- Dua fabel klasik dari Kanagarian Padang Air Dingin, Solok Selatan, dikaji strukturnya.
- Keduanya bertulang orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda dengan alur maju.
- Cerita pertama berakhir permusuhan, cerita kedua diselesaikan lewat musyawarah.
- Fungsi sosialnya tiga: menghibur, mendidik, dan menyindir pihak yang merugikan kolektif.
Daftar Isi
Dongeng binatang lazim dianggap sebagai bacaan anak-anak, hiburan ringan yang ditinggalkan orang begitu ia cukup umur untuk membaca yang lain. Namun di sebuah kanagarian di Solok Selatan, cerita tentang burung-burung yang saling mengukir sayap dan saling berebut takhta itu justru dituturkan orang dewasa kepada orang dewasa, dan yang dibicarakannya sesungguhnya bukan binatang, melainkan cara manusia memegang kuasa atas sesamanya, dan apa yang terjadi pada orang banyak ketika kuasa itu jatuh ke tangan yang keliru.
Zedia Delia Fitri dan Zulfadhli menuliskan pembacaan itu dalam Struktur, Unsur Intrinsik, dan Fungsi Sosial Cerita Rakyat Dongeng Fabel Klasik Masyarakat Minangkabau, yang terbit di Persona, 5(1), 2026. Keduanya berasal dari Universitas Negeri Padang, dan yang mereka bawa pulang dari Kanagarian Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, adalah dua cerita yang selama ini hanya hidup di mulut penuturnya, dituturkan oleh dua penduduk asli yang masih menguasai jalan ceritanya sampai ke bagian yang paling kecil sekalipun.
Cerita yang tidak pernah sepenuhnya milik anak-anak
Dua cerita itu bernama Gagak jo Kuwau dan Buruang Pipik jo Buruang Anggang, dan keduanya dituturkan oleh penduduk asli yang masih menguasai ceritanya. Sekilas ia tampak seperti fabel mana pun yang pernah kita dengar, dengan binatang yang berbicara, konflik yang sederhana, dan pesan moral yang menunggu di ujungnya. Justru sebaliknya yang ditemukan kedua peneliti itu ketika mereka menanyakan kepada siapa sebenarnya cerita semacam ini biasa dituturkan, dan untuk keperluan apa.
Yang mereka catat sebagai fungsi sosial cerita ini ada tiga, dan hanya satu di antaranya yang benar-benar berurusan dengan anak-anak. Dua lainnya berurusan dengan orang dewasa: sebagai hiburan malam di kampung yang dahulu belum sepenuhnya dialiri listrik, dan sebagai sarana protes sosial, yakni sebagai cara menyindir pihak tertentu yang merugikan kolektif tanpa harus menyebut namanya secara terang-terangan, sebuah keperluan yang jelas bukan keperluan anak-anak.
Struktur kedua cerita itu, menurut analisis mereka, sama persis dan terdiri atas empat bagian yang berurutan: orientasi yang memperkenalkan tokoh dan latar, komplikasi tempat masalah dibuka, resolusi tempat masalah diselesaikan, dan koda yang menampung amanatnya. Alurnya pun sama, keduanya maju, tanpa lompatan waktu ke belakang, sehingga pendengarnya tidak pernah perlu menyusun ulang urutan peristiwa di dalam kepalanya sendiri, dan seluruh perhatiannya bisa diarahkan ke bagian yang memang ingin disampaikan penuturnya, yaitu ujungnya.
Baca juga Empat Puluh Teka-teki Tua di Pasaman Barat
Sepasang sayap dan satu kebohongan di tepi air terjun
Cerita pertama bermula dari persahabatan yang digambarkan sangat rapat, dua burung yang ke mana pun pergi selalu bersama, kok kateh samo kateh, kok ka bawuah samo ka bawuah, kalau ke atas sama-sama ke atas, kalau ke bawah sama-sama ke bawah. Dari keakraban yang sudah berlangsung lama itulah muncul kesepakatan yang kemudian menghancurkan keduanya, yaitu kesepakatan untuk saling mengukir sayap, satu-satunya milik yang bisa mereka pertukarkan.
Kuau diukir lebih dahulu, dan gagak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, satu per satu menawarkan motif yang ia kuasai: alang tabau, alang patai, lalu semut beriring-iring, tiga motif yang semuanya disetujui. Ketika tiba giliran gagak diukir, kuau meminta mereka berpindah tempat, tidak di situ, kita cari tempat yang lain, dan gagak menyetujuinya tanpa curiga sedikit pun, sebab permintaan itu datang dari kawan yang baru saja ia perindah sayapnya dengan ketiga motif tadi.
