Kelincahan Atlet Bulu Tangkis Tak Terjelaskan Tenaga Tungkai

A A

Ilustrasi lapangan bulu tangkis dalam ruang yang kosong dengan net terpasang. [Foto: Pexels]

  • Usia, komposisi tubuh, dan tenaga tungkai hanya menjelaskan 17,4 persen variasi kelincahan 27 atlet bulu tangkis putri.
  • Korelasi daya puncak lompatan CMJ dengan waktu uji T hanya −0,040 dan tidak signifikan.
  • Persentase lemak tubuh berkorelasi 0,763 dengan massa tubuh, sedangkan otot rangka berkorelasi −0,506 dengan massa tubuh.
  • Penulis mencatat empat keterbatasan, termasuk sampel yang hanya 27 atlet dan satu alat ukur kelincahan.
  • Abstrak dan pembahasan menulis korelasi tenaga tungkai r = −0,40, sementara Tabel 3 mencatat −0,040.
Daftar Isi
  1. 27 Atlet, Enam Kali Latihan Sepekan
  2. Tiga Alat Ukur, Lima Penggal Lari
  3. 11,40 Detik Kelincahan Atlet Bulu Tangkis
  4. Enam Korelasi dengan Kelincahan, Nol yang Bermakna
  5. Tiga Tahap Regresi, Tiga Nilai p di Atas 0,05
  6. 0,763 antara Lemak dan Massa Tubuh
  7. Empat Keterbatasan dari 27 Sampel
  8. Dua Versi Angka Korelasi Tenaga Tungkai

Cekricek.id — 17,4 persen: sebesar itu variasi kelincahan atlet bulu tangkis putri yang terjelaskan oleh usia, komposisi tubuh, dan tenaga tungkai sekaligus. Angka itu pun tidak signifikan secara statistik. Tenaga tungkai, yang dimasukkan paling akhir, hanya menambah 0,019. Nilai p untuk tambahan itu 0,483, jauh di atas batas 0,05.

Angka tersebut berasal dari artikel Lower-Body Power, Body Composition, and Agility Performance Among Youth Badminton Athletes. Artikel itu terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 10 Nomor 2, Desember 2025, halaman 13–26. Penulisnya empat orang dari Departemen Ilmu Keolahragaan, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung: Rafif Rifqi Naufal Hasyim, Samsul Bahri, Mar’ie Muhammad, dan Agung Dwi Juniarsyah. Naskah diterima 8 Juli 2025 dan terbit 15 Desember 2025.

Pertanyaannya menyangkut tiga variabel: tenaga tungkai bawah, komposisi tubuh, dan kelincahan atlet bulu tangkis putri. Menurut penulis, studi yang memadukan ketiganya pada atlet putri cabang ini masih terbatas. Studi yang menghitung sumbangan tiap variabel dengan pendekatan statistik multivariat juga masih sedikit.

27 Atlet, Enam Kali Latihan Sepekan

Sampelnya 27 atlet bulu tangkis putri berusia 14 sampai 17 tahun. Rata-rata usia mereka 15,44 tahun, dengan simpangan baku 0,97. Semuanya berlatih di pusat pendidikan dan pelatihan bulu tangkis yang sama, yang namanya tidak disebut dalam paper. Mereka berlatih enam kali sepekan, dengan durasi rata-rata empat jam 30 menit. Isinya latihan teknik, taktik, dan fisik. Rata-rata mereka sudah satu sampai dua tahun berlatih di klub itu.

Baca juga 156 Atlet Sepak Takraw Pelajar dan Dua Angka yang Berbeda

Syarat kesehatannya dicatat. Tidak ada riwayat cedera otot dan rangka dalam tiga bulan terakhir. Tidak ada riwayat diabetes, hipertensi, atau penyakit kardiovaskular. Setiap atlet menandatangani formulir persetujuan, dan izin juga diminta dari orang tua, staf pelatih, serta manajemen klub. Pengambilan data berlangsung tiga pagi berturut-turut di lapangan bulu tangkis dalam ruang, diawasi staf pelatih berpengalaman.

Tiga Alat Ukur, Lima Penggal Lari

Alat pertama untuk komposisi tubuh, yakni Omron Karada Scan HBF-375. Empat parameter dicatat: massa tubuh, indeks massa tubuh, persentase lemak tubuh, dan persentase otot rangka seluruh tubuh. Tinggi badan diukur dengan pengukur tinggi digital. Semua pengukuran dilakukan pagi hari.

