 11 menit, partisipasi sosial 3 jam 10 menit, dan waktu luang pasif 2 jam 55 menit. Semua lansia tercatat merawat diri, 96 persen ikut kegiatan sosial, dan 87 persen mengisi waktu dengan membaca, menonton televisi, mendengar radio, atau beristirahat.

Urutan harinya juga terbaca dari survei itu. Sebagian besar lansia, 92 persen menurut naskah, memulai hari pukul 08.00 dan tidur sekitar pukul 22.30. Kerja berupah paling ramai sekitar pukul 10.30, siang hari lebih banyak diisi waktu luang pasif, dan kegiatan sosial memuncak antara pukul 18.30 dan 20.00, ketika proporsi lansia yang bersosialisasi mencapai titik tertingginya.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Para penulis membagi kegiatan ke dalam tiga kotak. Kotak subsisten berisi kerja berupah, kotak pemeliharaan berisi tidur, merawat diri, pekerjaan rumah, mengasuh, dan kerja tak berupah, sedangkan kotak waktu luang berisi partisipasi sosial serta waktu luang aktif dan pasif. Dari tiga kotak itulah perbandingan dibuat, dan dua pasangan yang paling tajam adalah perempuan dengan laki-laki serta desa dengan kota.

Umur menggeser semua kotak itu secara bertahap. Kerja berupah turun dari 148 menit sehari pada kelompok 60–64 tahun menjadi 20 menit pada usia 80 tahun ke atas, sementara waktu luang naik dari 338 menjadi 459 menit. Tidur ikut memanjang dari 571 menit menjadi 686 menit, dan waktu luang pasif dari 152 menit menjadi 235 menit sehari.

Makin tua, makin panjang waktu luang60-64 tahun: Waktu luang +338, Kerja berupah +148; 65-69 tahun: Waktu luang +371, Kerja berupah +114; 70-74 tahun: Waktu luang +411, Kerja berupah +76; 75-79 tahun: Waktu luang +441, Kerja berupah +48; 80 tahun ke atas: Waktu luang +459, Kerja berupah +20.Makin tua, makin panjang waktu luangRata-rata menit per hari menurut kelompok umurWaktu luangKerja berupah100200300400500060-64 tahun33814865-69 tahun37111470-74 tahun4117675-79 tahun4414880 tahun ke atas45920Waktu luang: partisipasi sosial, luang aktif, dan luang pasif.
Sumber: Robin Raj dan Dipti Govil, Time use patterns and activity sequences among older adults in India: socio-demographic correlates from time use survey, BMC Public Health, 26(1514), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada kelompok tertua, menurut para penulis, hari terutama diisi tidur dan waktu luang pasif. Dari pola itu Raj dan Govil menarik kesimpulan yang cukup berani. “Karena itu, dapat dikatakan bahwa lansia di India sedang bergerak menuju konsep penuaan aktif,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris. Kesimpulan itu bersandar pada riset lain yang mereka rujuk, bukan pada ukuran kesehatan dalam survei ini.

Perempuan lansia: menit yang tertahan di dalam rumah

Perempuan lansia menghabiskan 188 menit sehari untuk pekerjaan rumah tangga, hampir lima kali 39 menit milik laki-laki. Pekerjaan rumah dalam survei ini mencakup mengurus dan menyiapkan makanan, membersihkan rumah dan sekitarnya, merawat pakaian dan alas kaki, sampai mengurus hewan peliharaan. Mereka juga tidur lebih lama, 612 menit berbanding 587 menit, dan mengasuh orang lain 21 menit, dua kali lipat laki-laki.

Jika dijumlah, waktu pemeliharaan perempuan mencapai 1.033 menit sehari, sedangkan laki-laki 881 menit. Setelah umur, tempat tinggal, pendidikan, pengeluaran, dan susunan rumah tangga ikut diperhitungkan, perempuan tetap mencatat 132,42 menit lebih banyak di kotak pemeliharaan. Mereka juga mencatat 33,57 menit lebih sedikit di waktu luang dan 98,84 menit lebih sedikit di kerja berupah.

Sehari lansia India: laki-laki dan perempuanSehari lansia India: laki-laki dan perempuanSehari lansia India: laki-laki dan perempuanRata-rata menit per hari, orang berusia 60 tahun ke atasLaki-lakiPerempuan17142Kerja berupah39188Pekerjaan rumah587612Tidur1021Mengasuh orang196185Partisipasi sosial176Luang aktif176174Luang pasifData Time Use Survey 2019 India, 52.414 lansia. Hanya kegiatan utamaper slot waktu.
Sumber: Robin Raj dan Dipti Govil, Time use patterns and activity sequences among older adults in India: socio-demographic correlates from time use survey, BMC Public Health, 26(1514), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari grafik urutan hari, para penulis melihat proporsi perempuan lebih besar di pekerjaan rumah, waktu luang pasif, dan kegiatan mengasuh, yang semuanya berlangsung di dalam rumah. Waktu luang pasif mereka 174 menit, nyaris sama dengan laki-laki. Namun, waktu luang aktif seperti hobi, permainan, olahraga, dan latihan fisik hanya enam menit sehari.

Susunan rumah tangga ikut menambah beban di kotak ini. Lansia yang tinggal serumah dengan anak di bawah enam tahun mencatat 33,76 menit lebih banyak di pemeliharaan dan 18,36 menit lebih sedikit di waktu luang. Lansia yang tinggal sendiri mengerjakan pekerjaan rumah 200 menit sehari dan hanya punya 316 menit waktu luang, terendah di antara semua susunan tempat tinggal.

Laki-laki lansia: menit yang dibawa ke luar rumah

Di sisi lain, laki-laki lansia menghabiskan 171 menit sehari untuk kerja berupah, empat kali lipat 42 menit milik perempuan. Kerja berupah di sini mencakup bertani, kehutanan, pertambangan, konstruksi, dan jasa. Mereka juga lebih lama di partisipasi sosial, 196 menit berbanding 185 menit, dan di waktu luang aktif, 17 menit berbanding 6 menit sehari.

Para penulis membaca pola itu sebagai pembagian ruang. Laki-laki lebih banyak terlibat dalam kegiatan yang biasanya dijalankan di luar rumah, seperti bekerja mencari upah dan bersosialisasi. Perempuan lebih banyak berada di kegiatan yang terbatas di dalam rumah. Raj dan Govil menduga penyebabnya peran gender tradisional dan harapan masyarakat, sesuatu yang tidak diukur langsung oleh survei.

“Norma budaya patriarkal dapat membebankan tanggung jawab domestik kepada perempuan, sementara masyarakat bisa jadi mendorong laki-laki untuk ikut serta dalam kegiatan di luar rumah,” tulis Robin Raj dan Dipti Govil dalam naskah berbahasa Inggris. Kata dapat dan bisa jadi di kalimat itu penting. Data survei hanya mencatat apa yang dilakukan seseorang, bukan alasan di baliknya.

Baca juga Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia

Posisi dalam rumah tangga juga menggeser menit laki-laki dan perempuan. Sebanyak 60,2 persen lansia dalam sampel adalah kepala rumah tangga. Dibanding mereka, lansia yang bukan kepala rumah tangga mencatat 48,81 menit lebih sedikit di kerja berupah, tetapi 33,79 menit lebih banyak di pemeliharaan dan 15,02 menit lebih banyak di waktu luang.

Lansia desa: bangun lebih pagi, bekerja lebih lama

Pasangan kedua datang dari tempat tinggal. Sebanyak 70,4 persen lansia dalam sampel tercatat tinggal di desa. Menurut grafik urutan hari, lansia desa cenderung bangun lebih pagi dibanding lansia kota, dan sepanjang hari proporsi mereka yang mengerjakan kerja tak berupah lebih tinggi daripada lansia kota.

Tabel rata-rata menunjukkan kerja tak berupah lansia desa 55 menit sehari, sementara lansia kota hanya 12 menit. Kerja tak berupah dalam survei ini berarti memproduksi barang untuk dipakai sendiri dan bekerja sukarela untuk rumah tangga lain atau komunitas. Kerja berupah di desa 115 menit, di kota 98 menit, dan kegiatan sosial di desa 192 menit berbanding 188 menit.

Rumah dan dapur desa ikut menarik menit ke kotak pemeliharaan. Lansia di rumah tangga yang memasak dengan bahan bakar padat seperti kayu, batu bara, atau kotoran sapi mencatat 27,69 menit lebih banyak di pemeliharaan. Lansia di rumah kutcha mengerjakan kerja tak berupah 62 menit sehari, sedangkan lansia di rumah pucca 29 menit.

Namun, Raj dan Govil tidak menutup kemungkinan bahwa sibuknya hari di desa punya sisi lain. “Di sisi lain, sejumlah peneliti berpendapat bahwa lansia yang tinggal di desa punya peluang lebih besar untuk mengalami penuaan aktif,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris. Alasannya, menurut riset yang mereka rujuk, adalah keterlibatan yang lebih besar dalam berbagai kerja, baik berupah maupun tidak.

Lansia kota: sore yang lebih longgar

Pada kasus kedua, lansia kota menghabiskan 417 menit sehari untuk waktu luang, sementara lansia desa 352 menit. Selisih terbesar ada di waktu luang pasif, 212 menit di kota dan 152 menit di desa. Waktu luang aktif pun lebih dari dua kali lipat, 17 menit berbanding 8 menit sehari.

Setelah faktor lain diperhitungkan, lansia kota mencatat 19,14 menit lebih banyak di waktu luang dan 19,87 menit lebih sedikit di pemeliharaan. Untuk kerja berupah, selisihnya hanya 0,73 menit dan tidak bermakna secara statistik. Jadi, yang membedakan kota dan desa dalam data ini bukan lama mencari upah, melainkan waktu yang tersita urusan rumah dan diri sendiri.

“Lansia yang tinggal di perkotaan hidup lebih leluasa dibanding lansia yang tinggal di perdesaan,” tulis Raj dan Govil dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka mengaitkannya dengan peluang ekonomi, akses ke infrastruktur sosial, dan kemajuan teknologi yang lebih baik. Kaitan itu adalah tafsiran para penulis berdasarkan riset lain, bukan sesuatu yang diukur dalam survei 2019.

Tanda keleluasaan yang sama muncul di luar garis kota dan desa. Lansia berpendidikan kelas 12 ke atas mencatat 53,98 menit lebih banyak waktu luang dan 52,86 menit lebih sedikit kerja berupah dibanding yang tidak bersekolah. Lansia dari kelompok pengeluaran 20 persen teratas mencatat 20,16 menit lebih banyak waktu luang dibanding 20 persen terbawah.

Rumah pucca menambah 36,53 menit waktu luang dan mengurangi 23,57 menit pemeliharaan dibanding rumah kutcha. Ukuran rumah tangga bekerja ke arah serupa, karena tiap tambahan satu anggota berkaitan dengan 11,08 menit lebih banyak waktu luang. Lansia Muslim mencatat 31,26 menit lebih banyak waktu luang dibanding lansia Hindu, dengan kegiatan sosial rata-rata 229 menit sehari.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Yang tertulis di dalam tabel

Beberapa bagian naskah tidak saling cocok dan bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Di bawah Tabel 3, penulis menyebut pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan keterlibatan yang meningkat dalam kegiatan pemeliharaan dan waktu luang. Tabel yang sama justru menunjukkan total pemeliharaan turun dari 990 menit pada lansia buta huruf menjadi 938, 909, lalu 897 menit pada lulusan kelas 12 ke atas.

Abstrak dan Tabel 4 juga menyebut waktu pemeliharaan tidak menunjukkan pola pendidikan yang konsisten, dengan selisih kecil yang tidak bermakna. Jadi, kalimat di bawah Tabel 3 itu hanya berlaku untuk waktu luang, yang memang naik dari 354 menit pada lansia buta huruf menjadi 447 menit pada lulusan kelas 12 ke atas.

Tabel 2 menyimpan soal lain. Lansia desa tercatat 32.135 orang dan disebut 70,4 persen, padahal 32.135 dari 52.414 hanya sekitar 61 persen. Lansia kota 20.279 orang tertulis 29,6 persen, padahal hitungan sederhananya mendekati 39 persen. Naskah tidak menjelaskan apakah persentase itu sudah diberi bobot survei atau belum.

Jumlah pengamatan dalam tabel model tertulis 52.398, atau enam belas orang lebih sedikit dari 52.414 lansia yang disebut dianalisis, tanpa keterangan. Pembagian umur juga berganti. Bagian awal naskah memakai kelompok 60–69, 70–79, dan 80 tahun ke atas, sedangkan bagian hasil membaca sebaran 60–64, 65–69, dan 70 tahun ke atas.

Yang tidak tertulis di dalam tabel

Di sisi lain, ada hal yang memang tidak bisa dibaca dari data ini. Survei hanya menghitung kegiatan utama di tiap slot waktu, sehingga kerja rangkap tidak tercatat dan waktu untuk sebagian kegiatan terhitung lebih rendah dari kenyataannya. Kegiatan yang dianggap kurang penting oleh responden dalam satu slot tidak ikut masuk hitungan.

“Karena itu, hasilnya harus ditafsirkan sebagai cerminan alokasi waktu utama, bukan keterlibatan total dalam kegiatan yang berlangsung bersamaan,” tulis Raj dan Govil dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka juga mengakui penelitian ini tidak dapat menetapkan sebab-akibat maupun konsekuensi dari pola waktu lansia karena keterbatasan data penggunaan waktu seluruh India yang pertama ini.

Semua selisih menit juga harus dibaca sebagai perpindahan waktu antarkotak, sebab satu hari selalu berjumlah 1.440 menit. Waktu luang yang bertambah pada lansia berpendidikan tinggi berasal dari kotak lain, dalam hal ini terutama kerja berupah. Tidak ada menit tambahan yang tiba-tiba muncul dalam sehari.

Dari pola itu Raj dan Govil mengajukan beberapa usulan. Untuk perempuan lansia, mereka menyebut tunjangan pengasuhan, layanan komunitas, fasilitas cuci atau masak bersama, dan layanan yang meringankan pekerjaan rumah. Untuk desa, mereka mengusulkan program yang mendorong waktu luang, partisipasi sosial, yoga, dan meditasi. Secara umum, mereka juga menyebut pendidikan orang dewasa dan literasi digital.

Rumah bata dan menit bersantai ternyata memang berjalan beriringan, meski naskah ini tidak bisa mengatakan mana yang menggerakkan yang lain. Di satu sisi ada perempuan lansia dengan 188 menit pekerjaan rumah, di sisi lain laki-laki lansia dengan 171 menit kerja berupah. Raj dan Govil tidak menyebut sisi mana yang menjalani masa tua lebih baik, dan data mereka memang hanya mencatat ke mana menit-menit itu pergi.

Bagikan

Baca Juga

Novel Darman Moenir: Rumah Tangga Retak dari Dalam dan Luar
Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup
Petani Bagua Grande Peru Kira Teduh Sudah Bebas Risiko Matahari
Kecelakaan Motor Mahasiswa Chiang Mai: Tahu Aturan Belum Cukup
Keterampilan Masak Ibu dan Diet Mediterania Anak di Ankara
Hampir Separuh Pemanggang Injera Addis Ababa Sakit Akibat Panas