156 Atlet Sepak Takraw Pelajar dan Dua Angka yang Berbeda

A A

Ilustrasi dua pemain sepak takraw melompat berebut bola di dekat tiang net di Visayas State University, Filipina. [Foto: dbgg1979/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)]

Cekricek.id — Angkanya 156. Sebanyak itulah atlet sepak takraw pelajar yang mengisi kuesioner dalam sebuah penelitian psikologi olahraga.

Usia mereka 12 sampai 18 tahun. Komposisinya 82 laki-laki dan 74 perempuan, seluruhnya atlet pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.

Penelitinya dua orang dari Universitas Indonesia. Mereka Fadia Tasyafa dan Dianti Endang Kusumawardhani, keduanya dari Psikologi Terapan Olahraga, Fakultas Psikologi.

Judul laporannya The Relationship between Self-Efficacy and Goal setting in Student Sepak Takraw Athletes in Indonesia.

Tulisan itu dimuat JSKK, Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan, Volume 10 Nomor 1, Juni 2025, halaman 39 sampai 48.

Yang menarik bukan hanya hasilnya. Dua angka kunci laporan ini muncul dua kali dengan nilai yang berbeda di dua bagian.

Daftar Isi
  1. 66,03 Persen di Bagian Hasil
  2. 75,64 Persen yang Berubah Menjadi 70,5
  3. 0,638 dengan Dua Nama Berbeda
  4. 2 Lokasi Pengumpulan Data pada 2024
  5. 7 dari 27 Studi dan Batas Temuan
  6. 2 Medali Emas dan 1 Angka Terakhir

66,03 Persen di Bagian Hasil

Variabel pertamanya efikasi diri, yaitu keyakinan atlet atas kemampuannya menyelesaikan tugas. Alat ukurnya Athlete Self-Efficacy Scale susunan Koçak pada 2020.

Skala itu mengukur keyakinan atlet menjalankan tugas yang menunjang performa. Bandura pada 1997 menyebut efikasi diri penentu cara orang merasa, berpikir, dan memotivasi dirinya.

Alwisol pada 2019 merumuskannya dengan cara lain. Menurutnya efikasi diri adalah persepsi seseorang atas kapasitasnya berfungsi efektif dalam situasi tertentu.

Santrock pada 2010 menambahkan sisi sebaliknya. Atlet dengan efikasi diri rendah cenderung menghindari situasi kompetitif, terutama ajang bergengsi.

Di bagian hasil, 66,03 persen atlet berada pada kategori sedang. Jumlahnya 103 orang dari 156 peserta.

Kategori rendah diisi 15,38 persen atau 24 atlet. Kategori tinggi diisi 18,59 persen atau 29 atlet.

Ketiga angka itu berjumlah 100 persen. Jumlah orangnya pun pas, yakni 103 ditambah 24 ditambah 29 sama dengan 156.

Masalahnya muncul 2 halaman kemudian. Di bagian pembahasan, kategori sedang untuk efikasi diri ditulis 64,7 persen.

Selisihnya 1,33 poin persentase. Laporan tidak menerangkan dari mana angka kedua itu berasal.

Bila dihitung ulang, 64,7 persen dari 156 menghasilkan sekitar 101 orang. Angka itu tidak cocok dengan 103 orang di bagian hasil.

Baca juga Mental Imagery: Saat Atlet Berlatih Tanpa Bergerak

75,64 Persen yang Berubah Menjadi 70,5

Variabel keduanya goal setting, yaitu kemampuan menyusun dan menetapkan sasaran. Alat ukurnya kuesioner swaaudit Wilson dan Dobson terbitan 2008.

Weinberg dan Gould pada 2019 mendefinisikannya sebagai kemampuan merancang dan menetapkan tujuan. Adanya tujuan disebut memperkuat kesadaran atlet atas apa yang sedang dikerjakannya.

Ada 4 prinsip goal setting yang efektif menurut laporan ini. Keempatnya tingkat kesulitan, kekhususan, penerimaan, dan evaluasi.

Di bagian hasil, 75,64 persen atlet masuk kategori sedang. Jumlahnya 118 orang.

