- Kompos maggot dan kotoran ayam diuji pada 48 unit percobaan bunga matahari di Pantai Pasir Putih, Padang.
- Tanaman tertinggi 180,12 cm tumbuh pada racikan 20 gram kompos maggot dan 30 gram kotoran ayam.
- Jumlah biji naik dari 980 biji tanpa pupuk menjadi 1.131,33 biji pada racikan tertinggi.
- Persentase tumbuh bibit, jumlah daun, dan diameter batang tidak berbeda nyata antarperlakuan.
- Paper tidak menampilkan nilai F atau tabel sidik ragam untuk interaksi kedua pupuk.
Daftar Isi
- Tanah pesisir yang miskin hara (lahan marginal)
- Sisa kerja larva lalat tentara hitam (kompos maggot)
- Enam belas racikan dosis dengan tiga ulangan (RAK faktorial)
- Beda yang lolos uji statistik (berpengaruh nyata)
- Angka yang tak lolos uji (tidak berpengaruh nyata)
- Bobot seratus biji dan sifat bawaan benih (genetik)
Cekricek.id — Sisa nasi, sayur, buah, dan daging yang diurai larva lalat tentara hitam berujung menjadi kompos maggot, dan pupuk itulah yang diberikan peneliti Universitas Andalas pada bunga matahari di Pantai Pasir Putih, Padang. Hasilnya tidak seragam: jumlah biji dan tinggi tanaman berbeda nyata antarperlakuan, sedangkan persentase tumbuh bibit, jumlah daun, dan diameter batang tidak.
Penelitian itu ditulis Obel, Warnita, Benni Satria, Aprizal Zainal, Armansyah, Muhammad Agil Mustafa, dan Muhammad Fiqri dari Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas. Judulnya Evaluation of the Effectiveness of Maggot Compost and Chicken Manure Fertilizer on Sunflowers in Sandy Land, terbit di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences (AIJANS) Volume 7 Nomor 1 tahun 2026, halaman 9–15.
Percobaannya berlangsung di Pantai Pasir Putih, Bungo Pasang, Kota Padang, Sumatera Barat, dari Juni sampai September 2025. Tujuannya menilai efektivitas kompos dan pupuk kotoran ayam pada bunga matahari di tanah berpasir. Kata efektivitas itu diwujudkan lewat enam pengukuran: persentase tumbuh bibit, tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah biji per tanaman, dan bobot 100 biji.
Tanah pesisir yang miskin hara (lahan marginal)
Lahan marginal, dalam paper ini, dipakai untuk menyebut lahan seperti tanah berpasir di pesisir, yang oleh penulis disebut miskin hara sehingga jarang dipakai untuk bercocok tanam. Menurut abstrak, pengembangan bunga matahari saat ini justru diarahkan ke lahan semacam itu, terutama tanah berpasir, karena lahan subur terbatas.
Maksudnya, pilihan ke pantai bukan karena tanahnya bagus. Pendahuluan paper menyebut lahan pesisir punya banyak masalah, seperti kadar garam yang tinggi dan ketersediaan hara yang kurang bagi tanaman budi daya. Di sisi lain, lahan di kawasan pesisir itu luas dan disebut belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, penulis menilai perlu rancangan inovatif agar bunga matahari bisa dibudidayakan di sana.
Soal manfaat tanamannya, pendahuluan menyebut bunga matahari dapat dipakai sebagai bahan pangan, obat, bahan baku industri, bahkan diduga berpotensi besar untuk produk kecantikan. Bijinya biasa dijadikan camilan, kulit bijinya untuk pakan ternak, batangnya untuk bahan pembuat kertas, dan daunnya sebagai pengganti tembakau. Budi dayanya juga disebut membuka peluang beternak lebah madu.
Sisa kerja larva lalat tentara hitam (kompos maggot)
Kompos maggot, menurut pendahuluan paper, adalah hasil dekomposisi maggot, yaitu larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Larva ini disebut mampu mengurai sampah organik yang kerap menjadi limbah manusia, seperti nasi, sayur, buah, dan daging. Pemanfaatannya pun dinilai cukup berguna untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
Yang tercantum dalam daftar bahan penelitian adalah kompos itu, bukan larvanya. Paper menambahkan bahwa maggot dapat memakan hampir semua jenis sampah organik karena rentang toleransinya terhadap pH makanan cukup lebar. Namun, paper tidak menjelaskan asal kompos yang dipakai di Pasir Putih, bahan sampah yang diurai, maupun lama pengomposannya.
Pupuk kedua, kotoran ayam, disebut sebagai cara lain menambah bahan organik ke tanah untuk menjaga kesuburan dan mencukupi hara mikro serta makro. Paper mencatat kotoran ayam mengandung nitrogen tiga kali lebih banyak dibanding pupuk kandang lain. Kadarnya nitrogen 2,6 persen, fosfor 2,9 persen, dan kalium 3,4 persen, dengan rasio C/N 8,3.
