- Rumah Potong Hewan Padangpanjang berdiri sejak 1990 di Kelurahan Silaing Bawah.
- Asahan pisau, rel pengangkut, pasak besi, dan jeritan sapi direkam sebagai bahan bunyi.
- Splicing, equalizer, reverb, delay, panning, dan looping dipakai di Studio One 6.
- Karya diuji di ruangan kedap suara sebelum disajikan stereo dengan video infocus.
Daftar Isi
Rumah Potong Hewan Padangpanjang berdiri pada 1990. Bangunannya ada di Jalan RPH, RT 9, Kelurahan Silaing Bawah, Padang Panjang Barat. Tempat itu memotong hewan, terutama sapi. Bertahun-tahun kemudian, bunyi yang keluar dari halamannya direkam dan dijadikan bahan dasar sebuah karya musik.
Karya itu dilaporkan Risky Riyadi, Sastra Munafri, Ibnu Sina, Yon Hendri, dan Ahmad Zaidi dalam Komposisi Sound Design Rumah Potong Hewan Padangpanjang, yang terbit di Musica Journal of Music, 5(1), 2025. Kelimanya berasal dari Program Studi Seni Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Bentuknya komposisi musik multimedia. Bahan dasarnya bunyi organik dari lingkungan rumah potong, dipadukan dengan bunyi buatan yang diolah lewat perangkat lunak. Karyanya dibagi menjadi dua bagian dengan watak berlawanan. Bagian pertama merekam semangat pekerja, bagian kedua menghadirkan suasana yang mencekam.
Alasan pemilihan lokasi disebut pengkarya sejak awal naskah. Kegiatan industri yang teratur di sana bertemu dengan hal lain yang tidak berbunyi mesin. “Suasana di rumah potong hewan adalah campuran antara kegiatan industri yang berlangsung secara teratur dengan nuansa ketegangan dan kesedihan yang melingkupinya,” tulis Risky Riyadi dan rekan-rekannya.
Tujuan yang disebut pengkarya cukup lugas. Ia ingin membawa dan menunjukkan suasana rumah potong hewan itu kepada masyarakat lewat musik multimedia garapan sound design. Naskah menambahkan satu harapan lain, yaitu agar karyanya menjadi rujukan bagi mahasiswa seni musik yang hendak mengembangkan teknik sound design dalam komposisi multimedia.
Mula-mula, daftar bunyi yang dikumpulkan
Tahap pertama berlangsung di lokasi. Pengkarya mengamati langsung lingkungan rumah potong, lalu memilih bunyi mana yang hendak dipakai. Yang direkam antara lain suara sapi ketika ditarik, asahan pisau, dan suara sapi saat dipotong. Semuanya berasal dari kegiatan yang memang berlangsung di sana setiap hari.
Daftarnya berlanjut ke bunyi yang lebih kecil. Naskah menyebut suara kaki, suara pasak besi, dan suara rel pengangkut daging. Ada pula bunyi pekerja memotong bagian-bagian sapi, obrolan antarpekerja, serta suara mobil. Bunyi mesin dan helaan napas hewan ikut masuk ke dalam daftar bahan.
Bunyi-bunyi itu tidak diperlakukan sebagai rekaman dokumenter. Pengkarya menganggapnya lapisan yang masih bisa disusun ulang. “Kombinasi suara alami dan suara buatan manusia, logat dan bahasa memberikan dimensi yang unik dan menarik,” tulis mereka di bagian pendahuluan naskah yang sama.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Berikutnya, bunyi masuk ke Studio One 6
Tahap kedua pindah ke layar komputer. Seluruh sampel dimasukkan ke Studio One 6, sebuah Digital Audio Workstation. Di sana urutan materi diubah dan bunyi baru disisipkan lewat teknik yang disebut splicing. Naskah menjelaskan splicing sebagai cara mengubah urutan materi pada track yang dipilih pengkarya.
Teknik lain menyusul sesudah itu. Equalizer dipakai sebagai filter elektronik untuk mengubah dan mengatur frekuensi bunyi. Reverb menambahkan efek ruang, memperkecil atau memperluas dimensi suara. Delay mengulang sinyal yang terekam dengan penundaan waktu, sehingga muncul efek yang umum disebut gema.
Dua teknik berikutnya mengatur ruang dan waktu. Panning menempatkan posisi bunyi di kiri, tengah, atau kanan pada bentangan stereo. Looping mengulang cuplikan terus-menerus sampai kondisi yang diinginkan tercapai. Pada tahap ini pengkarya juga memakai automation dan velocity untuk menggerakkan bunyinya.
Sesudah semua bahan diolah, pekerjaan berpindah ke mixing dan mastering. Hasilnya didengarkan pengkarya memakai headphone sebelum pekerjaan dilanjutkan. Naskah menempatkan tahap ini sebagai ruang percobaan, tempat pilihan bunyi masih bisa diganti dan kreativitas masih bisa dikembangkan.
Alat yang dibutuhkan disebut tidak banyak. Laptop, audio interface, near-field speaker, mikrofon, dan headphone sudah cukup untuk memindahkan ide garapan ke dalam bentuk musik digital. Pengkarya menyebut perkembangan itu sebagai alasan musik tidak lagi berbentuk instrumen konvensional semata.