Alat kedua untuk tenaga tungkai. Atlet melakukan countermovement jump (CMJ) dengan ayunan lengan di atas Takei Digital Vertical Jump. Setiap atlet melompat maksimal tiga kali, dan hanya lompatan tertinggi yang dipakai. Tinggi lompatan lalu diubah menjadi perkiraan daya puncak dalam watt. Rumusnya: 60,7 dikali tinggi lompatan dalam sentimeter, ditambah 45,3 dikali massa tubuh dalam kilogram, lalu dikurangi 2.055.

Alat ketiga untuk kelincahan, yaitu uji T. Atlet berlari maju 9,14 meter, lalu bergeser ke kanan 4,57 meter. Berikutnya bergeser ke kiri 9,14 meter dan kembali ke kanan 4,57 meter. Terakhir, atlet berlari mundur 9,14 meter ke titik awal. Waktu dicatat dengan stopwatch dalam dua percobaan, dengan jeda istirahat tiga menit. Hanya waktu tercepat yang dianalisis.

11,40 Detik Kelincahan Atlet Bulu Tangkis

Hasil uji T rata-rata 11,40 detik, dengan simpangan baku 0,96. Atlet tercepat mencatat 9,44 detik, yang paling lambat 12,44 detik. Angka kedua lebih menarik. Nilai tengahnya 11,74 detik, lebih tinggi dari rerata. Pada tabel deskriptif, data kelincahan atlet bulu tangkis ini satu-satunya yang ditandai tidak berdistribusi normal.

Ukuran tubuh para atlet tercatat rinci. Tinggi rata-rata 154,46 sentimeter, massa tubuh 48,97 kilogram, dan indeks massa tubuh 20,48. Atlet terpendek 139 sentimeter, yang tertinggi 160,60 sentimeter. Massa tubuh terendah 34,50 kilogram, tertinggi 60,90 kilogram.

Lemak tubuh rata-rata 22,53 persen, dengan rentang 16,60 sampai 29,90 persen. Otot rangka rata-rata 30,31 persen, rentangnya 27,20 sampai 32,50 persen. Lompatan CMJ rata-rata 46,67 sentimeter, dari 40 hingga 55 sentimeter. Setelah dikonversi, daya puncaknya rata-rata 2.996,02 watt, dengan rentang 2.329,95 sampai 3.617,37 watt.

Enam Korelasi dengan Kelincahan, Nol yang Bermakna

Hubungan antarvariabel diuji dengan korelasi, Pearson untuk data normal dan Spearman untuk data tidak normal. Hasilnya seragam: tidak ada korelasi signifikan antara kelincahan dan variabel lain, dengan p di atas 0,05. Usia berkorelasi 0,088 dengan waktu uji T. Tinggi badan 0,133, massa tubuh juga 0,133. Persentase lemak tubuh 0,141, dan persentase otot rangka 0,053.

Tenaga tungkai lebih kecil lagi. Korelasi daya puncak CMJ dengan kelincahan atlet bulu tangkis putri hanya −0,040, dengan p 0,8843. Penulis menyebutnya sangat lemah dan tidak signifikan. Arah lemak tubuh tetap dicatat. Persentase lemak tidak berkorelasi signifikan dengan kelincahan, walau tren korelasinya positif dan lemah. Angkanya 0,141, tertinggi di antara lima variabel pada tabel itu.

Tiga Tahap Regresi, Tiga Nilai p di Atas 0,05

Uji kedua memakai regresi berganda hierarkis dalam tiga tahap. Tahap pertama hanya memasukkan usia. Tahap kedua menambah persentase lemak dan otot rangka. Tahap ketiga menambah daya puncak CMJ. Usia sendirian menghasilkan R² 0,093, atau sekitar 9,3 persen variasi kelincahan. Sumbangan itu tidak signifikan, dengan nilai F perubahan 2,579 dan p 0,121.

Empat raket dan deretan kok bulu tangkis tergeletak di lapangan hijau
Ilustrasi raket dan kok bulu tangkis di atas lapangan dalam ruang. [Foto: Pexels]

Komposisi tubuh menaikkan R² menjadi 0,154, dengan tambahan 0,061 dan p 0,449. Daya puncak CMJ menaikkan lagi menjadi 0,174. Selisihnya tipis, lalu makin tipis. Tambahan tahap ketiga tinggal 0,019, dengan p 0,483. Nilai F perubahannya turun dari 2,579 ke 0,829, lalu ke 0,508.

Koefisien pada tahap ketiga: usia 0,424, lemak tubuh 0,248, otot rangka 0,238, dan CMJ −0,182. Penulis membaca angka 17,4 persen itu dengan hati-hati. “Hasil ini mengisyaratkan bahwa faktor-faktor selain usia, komposisi tubuh, dan tenaga tungkai bawah mungkin lebih dominan dalam menentukan performa kelincahan pada atlet bulu tangkis putri,” tulis Rafif Rifqi Naufal Hasyim dan rekan-rekannya.

