Biosaka pada Jagung Manis, Lima Konsentrasi Tak Berbeda Nyata

A A

Beberapa tongkol jagung manis yang masih terbungkus kelobot di dalam kantong plastik bening. [Foto: Lalalalabpi/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)]

  • Lima taraf konsentrasi biosaka, 0 sampai 100 ml per 15 liter air, diuji pada jagung manis Bonanza F1.
  • Sidik ragam menyatakan perbedaan tidak nyata pada keenam parameter, dari tinggi tanaman sampai berat per unit.
  • Berat per unit tertinggi 2,25 kg pada 75 ml, sedangkan 100 ml mencatat angka terendah 1,67 kg.
  • Jumlah biji per baris tertinggi, 30,87 biji, masih di bawah batas bawah deskripsi 31,8 biji.
  • Percobaan dijalankan tanpa pupuk dasar, baik pupuk organik maupun pupuk kimia.
Daftar Isi
  1. Biosaka pada jagung manis: ekstrak rumput untuk tanaman
  2. RAK: lima takaran, tiga ulangan
  3. HST: hitungan hari setelah tanam
  4. Tidak nyata: beda angka yang tak lolos uji statistik
  5. Deskripsi varietas: patokan bawaan Bonanza F1
  6. Berat per unit: hasil panen yang ditimbang

Cekricek.id — Biosaka pada jagung manis adalah larutan dari rumput dan dedaunan yang disemprotkan ke tanaman, dan sebuah penelitian di Rappang, Sulawesi Selatan, menguji apakah takarannya mengubah tinggi batang hingga berat panen. Jawabannya, setelah semua angka dianalisis dengan sidik ragam, tidak. Lima taraf konsentrasi yang diuji tidak menghasilkan perbedaan nyata pada satu pun dari enam parameter yang diamati, mulai dari tinggi tanaman sampai berat per unit.

Penelitian itu ditulis Sainuddin, Muhanniah, dan Fenny Hasanuddin dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Judulnya Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Varietas Bonanza F1 Dengan Aplikasi Beberapa Konsentrasi Biosaka, terbit di Jagur Jurnal Agroteknologi Volume 7 Nomor 2, Oktober 2025, halaman 81–87, jurnal yang diterbitkan Universitas Andalas.

Percobaannya berlangsung di Kelurahan Rappang, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang, pada Februari hingga Juni 2025. Tujuannya dua: mengetahui pengaruh konsentrasi biosaka pada jagung manis, baik pertumbuhan maupun produksinya, serta mencari konsentrasi yang memberi hasil terbaik. Varietas yang dipakai Bonanza F1, yang menurut penulis banyak dibudidayakan di Indonesia karena unggul dalam hasil panen dan rasa manis.

Biosaka pada jagung manis: ekstrak rumput untuk tanaman

Maksud istilah biosaka sudah dijelaskan penulis sejak abstrak. Di sana biosaka disebut elisitor, yakni bahan dari ekstrak tanaman atau rumput yang dapat melindungi tanaman dari penyakit dan hama, sekaligus mengurangi pemakaian pupuk kimia sebesar 50–90 persen. Pendahuluan paper menambahkan bahwa formulanya berasal dari gabungan lima jenis rumput dan dedaunan atau lebih, yang harus sehat dan bebas kontaminasi kimia.

Bahan yang dipakai di Rappang tercatat jelas: tanaman badotan, patikan kebo, jelantir, sembung rambat, dan meniran, ditambah air. Alatnya pun sederhana, antara lain timbangan, cangkul, saringan, gayung, botol, corong, sprayer atau alat semprot, baskom, dan gelas ukur. Paper tidak merinci langkah pembuatan larutan biosaka dari kelima tanaman itu, termasuk berapa lama bahan diolah sebelum disemprotkan.

RAK: lima takaran, tiga ulangan

RAK adalah singkatan dari Rancangan Acak Kelompok, rancangan percobaan yang dipakai penulis dengan satu faktor, yaitu konsentrasi biosaka. Faktor itu dibagi menjadi lima taraf: 0 ml, 25 ml, 50 ml, 75 ml, dan 100 ml biosaka per 15 liter air. Masing-masing diulang tiga kali sehingga terdapat 15 unit penelitian. Taraf 0 ml disebut paper sebagai perlakuan tanpa biosaka.

Bedanya begini: pada taraf tertinggi, setiap 15 liter air mendapat 100 ml biosaka, empat kali takaran taraf 25 ml. Di luar angka konsentrasi itu, paper tidak menyebut luas tiap unit, jarak tanam, jumlah tanaman per unit, maupun jadwal dan frekuensi penyemprotan. Yang disebut hanyalah syarat umum lahan jagung, yaitu pH tanah 5,5–7,5, kemiringan kurang dari 8 persen, dan air yang cukup.

Paper juga mencatat bahwa percobaan ini tidak menggunakan pupuk dasar, baik pupuk organik maupun pupuk kimia. Maksudnya, biosaka pada jagung manis di Rappang diuji tanpa tambahan pupuk apa pun. Ketika membahas umur berbunga, penulis menyebut unsur hara pada percobaan itu berasal dari tanah dan dari berbagai konsentrasi biosaka yang disemprotkan.

HST: hitungan hari setelah tanam

HST berarti hari setelah tanam, satuan umur yang dipakai paper untuk setiap pengamatan. Tinggi tanaman dan jumlah daun diukur empat kali, yaitu pada 12, 24, 36, dan 48 HST. Pada pengukuran terakhir, tinggi tanaman berkisar dari 151,55 cm pada konsentrasi 25 ml sampai 169,09 cm pada konsentrasi 75 ml. Tanaman tanpa biosaka setinggi 158,72 cm, sementara konsentrasi 50 ml dan 100 ml menghasilkan 163,57 cm dan 157,49 cm.

Selisih tanaman tertinggi dan terendah pada 48 HST adalah 17,54 cm, dan urutannya tidak mengikuti besar takaran. Pada pengukuran 36 HST, misalnya, tanaman tanpa biosaka justru tercatat paling tinggi, 102,87 cm, sedangkan konsentrasi 100 ml paling rendah, 87,92 cm. Di antara keduanya ada 97,37 cm untuk 25 ml, 94,00 cm untuk 50 ml, dan 94,41 cm untuk 75 ml.

Sidik ragam menyatakan perbedaan tinggi itu tidak nyata pada keempat umur pengamatan. “Hal ini menunjukkan bahwa Biosaka belum mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman pada fase vegetatif,” tulis Sainuddin, Muhanniah, dan Fenny Hasanuddin. Kata kuncinya ada pada “belum mampu”. Paper tidak menyimpulkan bahwa biosaka pada jagung manis menghambat pertumbuhan tinggi, dan tidak pula menyimpulkan bahwa biosaka mendorongnya.

Baca juga Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit

Jumlah daun bergerak serupa. Pada 48 HST, daun terbanyak 10,8 helai pada konsentrasi 50 ml, disusul 10,73 helai pada 75 ml dan 10,60 helai pada 25 ml. Tanaman tanpa biosaka dan tanaman dengan 100 ml sama-sama berdaun 10,20 helai. Beda antara yang terbanyak dan yang tersedikit hanya 0,6 helai, dan sidik ragam kembali menyatakannya tidak nyata di semua umur.

Pada 12 HST, jumlah daun di kelima perlakuan berkisar 2,93 sampai 3,13 helai. Pada 24 HST angkanya 5,2 sampai 5,80 helai, dan pada 36 HST 7,53 sampai 8,27 helai. Penulis membaca pola ini sebagai tanda bahwa peningkatan dosis maupun frekuensi aplikasi biosaka belum mampu merangsang penambahan jumlah daun secara signifikan.

Tidak nyata: beda angka yang tak lolos uji statistik

Frasa “berpengaruh tidak nyata” muncul di setiap bagian hasil paper ini. Maksudnya bukan angka antarperlakuan persis sama. Angkanya berbeda, kadang terlihat cukup jauh, tetapi setelah dianalisis dengan sidik ragam perbedaan itu tidak tergolong nyata secara statistik. Paper merumuskannya paling gamblang ketika membahas jumlah biji per baris dalam uji biosaka pada jagung manis.

“Meskipun terlihat adanya tren peningkatan jumlah biji pada perlakuan Biosaka, perbedaan antar perlakuan tergolong kecil dan tidak menunjukkan pengaruh nyata secara statistik,” tulis para penulis. Jumlah biji per baris terendah 27,60 biji pada perlakuan tanpa biosaka dan tertinggi 30,87 biji pada konsentrasi 75 ml. Tiga perlakuan lain menghasilkan 29,20 biji pada 25 ml, 29,73 biji pada 50 ml, dan 29,60 biji pada 100 ml.

Selisih 3,27 biji per baris itulah yang oleh penulis disebut kecil. Jumlah baris per tongkol juga tidak berbeda nyata: 14,00 baris tanpa biosaka, 13,20 baris pada 25 ml, 14,67 baris pada 50 ml, 14,07 baris pada 75 ml, dan 14,27 baris pada 100 ml. Paper menyebut jumlah baris per tongkol lebih dipengaruhi faktor genetik dari benih yang digunakan.

Ladang jagung dan sebuah pondok beratap di Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
Ladang jagung dan sebuah pondok beratap di Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. [Foto: Kurniawan Maulana/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Umur berbunga nyaris seragam. Tanaman dengan konsentrasi 25 ml berbunga pada 51 HST, sedangkan empat perlakuan lain, termasuk tanpa biosaka, berbunga pada 52 HST. Selisih satu hari itu pun dinyatakan tidak nyata. Menurut penulis, perbedaan konsentrasi biosaka tidak memberikan pengaruh nyata terhadap percepatan ataupun perlambatan pembungaan jagung manis.

Deskripsi varietas: patokan bawaan Bonanza F1

Deskripsi varietas, dalam paper ini, adalah kisaran angka yang dipakai penulis untuk membandingkan hasil di Rappang. Menurut deskripsi yang dirujuk penulis, jagung manis Bonanza F1 memiliki tinggi 157,7–264,0 cm, berbunga pada 50–55 hari, dan memiliki 16–18 baris per tongkol. Untuk jumlah biji per baris, penulis memakai deskripsi umum 31,8 sampai 46,4 biji. Pendahuluan paper juga menyebut tongkol varietas ini seberat 300–480 gram dengan masa panen 70–85 HST.

Dibandingkan patokan itu, umur berbunga 51–52 HST masuk kisaran. Jumlah biji per baris tidak. Angka tertinggi di Rappang, 30,87 biji, masih di bawah batas bawah 31,8 biji, dan penulis menyatakan hasil ini belum memenuhi kisaran deskripsi. Jumlah baris per tongkol, 13,20 sampai 14,67 baris, juga di bawah kisaran 16–18 baris. Penulis mengaitkannya dengan pengaplikasian biosaka yang belum memenuhi kebutuhan tanaman.

Untuk tinggi tanaman, paper menyimpulkan kisaran 151,55 sampai 169,09 cm sudah masuk ke dalam kisaran deskripsi. Pernyataan ini tidak sepenuhnya cocok dengan angkanya sendiri. Dua perlakuan berada di bawah batas bawah 157,7 cm, yaitu 25 ml dengan 151,55 cm dan 100 ml dengan 157,49 cm. Hanya tiga perlakuan yang tingginya berada di dalam kisaran deskripsi.

Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen

Berat per unit: hasil panen yang ditimbang

Berat per unit adalah parameter produksi yang dicatat paper dalam kilogram. Hasil tertinggi 2,25 kg pada konsentrasi 75 ml, disusul 2,20 kg pada 50 ml, 1,97 kg pada 25 ml, dan 1,88 kg tanpa biosaka. Konsentrasi tertinggi, 100 ml, justru mencatat angka terendah, 1,67 kg. Selisih terbesar antarperlakuan 0,58 kg, dan sidik ragam untuk biosaka pada jagung manis kembali menyatakannya tidak nyata.

Maksud “unit” di sini tidak dijelaskan. Judul Gambar 6 dan bagian kesimpulan memakai istilah produksi atau berat per unit, sedangkan uraian di bawah grafik menyebutnya berat per plot. Paper juga tidak mencantumkan berapa tanaman atau berapa luas lahan yang membentuk satu unit, sehingga pembaca tidak dapat mengetahui berapa tongkol yang tercakup dalam angka 2,25 kg.

Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Penjelasan penulis untuk hasil yang tidak nyata adalah biosaka dan unsur hara yang belum cukup tersedia bagi tanaman. Penulis juga menyebut pemilihan waktu penyemprotan pada tahap awal penanaman membuat serapan hara sebagian besar dialokasikan untuk pertumbuhan vegetatif, sehingga kebutuhan nutrisi pada fase generatif tidak tercukupi dengan baik.

Baca juga Pertanian Terapung Daha Selatan, Fosfornya Bertahan Empat Tahun

Beberapa bagian naskah tidak sejalan satu sama lain. Kesimpulan menyebut konsentrasi 100 ml memberi hasil terbaik untuk umur berbunga dengan 52 HST, padahal empat perlakuan berbunga pada 52 HST dan konsentrasi 25 ml berbunga lebih cepat, 51 HST. Uraian jumlah daun juga menyebut umur pengamatan 46 HST, sementara bagian metode dan grafiknya mencatat 48 HST.

Biosaka pun dilukiskan dengan dua cara. Pendahuluan menyebutnya hasil fermentasi bahan organik yang mengandung mikroorganisme bermanfaat, sedangkan paragraf berikutnya menggambarkannya sebagai hasil proses ekstraksi dengan pengadukan bertahap dalam air. Selain itu, paper hanya menyajikan kesimpulan “tidak nyata” untuk setiap parameter, tanpa menampilkan nilai uji statistik di baliknya.

Karena itu, istilah “konsentrasi terbaik” dalam kesimpulan paper ini punya batas yang jelas. Frasa itu merujuk pada angka rata-rata tertinggi di tiap parameter, yakni 75 ml untuk tinggi tanaman, biji per baris, dan berat per unit, serta 50 ml untuk jumlah daun dan baris per tongkol. Ia tidak mencakup perbedaan yang teruji nyata, sebab sidik ragam biosaka pada jagung manis di Rappang tidak menemukan satu pun.

Bagikan

Baca Juga

Jamur Entomopatogen Lokal Sumbar Hambat Ulat Grayak Jadi Ngengat
Industri Gambia Tumbuh, Produksi Pangannya Justru Turun
Pupuk Fosfor 75 Kilogram Cukup untuk Kacang Babi
Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Pupuk Kandang Ayam 20 Ton Beri Umbi Bawang Merah Terberat
Calon Semangka Tetraploid Muncul dari Rendaman Benih Kolkisin