Daftar Isi
Cekricek.id — Sebuah kuali di dapur dan sebatang hidung di wajah orang tidak punya hubungan apa pun, sampai keduanya bertemu di dalam teka-teki yang sama. Di Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, keduanya sama-sama dipakai untuk mengecoh pendengar dengan satu kata yang artinya dibelokkan di tengah jalan. Melia Roza dan Muhammad Ismail Nasution dari Universitas Negeri Padang merekam empat puluh teka-teki semacam itu dan membedahnya dalam Struktur, Kategori, dan Fungsi Sosial Pertanyaan Tradisional (Riddles) Masyarakat Nagari Aua Kuniang Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat, yang terbit di jurnal Persona, Volume 5 Nomor 3, tahun 2026. Rekaman itu diambil dari penutur asli di nagari tersebut, lalu ditranskripsikan dan dialihbahasakan ke bahasa Indonesia.
Teka-teki dan pantun sama-sama sastra lisan, tetapi keduanya bekerja dengan cara berlawanan. Pantun menyerahkan maknanya di baris terakhir; teka-teki menahan maknanya sampai pendengarnya menyerah. Merujuk Danandjaja, pertanyaan tradisional adalah folklor lisan yang sengaja disusun untuk merangsang daya pikir pendengar lewat pelukisan yang bersifat kiasan. Ia anonim, punya banyak versi, dan hidup hanya selama masih ada yang menuturkannya — tiga sifat yang membuatnya paling mudah hilang di antara jenis folklor lain. Brunvand, sebagaimana dikutip Danandjaja, menempatkan teka-teki di kelompok folklor yang sepenuhnya lisan, tanpa sandaran benda apa pun.
Untuk membedah empat puluh rekaman itu, kedua peneliti memakai pisau Georges dan Dundes yang membelah teka-teki menjadi dua bagian: unsur pelukisan dan unsur jawaban. Dari hubungan keduanya lahir dua bentuk yang saling berhadapan sepanjang penelitian ini. Pada bentuk pertama, jawaban sudah bersembunyi di dalam pertanyaan. Pada bentuk kedua, tidak satu pun kata jawaban muncul di pertanyaan, dan pendengar harus melompat. Seluruh empat puluh data dalam penelitian ini jatuh ke salah satu dari dua kotak itu, dan pembagiannya jauh dari seimbang.
Yang identik dan yang tidak identik

Bentuk pertama tampak murah hati, padahal tidak. Salah satu rekaman berbunyi “talingo apo yang acok dipacik ugang”, telinga apa yang sering dipegang orang, dan jawabannya telinga kuali. Kata telinga muncul di kedua sisi, tetapi maknanya berpindah dari anggota tubuh manusia ke pegangan di sisi kanan dan kiri kuali. Pendengar tidak perlu mencari kata baru; ia hanya perlu melepaskan makna yang pertama kali muncul di kepalanya. Kata itu sendiri sudah membawa jawabannya, hanya saja dibungkus oleh kebiasaan berpikir yang keliru.
Baca juga Adat Simalungun yang Masuk ke Ibadah GKPS
Rekaman lain bekerja persis dengan cara yang sama. Pertanyaannya berbunyi “batang-batang apo yang indak bisa ditabang”, batang apa yang tidak bisa ditebang, dan jawabannya batang hidung. Sekali lagi satu kata dipakai dua kali dengan dua makna, dan sekali lagi yang diuji bukan pengetahuan melainkan kelenturan. Kedua teka-teki itu, tulis Melia Roza dan Muhammad Ismail Nasution, termasuk struktur yang pertanyaan dan jawabannya identik. Kuncinya selalu satu kata yang berdiri di dua dunia sekaligus, dunia tubuh manusia dan dunia benda di sekitarnya.
Bentuk kedua menutup pintu itu rapat-rapat. Sebuah rekaman berbunyi “kubak yo taruih indak yo lai isi e”, dikupas terus tetapi tidak ada isinya, dan jawabannya bawang merah — kata bawang tidak pernah disebut. Rekaman lain menggambarkan sesuatu yang terus bergerak ke hulu dan tampak seperti orang berbaju besi; jawabannya langkitang, siput air bercangkang keras. Di sini pendengar tidak melepaskan makna, melainkan harus membangun jembatan dari nol. Lapisan bawang yang dikupas sampai habis dan cangkang siput yang mengkilap seperti baju besi sama-sama tidak diberi petunjuk kata.
Yang sama pada keduanya adalah caranya membelokkan perhatian. Yang berbeda adalah letak belokannya: pada bentuk identik belokan terjadi di dalam satu kata, pada bentuk tidak identik belokan terjadi di antara dua benda yang tidak pernah disandingkan orang. Yang pertama menguji ketelitian mendengar, yang kedua menguji keluasan membayangkan. Penelitian ini tidak menyatakan salah satunya lebih tinggi nilainya, hanya mencatat bahwa keduanya hidup berdampingan di nagari yang sama dan dituturkan oleh orang yang sama pula, sering dalam satu malam yang sama.
Enam berbanding tiga puluh empat
Yang tidak berimbang justru jumlahnya. Dari empat puluh data, hanya enam yang berstruktur identik, sementara tiga puluh empat sisanya tidak identik. Perbandingan itu, menurut kedua peneliti, menunjukkan penutur di Aua Kuniang lebih sering memakai kiasan, perumpamaan, dan pertentangan antara pelukisan dan jawaban ketimbang permainan satu kata. Kerumitan bahasa kiasan tetap menjadi ciri pokoknya. Angka enam itu kecil, tetapi ia tidak menghilang, dan itu bagian dari temuannya juga. Bentuk yang paling mudah dijawab ternyata justru yang paling jarang dituturkan orang di sana.