Untuk kompos maggot, paper memuat kandungan nitrogen 3,276 persen, fosfor 3,387 persen, kalium 9,74 persen, C-organik 40,95 persen, rasio C/N 12,50 persen, dan kadar air 11,04 persen. Kedua kelompok angka itu tidak berasal dari pupuk yang dipakai di Pasir Putih. Paper menyajikannya sebagai hasil penelitian lain, dan tidak melaporkan analisis kandungan pupuknya sendiri.
Enam belas racikan dosis dengan tiga ulangan (RAK faktorial)
RAK faktorial adalah singkatan dari rancangan acak kelompok faktorial, rancangan yang dipakai penulis dengan dua faktor. Faktor pertama dosis kompos maggot, yaitu 0, 10, 15, dan 20 gram per tanaman, berkode M1 sampai M4. Faktor kedua dosis kotoran ayam, yaitu 0, 10, 20, dan 30 gram per tanaman, berkode P1 sampai P4.
Setiap kombinasi diulang tiga kali sehingga terbentuk 48 unit percobaan. Hitungannya begini: empat taraf kompos dipasangkan dengan empat taraf kotoran ayam menjadi 16 racikan, dan setiap racikan hadir tiga kali di lahan. Racikan paling ringan tanpa kedua pupuk. Yang paling berat memberi 20 gram kompos dan 30 gram kotoran ayam, atau 50 gram untuk satu tanaman.
Baca juga Kandang Maggot BSF Padang Berhenti, Apa Sebabnya
Tahapan kerjanya dicatat ringkas. Lahan dicangkul dan dibuat bedengan, lalu pupuk diberikan sesuai perlakuan dan lahan diinkubasi selama sepekan. Sesudah itu benih bunga matahari jumbo lokal ditanam satu biji per lubang tanam. Perawatannya meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan susulan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Daftar bahan juga memuat pupuk NPK Mutiara dan pestisida kimia. Paper tidak merinci dosis NPK itu, waktu pemupukan susulan, jarak tanam, maupun ukuran bedengan. Data dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) melalui uji F pada taraf 5 persen. Namun, kalimat metode itu berhenti di kata sambung tanpa menyebut uji lanjut yang dipakai.
Beda yang lolos uji statistik (berpengaruh nyata)
Berpengaruh nyata adalah vonis statistik yang dalam paper ini hanya dijatuhkan pada dua pengukuran, yakni tinggi tanaman dan jumlah biji. “Berdasarkan uji statistik, perlakuan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman bunga matahari di tanah berpasir,” tulis Obel dan rekan-rekannya. Tinggi itu diukur pada 7 MST, satuan umur tanaman dalam minggu yang di Tabel 1 ditulis sebagai minggu setelah tanam.
Tanaman tanpa pupuk apa pun setinggi 171,34 cm. Tanaman tertinggi, 180,12 cm, tumbuh pada racikan 20 gram kompos maggot dan 30 gram kotoran ayam, lebih tinggi 8,78 cm atau sekitar 5 persen. Angka terendah justru bukan milik perlakuan kosong, melainkan 170,65 cm pada 10 gram kompos tanpa kotoran ayam.
Rata-rata per faktor tampak lebih berurutan. Menurut dosis kotoran ayam, tinggi rata-rata naik dari 171,46 cm ke 173,67 cm, 176,66 cm, lalu 177,31 cm. Menurut dosis kompos, angkanya 173,36 cm, 173,48 cm, 175,57 cm, dan 176,69 cm. Uji lanjut memberi huruf yang sama pada 0 dan 10 gram kompos, artinya keduanya tidak berbeda nyata.
Jumlah biji per tanaman memberi selisih yang lebih lebar. Tanaman tanpa pupuk menghasilkan 980 biji. Angka tertinggi, 1.131,33 biji, tercatat pada 15 gram kompos maggot dan 20 gram kotoran ayam. Selisihnya 151,33 biji, atau sekitar 15 persen. “Berdasarkan uji statistik, pemberian kotoran ayam dan kompos maggot berpengaruh nyata terhadap jumlah total biji bunga matahari yang ditanam di tanah berpasir,” tulis para penulis.

Rata-rata jumlah biji menurut dosis kotoran ayam naik dari 1.028,25 menjadi 1.104,75, lalu 1.120,67, dan 1.127,50 biji. Menurut dosis kompos, angkanya 1.072,00, 1.086,09, 1.104,33, dan 1.118,75 biji. Tambahan dari 20 ke 30 gram kotoran ayam hanya 6,83 biji, dan uji lanjut memberi keduanya huruf yang sama.
Interaksi adalah kata yang dipakai kesimpulan paper untuk dua pasangan dosis. Kompos maggot 20 gram dan kotoran ayam 30 gram per tanaman disebut berinteraksi pada tinggi tanaman. Adapun kotoran ayam 20 gram dan kompos 15 gram disebut berinteraksi pada jumlah biji. Kedua pasangan itu memang sel dengan angka tertinggi di tabelnya masing-masing.