Tempat yang dituju adalah dekat air terjun, dan di sanalah kebohongan itu bekerja. Kuau mengatakan bahwa bunyi yang terdengar adalah bunyi hari yang hendak hujan, sehingga pengukiran harus dipercepat dan cat sebaiknya digelimangkan saja ke seluruh tubuh. Gagak menjadi hitam seluruhnya, lalu terbang di samping kawan yang sayapnya indah, menyadari apa yang terjadi, dan mengancam akan membunuh kuau bila suatu hari mereka kembali bertemu, sehingga sejak itu keduanya bermusuhan.
Di situlah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar dongeng sebab-akibat tentang warna bulu burung. Cerita ini tidak berhenti pada menjelaskan mengapa gagak hitam, tetapi mengunci penjelasan itu pada sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang kawan dekat, sehingga setiap kali seekor gagak lewat, penjelasan tentang kelicikan ikut lewat bersamanya di depan mata pendengar, tanpa perlu diucapkan siapa pun, dan tanpa bisa ditarik kembali oleh siapa pun.
Kerajaan yang dinilai dari isi perut rakyatnya
Cerita kedua berpindah dari urusan persahabatan ke urusan pemerintahan, dan ia dibuka pada masa ketika burung-burung masih berkerajaan. Rajanya adalah burung pipit, burung yang paling kecil di antara semuanya, dan ukuran kecil itu disebut penuturnya justru berdampingan dengan keadilan yang baik dan pemerintahan yang bagus, sebuah penilaian yang sama sekali tidak diukur dari perawakan sang raja, melainkan dari apa yang terjadi pada mereka yang diperintahnya.
Ukurannya diletakkan di tempat lain, yaitu di persediaan pangan. Selama pipit memerintah, kata penuturnya, bumi aman langit sentosa, padi berisi dan jagung melimpah, dan seluruh kesejahteraan itu dirangkum dalam satu kalimat tentang hasil panen. Tidak ada pidato, tidak ada daftar kebijakan, tidak ada ukuran lain yang disebut selain apa yang bisa dimakan rakyatnya sehari-hari, dan justru karena itulah penilaiannya sukar dibantah oleh siapa pun yang sedang lapar.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Ketika masa jabatan pipit habis, burung enggang mendaftar, dan alasan yang diberikan cerita untuk pencalonannya hanya dua, yakni tubuhnya besar dan gerombolannya banyak. Selama ia memerintah, telur kawan dimakan dan anak kawan dibunuh, tidak ada urusan masyarakat yang diurusnya, dan cuaca pun ikut rusak di dalam cerita: kalau panas terlalu panas, kalau hujan terlalu hujan, seolah-olah langit sendiri ikut menanggung akibat dari salah pilih yang dilakukan di bawahnya.
Akibatnya dirangkum dengan cara yang sama seperti sebelumnya, lewat pangan. Bunga layu bila panas dan jatuh bila hujan, sehingga tidak ada buah yang menjadi, dan burung-burung kehilangan yang bisa dimakan. Penyelesaiannya pun tidak lewat perkelahian melainkan lewat musyawarah, dan para burung memutuskan mencari pipit yang sedang merantau untuk dijemput pulang dan diangkat kembali menjadi raja, sesuai kesepakatan yang mereka buat bersama-sama.
Kalimat yang membelokkan arah bacaan
Kedua peneliti membaca ujung yang berbeda itu sebagai sesuatu yang disengaja oleh ceritanya sendiri. “Pada cerita pertama, konflik berakhir dengan permusuhan akibat pengkhianatan, sedangkan pada cerita kedua konflik diselesaikan melalui musyawarah untuk mengembalikan pemimpin yang adil,” tulis Zedia Delia Fitri dan Zulfadhli dalam naskahnya, pada bagian simpulan, dan perbedaan ujung itulah yang sesungguhnya memisahkan kedua cerita yang selama ini diletakkan berdampingan.
Kalimat itu memindahkan seluruh bobot bacaan. Dua cerita yang tampak sejenis ternyata menawarkan dua jalan keluar yang berlawanan atas persoalan yang sebenarnya mirip, yaitu kepercayaan yang dirusak oleh pihak yang lebih diuntungkan, dan pilihan antara memutus hubungan atau merundingkannya kembali diletakkan berdampingan di dalam khazanah lisan satu kampung yang sama, tanpa salah satunya pernah dinyatakan lebih benar daripada yang lain oleh penuturnya.
Di sanalah tokoh-tokoh binatang itu mulai kehilangan sifat binatangnya. “Tokoh-tokoh hewan dalam cerita digambarkan dengan sifat-sifat yang merepresentasikan perilaku manusia, sehingga memudahkan penyampaian nilai moral,” tulis Zedia Delia Fitri dan Zulfadhli dalam naskahnya, dan pembacaan itu paling terasa pada bagian ketika sindiran yang terkandung di dalam cerita kedua dijelaskan oleh penuturnya sendiri, dengan perumpamaan yang sama sekali tidak samar.
Sindiran itu, menurut analisis mereka, ditujukan kepada burung enggang yang walaupun besar tetapi tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menjadi seorang raja. Seorang penutur menerangkannya dengan kalimat yang lebih tajam lagi dalam bahasanya sendiri, bahwa walaupun kita besar tetapi bodoh, tidak ada gunanya, dan bahwa ilmulah yang mesti sesuai dengan wawasan serta kedudukan yang hendak dipegang seseorang, bukan besar tubuhnya.
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Bahasa yang hanya berlaku di satu ruas jalan
Yang membuat kedua cerita ini tidak bisa dipindahkan begitu saja adalah bahasanya, bahasa Minangkabau dialek Padang Air Dingin yang dipakai sehari-hari di sana. Kata kateh dan ka bawuah, misalnya, dicatat sebagai penunjuk arah bepergian, dan artinya melekat pada bentuk kampung itu sendiri: satu jalan raya utama dengan rumah-rumah di pinggirnya, sehingga arah yang tersedia hanya atas dan bawah, dan sebuah kalimat pembuka cerita pun ikut terbentuk oleh susunan jalan itu.
Arah atas dan bawah itu disamakan dengan selatan dan utara, dan tidak ada arah ketiga yang perlu disebut. Alang tabau dan alang patai, dua motif ukiran yang ditawarkan gagak, ternyata merujuk pada kabau dan pete yang dikubur di dalam tanah hingga rasanya berubah, sebuah cara mengawetkan makanan yang juga berlaku untuk jengkol, supaya bahan pangan itu tahan jauh lebih lama daripada bila dibiarkan begitu saja.
Pada cerita kedua muncul kata-kata lain yang sama khasnya, maupiah untuk sesuatu yang melimpah, talu untuk telur, buan-buan untuk buah-buahan, muantau untuk merantau, dan baco itu untuk seperti itu. Sebuah motif ukiran pada sayap burung, dengan demikian, sekaligus merupakan catatan tentang cara orang di sana menyimpan lauk, dan cerita yang tampak sepenuhnya khayalan itu ternyata menempel pada dapur yang sangat nyata.
Beberapa jahitan yang longgar di naskahnya
Naskah ini menyandarkan bagian terpentingnya, yakni fungsi sosial cerita, pada keterangan penutur, tetapi nama penuturnya tidak pernah muncul. Tiga kutipan pada bagian itu diberi atribusi yang dibiarkan kosong, ditulis sebagai Informan dengan spasi kosong di belakangnya, tanpa nama, tanpa usia, tanpa keterangan apa pun yang memungkinkan pembaca menelusuri siapa sebenarnya yang berbicara di balik ketiga kutipan yang menjadi dasar seluruh bagian itu.
Pada bagian penokohan ada pula kalimat yang tokohnya tertukar, yaitu ketika diterangkan bahwa sesampainya di air terjun iapun membohongi kuau, padahal sepanjang cerita justru kuau yang membohongi gagak. Satu kata itu membalik arah seluruh peristiwa, dan letaknya persis di bagian yang sedang menjelaskan mengapa kuau disebut sebagai tokoh yang licik, sehingga kalimat itu justru membatalkan penjelasan yang sedang dibangunnya sendiri.
Hal ketiga ada di simpulannya. Latar cerita dirangkum sebagai keterkaitan dengan hutan, kampung, dan masa kerajaan burung, sementara air terjun, satu-satunya latar tempat yang disebut secara tegas di dalam cerita pertama dan menjadi tempat kebohongan itu terjadi, tidak ikut disebut di sana. Ketiganya bisa diperiksa sendiri oleh pembaca naskahnya, baris demi baris, tanpa perlu mendatangi kampungnya dan tanpa perlu mendengar ulang rekaman penuturnya.
Naskah ini juga tidak memuat satu pun pernyataan tentang batas jangkauannya sendiri. Bahannya dua cerita dari satu kanagarian yang dituturkan dua orang, dan kesimpulannya dibawa sampai ke tingkat masyarakat Minangkabau, sebuah jarak yang cukup jauh dan tidak pernah dibicarakan penulisnya, sehingga pembaca harus menakar sendiri sejauh mana temuan itu boleh dibawa, tanpa bantuan apa pun dari naskah yang sedang dibacanya.
Yang tersisa sesudah semuanya dibaca adalah pertanyaan tentang burung pipit yang dijemput pulang dari rantau. Cerita itu mengembalikannya ke takhta lewat musyawarah, tetapi tidak pernah mengatakan apa yang menahan burung-burung itu ketika enggang masih berkuasa, mengapa telur yang dimakan dan anak yang dibunuh belum cukup, dan berapa lama sebuah kolektif sanggup menunggu sebelum akhirnya duduk berunding, sebuah pertanyaan yang dibiarkan terbuka oleh cerita maupun oleh naskah yang membacanya.














