- Permintaan 231,61 miliar dolar AS menuntut produksi 458,82 miliar dolar AS.
- Hampir separuh keluaran tiap pihak habis dipakai proses produksinya sendiri.
- Empat negara tujuan dihitung: Amerika Serikat, China, India, dan Jepang.
- Nilai India ditulis dua versi berbeda di dalam naskah yang sama.
Daftar Isi
- Mengapa daftar pesanan tidak pernah sama dengan daftar produksi
- Bagaimana satu tabel menyimpan siapa memakai keluaran siapa
- Ke mana angka itu bergerak setelah tabel dibalik
- Apa yang berpindah ke meja pengambil kebijakan
- Tahun yang dijadikan pijakan dan sebabnya
- Di mana penjelasan ini berhenti
- Angka yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca
Daftar pesanan sebuah daerah dan daftar barang yang benar-benar harus dibuatnya hampir tidak pernah sama besar, dan jarak di antara keduanya bukan selisih kecil yang bisa dianggap salah catat. Siapa pun yang pernah membaca angka ekspor daerahnya mengenali gejala itu tanpa pernah benar-benar menanyakannya. Yang diminta pembeli satu angka, yang harus keluar dari kebun dan pabrik angka lain, dan angka kedua selalu lebih besar.
Lima matematikawan menghitung jarak itu untuk Sumatera Utara. Nur Khasanah, Nikken Prima Puspita, Fitriana Hasnani, Meryta Febrilian Fatimah, dan Zakaria Bani Ikhtiyar menuliskan hasilnya dalam Leontief Matrix: Business Model Recommendation for Export Commodity of North Sumatera, yang terbit di Jurnal Matematika UNAND, 15(1), 2026. Mereka bekerja di UIN Walisongo Semarang, Universitas Diponegoro, Universitas Lampung, Universitas Sulawesi Barat, dan Institut Teknologi Statistika dan Bisnis Muhammadiyah Semarang.
Mengapa daftar pesanan tidak pernah sama dengan daftar produksi
Sebuah wilayah yang menghasilkan barang tidak pernah mengirim seluruh hasilnya keluar, sebab sebagian hasil itu habis dipakai oleh proses yang menghasilkannya sendiri dan oleh proses lain yang berdampingan dengannya. Naskah itu menyebut keadaan tersebut sebagai jejaring aliran masukan dan keluaran yang keluar masuk sektor. Satu sektor menghasilkan sesuatu, dan untuk menghasilkannya ia membutuhkan keluaran sektor lain serta keluarannya sendiri.
Karena itu angka yang tampak di pelabuhan bukan angka produksi. Ia adalah sisa, yakni bagian yang tertinggal setelah seluruh kebutuhan internal dipenuhi lebih dahulu. Dapur sebuah rumah makan bekerja dengan cara yang serupa, memasak lebih banyak daripada yang dihidangkan ke meja, sebab sebagian masakan itu dipakai kembali sebagai bahan hidangan berikutnya, dan yang sampai ke tamu selalu lebih sedikit daripada yang keluar dari kuali.
Model yang dipakai kelima peneliti menamai bagian yang tidak menghasilkan apa-apa itu sebagai sektor terbuka. “Those sectors that do not produce outputs are called open sectors,” tulis Nur Khasanah dan keempat rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu, yang artinya sektor-sektor yang tidak menghasilkan keluaran disebut sektor terbuka. Pasar konsumen adalah contohnya, dan ekonomi yang memilikinya disebut ekonomi terbuka.
Bagaimana satu tabel menyimpan siapa memakai keluaran siapa
Seluruh hubungan saling pakai itu dimampatkan ke dalam satu tabel persegi yang disebut matriks konsumsi. Naskah itu menjelaskan bahwa tabel tersebut mewakili jumlah masukan produksi yang dibutuhkan setiap sektor yang tercakup dalam model. Setiap kotak berisi satu bilangan kecil, dan bilangan itu menyatakan berapa banyak keluaran satu pihak yang harus dibeli pihak lain untuk membuat satu satuan barangnya.
Untuk kasus Sumatera Utara, pihak yang dimasukkan ke dalam tabel ada lima: provinsi itu sendiri, Amerika Serikat, China, India, dan Jepang. Keempat negara itu dipilih karena merekalah tujuan utama perdagangan ekspor provinsi tersebut. Angka arus dagang tahun 2021 di antara kelimanya yang menjadi isi tabel, termasuk arus Sumatera Utara ke Sumatera Utara sendiri, yang dicatat sebesar 206,58 miliar dolar AS.
Yang paling banyak menentukan hasil akhirnya justru deretan angka di garis diagonal, yakni bagian yang menyatakan seberapa besar setiap pihak memakai keluarannya sendiri. Kelimanya berkisar di sekitar setengah, dari 0,471 sampai 0,492. Artinya hampir separuh dari apa pun yang dibuat langsung ditelan kembali oleh proses pembuatannya, dan hanya sisanya yang tersedia untuk siapa pun di luar sana.
Ke mana angka itu bergerak setelah tabel dibalik
Langkah berikutnya sederhana untuk diceritakan meski panjang untuk dikerjakan. Tabel konsumsi tadi dikurangkan dari tabel satuan sehingga terbentuk apa yang disebut matriks Leontief, lalu bentuk itu dibalik dan dikenakan pada daftar permintaan. Hasil pembalikan inilah yang mengubah daftar pesanan menjadi daftar produksi, dan perubahan itu bukan penjumlahan biasa melainkan pelipatan.
Besar pelipatannya terbaca pada angka diagonal hasil pembalikan, yang bergerak dari 2,032 sampai 2,122. Setiap satu satuan permintaan menuntut sedikit lebih dari dua satuan produksi. Karena separuh keluaran habis di dalam, maka untuk menyisakan satu bagian di luar harus dibuat dua bagian di dalam, dan sisa desimal di belakang angka dua itu berasal dari pemakaian silang antarpihak yang tidak nol.
Permintaan Sumatera Utara pada 2021 tercatat 231,61 miliar dolar AS, dan angka produksi yang keluar dari hitungan adalah 458,8218267 miliar dolar AS. Amerika Serikat bergerak dari 2.556,64 ke 5.062,3456860, China dari 3.363,77 ke 6.645,0345550, India dari 390,97 ke 794,1848187, dan Jepang dari 604,81 ke 1.296,6230280. Pola kenaikannya sama untuk kelimanya.
Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Penutup penjelasan itu ditulis sendiri oleh para penelitinya. “For North Sumatera results, to deal with export needs of United State, China, India and Japan, North Sumatera have to produce 458.8218267 US$ Billion commodity on the export system on Leontief model,” tulis Nur Khasanah dan keempat rekannya, yang berarti untuk memenuhi kebutuhan ekspor keempat negara itu Sumatera Utara harus memproduksi komoditas senilai 458,8218267 miliar dolar AS.
Apa yang berpindah ke meja pengambil kebijakan
Angka semacam itu tidak dimaksudkan untuk dibaca sebagai ramalan penjualan. Para penelitinya menyebutnya angka acuan bagi pemerintah dan industri dalam memutuskan kebijakan dan perencanaan ekonomi menyangkut jumlah produksi tiap komoditas. Fungsinya menggeser pertanyaan dari berapa yang laku terjual menjadi berapa yang harus tersedia agar yang laku itu bisa dikirim tepat waktu.
Dari situ naskah itu menyambungkannya ke dua hal yang lebih membumi, yaitu pengendalian persediaan dan kestabilan harga. Bila jumlah yang harus diproduksi diketahui lebih dahulu, alokasi anggaran provinsi bisa disusun mengikuti angka itu, dan harga komoditas ekspor tidak bergerak liar karena kekurangan pasokan mendadak. Itulah yang disebut penulisnya sebagai kebutuhan optimum dengan kendali stabilisasi harga.
Tahun yang dijadikan pijakan dan sebabnya
Data masukan hitungan ini diambil dari 2021, dan pilihan itu ada alasannya di dalam naskah. Total ekspor Sumatera Utara pada tahun tersebut tercatat 11.874,67 juta dolar AS, jauh di atas 7.678,56 pada 2019 dan 8.086,22 pada 2020, bahkan melampaui 9.225,29 pada 2017 dan 8.787,22 pada 2018. Tahun itu dipandang mewakili keadaan setelah pandemi.
Susunan barangnya juga tidak merata. Golongan minyak hewani dan nabati menyumbang 4.729,69 juta dolar AS pada 2021, disusul bahan kimia 2.509,58 dan bahan pangan serta hewan hidup 1.971,60. Di ujung lain daftar, golongan bahan bakar dan pelumas hanya 0,45, sedangkan golongan lain-lain tercatat nol. Sepuluh golongan itu mengikuti klasifikasi dagang internasional yang disusun sejak 1962.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Di mana penjelasan ini berhenti
Persoalannya, seluruh hitungan ini berdiri di atas lima pihak saja dan satu tahun saja. Mitra dagang Sumatera Utara di luar keempat negara itu tidak masuk ke dalam tabel, sehingga apa pun yang mengalir ke arah sana tidak ikut terhitung. Data satu tahun juga tidak memberi tahu apakah pola saling pakai itu bertahan ketika keadaan dagang berubah.
Yang membuatnya rumit, hasil akhirnya berhenti pada satu bilangan untuk seluruh provinsi, bukan per komoditas. Para penelitinya mengakui hal itu dan menyatakan model yang sama masih bisa diterapkan pada jenis komoditas, sektor yang terlibat, serta rantai produksi. Dengan kata lain, bagian yang paling berguna bagi perencana daerah justru belum dikerjakan di naskah ini dan masih berupa kemungkinan.
Angka 458,82 miliar dolar AS itu pun perlu dibaca sebagai hasil hitungan model, bukan sebagai catatan produksi yang pernah terjadi. Ia menjawab pertanyaan berapa yang seharusnya dibuat jika permintaan yang tercatat itu benar dan jika hubungan saling pakai antarpihak tetap seperti pada tabelnya. Dua pengandaian itu tidak diuji ulang di dalam naskah.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Angka yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca
Ada beberapa titik dalam naskah yang tidak konsisten dan bisa dicocokkan siapa pun yang membacanya berurutan. Pada baris penyelesaian sistem persamaannya, nilai untuk India ditulis 749,1848187. Satu kalimat sesudahnya, lalu di tabel hasil, lalu di ringkasan halaman berikutnya, nilai yang sama ditulis 794,1848187. Dua angka di depan bertukar tempat, dan versi 794 yang dipakai seterusnya.
Abstraknya juga menjanjikan sesuatu yang tidak muncul di bagian hasil. Di sana tertulis bahwa metodenya diterapkan pada sepuluh komoditas penghasil produk dari permintaan ekspor Sumatera Utara. Yang benar-benar dihitung di bagian hasil adalah lima pihak, yakni satu provinsi dan empat negara. Sepuluh golongan komoditas memang ada di naskah, tetapi hanya sebagai tabel latar.
Tabel ekspor lima tahunnya menyimpan dua baris yang tidak menjumlah. Sepuluh golongan pada 2018 bila ditambahkan hanya menghasilkan 5.787,23, padahal totalnya tertulis 8.787,22. Baris 2020 menghasilkan 7.686,24 terhadap total 8.086,22. Baris 2017, 2019, dan 2021 menjumlah pas, sehingga selisihnya tampak berasal dari dua sel saja, yaitu minyak nabati 2018 dan barang manufaktur 2020.
Dua sel itu juga mencurigakan bila dibandingkan ke samping. Minyak hewani dan nabati 2018 tertulis 136,47 padahal tahun sebelumnya 3.396,56 dan tahun sesudahnya 2.622,78. Barang manufaktur 2020 tertulis 40,25 sementara 2019 tercatat 350,13 dan 2021 mencapai 556,92. Pendahuluannya pun menyebut ekspor menurun pada 2019 dan 2020, padahal angka 2020 yang dicantumkannya lebih besar daripada 2019.
Kejanggalan itu tidak membatalkan kerangka hitungannya, sebab tabel lima tahun tersebut berperan sebagai latar dan bukan sebagai masukan matriks. Namun ia menunjukkan bahwa naskah ini tidak dibaca ulang sampai ke angka terkecilnya sebelum terbit. Pembaca yang hendak memakainya sebaiknya mencocokkan sendiri setiap bilangan yang akan dikutipnya.
Yang tersisa dari seluruh hitungan ini adalah jawaban atas kejanggalan di awal tadi. Jarak antara apa yang dipesan dan apa yang harus dibuat bukan kelebihan produksi, melainkan ongkos yang harus dibayar sebuah perekonomian untuk memberi makan dirinya sendiri sebelum memberi makan orang lain. Selama hampir separuh keluaran habis di dalam, angka di pelabuhan akan selalu menjadi pucuk dari sesuatu yang jauh lebih besar di bawahnya.