Baca juga Sound Logo Netflix, Dua Detik yang Dirancang Ketat
Bagian pertama, semangat para pekerja
Bagian pertama karya bertolak dari manusia. Bunyi yang dipakai disusun menjadi pola ritmis dengan watak ceria. Yang digambarkan adalah semangat pekerja yang menjalankan kegiatan rutin di rumah potong. Obrolan, langkah kaki, dan derit rel pengangkut masuk sebagai bahan utamanya.
Naskah menempatkan bagian ini sebagai sisi industri dari lokasi tersebut. Kegiatan di sana berlangsung teratur, dengan suara mesin dan aktivitas pekerja sebagai penandanya. Di bagian ini pengkarya tidak menonjolkan ketegangan. Ia memilih menampilkan irama kerja yang berulang setiap hari.
Bagian kedua, suasana dari sisi sapi
Bagian kedua membalik sudut dengar. Pengkarya berpindah ke perspektif hewan yang akan dipotong. Suasananya dibuat mencekam dan suram, menggambarkan suramnya tempat pembantaian. Jeritan hewan dan helaan napas menjadi bahan yang paling menonjol di sepanjang bagian ini.
Kedua bagian itu bersandar pada rekaman yang diambil dalam rentang waktu yang sama. Semangat pekerja dan kesedihan sapi tidak berasal dari dua kunjungan berbeda. Naskah menyebut pilihan itu sesuai dengan tema komposisi multimedia yang sejak awal dirancang berpasangan.
Kontras itu juga disandarkan pada keadaan kota. Naskah menyebut Padangpanjang dominan dingin dan sering hujan, dan hal itu ikut dipantulkan ke dalam musik lewat kombinasi elemen yang dinamis dan dramatis. Suara organik dan suara mekanis membentuk lapisan yang saling bertumpuk di sepanjang karyanya.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Landasan teknisnya diambil dari Alessandro Cipriani dan Maurizio Giri. Menurut keduanya, sound design melibatkan penggunaan perangkat lunak komputer untuk mengolah suara. Cara itu memungkinkan komposer atau desainer suara memanipulasi bunyi dengan cara yang tidak mungkin dilakukan memakai alat musik konvensional. Kutipan itu dipakai pengkarya sebagai pijakan seluruh pengolahan bunyinya.
Menjelang publikasi, uji dengar di ruang kedap
Tahap ketiga adalah perwujudan. Sebelum karyanya dipublikasikan, pengkarya memperdengarkan hasil olahan itu di sebuah ruangan kedap suara dengan format stereo. Uji dengar tersebut menjadi titik terakhir sebelum karya dibawa ke hadapan penonton. Sesudahnya, pekerjaan berpindah ke urusan panggung.
Penyajiannya menuntut pekerjaan teknis tersendiri. Instalasi peralatan multimedia dan routing perkabelan disebut berpengaruh penting pada keberhasilan karya, sebab hasil akhirnya keluar melalui speaker. Tata suara memakai setelan stereo agar yang terdengar sesuai dengan yang disusun di Studio One.
Bunyi tidak berdiri sendiri di panggung. Pengkarya menambahkan video yang ditayangkan di layar monitor memakai infocus. Naskah menyebut penyajian semacam ini sebagai tugas yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian, karena setiap unsurnya menentukan hasil yang didengarkan penonton di ruang pertunjukan.
Catatan yang tersisa di dalam naskah
Naskahnya sendiri menyimpan beberapa selip yang mudah diperiksa pembaca. Nama penulis kedua tertulis Sastra Munafri pada baris penulis, tetapi berubah menjadi Ysastra Munafri pada kepala halaman yang berulang di seluruh artikel. Alamat surel salah satu penulis juga tertulis isi-padanganjang.ac.id, kurang satu huruf dari nama lembaganya.
Judul buku rujukan utamanya pun tidak konsisten. Di tubuh naskah, karya Alessandro Cipriani dan Maurizio Giri disebut berjudul Music and Sound Design. Di daftar pustaka, judulnya tertulis Electronic Music and Sound Design: Theory and Practice with Max/MSP volume 1, terbit pada 2010.
Daftar tekniknya juga berubah dari bagian ke bagian. Uraian tekniknya memuat splicing, equalizer, reverb, delay, panning, dan looping. Kesimpulannya menyebut compressor dan cutting yang tidak pernah diuraikan sebelumnya, sementara panning dan looping justru menghilang. Dua rujukan di daftar pustaka pun dibiarkan berupa tautan mentah tanpa nama penulis.
Keterbatasannya melekat pada bentuk laporannya. Ini catatan penciptaan atas satu karya di satu lokasi, sehingga tidak bisa dibaca sebagai gambaran rumah potong hewan lain. Naskah tidak memuat durasi karya, jumlah sampel bunyi yang terkumpul, maupun tanggapan pendengar. Penilaian bahwa bunyinya menjadi dinamis dan emosional datang dari pengkarya sendiri.
Catatan terakhir yang tersedia berhenti di ruangan kedap suara itu. Sesudah uji dengar, karyanya disajikan lewat speaker stereo dengan video pendamping di layar monitor. Naskah tidak mencatat apa yang terjadi sesudah penyajian. Sampai titik itu, bunyi rumah potong hewan Padangpanjang sudah tersimpan seluruhnya dalam bentuk berkas digital di dalam satu komposisi.















