Lokakarya Limbah Kelapa Koto Baru Terbentur Minat Warga

A A

Mesin dan tumpukan sabut kelapa diolah menjadi serat di halaman rumah warga [Foto: DARMAS BS 9/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Mahasiswa KKN Universitas Andalas menggelar lokakarya dua bidang di Nagari Koto Baru, Padang Pariaman: pemasaran media sosial dan pemanfaatan limbah kelapa.
  • Penulis mencatat empat hambatan: pendidikan, antusiasme rendah, prioritas bertani, dan kurangnya minat warga pada seni.
  • Syofyan dan Atika sendiri menulis bahwa dampak lokakarya tidak berarti karena pesannya tidak tersebar luas.
  • Naskah tidak memuat jumlah peserta, nama pembicara, maupun jenis produk limbah kelapa yang dimaksud.
Daftar Isi
  1. Sebulan mengamati sebelum menyusun lokakarya
  2. Tutorial membuat akun media sosial
  3. Pembicara tamu dan demonstrasi kerajinan
  4. Empat hambatan yang diakui penulis sendiri
  5. Rekomendasi untuk wali nagari
  6. Yang bisa diperiksa pembaca dalam naskah

Yusti Atika mengajar kimia di Universitas Andalas, tetapi laporan yang ia tulis bersama Pieter Putra Syofyan tidak berisi rumus, melainkan tumpukan sabut dan tempurung kelapa di Nagari Koto Baru. Di nagari itu, mahasiswa bimbingan mereka menghabiskan hampir sebulan masa Kuliah Kerja Nyata, lalu pulang dengan dua kesimpulan: pasar pelaku UMKM setempat sempit, dan limbah kelapa dari usaha mereka menumpuk tanpa diolah.

Keduanya menuangkan pengalaman itu dalam Workshop on Digital Marketing and the Utilization of Coconut Waste, yang terbit di Andalasian International Journal of Social and Entrepreneurial Development volume 6 nomor 01, tahun 2026. Syofyan berasal dari Departemen Hukum, Atika dari Departemen Kimia, dan Atika tercatat sebagai penulis korespondensi. Naskahnya berbahasa Inggris, dan seluruh kutipan di tulisan ini diterjemahkan dari bahasa itu.

Lokasi yang mereka laporkan adalah Nagari Koto Baru di Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman. Syofyan dan Atika menyebut nagari ini punya pelaku UMKM yang menghasilkan produk, tetapi produk itu tidak sampai jauh. Di sisi lain, sisa kelapa dari kegiatan usaha itu sendiri belum dimanfaatkan siapa pun, sehingga mahasiswa memandangnya sebagai bahan yang menunggu tangan.

Sebulan mengamati sebelum menyusun lokakarya

Sebelum apa pun digelar, mahasiswa yang dibimbing Syofyan dan Atika lebih dulu mengamati langsung UMKM yang ada di nagari. Dari pengamatan itulah muncul dua persoalan yang kemudian dijadikan alasan lokakarya. Yang pertama jangkauan pasar yang terbatas, yang kedua limbah kelapa dalam jumlah besar yang menganggur. Keduanya, menurut penulis, saling bersambung dengan cita-cita melahirkan pelaku usaha baru.

Syofyan dan Atika menulis bahwa kebutuhan warga itu baru terasa setelah mahasiswa cukup lama tinggal di sana. “Setelah menjalankan Kuliah Kerja Nyata hampir sebulan di Nagari Koto Baru, para mahasiswa menyadari bahwa salah satu kebutuhan paling mendesak masyarakat adalah belajar cara memasarkan secara efisien dan menjangkau pasar yang lebih luas,” tulis keduanya dalam naskah aslinya yang berbahasa Inggris.

Program yang disusun kemudian dibagi Syofyan dan Atika ke dalam dua bidang. Bidang teknologi mengurus cara memakai teknologi untuk memasarkan produk UMKM yang sudah ada. Bidang edukasi mengurus perluasan pengetahuan tentang cara mengolah limbah kelapa. Pembagian ini penting untuk memahami hasilnya, karena hambatan yang dicatat penulis untuk masing-masing bidang ternyata berbeda.

