Keterampilan Hidup Atlet Muda Naik di Kompetisi Terintegrasi

A A

Ilustrasi empat bola sepak berjajar di lapangan rumput dengan gawang latihan di belakangnya. [Foto: Pexels]

  • Kelompok eksperimen naik rata-rata 4,33 poin dalam 10 pekan, sedangkan kelompok kontrol hanya 0,17 poin.
  • Kerja sama tim naik 20 persen dan komunikasi 18 persen, sementara kepemimpinan hanya 8 persen.
  • Sampelnya 48 pemain sepak bola berusia 12 sampai 16 tahun dari liga sepak bola Lombok Timur.
  • Tabel 3 mencatat beda rata-rata 4,083, tidak sama dengan selisih 4,33 dan 0,17 di abstrak.
Daftar Isi
  1. Kelompok Eksperimen Naik 4,33 Poin, Kontrol Hanya 0,17
  2. Sampel dari Liga Lombok Timur, Pengalaman Minimal 1 Tahun
  3. Kompetisi Terintegrasi Berjalan dari Pekan 2 sampai Pekan 9
  4. Skala LSSS Memuat 47 Butir dan 8 Dimensi
  5. Kerja Sama Tim Naik 20 Persen, Kepemimpinan 8 Persen
  6. Keterampilan Hidup Atlet Muda Kelompok Kontrol Naik 0,17 Poin
  7. Tabel 3 Mencatat Beda Rata-Rata 4,083, Bukan 4,16
  8. Paragraf Keterbatasan yang Tercetak 2 Kali

Cekricek.id — Keterampilan hidup atlet muda di kelompok eksperimen naik rata-rata 4,33 poin setelah 10 pekan mengikuti model kompetisi terintegrasi. Kelompok kontrol hanya naik 0,17 poin. Skor awal kelompok eksperimen 142,8, lalu menjadi 147,1. Kelompok kontrol bergerak dari 141,9 ke 142,1.

Angka itu tercatat pada 48 pemain sepak bola berusia 12–16 tahun. Sebanyak 24 pemain masuk kelompok eksperimen. Sebanyak 24 pemain lainnya menjadi kelompok kontrol. Selisih kenaikan kedua kelompok dinyatakan signifikan, dengan nilai t 8,29 dan p < 0,001.

Datanya berasal dari artikel Improving Young Athletes’ Life Skills Through an Integrated Early Age Football Competition Model in The Framework Of Positive Youth Development. Artikel itu terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 10 Nomor 2, Desember 2025, halaman 120–130. Tanggal terbitnya 15 Desember 2025. Penulisnya empat orang. Lalu Hulfian dan Hermansyah berasal dari Universitas Pendidikan Mandalika. Andika Triansyah dari Universitas Tanjungpura. Herdiansyah Agus dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Menurut catatan jurnal, penelitian ini juga dipresentasikan di National Conference of Football and Science (NCFS 2025). Keempat penulis menempatkan studinya dalam kerangka Positive Youth Development, dengan 48 pemain sebagai sampel.

Kelompok Eksperimen Naik 4,33 Poin, Kontrol Hanya 0,17

Rincian skornya ada di abstrak. Kelompok eksperimen mencatat skor awal 142,8 dengan simpangan baku 9,4. Skor akhirnya 147,1 dengan simpangan baku 8,7. Kelompok kontrol mulai dari 141,9 dengan simpangan baku 9,1. Skor akhirnya 142,1 dengan simpangan baku 8,5.

Kenaikan di dalam kelompok eksperimen diuji dengan uji t sampel berpasangan. Tabel 2 mencatat t 8,952, derajat bebas 23, dan signifikansi 0,000. Rata-rata kenaikan ditulis 4,333. Ambang yang dipakai peneliti p < 0,05. Pengolahan data memakai perangkat lunak SPSS 25.0.

Selisih antarkelompok diuji dengan uji t sampel independen. Tabel 3 mencatat t 8,293 dengan derajat bebas 46. Ukuran efeknya dilaporkan sebagai Cohen’s d 1,69. Menurut paper, angka itu menandakan kekuatan efek yang sangat tinggi. Dengan dua hasil itu, tim menyimpulkan ada peningkatan keterampilan hidup atlet muda yang signifikan setelah mengikuti model kompetisi terintegrasi. Peningkatan itu juga berbeda signifikan dari 24 pemain yang mengikuti model pembinaan konvensional.

Sampel dari Liga Lombok Timur, Pengalaman Minimal 1 Tahun

Populasinya pemain sepak bola berusia 12–16 tahun yang aktif bermain di klub. Sampel dipilih dengan purposive sampling memakai tiga kriteria. Pertama, berusia 12–16 tahun. Kedua, berpengalaman minimal 1 tahun bermain di liga sepak bola Lombok Timur. Ketiga, bersedia mengikuti seluruh rangkaian penelitian.

Ada pula tiga kriteria penolakan sampel. Pemain dikeluarkan bila tidak mengikuti seluruh rangkaian kompetisi. Pemain juga dikeluarkan bila punya riwayat cedera yang membatasi keikutsertaan. Kriteria ketiga, tidak memperoleh izin orang tua atau wali. Paper tidak melaporkan jumlah pemain yang gugur.

Pembagian kelompok dimulai dari klub. Di dalam tiap klub, pemain lalu dipisah ke kelompok eksperimen dan kontrol dengan penugasan acak sederhana. Paper tidak menyebut berapa klub yang menyumbang 48 pemain itu. Tabel 1 memuat hasil penyeimbangannya. Usia rata-rata kelompok eksperimen 13,8 tahun dan kelompok kontrol 13,7 tahun, dengan p 0,72. Lama bermain 3,1 tahun berbanding 3,0 tahun, dengan p 0,81. Jam latihan per pekan 5,8 berbanding 5,7, dengan p 0,88.

Baca juga Cedera Pemain Sepak Bola Muda dan Angka yang Terlewat

Menurut paper, karakteristik kedua kelompok tidak jauh berbeda. Selisih usia rata-rata hanya 0,1 tahun. Selisih lama bermain juga 0,1 tahun. Tiga nilai p pada Tabel 1 seluruhnya berada di atas ambang 0,05 yang dipakai peneliti.

Kompetisi Terintegrasi Berjalan dari Pekan 2 sampai Pekan 9

Penelitian berlangsung 10 pekan. Pekan pertama dipakai untuk tes awal. Pada pekan 2–9, kelompok eksperimen mengikuti kompetisi terintegrasi, sedangkan kelompok kontrol mengikuti kompetisi tanpa integrasi. Tes akhir digelar pada pekan ke-10. Pertandingan digelar tiap akhir pekan, diselingi dua sesi latihan. Materi keterampilan hidup atlet muda di kelompok eksperimen disisipkan ke kedua jenis sesi. Kelompok kontrol hanya berlatih dan bertanding.

Model integrasinya diadopsi dari Kendellen dan kawan-kawan (2017) dengan 4 tahap. Tahap pertama, berfokus pada satu keterampilan hidup. Tahap kedua, memperkenalkannya di awal. Tahap ketiga, menerapkan strategi untuk mengajarkannya. Tahap keempat, menanyakannya di akhir pelajaran.

Pembahasan paper menyebut 3 bentuk pengalaman di dalam kompetisi itu. Ketiganya rotasi peran, diskusi reflektif, dan umpan balik yang konstruktif. Menurut paper, refleksi terstruktur membuat atlet menginternalisasi pengalaman dan memindahkan keterampilan ke konteks lain. Pengaruh tiap bentuk pengalaman tidak diukur terpisah.

Penelitian ini mendapat persetujuan Komite Etik Universitas Pendidikan Mandalika dengan nomor 142/KEP-UNDIKMA/2024. Semua peserta serta orang tua atau wali atlet di bawah 18 tahun menandatangani lembar informed consent dan assent.

Skala LSSS Memuat 47 Butir dan 8 Dimensi

Alat ukur utamanya Life Skills Scale for Sport (LSSS) yang dikembangkan Cronin dan Allen (2017). Skala itu menilai 8 dimensi: kerja sama tim, penetapan tujuan, keterampilan sosial, kepemimpinan, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, komunikasi interpersonal, keterampilan emosional, serta manajemen waktu. LSSS berisi 47 butir. Tiap butir dinilai dengan skala Likert dari 1 (sama sekali tidak) sampai 5 (sangat). Menurut paper, skala itu cocok untuk peserta berusia 11–21 tahun.

Delapan bola sepak dan satu kerucut latihan kuning di atas lapangan rumput
Ilustrasi delapan bola sepak dan satu kerucut latihan kuning di atas lapangan rumput. [Foto: Pexels]

Skala diterjemahkan dengan prosedur terjemahan maju-mundur. Hasil terjemahan diuji pada 32 atlet untuk melihat reliabilitas internal. Nilai Cronbach’s alpha pada sampel penelitian ini 0,82. Paper tidak merinci apakah 32 atlet itu bagian dari 48 sampel. Skor keterampilan hidup atlet muda diambil dua kali, pada pekan 1 dan pekan 10. Tidak ada pengukuran di tengah masa kompetisi maupun sesudah pekan ke-10.

Baca juga 288 Artikel Kohesi Tim: Puncaknya 2024, Kiblatnya 2002

Kerja Sama Tim Naik 20 Persen, Kepemimpinan 8 Persen

Tabel 4 merinci kenaikan per aspek. Kerja sama tim naik 20 persen. Komunikasi naik 18 persen. Kontrol emosi naik 11 persen, pengambilan keputusan 9 persen, dan kepemimpinan 8 persen. Paper menyebut kerja sama tim dan komunikasi sebagai sumbangan terbesar.

Peneliti menjelaskan angka yang lebih tinggi itu di halaman 126. “Penelitian menunjukkan bahwa model kompetitif yang memadukan kompetisi dan latihan lebih efektif dalam mengembangkan keterampilan hidup atlet muda,” tulis Lalu Hulfian dan kawan-kawan. Menurut mereka, atlet punya lebih banyak kesempatan mempraktikkan keterampilan itu dalam situasi yang beragam dan menantang.

Angka persen itu menyisakan pertanyaan. Tabel 4 hanya memuat 5 dari 8 dimensi LSSS dan tidak menyebut kelompok mana yang diukur. Paper juga tidak menjelaskan persen tersebut dihitung dari skor apa. Bagian pembahasan menulis model itu meningkatkan semua aspek keterampilan hidup. Namun, 3 dimensi LSSS tidak muncul di Tabel 4, yakni penetapan tujuan, manajemen waktu, dan keterampilan sosial. Nama aspek di tabel juga berbeda dari nama dimensi skala, misalnya kontrol emosi dan keterampilan emosional.

Keterampilan Hidup Atlet Muda Kelompok Kontrol Naik 0,17 Poin

Kelompok kontrol tidak diam. Keterampilan hidup atlet muda di kelompok ini naik 0,17 poin selama 10 pekan. Menurut paper, kelompok kontrol mengalami sedikit peningkatan, tetapi tidak signifikan secara statistik. Angka uji untuk kenaikan itu tidak ditampilkan. Tabel 2 hanya memuat satu baris hasil uji t sampel berpasangan. Teks hasil menyebut baris itu milik kelompok eksperimen, dengan t 8,95.

Pembahasan menyebut situasi kompetisi mendorong pengambilan keputusan nyata dan regulasi emosi secara lebih intens. Pada Tabel 4, kontrol emosi naik 11 persen dan pengambilan keputusan 9 persen. Keduanya berada di bawah kerja sama tim dan komunikasi.

Tabel 3 Mencatat Beda Rata-Rata 4,083, Bukan 4,16

Ada selisih angka antarbagian naskah. Abstrak menulis kenaikan kelompok eksperimen 4,33 poin dan kelompok kontrol 0,17 poin. Pengurangan kedua angka itu menghasilkan 4,16. Tabel 3 mencatat beda rata-rata 4,083. Paper tidak menjelaskan asal selisih 0,077 tersebut.

Uji Levene pada Tabel 3 memberi nilai F 37,951 dengan signifikansi 0,000. Baris varians diasumsikan sama dan baris varians tidak diasumsikan sama sama-sama menulis t 8,293. Yang berbeda hanya derajat bebas, 46 dan 24,599. Paper tidak menyebut baris mana yang dipakai.

Baca juga Efikasi Diri dalam Olahraga: Bukan Sekadar Percaya Diri

Ukuran efek Cohen’s d 1,69 muncul di abstrak dan di bagian hasil tanpa rincian perhitungan. Simpangan baku skor kenaikan tiap kelompok juga tidak dilaporkan. Urutan tanggal di halaman pertama pun janggal. Naskah tercatat diterima 2 Oktober 2025, sedangkan tanggal revisinya 25 November 2025. Artikel terbit 15 Desember 2025.

Paragraf Keterbatasan yang Tercetak 2 Kali

Peneliti menulis tiga keterbatasan. Desain kuasi-eksperimen membawa potensi bias seleksi. Kontrol atas variabel lingkungan juga terbatas. “Ukuran sampel yang relatif kecil menuntut kehati-hatian saat melakukan generalisasi,” tulis tim itu di halaman 128. Sampel yang dimaksud berjumlah 48 atlet.

Paragraf keterbatasan itu tercetak dua kali berturut-turut dengan kalimat yang sama persis. Isinya memuat 1 saran desain. Menurut paper, desain longitudinal atau eksperimen murni akan memberi pemahaman yang lebih menyeluruh di masa depan.

Judul artikel memakai istilah early age, atau usia dini. Sampelnya berusia 12–16 tahun, dengan rata-rata 13,8 dan 13,7 tahun. Di bagian saran, peneliti menganjurkan riset lanjutan pada rentang usia berbeda, misalnya atlet usia dini atau remaja akhir.

Saran lain untuk peneliti ada 2. Pertama, memakai desain eksperimen murni atau pendekatan longitudinal untuk melihat keberlanjutan dampak model ini. Kedua, menguji perbedaan efek berdasarkan jenis olahraga, individu atau beregu. Pelatih disarankan memasukkan model ini ke program latihan rutin, dengan sesi refleksi yang terarah. Organisasi olahraga disarankan menyusun pedoman resmi dan pelatihan pelatih berbasis Positive Youth Development. Pembuat kebijakan diminta mempertimbangkan pengembangan keterampilan hidup berbasis kompetisi dalam kurikulum pendidikan jasmani.

Kepemimpinan hanya naik 8 persen, angka terendah di Tabel 4. Paper tidak mengukur apakah kenaikan keterampilan hidup atlet muda itu masih bertahan setelah pekan ke-10.

Bagikan

Baca Juga

Tes Keterampilan Bola Tangan Memakai Dinding Selama 30 Detik
156 Atlet Sepak Takraw Pelajar dan Dua Angka yang Berbeda
Burnout Atlet Dayung dan Arah Hubungan yang Tak Ditunjukkan
Self-Talk Positif dan Keputusan Atlet Futsal Remaja
Dinding Tiga Meter dan Ketepatan Smash Bola Voli
Mental Imagery: Saat Atlet Berlatih Tanpa Bergerak