- Anehnya, hampir tak ada warga yang menyebut berkurangnya timbal sebagai alasannya.
- Kecurigaan baru mereda setelah tokoh yang mereka percaya turun tangan.
- Warga lega karena bau itu hilang setelah tanah diganti.
- Ada jarak antara penurunan paparan yang terukur dan pemahaman warga tentang bahaya timbal.
Daftar Isi
Anak-anak yang tinggal di dekat bekas pabrik aki di Mirzapur, Bangladesh, dinilai orang tuanya lebih sehat setelah tanah halaman mereka dikeruk dan diganti. Anehnya, hampir tak ada warga yang menyebut berkurangnya timbal sebagai alasannya. Mereka bicara soal sayur yang tumbuh lagi, ternak yang pulih, dan bau yang hilang. Timbal, zat yang justru hendak disingkirkan, nyaris tidak disebut dalam cerita mereka.
Kejanggalan itu dicatat Mahbubur Rahman, Syeda Nurunnahar, Jesmin Sultana, Sanjida Adiba, Jenna E. Forsyth, Mitali Das, Gordon K. Binkhorst, Maria Kippler, Rubhana Raqib, Stephen P. Luby, Peter J. Winch, dan Syed Moshfiqur Rahman dalam artikel Community responses to soil remediation for lead exposure reduction in Mirzapur, Bangladesh. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2370 tahun 2026. Para penulisnya bernaung di Uppsala University, icddr,b di Dhaka, Stanford University, Pure Earth, Karolinska Institutet, dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.
Penulis utamanya, Dr. Mahbubur Rahman, adalah lulusan kedokteran yang memimpin Environmental Health and WASH Research Group di icddr,b dan sedang menempuh doktoral di Uppsala University. Naskah ini tidak mengukur timbal di darah. Ia merekam bagaimana 50 warga, tokoh, dan pelaksana menanggapi pemulihan tanah, lewat wawancara pada September 2023, hampir 16 bulan sesudah pekerjaan di lapangan selesai.
Dari aki bekas ke tanah yang diganti
Untuk memahami kejanggalan tadi, rantai pencemarannya perlu diurai lebih dulu. Menurut naskah, becak listrik roda tiga menyerap 60 sampai 65 persen permintaan aki timbal-asam di Bangladesh. Kebutuhan itu memicu tumbuhnya tempat daur ulang aki bekas yang informal, yang melepaskan debu timbal saat aki dipecah, dilebur, dan dicuci dengan tangan. Debu itu kemudian mengendap di tanah permukiman dan sawah.
Skala masalahnya besar. Naskah mengutip catatan Bank Dunia tahun 2022 tentang lebih dari 1.100 lokasi daur ulang informal di Bangladesh, dengan sekitar satu juta orang berisiko keracunan timbal. Di satu lokasi pedesaan, anak yang tinggal dalam radius 200 meter memiliki kadar timbal darah bernilai tengah 19,1 mikrogram per desiliter, lebih dari lima kali nilai rujukan CDC sebesar 3,5.
Timbal bekerja diam-diam, dan naskah menegaskan tidak ada batas paparan yang aman. Pada anak, zat ini merusak perkembangan saraf, dan paparan menahun dikaitkan dengan turunnya IQ, hilang ingatan, keterlambatan perkembangan, serta gangguan ginjal dan jantung. Karena itu tanah tercemar menjadi jalur paparan yang penting, terutama bagi warga yang tinggal dekat tempat daur ulang informal.
Lokasi di Mirzapur adalah bekas tempat pemecahan dan peleburan aki bekas yang beroperasi tiga setengah tahun sebelum tutup pada Februari 2019. Lahan permukiman dan pertanian di sekitarnya tercemar limbah timbal dan plastik bertimbal. Pure Earth Bangladesh menjalankan pemulihan dari Januari sampai Mei 2022, diawasi Department of Environment dan dikerjakan di lapangan oleh Geology Department Dhaka University.