Dua bidang lokakarya KKN di Nagari Koto BaruLokakarya dibagi dua bidang: teknologi untuk pemasaran media sosial dan edukasi untuk pemanfaatan limbah kelapa.Dua bidang lokakarya KKN di Nagari Koto BaruKecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang PariamanTeknologiEdukasiMedia sosialLimbah kelapaIsi materiTutorialDemonstrasiBentukMahasiswaTamu, wargaPemateriUMKM adaUMKM baruSasaranPasar luasLingkunganTujuanPendidikanMinat seniHambatanNaskah tidak mencatat jumlah peserta, jumlah UMKM, maupun volumelimbah kelapa. Nama pembicara tamu tidak disebut.
Sumber: Pieter Putra Syofyan dan Yusti Atika, Workshop on Digital Marketing and the Utilization of Coconut Waste, Andalasian International Journal of Social and Entrepreneurial Development, 6(01), 2026. Grafik: Cekricek.id

Tutorial membuat akun media sosial

Di bidang teknologi, mahasiswa bimbingan Syofyan dan Atika menjelaskan keuntungan yang bisa diperoleh pemilik UMKM bila berjualan lewat media sosial. Mereka juga memberi tutorial membuat akun dan cara memasarkan lewat platform media sosial yang sudah tersedia. Penulis berharap paparan itu memicu minat dan memberi manfaat bagi pelaku UMKM sendiri, meskipun naskah tidak mencatat berapa akun yang benar-benar dibuat.

Atika dan Syofyan menempatkan pemasaran digital sebagai strategi kunci untuk mempromosikan merek atau produk. Dalam naskahnya, strategi ini disebut sebagai kegiatan promosi yang dianggap paling efektif untuk semua jenis usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Keyakinan itu mereka sandarkan pada rujukan lain, bukan pada pengukuran di Koto Baru sendiri.

Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan

Pembicara tamu dan demonstrasi kerajinan

Di bidang edukasi, Syofyan dan Atika melaporkan penyajian informasi tentang cara memanfaatkan limbah kelapa melalui seni. Mahasiswa mengundang pembicara yang disebut ahli di bidangnya masing-masing, yaitu tokoh masyarakat dan pelaku usaha yang sudah berhasil memanfaatkan limbah kelapa. Lokakarya ini memuat demonstrasi langsung yang dipimpin warga yang hadir, dan mahasiswa ikut mencoba membuat kerajinan tangan.

Harapan yang ditulis Syofyan dan Atika untuk bidang ini berlapis. Lokakarya diharapkan memicu minat warga pada pengelolaan limbah, lalu mendorong lahirnya usaha kecil dan menengah baru di Koto Baru. Dari situ, penulis berharap muncul lapangan kerja baru dan angka pengangguran turun. Rantai harapan itu panjang, sementara yang dilaporkan baru satu mata rantai pertama, yaitu lokakarya itu sendiri.

Atika, yang berlatar kimia, tidak menjelaskan di naskah ini produk apa persisnya yang bisa dibuat dari sabut atau tempurung. Abstraknya hanya menyatakan bahwa limbah kelapa yang melimpah dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Kata yang dipakai untuk bentuk pemanfaatannya adalah seni dan kerajinan tangan, tanpa nama barang, tanpa harga, tanpa hitungan bahan.

Jalan KKN Koto Baru sampai empat hambatanObservasi, lokakarya, dan pendampingan KKN Universitas Andalas di Koto Baru berujung pada empat hambatan yang dicatat penulis.Jalan KKN Koto Baru sampai empat hambatanPendidikan, antusiasme, prioritas tani, minat seniObservasiUMKM di nagariLokakaryaMedsos danlimbahPantauanDampingi,evaluasi4hambatantercatatKesimpulan naskah: minat warga rendah sehingga dampak dinilaipenulis sendiri tidak berarti.
Sumber: Pieter Putra Syofyan dan Yusti Atika, Workshop on Digital Marketing and the Utilization of Coconut Waste, Andalasian International Journal of Social and Entrepreneurial Development, 6(01), 2026. Grafik: Cekricek.id

Empat hambatan yang diakui penulis sendiri

Bagian hasil yang ditulis Syofyan dan Atika justru lebih banyak berisi hambatan daripada capaian. Yang pertama adalah faktor pendidikan: akses pendidikan yang terbatas serta tingkat pendidikan dan keterampilan warga yang rendah disebut menjadi tantangan besar dalam memanfaatkan teknologi. Untuk menopang pernyataan ini, keduanya mengutip Aliyyah dan kawan-kawan serta Widianto dan kawan-kawan.