Baca juga Relief Borobudur yang Tak Setia pada Kitabnya
Perbandingan lain datang dari luar nagari. Nurhasanah pernah membedah teka-teki kuling-kuling atca di Mandailing Natal pada 2020, Safitri menelaah tradisi manakok-nakok di Pesisir Selatan pada 2021, dan Irfan Hasyim mengerjakan pertanyaan tradisional di Nagari Tandikat, Padang Pariaman, pada 2022. Kerangkanya sama, lokasinya berbeda. Aua Kuniang menambah satu titik lagi ke peta itu, dengan catatan bahwa nagari ini berdiri di perbatasan budaya Minangkabau dan Mandailing, yang berpotensi melahirkan varian tersendiri, baik pada pilihan katanya maupun pada benda yang dipakai sebagai bahan pelukisan. Salah satu penelitinya sendiri warga asli nagari itu, sehingga akses ke penuturnya lebih terbuka.
Manusia paling banyak, warna paling sedikit
Kategori pelukisannya juga tidak merata. Mengikuti pembagian Taylor sebagaimana dikutip Danandjaja, kedua peneliti mengelompokkan empat puluh data ke lima kategori: persamaan dengan manusia empat belas data, benda mati sepuluh, binatang sembilan, tanaman enam, dan warna hanya satu. Ujung yang satu penuh sesak, ujung yang lain nyaris kosong. Dominasi kategori manusia dibaca sebagai antropomorfisme, cara masyarakat memaknai benda di sekelilingnya lewat perumpamaan atas tubuh dan perilaku manusianya sendiri. Kedua peneliti mengaitkannya dengan kehidupan agraris warga setempat, meski kaitan itu mereka sajikan sebagai penafsiran, bukan sebagai sebab yang sudah terbukti.
Contohnya terdengar hampir seperti kabar keluarga. Satu rekaman melukiskan ibu yang mengandung, ayah yang sedang berdiri, dan anak yang tidur; jawabannya bukan sebuah keluarga, melainkan bentuk angka lima. Rekaman lain berbunyi “wak tidua nyo tagak, wak tagak nyo tidua”, aku tidur dia berdiri, aku berdiri dia tidur, dan jawabannya telapak kaki. Tubuh manusia dipakai untuk menerangkan benda, lalu benda dipakai untuk menerangkan tubuh. Pertukaran itu berlangsung dua arah, dan justru di situ letak kesulitannya bagi pendengar yang tidak terbiasa.
Baca juga Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa
Kategori benda mati menempuh arah sebaliknya. Sebuah rekaman melukiskan rumah sepetak yang berisi seratus penghuni dan jawabannya korek api; yang lain melukiskan seseorang yang ke mana pun pergi selalu membawa rumahnya, dan jawabannya kura-kura. Kategori warna hanya diwakili satu data, cabai besar yang berbaju hijau ketika kecil dan berbaju merah ketika besar. Dapur, halaman, dan sawah menyediakan hampir seluruh perbendaharaan gambarnya. Tidak ada benda yang jauh dari jangkauan tangan penuturnya, dan tidak ada satu pun yang harus dijelaskan lebih dulu.
Menguji dan menghibur
Fungsi sosialnya pun berpasangan. Dua puluh dua data dipakai untuk menguji kepandaian, delapan belas lainnya untuk hiburan. Pada fungsi pertama, teka-teki menuntut orang membaca sifat alam: satu rekaman menyebut sesuatu yang tampak bila dilihat dari jauh tetapi hilang bila didekati, dan jawabannya kabut. Rekaman lain melukiskan makhluk berkaki empat sewaktu kecil, berkaki dua sewaktu besar, dan berkaki tiga sewaktu tua; jawabannya manusia, yang merangkak, berjalan, lalu bertongkat. Jawabannya, tulis kedua peneliti, tidak bisa dicapai dengan daya ingat saja, melainkan dengan kemampuan membongkar susunan pertanyaannya.
Pada fungsi kedua, ukurannya bukan benar atau salah melainkan seberapa keras orang tertawa. Sebagian teka-teki hiburan di Aua Kuniang bertumpu pada lelucon tubuh dan hal-hal yang biasanya tidak disebut di ruang resmi, dan justru karena itu ia dituturkan di beranda dan di surau pada malam hari untuk mencairkan suasana. Menguji dan menghibur tidak dipisahkan penuturnya; keduanya berlangsung dalam pertemuan yang sama, dan sering kali teka-teki yang menguji dilontarkan lebih dulu sebelum yang menghibur menutup malam.
Yang tidak berpasangan adalah generasinya. Penutur aktif teka-teki di nagari itu kini didominasi orang berusia di atas empat puluh tahun, sementara generasi muda nyaris tidak mengenalnya, di tengah penetrasi internet nasional yang menurut data APJII 2024 mencapai 79,50 persen. Melia Roza dan Muhammad Ismail Nasution menyebut penelitian mereka sebagai dokumentasi darurat, dan mengakui hasilnya bersifat kontekstual, tidak dapat digeneralisasikan ke luar Aua Kuniang, serta dibatasi jumlah informan dan waktu penelitian, sehingga kelengkapan datanya pun tidak mereka klaim sebagai final.
Dua jalan tersisa, dan keduanya tidak setara. Teka-teki itu bisa pindah ke buku muatan lokal seperti yang disarankan kedua peneliti, dan di sana ia akan bertahan sebagai teks yang bisa dibaca siapa saja. Ia juga bisa tetap tinggal di beranda dan surau, tempat ia hidup sebagai percakapan tetapi habis bersama penuturnya. Kuali di dapur itu masih punya telinga; yang belum pasti adalah siapa yang akan bertanya lagi tentang telinganya.














