Jamur Entomopatogen Lokal Sumbar Hambat Ulat Grayak Jadi Ngengat

A A

Bangkai larva serangga diselimuti miselium putih jamur Beauveria bassiana di permukaan gelap. [Foto: Alan Rockefeller/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)]

  • BBWS menjadi yang tertinggi di antara isolat jamur dengan kematian larva 70,00 persen, disusul BBPD 66,67 persen.
  • Kedua isolat Trichoderma tumbuh paling cepat dan paling banyak menghasilkan spora, tetapi hanya mematikan 43,33 dan 40,00 persen larva.
  • Pada kontrol air 86,67 persen larva menjadi pupa, sedangkan pada BBWS dan BBPD hanya 26,67 persen.
  • BBWS mencatat pembentukan imago terendah di antara isolat jamur, 16,67 persen, dengan hanya 13,33 persen yang normal.
  • Pengujian berlangsung di laboratorium Universitas Andalas pada Juli hingga Oktober 2024, belum di rumah kaca maupun lapangan.
Daftar Isi
  1. Cara jamur entomopatogen lokal diuji di laboratorium
  2. Semprotan spora yang menempel pada tubuh larva
  3. Spora yang hidup lebih menentukan daripada koloni yang lebar
  4. Beauveria bekerja paling cepat mematikan larva
  5. Larva yang lolos gagal menjadi pupa normal
  6. Metamorfosis yang tersendat sampai tahap ngengat
  7. Batas bukti jamur entomopatogen lokal di luar laboratorium

Cekricek.id — Isolat jamur entomopatogen lokal yang paling cepat memenuhi cawan petri justru paling jarang membunuh ulat grayak jagung. Dua isolat Trichoderma asperellum dari Sumatera Barat menutup cawan berdiameter 9 sentimeter hanya dalam empat hari, sedangkan Beauveria bassiana BBWS tumbuh pelan. Namun, larva yang disemprot BBWS-lah yang paling banyak mati. Karena itu, kecepatan tumbuh koloni tidak bisa dibaca begitu saja sebagai ukuran daya bunuh.

Temuan itu dilaporkan Indri Yanil Vajri dari Program Doktor Fakultas Pertanian Universitas Andalas, yang juga bernaung di Departemen Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Medan Area, bersama Trizelia dan Haliatur Rahma dari Departemen Proteksi Tanaman serta Yusniwati dari Departemen Agronomi, ketiganya di Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Artikel mereka, Pathogenicity of Indigenous Entomopathogenic Fungi from West Sumatera, Indonesia, against Fall Armyworm Spodoptera frugiperda and Their Effects on Post-Larval Development, terbit di JPT: Jurnal Proteksi Tanaman Volume 10 Nomor 1 tahun 2026, halaman 56–70.

Dalam pendahuluannya, para penulis mencatat ulat grayak Spodoptera frugiperda mengancam produktivitas jagung, dan luas serangannya di Indonesia bertambah 15 persen, dari 80.913,33 hektare menjadi 93.050,33 hektare. Pengendaliannya masih didominasi insektisida sintetis, yang menurut mereka dapat memicu resistensi, menaikkan biaya produksi, mencemari lingkungan, serta berdampak pada organisme bukan sasaran dan kesehatan manusia. Keterangan tentang isolat jamur entomopatogen lokal dari Sumatera Barat, tulis mereka, masih terbatas.

Cara jamur entomopatogen lokal diuji di laboratorium

Pengujian berlangsung di Laboratorium Pengendalian Hayati Fakultas Pertanian Universitas Andalas pada Juli hingga Oktober 2024. Enam isolat diambil dari koleksi terverifikasi laboratorium itu, dan identitas spesiesnya telah dikonfirmasi lewat pengurutan DNA daerah ITS. Dua isolat adalah Beauveria bassiana, dua Metarhizium anisopliae, dan dua Trichoderma asperellum. Sebagai pembanding, satu kelompok larva disemprot insektisida sipermetrin, sementara satu kelompok lain hanya disemprot air suling steril untuk melihat kematian alami larva.