Hambatan kedua lebih langsung mengenai lokakarya itu sendiri, dan Syofyan dan Atika tidak menyembunyikannya. “Kurangnya minat ini berarti pesan yang dimaksud tidak tersebar luas, dan dampak yang dihasilkan tidak berarti,” tulis keduanya. Kalimat aslinya berbahasa Inggris, dan kata yang mereka pilih untuk dampak adalah insignificant.

Hambatan ketiga dan keempat menyangkut prioritas warga. Syofyan dan Atika mencatat bahwa masyarakat masih mengutamakan pekerjaan bertani, sehingga kurang berminat mengembangkan UMKM baru. Kurangnya minat masyarakat pada seni juga disebut sebagai kendala tersendiri bagi mahasiswa dalam menjalankan lokakarya limbah kelapa. Dua kendala ini kemudian diulang lagi di bagian kesimpulan sebagai temuan utama.

Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya

Rekomendasi untuk wali nagari

Dari semua itu, Syofyan dan Atika menurunkan dua rekomendasi. Yang pertama ditujukan kepada pemerintah nagari. “Wali nagari dan perangkat nagari sebaiknya memprioritaskan pengelolaan limbah sebagai fokus utama untuk mengembangkan UMKM baru dan menjaga lingkungan yang ada,” tulis keduanya dalam bahasa Inggris. Yang kedua ditujukan kepada pelaku UMKM agar memakai teknologi sebaik mungkin untuk memperluas pasar.

Atika dan Syofyan juga menyandarkan harapan pada rujukan Saleh dan kawan-kawan tahun 2025, yang menurut mereka membuktikan bahwa pelatihan berbasis potensi lokal efektif menumbuhkan kemandirian dan partisipasi warga. Di Koto Baru, potensi lokal itu adalah kelapa. Namun bukti yang mereka bawa dari Koto Baru sendiri belum sampai pada kemandirian, baru pada pengakuan bahwa pesannya belum diterima.

Keterbatasan laporan ini cukup jelas bagi siapa pun yang membacanya bersama Syofyan dan Atika. Tidak ada jumlah peserta, tidak ada jumlah UMKM yang diamati, tidak ada ukuran pemahaman sebelum dan sesudah lokakarya, dan tidak ada volume limbah kelapa yang disebut. Kegiatan berlangsung sekali di satu nagari, sehingga apa pun yang terjadi di sana tidak bisa dibaca sebagai gambaran nagari lain.

Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir

Yang bisa diperiksa pembaca dalam naskah

Ada beberapa hal dalam naskah Syofyan dan Atika yang bisa dicek pembaca sendiri. Abstraknya menyatakan kegiatan ini menghasilkan peningkatan pemahaman pelaku UMKM tentang pemasaran digital, sementara bagian hasil menyebut dampaknya tidak berarti karena warga kurang antusias. Kedua pernyataan itu berdiri di naskah yang sama tanpa satu angka yang menengahi.

Daftar pustaka Syofyan dan Atika juga menyimpan selisih kecil. Di dalam teks, rujukan tentang pemasaran digital ditulis sebagai Umrina dan kawan-kawan tahun 2023, sedangkan di daftar pustaka nama yang tercantum adalah Amrina, Uly bersama Raden Adriyani Oktara, hanya dua penulis. Rujukan Mariska dan kawan-kawan diberi tahun 2023 di teks, tetapi di daftar pustaka tahunnya tidak ditulis.

Yang paling terasa bagi pembaca adalah ketiadaan nama. Syofyan dan Atika menyebut pembicara tamu sebagai tokoh masyarakat dan pelaku usaha yang berhasil, juga sebagai ahli di bidangnya, tetapi tidak satu pun dari mereka disebut namanya. Bagian metode diberi judul Experimental Section, padahal yang dilaporkan adalah penyuluhan, tutorial, dan diskusi, bukan percobaan.

Pada akhirnya, laporan Yusti Atika dan Pieter Putra Syofyan adalah catatan tentang tumpukan limbah kelapa yang tetap di tempatnya setelah mahasiswa pulang dari Koto Baru. Yang mereka bawa kembali ke Padang bukan produk, melainkan pengakuan bahwa kebutuhan warga dan minat warga tidak selalu satu arah. Sabutnya masih ada, pasarnya masih sempit, dan naskah ini mencatat keduanya dengan jujur.

Bagikan

Baca Juga

Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Ibu-ibu PKK Cupak Mengubah Jelantah dan Beras Solok Jadi Sabun
Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik