Cekricek.id — Seorang atlet duduk diam di bangku pinggir lapangan, mata terpejam, tubuh nyaris tidak bergerak, dan pelatihnya sama sekali tidak menegur. Di banyak cabang olahraga, adegan itu justru dihitung sebagai sesi latihan yang sah. Penonton di tribun melihat seseorang yang sedang tidak mengerjakan apa pun, sementara catatan program latihan menempatkannya sejajar dengan repetisi teknik dan penguatan fisik. Kejanggalan itu jarang dipersoalkan karena sudah telanjur akrab, padahal pertanyaannya sederhana: apa sebenarnya yang sedang dikerjakan orang yang tampak diam itu, dan dari mana datangnya keyakinan bahwa kegiatan tanpa gerak itu menempa ketangguhan mentalnya.
Sebuah tinjauan bibliometrik yang disusun Agita Naufal Khuluqin Azhiim, Hamdi Muluk, dan Taru Guritna dari Psikologi Terapan Olahraga, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, mencoba menelusuri jawabannya lewat jalur yang tidak lazim: bukan dengan menguji atlet, melainkan dengan memetakan seluruh literatur yang pernah menguji mereka. Artikel Mental Imagery Effects on Athletes’ Mental Toughness and Sports Performance: A Bibliometric Review terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 11 Nomor 1 tahun 2026. Bahannya 183 artikel jurnal berbahasa Inggris yang diambil dari basis data Scopus dengan rentang terbit 1977–2025, disaring memakai prosedur yang diadaptasi dari kerangka PRISMA.
Istilah teknis untuk kegiatan diam tadi adalah mental imagery. Guillot dan Collet, yang dikutip para peneliti sebagai rujukan definisi, merumuskannya sebagai representasi atau simulasi mental atas sebuah pengalaman tanpa kehadiran rangsangan dari luar, yang melibatkan komponen indrawi, perseptual, sekaligus emosional, dan seluruhnya berada di bawah kendali orang yang menjalankannya. Rumusan itu penting karena membedakan mental imagery dari melamun. Yang dibayangkan bukan gambar yang lewat begitu saja, melainkan pengalaman yang disusun sendiri, lengkap dengan rasa gerak dan suasana emosinya. Kendali penuh pada orang yang menjalankan itulah yang membuatnya bisa diulang, diarahkan, dan pada akhirnya dilatih.
Daftar Isi
Cara Sebuah Gerakan Dilatih Tanpa Digerakkan
Dalam olahraga, simulasi itu mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Kajian yang dirujuk tinjauan ini, terutama karya Callow dan Hardy, memilah fungsi kognitif dari fungsi motivasional: yang pertama menyangkut penguasaan keterampilan dan penyusunan strategi, yang kedua menyangkut penguatan rasa percaya diri dan pengaturan emosi. Karena itu, seorang pemain yang membayangkan servisnya sedang mengerjakan dua hal dalam satu kali duduk. Ia mengulang urutan gerak di kepala, dan pada saat yang sama menata respons emosinya terhadap situasi yang belum terjadi. Sifat ganda itu yang membuat para peneliti menyebut imagery sebagai perkakas psikologis berdimensi banyak, bukan satu teknik tunggal dengan satu sasaran.
Bagian kedua dari mekanisme itulah yang membuat bidang ini melebar ke luar ruang latihan. Sejumlah studi yang masuk daftar paling banyak dikutip menunjukkan bahwa membayangkan gerakan turut memperkuat pola aktivasi saraf yang berkaitan dengan gerakan itu, bahkan ketika tubuh tidak bergerak sama sekali. Roure dan koleganya bahkan menaksir mutu bayangan lewat respons otonom tubuh, dan mendapati taksiran itu berhubungan dengan peningkatan performa. Riset yang lebih baru, seperti percobaan rintisan pada pemanah Olimpiade oleh Keskin, Nur, dan Van Den Berg, mengaitkan latihan pernapasan dan imagery dengan goyangan postur serta akurasi tembakan.