Prinsipnya sederhana: tanah yang tercemar diangkat, lalu tempatnya diisi tanah bersih. Area yang dibersihkan sekitar 4,5 hektare. Sekitar 600 meter kubik tanah kerukan dan serasah diolah dengan kira-kira 8.200 kilogram pupuk Triple Superphosphate, lalu dikubur di dua lubang yang ditutup tanah bersih setebal minimal satu meter. Halaman yang dikeruk kemudian diisi ulang, dan rumah-rumah di sekitarnya ikut dibersihkan.
Sisa limbah aki sekitar 14,4 meter kubik dibuang ke tempat pembuangan akhir kota. Sebelum pengerukan, lokasi dinilai dua kali dan warga diajak berkonsultasi, sedangkan di akhir ada penyuluhan kesehatan. Menurut evaluasi kuantitatif yang dirujuk naskah, kadar timbal darah anak di sana memang turun. Persoalannya, angka itu tidak otomatis menjadi pengetahuan warga, dan di celah itulah naskah ini bekerja.
Kepercayaan yang mengalir lewat tokoh lokal
Mekanisme pertama yang terlihat adalah kecurigaan. Banyak warga mula-mula bingung dan takut, karena beredar rumor bahwa sebuah perusahaan akan mengambil tanah mereka atau membawa kepentingan swasta. Naskah mengaitkan ketakutan itu dengan pengalaman buruk warga sebelumnya bersama kegiatan industri di kawasan tersebut. Kecurigaan baru mereda setelah tokoh yang mereka percaya turun tangan. Seorang pelaksana mengakui, kepercayaan menuntut pendekatan antarpribadi yang terus-menerus, bukan hanya perencanaan teknis.
Seorang informan kunci yang dicatat penulis sebagai KII_03 berkata, “Tanpa chairman dan para pemimpin lokal, tidak ada yang mau setuju. Butuh banyak bujukan.” Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris. Chairman di sini adalah wakil warga yang dipilih, dan keterlibatannya berulang kali disebut sebagai penentu penerimaan. Dengan kata lain, izin sosial untuk mengeruk tanah tidak datang dari dokumen proyek, melainkan dari orang yang sudah dipercaya warga.
Faktor kedua adalah tenaga kerja. Pemuda setempat direkrut lewat agen penyalur untuk mengeruk, mengangkut bahan tercemar, dan mengisi halaman dengan tanah baru. Warga menganggapnya menguntungkan secara ekonomi dan sosial. Pelaksana mencatat sisi lainnya, yakni para pekerja perlu dilatih tiga tahap, mulai dari arahan lisan, keselamatan dan alat pelindung diri, sampai pengoperasian mesin. Pekerja lalu dibagi ke dalam kelompok kecil yang diawasi ketat oleh pelaksana.
Ada efek yang tidak direncanakan dari pemandangan itu. Sarung tangan, masker, rambu keselamatan, dan mesin berat dibaca sebagian warga sebagai tanda bahwa pekerjaan ini serius dan berbahaya. Partisipan yang dicatat sebagai IDI_R5 mengatakan, “Mereka datang dengan sarung tangan dan masker, jadi kami pikir ini pasti sesuatu yang berbahaya.” Aslinya juga berbahasa Inggris. Naskah mencatat perlengkapan itu dibaca warga sebagai penanda keseriusan sekaligus bahaya pekerjaan.
Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang
Informasi yang tidak sampai ke semua pintu
Jalur kepercayaan lewat tokoh bekerja, tetapi jalur informasi resmi tersendat. Pelaksana membagikan selebaran dan memakai pengumuman masjid, namun banyak warga mengaku tidak menerima atau tidak membaca selebaran itu. Sebagian lagi tidak tahu ada seminar warga. Karena kegiatan terpusat di lokasi tercemar, jangkauannya ikut menyempit ke rumah-rumah di sekitar titik kerja. Menurut naskah, penyuluhan terutama menjangkau pemilik lahan dan rumah tangga dalam radius 200 sampai 400 meter.
Seminar yang digelar pun sepi. Beberapa informan menyarankan acara serupa diadakan pada hari libur atau akhir pekan agar lebih banyak yang datang. Seorang informan, yang memperkenalkan diri sebagai ulama dan imam, menolak hadir karena panitia mendatangkan pemain musik yang menurutnya bertentangan dengan keyakinannya. Warga juga meminta penyewa dan pemilik lahan diberi tahu langsung sebelum pekerjaan dimulai.
Masalah logistik menambah rumit. Daerah itu tidak memiliki fasilitas khusus limbah berbahaya, sehingga sisa aki harus diangkut ke fasilitas pengelolaan sampah Kaliakair sejauh 14 kilometer. Lahan untuk lubang kubur, sekitar 500 meter dari lokasi, juga sulit didapat karena pemilik takut tanahnya tercap tercemar dan harganya jatuh. Lahan itu akhirnya diperoleh lewat negosiasi panjang.
Manfaat yang dibaca lewat panen dan ternak
Di sinilah kejanggalan pembuka mulai terjawab. Warga menilai hasil pemulihan dari hal yang bisa mereka lihat sehari-hari. Sebelum pemulihan, daun tanaman berubah warna, bercak cokelat, dan robek, sementara sayur dan buah seolah berhenti tumbuh sejak pabrik berdiri. Sesudahnya, hasil bertani dinilai memuaskan, dan kaum perempuan terutama senang karena buah kembali tumbuh sehat. Mereka mengaitkan perubahan itu dengan halaman yang dibersihkan dan diisi tanah subur.
Seorang partisipan yang dicatat sebagai IDI_R4 menuturkan, “Dulu orang di sini sangat menderita karena sayur tidak bisa tumbuh akibat cemaran dari sishar karkhana (pabrik aki), tetapi sekarang, setelah area itu dibersihkan, sayur tumbuh lagi.” Mayoritas penerima pemulihan juga merasa kesehatan ternak membaik, meski sebagian masih mencatat ada hewan yang mati. Rumput dan semak bertimbal di sekitar desa memang ikut dicabut dari tanah tercemar.
Bau adalah bukti lain yang mudah ditangkap. Sebelum pemulihan, mayoritas partisipan mengeluhkan bau busuk dan bau asam yang terutama menyengat saat musim hujan, sampai ada penyewa yang pindah rumah. Naskah menjelaskan timbal sendiri tidak berbau, tetapi asam kuat dalam daur ulang aki menimbulkan uap berbau tajam. Warga lega karena bau itu hilang setelah tanah diganti.
Kesehatan anak juga disebut membaik oleh mayoritas partisipan, tetapi dalam arti kesehatan umum. Mereka tidak mengaitkannya dengan berkurangnya paparan timbal. Sebagian menyebut kebiasaan baru ikut berperan, seperti memakai alas kaki di luar rumah, mencuci tangan dan kaki, serta makan lebih sehat. Dulu banyak warga desa berjalan tanpa alas kaki di rumah, halaman, dan ladang, sehingga kulit mereka bersentuhan langsung dengan tanah tercemar.
Karena itu, penulis menyimpulkan persepsi risiko warga dibentuk terutama oleh urusan ekonomi dan mata pencarian yang lebih nyata bagi mereka. Ada jarak antara penurunan paparan yang terukur dan pemahaman warga tentang bahaya timbal. “Strategi komunikasi risiko harus menghubungkan ukuran ilmiah paparan dengan hasil yang penting secara lokal,” tulis Dr. Mahbubur Rahman dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Baca juga Lokakarya Limbah Kelapa Koto Baru Terbentur Minat Warga
Keraguan pada kedalaman galian
Manfaat yang terlihat tidak menghapus keraguan. Peserta diskusi kelompok laki-laki menilai tanah tidak dikeruk cukup dalam. Menurut mereka, lapisan atas seharusnya digali sedalam satu kaki, tetapi yang dipotong hanya enam inci, sehingga tanah dianggap belum sepenuhnya bebas timbal. Sebagian warga juga curiga bahan pengisinya pasir, bukan tanah padat. Sebagian lain merasa jumlah tanah pengisi lebih sedikit daripada yang dijanjikan.
Kekhawatiran lain menyangkut rumah. Pengerukan dengan ekskavator dinilai melemahkan ikatan tanah di sekitar bangunan, apalagi banyak rumah satu atau dua lantai di sana tidak berfondasi dalam. Seorang partisipan yang dicatat sebagai IDI_R6 menyebut fondasi rumahnya retak. Seorang informan kunci menambahkan bahwa sebagian tempat di area yang jarang penduduk dilewati. Persoalannya, keluhan semacam ini membentuk penilaian warga terlepas dari benar tidaknya ada kekurangan teknis.
Informan kunci juga menyoroti ketiadaan tindak lanjut, seperti pemantauan lubang kubur, kunjungan ulang, atau tes kadar timbal darah berkala. Pelaksana menyebut ada penyelidikan tanah dan lingkungan pada Juni 2023, kira-kira setahun setelah pemulihan. Namun, naskah mencatat penyelidikan itu sama sekali tidak tercermin dalam cerita para narasumber yang diwawancarai. Menurut informan, tindak lanjut berkala akan memperkuat pemulihan dan mencegah pencemaran ulang.
Temuan ini punya batas yang diakui penulisnya sendiri. Wawancara dilakukan sekitar satu setengah tahun setelah pemulihan, sehingga rawan bias ingatan dan bias keinginan memberi jawaban yang dianggap baik. Tidak ada pula data kualitatif sebelum pemulihan, sehingga persepsi sebelum dan sesudah tidak bisa dibandingkan. Penelitian ini merekam perubahan yang dirasakan, bukan membuktikan sebab-akibat.
Baca juga Semprotan Adas Sowa Tak Menutup Jurang Tanah Lempung dan Gipsum
Catatan pada naskah
Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Abstraknya menyebut pemulihan dilakukan di dua bekas fasilitas daur ulang aki. Bagian lokasi studi justru menyebut satu bekas fasilitas pemecahan dan peleburan aki. Pembaca tidak mendapat penjelasan mana yang dimaksud, satu atau dua lokasi. Keterangan Gambar 1 hanya menyebut lokasi intervensi dan lokasi pembanding tanpa merinci jumlah fasilitasnya.
Bagian hasil menulis bahwa manfaat yang dirasakan warga terlihat pada Gambar 2. Padahal Gambar 2 adalah bagan alur proses pemulihan tanah dan kegiatan evaluasi, bukan ringkasan manfaat. Seorang warga juga diperkenalkan sebagai perempuan yang tinggal dekat pabrik saat hamil, tetapi kutipannya bercerita tentang anak sulung yang sudah duduk di kelas 1 ketika pabrik mulai beroperasi.
Kode narasumber pun tidak seragam. Informan pelaksana yang sama tercatat sebagai KII_K6 lalu MKII_K6, sementara partisipan wawancara mendalam ditandai IDI_06 di satu tempat dan IDI_R5 atau IDI_R12 di tempat lain. Tempat pembuangan limbah disebut TPA kota di satu bagian, fasilitas Kaliakair di bagian lain, dan depo sejauh 14 kilometer di pembahasan. Tabel 1 membagi rumah tangga menjadi kurang dari lima dan lebih dari lima anggota, sehingga rumah berisi tepat lima orang tidak punya tempat.
Di mana penjelasan teknis berhenti
Jadi, mengapa warga merasa anaknya lebih sehat tanpa menyebut timbal? Karena yang mereka ukur adalah hal yang tampak: sayur, ternak, bau, dan halaman yang bersih. “Temuan ini menegaskan bahwa pemulihan bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi juga persoalan sosial dan politik atau tata kelola yang dibentuk oleh kepercayaan, keselarasan budaya, komunikasi, dan infrastruktur,” tulis Dr. Mahbubur Rahman dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris.
Di Mirzapur, tanah memang berhasil diganti dan timbal di darah anak tercatat turun. Yang belum ikut berpindah adalah pengetahuan tentang mengapa hal itu penting. Selama jarak itu ada, warga akan terus menilai pemulihan lewat sayur dan bau, sementara bahaya yang paling ingin dihapus tetap tak kasatmata bagi mereka. Tanah bisa dikeruk dalam lima bulan, tetapi pemahaman tentang timbal belum terlihat tumbuh bersamanya.