Yang tidak tersedia adalah pembuktiannya di tabel. Tabel tinggi tanaman dan tabel jumlah biji hanya memberi huruf uji lanjut pada rata-rata tiap faktor, bukan pada 16 sel kombinasi. Paper juga tidak menampilkan nilai F atau tabel sidik ragam, sehingga pembaca tidak dapat memeriksa apakah interaksi kedua pupuk memang teruji nyata.
Angka yang tak lolos uji (tidak berpengaruh nyata)
Tidak berpengaruh nyata adalah vonis untuk tiga pengukuran lain. Kesimpulan paper mudah memberi kesan berbeda. Di sana tertulis bahwa pemberian kotoran ayam dan kompos maggot pada beberapa dosis menghasilkan peningkatan pertumbuhan dan hasil bunga matahari di tanah berpasir pada setiap dosis. Bagian hasil memperlihatkan gambaran yang lebih bertingkat.
Persentase tumbuh bibit pada dua minggu setelah tanam berkisar 86,67 sampai 100 persen. “Uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap perkecambahan bibit,” tulis Obel dan rekan-rekannya. Rata-rata menurut dosis kotoran ayam memang naik dari 90,83 menjadi 96,67 persen, dan angka 100 persen muncul pada dua racikan. Namun, kenaikan itu tidak lolos uji.
Jumlah daun pada 7 MST berkisar 22,45 sampai 29,14 helai dan juga tidak berbeda nyata. Menurut dosis kompos, rata-ratanya naik berurutan dari 23,97 menjadi 26,04, 26,91, dan 27,63 helai. Menurut dosis kotoran ayam, puncaknya justru di 20 gram dengan 28,17 helai, lalu turun menjadi 27,47 helai pada 30 gram.
Baca juga Fly Ash Batubara di Gambut dan Baris Nol yang Diukur Duluan
Diameter batang berkisar 20,14 sampai 23,78 mm, dan analisis statistik menyatakan dosis kedua pupuk tidak berpengaruh nyata. Rata-ratanya menurut dosis kotoran ayam 21,66, 22,51, 23,13, dan 23,48 mm, sedangkan menurut dosis kompos maggot 21,68, 22,31, 23,20, dan 23,60 mm. Selisih terbesar antarrata-rata itu kurang dari dua milimeter.
Pembahasan paper menyebut kenaikan rata-rata diameter batang sebanding lurus dengan kenaikan dosis kedua pupuk. Kalimat itu merujuk pada Tabel 3, padahal data diameter berada di Tabel 4. Hal serupa terjadi pada jumlah biji, yang teksnya merujuk Tabel 4 sementara angkanya berada di Tabel 5.
Bobot seratus biji dan sifat bawaan benih (genetik)
Bobot 100 biji adalah berat seratus butir biji bunga matahari, dan hasilnya berkisar 3,40 sampai 3,98 gram. Paper tidak menuliskan hasil uji statistik untuk pengukuran ini. Penulis hanya menyebut datanya tidak jauh berbeda, walau setiap kenaikan dosis disebut dapat menambah bobot. Angka tertinggi 3,98 gram tercatat pada 15 gram kompos dan 20 gram kotoran ayam.
Rata-rata menurut dosis kotoran ayam tidak naik terus: 3,54, 3,68, 3,86, lalu 3,84 gram. Teks pembahasan menyebut rata-rata bobot 3,54 sampai 3,84 gram, padahal tabelnya mencatat 3,86 gram pada 20 gram kotoran ayam. Menurut dosis kompos maggot, rata-ratanya 3,61, 3,71, 3,77, dan 3,82 gram.
Penulis mengaitkan bobot yang tidak banyak berbeda itu dengan genetika bunga matahari yang dipakai, sehingga diperlukan adaptasi untuk memaksimalkan potensinya. Menurut paper, hara yang diberikan kadang sudah cukup, tetapi penampilan varietas itu sendiri ikut memengaruhi hasil. Nama varietas benih jumbo lokal yang dipakai tidak disebutkan.
Baca juga Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat
Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Percobaan berlangsung di satu lokasi dan satu periode tanam, Juni sampai September 2025. Kadar garam tinggi yang di pendahuluan disebut sebagai masalah lahan pesisir tidak dilaporkan hasil pengukurannya. Paper juga tidak memuat analisis tanah sebelum maupun sesudah pemupukan.
Efektivitas dalam judul paper ini berhenti pada enam angka dari tanaman di bedengan Pasir Putih, dan hanya tinggi tanaman serta jumlah biji yang teruji berbeda nyata. Kandungan minyak nabati dalam biji, yang di pendahuluan disebut berkisar 23 sampai 45 persen, tidak termasuk yang diukur. Begitu pula berat panen per luas lahan.