Kategori rendahnya 11,54 persen atau 18 atlet, kategori tingginya 12,82 persen atau 20 atlet. Totalnya kembali 156 orang.

Di bagian pembahasan, angkanya berubah menjadi 70,5 persen. Jumlah orangnya pun ikut berubah, ditulis 110 atlet.

Selisihnya 5,14 poin persentase dan 8 orang. Ini selisih yang lebih besar daripada pada variabel pertama.

Pasangan 70,5 persen dan 110 orang itu sebenarnya konsisten satu sama lain. Yang tidak konsisten adalah keduanya terhadap 75,64 persen dan 118 orang.

Kategori sedang di sini punya arti khusus. Menurut laporan, atlet sudah menetapkan tujuan tetapi belum menerapkan strateginya secara efektif.

Penyebabnya diduga 2 hal. Pemahaman atlet tentang goal setting belum menyeluruh, atau bimbingan penerapannya belum memadai.

Artinya ada dua set perhitungan di dalam satu laporan. Tidak ada catatan kaki atau ralat yang menjelaskan mana yang dipakai.

0,638 dengan Dua Nama Berbeda

Angka ketiganya koefisien korelasi, yaitu 0,638 dengan nilai p di bawah 0,001. Derajat bebasnya 154.

Uji normalitas Shapiro-Wilk lebih dulu dijalankan. Nilai p-nya 0,006 untuk efikasi diri dan 0,018 untuk goal setting.

Kedua nilai itu di bawah ambang 0,05. Karena datanya tidak berdistribusi normal, korelasi Spearman yang dipakai, bukan Pearson.

Nilai 0,638 itu positif, artinya kedua variabel bergerak searah. Makin tinggi kemampuan menyusun sasaran, makin tinggi pula keyakinan dirinya.

Perangkat lunaknya Jamovi versi 2.4.11. Sampai di sini metodenya konsisten dengan datanya.

Yang berubah adalah penamaan kekuatan hubungannya. Di bagian hasil, 0,638 disebut hubungan positif yang cukup kuat.

Di bagian pembahasan dan abstrak, angka yang sama disebut hubungan yang kuat. Dua istilah itu dipakai untuk satu koefisien.

Selisih penamaan seperti ini kecil, tetapi bukan tanpa akibat. Pembaca yang hanya membaca abstrak akan membawa pulang kesan yang lebih tegas.

Baca juga Self-Talk Positif dan Keputusan Atlet Futsal Remaja

2 Lokasi Pengumpulan Data pada 2024

Kuesionernya disebar lewat Google Forms di 2 kesempatan. Yang pertama pada pertandingan Pra-Popnas di Surakarta, November 2024.

Yang kedua lewat media sosial pada Desember 2024. Teknik pengambilan sampelnya convenience sampling, yaitu berdasarkan kemudahan akses dan ketersediaan responden.

Teknik itu bukan sampel acak. Peneliti menyebutnya dipilih karena keterbatasan waktu dan sumber daya.

Peneliti menyebut kelemahan teknik ini secara langsung. Sampelnya dipilih berdasarkan kedekatan dan ketersediaan, tanpa mempertimbangkan keterwakilan populasi secara penuh.

Jumlah 156 itu pun bukan hasil perhitungan besaran sampel. Laporan tidak menyebut berapa populasi atlet sepak takraw pelajar di Indonesia.

Prosedurnya melewati 5 tahap sebelum penyebaran. Tahapannya penerjemahan instrumen, telaah, penerjemahan balik, penilaian ahli, dan kaji etik.

Izin etiknya keluar dari Komite Etik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Nomornya 200/FPsi.Komite Etik/PDP.04.00/2024.

Naskahnya sendiri diterima redaksi pada 5 Februari 2025. Perbaikannya masuk 25 Februari 2025 dan diterima terbit pada 5 Juni 2025.

7 dari 27 Studi dan Batas Temuan

Fadia Tasyafa dan Dianti Endang Kusumawardhani mencantumkan keterbatasan penelitiannya secara terbuka. Ada 2 keterbatasan yang mereka sebut.