0,763 antara Lemak dan Massa Tubuh

Korelasi kuat justru muncul di antara variabel bebas. Persentase lemak tubuh berkorelasi 0,763 dengan massa tubuh, dengan p kurang dari 0,01. Penulis menggolongkannya besar. Otot rangka bergerak berlawanan. Persentasenya berkorelasi −0,498 dengan lemak tubuh, tergolong sedang, dan −0,506 dengan massa tubuh, tergolong besar.

Baca juga Self-Talk Positif dan Keputusan Atlet Futsal Remaja

Usia juga terkait dengan ukuran tubuh. Korelasinya 0,587 dengan tinggi, 0,737 dengan massa tubuh, 0,422 dengan lemak, dan −0,455 dengan otot rangka. Pola 0,763 dan −0,506 itu tidak dibawa ke kesimpulan praktis. “Namun, temuan ini tidak memberikan dasar yang cukup kuat untuk menarik kesimpulan yang dapat diterapkan mengenai performa kelincahan,” tulis para penulis.

Empat Keterbatasan dari 27 Sampel

Penulis mencatat empat keterbatasan. Yang pertama menyangkut jumlah sampel. “Ukuran sampel relatif kecil (n = 27), yang mungkin turut menyebabkan distribusi data kelincahan yang nonparametrik tidak memenuhi asumsi normalitas,” tulis mereka. Kedua, desain potong lintang membatasi generalisasi ke populasi lebih luas.

Ketiga, faktor lain yang mungkin memengaruhi kelincahan tidak diukur. Tiga contoh yang disebut adalah status kematangan, jenis latihan, dan kelenturan. Keempat, kelincahan atlet bulu tangkis hanya diukur dengan satu alat, yakni uji T. Penulis tetap menyebut uji T valid, tetapi menyarankan uji tambahan yang menyerupai gerak kaki bulu tangkis.

Baca juga Efikasi Diri dalam Olahraga: Bukan Sekadar Percaya Diri

Saran penelitian lanjutan memuat dua arah. Sampel diperbesar, dan variabel ditambah: kematangan, kekuatan eksentrik, kelenturan, serta respons kognitif yang mungkin memengaruhi kelincahan atlet bulu tangkis. “Temuan ini mengisyaratkan bahwa kelincahan mungkin lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diukur, di luar tenaga tungkai bawah dan komposisi tubuh,” tulis penulis dalam kesimpulan. Model regresi mereka memuat empat variabel.

Untuk program latihan, penulis menyebut lima jenis: latihan tungkai bawah, kekuatan otot inti, pliometrik, latihan reaksi visual, dan velocity-based resistance training. Menurut abstraknya, keefektifan latihan semacam itu ditunjukkan berbagai studi sebelumnya. Mereka juga menyarankan dua hal lain: pemantauan komposisi tubuh secara rutin dan strategi gizi yang tepat.

Dua Versi Angka Korelasi Tenaga Tungkai

Satu angka tidak seragam di dalam naskah. Tabel 3 dan bagian hasil mencatat korelasi CMJ dengan kelincahan −0,040, dengan p 0,8843. Abstrak dan bagian pembahasan menulis r = −0,40 dan p = 0,884. Selisihnya sepuluh kali lipat. Menurut kriteria penulis, r antara 0,3 dan 0,5 tergolong sedang, sedangkan −0,040 berada di bawah 0,1.

Bagian hasil juga menyebut korelasi kelincahan dengan usia, tinggi, massa tubuh, lemak, dan otot sangat lemah, dengan r di bawah 0,1. Padahal tiga di antaranya, yakni 0,133, 0,133, dan 0,141, berada di atas 0,1. Abstrak pun menulis sumbangan CMJ sebagai R² = 0,019, padahal pada Tabel 4 angka itu perubahan R². R² tahap akhirnya 0,174.

Angka terakhir pada Tabel 4 adalah 0,483, nilai p untuk tambahan tenaga tungkai. Faktor apa yang mengisi sisa variasi kelincahan atlet bulu tangkis putri itu tidak diukur dalam penelitian ini.

Bagikan

Baca Juga

Kaki Datar Tak Bedakan Kelincahan Pemain Sepak Bola Daerah
Olahraga Rekreasi Hanya Menurunkan Kecemasan Remaja LPKA
Power Lengan Anggota Klub Muay Thai Naik 20,16 Persen
Atlet Futsal Remaja Karawang Berlari 2.216 Meter dalam 12 Menit
Keterampilan Hidup Atlet Muda Naik di Kompetisi Terintegrasi
Tes Keterampilan Bola Tangan Memakai Dinding Selama 30 Detik