Asal-usul keenam jamur entomopatogen lokal itu beragam. BBWS diisolasi dari kepik yang terinfeksi dan BBPD dari endofit daun cabai, keduanya berasal dari Kota Padang. Isolat Metarhizium B22C diambil dari rizosfer kelapa sawit di Kabupaten Pasaman, sedangkan KRJ dari rizosfer jagung di Kota Padang. Trichoderma A116 berasal dari endofit akar cabai di Kabupaten Agam, dan S2D11 dari endofit daun bawang merah di Kabupaten Solok.

Baca juga Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit

Ulat untuk pengujian dibiakkan dari larva instar tiga sampai empat yang dikumpulkan dari pertanaman jagung di Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Larva itu dipelihara satu per satu dengan potongan daun jagung segar hingga menjadi ngengat, dan telur dari ngengat itulah yang menjadi sumber larva uji. Setiap perlakuan terdiri atas empat ulangan berisi 10 larva instar dua, sehingga seluruh percobaan tercatat memakai 320 larva.

Semprotan spora yang menempel pada tubuh larva

Suspensi spora jamur entomopatogen lokal disiapkan dari koloni berumur 15 hari dengan kepadatan 1 × 108 konidia per mililiter. Sebanyak 3 mililiter suspensi disemprotkan ke larva dari jarak 15 sentimeter. Larva lalu dipindahkan satu per satu ke wadah bersih berisi daun jagung yang diganti setiap hari. Wadah disimpan pada suhu 25 derajat Celsius dengan kelembapan 80 persen, dan kematian larva dicatat setiap hari dari hari kedua sampai hari kedelapan.

Larva yang terinfeksi jamur entomopatogen lokal memperlihatkan gejala khas: gerakannya berkurang, tidak lagi responsif, warna tubuhnya menggelap, lalu mati. Sesudah mati, miselium tumbuh di permukaan bangkainya, dan ketika jamur itu diisolasi ulang, koloni yang muncul bermorfologi serupa. Menurut para penulis, proses infeksi Beauveria dan Metarhizium dapat melibatkan perkecambahan konidia, penembusan kutikula, serta kerja enzim ekstraseluler seperti protease, kitinase, dan lipase.

Spora yang hidup lebih menentukan daripada koloni yang lebar

Di cawan, kedua isolat Trichoderma tumbuh paling cepat. Diameter koloni S2D11 dan A116 sudah 4,76 dan 4,00 sentimeter pada hari kedua, lalu memenuhi cawan 9 sentimeter pada hari keempat dan bertahan di ukuran itu sampai hari kedelapan. BBPD tumbuh paling lambat, dari 0,88 sentimeter pada hari kedua menjadi 2,37 sentimeter pada hari kedelapan. BBWS, B22C, dan KRJ berada di tengah, dengan diameter 2,48 sampai 3,48 sentimeter pada hari kedelapan.

Trichoderma juga paling banyak menghasilkan spora, dengan kepadatan 13,00 dan 12,83 × 108 konidia per mililiter untuk A116 dan S2D11, sedangkan empat isolat lain hanya 2,67 sampai 5,17 × 108. Persoalannya ada pada daya kecambah. Setelah 48 jam, BBWS mencatat viabilitas tertinggi, 93,67 persen, disusul A116 dan S2D11 masing-masing 90,33 persen serta BBPD 87,33 persen, yang tidak berbeda nyata menurut uji BNT. Metarhizium KRJ dan B22C lebih rendah, 72,33 dan 79,67 persen.

Dari pola itu para penulis menarik kesimpulan tentang apa yang menentukan keberhasilan infeksi. “Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif dan produksi konidia bukan satu-satunya penentu patogenisitas terhadap S. frugiperda,” tulis Indri Yanil Vajri dan rekan-rekannya. Menurut mereka, konidia yang hidup penting untuk berkecambah, menempel, dan menembus kutikula serangga. “Pola ini mengungkap bahwa viabilitas konidia mungkin lebih erat kaitannya dengan keberhasilan infeksi dibandingkan pertumbuhan koloni semata,” tulis mereka.

Beauveria bekerja paling cepat mematikan larva

Semua perlakuan jamur entomopatogen lokal menghasilkan kematian larva lebih tinggi daripada kontrol air, yang hanya 3,33 persen. BBWS menjadi yang tertinggi di antara isolat jamur dengan 70,00 persen, disusul BBPD 66,67 persen. Kedua isolat Metarhizium masing-masing mematikan 60,00 persen larva, sedangkan Trichoderma A116 dan S2D11 hanya 43,33 dan 40,00 persen. Sipermetrin mencapai 90,00 persen dan oleh para penulis dipakai sebagai acuan efek insektisida konvensional.

Kecepatannya diukur dengan nilai LT50 yang dihitung melalui regresi probit. BBWS mencapainya dalam 4,00 hari dan BBPD 4,60 hari, sedangkan B22C dan KRJ 4,90 dan 5,00 hari. Untuk kedua Trichoderma, nilai itu tidak ditentukan karena kematiannya tidak melewati 50 persen hingga akhir pengamatan. Setelah dikoreksi dengan rumus Abbott terhadap kematian pada kontrol, efikasi BBWS menjadi 68,97 persen dan BBPD 65,52 persen.

Baca juga Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun

Rendahnya kematian oleh Trichoderma, menurut para penulis, perlu dibaca hati-hati. Jamur ini lebih dikenal sebagai antagonis patogen tanaman dan pemacu pertumbuhan tanaman ketimbang entomopatogen klasik, meski kematian dan respons perkembangan dalam uji ini menunjukkan ia tetap berpengaruh secara biologis pada larva. “Namun, karena penelitian ini memakai aplikasi langsung pada larva dan tidak mengevaluasi metabolit sekunder maupun respons ketahanan tanaman, efek T. asperellum sebaiknya dipandang sebagai potensi aktivitas biologis, bukan aktivitas entomopatogen klasik yang telah terkonfirmasi,” tulis mereka.

Larva yang lolos gagal menjadi pupa normal

Pengaruh jamur entomopatogen lokal tidak berhenti pada larva yang mati. Pada kontrol air, 86,67 persen larva berhasil menjadi pupa, 80,00 persen di antaranya normal, dengan bobot pupa rata-rata 0,19 gram. Semua perlakuan jamur menurunkan angka itu. BBWS dan BBPD sama-sama hanya menghasilkan 26,67 persen pupa, dengan pupa normal 20,00 dan 23,33 persen. Metarhizium B22C dan KRJ menghasilkan 30,00 dan 33,33 persen pupa, sedangkan Trichoderma A116 dan S2D11 40,00 dan 53,33 persen.

Pupa abnormal terbanyak ditemukan pada S2D11 dan B22C, masing-masing 13,33 persen, sementara kontrol air hanya 6,67 persen. Bobot pupa pada perlakuan jamur berkisar 0,12 sampai 0,16 gram. Masa pupa cenderung lebih panjang, sekitar 8 hari dibanding 7,48 hari pada kontrol, tetapi sebagian besar perbedaan itu tidak nyata secara statistik. Sipermetrin hanya menyisakan 3,33 persen pupa, angka yang menurut para penulis harus ditafsirkan hati-hati karena sangat sedikit larva yang bertahan hidup.

Ngengat dewasa ulat grayak jagung Spodoptera frugiperda hinggap dengan sayap terlipat
Ngengat dewasa ulat grayak jagung Spodoptera frugiperda hinggap dengan sayap terlipat. [Foto: Donald Hobern/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)]

Para penulis menduga gangguan itu berkaitan dengan berkurangnya aktivitas makan, menipisnya nutrisi, atau tekanan fisiologis selama larva berkembang. Menurut mereka, paparan jamur entomopatogen lokal tidak hanya dapat mematikan larva, tetapi juga menurunkan kebugaran larva yang bertahan hidup dan kemampuannya menyelesaikan pembentukan pupa secara normal. Bagian metode naskah tidak mencantumkan pengukuran aktivitas makan maupun kandungan nutrisi larva, sehingga dugaan itu belum diperiksa langsung dalam penelitian ini.

Metamorfosis yang tersendat sampai tahap ngengat

Pada kontrol air, 80,00 persen larva mencapai tahap imago, 76,67 persen normal dan hanya 3,33 persen abnormal. Semua perlakuan jamur menurunkan angka ini. Trichoderma S2D11 dan A116 masih menghasilkan 40,00 dan 33,33 persen imago, meski keduanya tetap nyata lebih rendah daripada kontrol. Isolat Metarhizium dan Beauveria berkisar 16,67 sampai 23,33 persen. BBWS mencatat pembentukan imago terendah di antara isolat jamur, 16,67 persen, dengan hanya 13,33 persen yang normal.

Kelainan yang teramati pada imago berupa sayap yang cacat bentuk dan eklosi yang tidak tuntas. S2D11 menghasilkan imago abnormal terbanyak, 10,00 persen. Para penulis membaca kelainan itu sebagai kemungkinan gangguan perkembangan pada masa peralihan dari pupa ke imago. “Efek subletal semacam ini penting karena berkurangnya kemunculan imago normal dapat menurunkan potensi reproduksi populasi hama, bahkan ketika kematian larva tidak menyeluruh,” tulis Vajri, Trizelia, Rahma, dan Yusniwati.

Baca juga Jamur yang Membunuh Larva Kumbang Badak dari Dalam

Batas bukti jamur entomopatogen lokal di luar laboratorium

Seluruh angka itu lahir dari ruang yang terkendali. “Namun, karena penelitian ini dilakukan dalam kondisi laboratorium yang terkendali, penelitian di rumah kaca dan lapangan diperlukan untuk mengevaluasi stabilitas formulasi, persistensi, dan efektivitas praktis isolat-isolat ini terhadap S. frugiperda pada kondisi produksi jagung,” tulis mereka. Dalam kesimpulan, mereka juga menyebut perlunya riset lanjutan untuk memastikan mekanisme patogenisitas, viabilitas dan stabilitas konidia selama penyimpanan, serta efikasi isolat di rumah kaca dan lapangan.

Naskah juga menyisakan beberapa ketidakcocokan. Metode menyebut 10 larva dalam tiap ulangan dan empat ulangan per perlakuan, atau 40 larva, tetapi seluruh persentase kematian, pupa, dan imago merupakan kelipatan 3,33 persen, pola yang lebih sesuai dengan 30 larva. Rumus efikasi Abbott ditulis dengan huruf A padahal keterangannya memakai E, kode isolat di Tabel 1 dan Tabel 2 tidak seragam, dan satu kalimat hasil menyebut B. BBWS tanpa nama spesies lengkap.

Mengapa isolat Trichoderma yang memenuhi cawan dalam empat hari kalah dari BBWS yang tumbuh pelan? Para penulis menunjuk spora yang hidup, bukan lebar koloni. Data mereka belum menuntaskan jawaban itu. Setelah 24 jam, viabilitas kedua Trichoderma justru lebih tinggi, 77,00 dan 74,33 persen berbanding 51,00 persen pada BBWS, dan setelah 48 jam ketiganya tidak berbeda nyata. Hasil akhirnya jelas: BBWS mematikan 70,00 persen larva dan hanya membiarkan 16,67 persen menjadi ngengat.

Bagikan

Baca Juga

Industri Gambia Tumbuh, Produksi Pangannya Justru Turun
Pupuk Fosfor 75 Kilogram Cukup untuk Kacang Babi
Roda Mekanum Cukup Dihitung dengan Taylor Orde Dua
Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Pupuk Kandang Ayam 20 Ton Beri Umbi Bawang Merah Terberat
Calon Semangka Tetraploid Muncul dari Rendaman Benih Kolkisin