Yang pertama convenience sampling, yang menurut mereka mungkin tidak sepenuhnya mewakili populasi atlet sepak takraw nasional. Yang kedua desain korelasionalnya.

Desain itu, tulis keduanya, tidak memungkinkan penentuan hubungan sebab-akibat secara langsung. Karena itu 0,638 tidak berarti yang satu menyebabkan yang lain.

Keduanya menyarankan desain eksperimental untuk penelitian berikutnya. Tujuannya menguji dampak langsung intervensi goal setting terhadap peningkatan efikasi diri.

Rantai riset yang mereka rujuk juga menyisakan celah. Sebuah meta-analisis yang dikutip mencatat hanya 7 dari 27 studi yang khusus menelaah pengaruh goal setting terhadap efikasi diri.

Angka 7 itu kecil untuk dasar sebuah rekomendasi latihan. Laporan ini tidak membahas mengapa jumlahnya sedikit.

Rujukan lain datang dari 3 penelitian dalam negeri. Fadli dan Anshor pada 2019 menyurvei pelatih PSTI Sumatera Utara menjelang Pekan Olahraga Wilayah VIII.

Fachrezi dan kolega pada 2023 meneliti atlet panahan di Kota Pontianak. Hasilnya, makin spesifik proses penyusunan sasaran, makin tinggi motivasi berprestasi atletnya.

Dimyati dan kolega pada 2013 meneliti atlet pelajar di Yogyakarta. Motivasi mereka tinggi, tetapi kepercayaan diri dan pengendalian kecemasannya masih perlu diperkuat.

Williamson dan kolega pada 2022 menyusun meta-analisis tentang goal setting. Simpulannya, pengaruhnya terhadap performa olahraga berada pada rentang sedang sampai tinggi.

Sebagai pembanding, meta-analisis Lochbaum dan kolega pada 2023 mencakup rentang 1983 sampai 2021. Hasilnya, efikasi diri sebelum pertandingan berpengaruh sedang dan konsisten pada performa.

Baca juga Burnout Atlet Dayung dan Arah Hubungan yang Tak Ditunjukkan

2 Medali Emas dan 1 Angka Terakhir

Latar belakangnya bukan olahraga kecil. Tim sepak takraw Indonesia meraih medali emas pada SEA Games 2019 dan 2023.

Atlet pelajar memikul 2 beban sekaligus. Mereka mengejar prestasi akademik sekaligus performa olahraga tingkat tinggi.

Rekomendasi penutupnya metode SMART, yaitu sasaran yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu. Pelatih diminta membantu menyusun sasaran jangka pendek, menengah, dan panjang.

Ermiş dan Çankaya pada 2023 menyebut 3 faktor lain yang membentuk efikasi diri. Ketiganya usia, pengalaman, dan dukungan sosial.

Rasyid dan Rambey pada 2024 menguji perbedaan atlet tim dan atlet individu. Hasilnya tidak ada beda berarti pada efikasi diri keduanya.

Karena itu pelatih diminta tidak membedakan perlakuan. Program penguatan efikasi diri disebut perlu diberikan merata pada 2 jenis atlet tersebut.

Sepak takraw sendiri disebut olahraga tradisional populer di Asia Tenggara. Laporan menyebut Malaysia, Thailand, dan Indonesia sebagai tiga negara dengan tuntutan keterampilan dan latihan intensif.

Angka terakhirnya tetap 0,638. Itu kekuatan hubungan antara keyakinan diri dan kemampuan menyusun sasaran pada 156 atlet pelajar.

Yang tidak dijawab angka itu adalah arahnya. Laporan menyebut hubungannya berjalan dua arah, tetapi desain korelasional tidak dapat memastikan yang mana lebih dulu.

Bagikan

Baca Juga

Tunggu Tubang, Perempuan Pewaris yang Kehilangan Sawahnya
Sasi Lompa Haruku, Dua Puluh Pelanggaran dalam Setahun
Kampung Naga, Larangan Listrik, dan Kampung Kedua Bernama Sanaga
Tangis Dilo, Ratapan Fajar Suku Alas yang Kian Jarang
Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat
Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo