- Komposisi Fantasia orkestra berdurasi 12 menit dengan 283 birama, dua movement.
- Movement I memakai D minor, sukat 4/4, tempo moderato, dekat melodi lenggek asli.
- Movement II bermodulasi D minor ke G mayor lalu E minor lewat canon dan unison.
- Saluang, talempong, dan vokal dendang tetap hadir berdampingan dengan combo band.
Daftar Isi
Sibelius Ultimate terbuka di layar, dan kursor berhenti tepat di birama 283. Di situlah komposisi berakhir, dua belas menit setelah dimulai. Bukan angka biasa, sebab tiap not yang tertulis di layar itu berangkat dari lenggek, gaya melodi bertingkat milik Dendang Suayan Balenggek, yang selama ini hanya hidup di mulut penyanyi dendang di satu nagari kecil Sumatera Barat.
Karya itu ditulis Rivaldo, Ferry Herdianto, Ibnu Sina, Yasril Adha, dan Yade Surayya dalam Transformasi Dendang Suayan Balenggek ke dalam Komposisi Fantasia Orkestra, dimuat Musica: Journal of Music volume 5 nomor 2, tahun 2025. Kelimanya berasal dari Program Studi Seni Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Nagari Suayan Sebelum Partitur Ditulis
Mundur dulu ke sumbernya. Dendang Suayan Balenggek berasal dari Nagari Suayan, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Keunikannya ada pada struktur melodi lenggek yang bertingkat, dan tiap tingkat merepresentasikan satu jorong yang ada di nagari itu: Suayan Tinggi, Suayan Randah, dan Suayan Soriak. Struktur bertingkat inilah yang membentuk pola melodi dan ritme khas dendang tersebut.
Struktur itu jugalah yang membedakan Dendang Suayan Balenggek dari dendang lain yang tumbuh di wilayah yang sama, misalnya Dendang Ratok Suayan yang justru menonjolkan ekspresi ratapan. Karakter musikal yang khas itulah yang membuat lenggek dianggap punya potensi untuk dikembangkan ke bentuk komposisi yang lebih luas, tanpa harus kehilangan identitas tradisionalnya sebagai dendang Minangkabau.
Sebagai seni tutur, dendang memadukan unsur vokal, melodi, dan ritme sekaligus. Fungsinya bukan cuma hiburan, melainkan juga sarana penyampaian nilai sosial, sejarah, dan identitas kultural masyarakat Minangkabau yang mewariskannya turun-temurun. Struktur lenggek yang bertingkat itu bukan hiasan, melainkan cara dendang ini menandai wilayah asal penyanyinya sekaligus menyampaikan pesannya.
Sebelum melodi itu berpindah ke partitur orkestra, pengkarya lebih dulu duduk bersama Mak Iyar, pelaku seni tradisi Dendang Suayan Balenggek, untuk memahami sejarah, makna, dan struktur musikal lenggek itu langsung dari orang yang membawakannya. Dari percakapan itulah melodi dan ritme dasar dendang baru ditranskripsikan ke notasi balok, menjadi bahan dasar bagi seluruh proses komposisi yang menyusul.
Movement I: Melodi Lama, Bingkai Baru
Movement pertama memilih jalan hati-hati. Tangga nada D minor dan sukat 4/4 dipasang untuk menjaga stabilitas tonal, sementara tempo moderato memberi ruang bagi pendengar mengenali kontur melodi dan pola ritme dendang aslinya lebih dulu. Violin I dan violin II membawa melodi dan ritme dasar lenggek sebagai fondasi seluruh transformasi yang akan menyusul di bagian berikutnya.
Di balik kesan dekat dengan bentuk asli itu, dua teknik sebenarnya sudah bekerja diam-diam. Augmentasi memperpanjang nilai nada untuk menghasilkan kesan luas dan ekspresif, sedangkan diminuisi memampatkannya menjadi variasi ritmis yang lebih padat. Instrumen string membawa melodi utama, didukung tiup, perkusi, dan paduan suara, sehingga tercipta tekstur bunyi yang berlapis di sekeliling melodi lenggek.
Saluang dan talempong, dua instrumen tradisional Minangkabau, tetap dihadirkan di sepanjang movement ini sebagai penanda karakter tradisi. Keduanya berdampingan dengan instrumen orkestra modern, menjaga keseimbangan antara unsur tradisional dan modern. Dengan susunan itu, movement pertama berperan sebagai jembatan antara bentuk dendang tradisional dan eksplorasi musikal Fantasia yang akan datang.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Titik Balik di Movement II
Lalu bingkai hati-hati tadi dilepas. Movement kedua tidak lagi menyajikan lenggek secara langsung, melainkan mengembangkannya lewat canon, unison, modulasi, dan pengolahan harmoni yang jauh lebih variatif. Tonal berpindah dari D minor ke G mayor, lalu ke E minor, mengubah suasana emosional yang tadinya stabil menjadi lebih terbuka dan berlapis ekspresi.
Gitar elektrik, bass elektrik, dan drum masuk di titik ini, berdampingan dengan orkestra tanpa mengambil alih karakter dendang yang sudah dibangun di movement pertama. Teknik unison dipakai untuk menegaskan tema utama pada beberapa bagian, sementara canon dan imitasi menciptakan dialog musikal antarkelompok instrumen, seolah dendang itu sedang bercakap dengan dirinya sendiri dalam wujud baru.
Modulasi pada movement ini, menurut pengkarya, bukan sekadar variasi nada. Modulasi ditempatkan sebagai simbol perpindahan dari materi tradisi menuju bentuk komposisi kontemporer. Pada bagian akhir atau coda, teknik diminuisi dan aksentuasi brass digabungkan untuk membangun klimaks musikal yang menegaskan identitas Fantasia sebagai bentuk yang bebas dan ekspresif.
Dua Belas Menit yang Dipertaruhkan
Hasil akhirnya adalah komposisi berdurasi sekitar dua belas menit dengan total 283 birama, terbagi dalam dua movement, ditulis penuh dalam bentuk full score memakai perangkat lunak notasi musik Sibelius Ultimate. Format orkestra dipadukan dengan combo band serta instrumen tradisional Minangkabau, yakni saluang, talempong, dan vokal dendang, hadir bersama string, tiup, perkusi, dan paduan suara dalam satu susunan yang sama.
Pengkarya menilai bentuk Fantasia cocok untuk pekerjaan semacam ini karena tidak terikat skema formal yang ketat. Sejak era Renaissance, Fantasia dikenal sebagai bentuk instrumental yang menekankan kebebasan imajinatif dan eksplorasi tema, sehingga materi dendang bisa dikembangkan lewat variasi ritme, dinamika, harmoni, dan tekstur bunyi tanpa harus tunduk pada struktur musik konvensional.
Dalam konteks komposisi modern, bentuk Fantasia memang sering dipakai sebagai medium eksploratif yang mengakomodasi pertemuan antara unsur tradisional dan idiom musikal kontemporer, termasuk format orkestra dan kombinasi instrumen modern. Itulah sebabnya lenggek dendang, yang tadinya hanya dinyanyikan solo di kampung halamannya, kini bisa berpindah wujud menjadi karya orkestra tanpa kehilangan pijakan tradisinya.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Yang perlu dicatat, penciptaan ini adalah penelitian berbasis karya, bukan riset yang mengukur tanggapan penonton lewat survei atau wawancara pendengar. Keberhasilan transformasi dinilai lewat evaluasi dan refleksi artistik pengkarya sendiri terhadap kesesuaian karya dengan tujuan penciptaan, karakter musikal dendang, dan efektivitas teknik komposisi, bukan lewat uji dengar ke publik yang lebih luas. Karya ini juga berpijak pada satu dendang dari satu nagari, sehingga polanya belum tentu berlaku untuk dendang Minangkabau yang lain.
Ada pula kejanggalan kecil yang bisa diperiksa siapa pun yang membuka naskah aslinya. Movement I disebut “menonjolkan melodi lenggek dengan pendekatan yang relatif dekat dengan bentuk aslinya,” tetapi pada kalimat berikutnya, bagian yang sama justru disebut sudah memakai augmentasi dan diminuisi, dua teknik yang oleh naskah ini sendiri dikategorikan sebagai alat untuk mengembangkan, bukan mendekatkan, materi ke bentuk asalnya.
Baca juga Bunyi Rumah Potong Hewan Padangpanjang Jadi Karya Dua Bagian
Menutup Coda, Bukan Menyimpulkan
Pengkarya menutup naskahnya dengan keyakinan pada bentuk yang mereka pilih sejak awal. “Bentuk Fantasia terbukti efektif sebagai medium transformasi musikal karena memberikan kebebasan ekspresif dalam mengolah materi tradisi ke dalam format orkestra yang dipadukan dengan combo band dan instrumen tradisional,” tulis Rivaldo, Ferry Herdianto, Ibnu Sina, Yasril Adha, dan Yade Surayya dalam kesimpulan naskahnya.
Bagi mereka, karya ini menghadirkan dialog antara tradisi dan inovasi, tempat instrumen tradisional berperan sebagai identitas kultural sementara orkestrasi dan combo band menjadi medium ekspresi kontemporer. Transformasi itu, tulis pengkarya, tidak hanya menghasilkan bentuk musikal baru, tetapi juga memperluas kemungkinan presentasi dendang Minangkabau dalam konteks pertunjukan modern yang belum tentu pernah didatangi lenggek asalnya.
Melodi dan ritme lenggek, tulis pengkarya di bagian akhir naskahnya, berhasil dipertahankan sebagai identitas utama sepanjang proses transkripsi, pengolahan motif, dan penerapan augmentasi, diminuisi, canon, unison, serta modulasi dalam kerangka Fantasia dua bagian. Pendekatan itu, menurut mereka, memungkinkan perluasan struktur, tekstur, dan warna bunyi secara kreatif sekaligus tetap berpijak pada tradisi musikal asalnya di Nagari Suayan.
Birama terakhir sudah tertulis, brass sudah diberi aksen penutup, dan partitur penuh sudah lengkap sebagai full score siap pentas dengan gabungan orkestra, combo band, dan instrumen tradisional Minangkabau. Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang tidak dijawab naskah ini sendiri: apakah dendang dari jorong-jorong Suayan itu akan tetap terasa seperti dendang, ketika suatu hari benar-benar dimainkan orkestra di depan penonton yang belum pernah mendengar lenggek aslinya.