Tempat Ketangguhan Mental Duduk dalam Rantai Itu
Ketangguhan mental tidak diperlakukan sebagai tempelan dalam tinjauan ini. Ia dipasang sebagai syarat pencarian: rangkaian boolean yang dipakai di Scopus mengharuskan setiap artikel memuat istilah mental toughness atau psychological resilience, di samping istilah imagery dan istilah performa. Artinya, 183 artikel yang tersaring bukan sembarang literatur tentang membayangkan gerakan, melainkan irisan sempit tempat ketiga urusan itu bertemu. Peta kata kunci yang dihasilkan perangkat VOSviewer memperlihatkan mental imagery, imagery, athlete, sport, dan mental toughness sama-sama berdiri di posisi tengah dengan keterhubungan tinggi. Posisi tengah itu, bagi para peneliti, menegaskan imagery sebagai konstruk inti yang menyambungkan sisi psikologis, fisiologis, dan performa.
Dari peta itu para peneliti membaca empat rumpun tema. Rumpun merah, yang paling padat, memuat mental imagery sebagai strategi psikologis untuk mengangkat performa, dengan variabel seperti motivasi, atensi, dan performa tugas. Rumpun kuning berisi penerapan psikologi olahraga, khususnya peran imagery dalam latihan mental yang terstruktur. Rumpun hijau bergerak ke wilayah pemulihan cedera dan persiapan kembali bertanding. Rumpun ungu kebiruan menampung pendekatan fisiologis dan metodologis, termasuk percobaan yang mengukur aktivitas saraf, regulasi stres, dan respons tubuh. Kesimpulan yang ditarik para peneliti dari susunan itu, imagery bekerja sebagai konstruk berdimensi banyak yang menyatukan peningkatan performa, regulasi psikologis, dan proses pemulihan.
Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Susunan itu menjelaskan mengapa ketangguhan mental sulit dipisahkan dari mekanismenya. Studi-studi yang paling banyak dikutip dalam daftar tinjauan ini bergerak persis di sekitar bahan bakunya: Moritz, Hall, Vadocz, dan Martin menelisik apa yang dibayangkan atlet yang percaya diri; Callow dan Hardy memeriksa jenis bayangan yang berkaitan dengan kepercayaan diri pemain netball di berbagai tingkat keterampilan; Gaudreau dan Blondin menyusun kuesioner untuk mengukur strategi menghadapi tekanan dalam situasi kompetisi. Ketangguhan, dalam bacaan ini, adalah hasil samping dari kemampuan menata perhatian dan emosi.
Yang membuatnya rumit, keampuhan simulasi itu tidak seragam. Para peneliti mencatat bahwa efektivitasnya dipengaruhi jenis bayangan yang dipakai, tingkat keterampilan atletnya, dan mutu bayangan itu sendiri. Alat ukurnya pun ikut menjadi objek penelitian tersendiri, seperti MIQ-RS susunan Gregg, Hall, dan Butler yang dirancang untuk menakar kemampuan seseorang membayangkan gerakan dan tercatat mengumpulkan 186 sitasi. Kesimpulan para peneliti atas kumpulan studi paling berpengaruh ditulis begitu: “Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menegaskan bahwa mental imagery berfungsi sebagai mekanisme psikologis kunci yang menghubungkan proses kognitif, regulasi emosi, dan hasil performa, serta memainkan peran penting baik dalam peningkatan performa maupun rehabilitasi dalam olahraga,” tulis Azhiim bersama Muluk dan Guritna.
Baca juga Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah
Mengapa Petanya Menumpuk di Beberapa Titik
Kalimat itu berdiri di atas tumpukan literatur yang pertumbuhannya jauh dari merata. Sepanjang 1977 sampai 2008, keluaran publikasi bertahan rendah dan menyumbang kurang dari sepuluh persen total studi. Kenaikan mulai terasa setelah 2009, ketika jumlahnya bergerak dari empat artikel menjadi sepuluh artikel pada 2012, atau tumbuh sekitar 150 persen menurut hitungan para peneliti. Percepatan sebenarnya datang setelah 2020: lebih dari 40 persen dari seluruh publikasi lahir pada periode itu, dengan puncak pada 2023 sebanyak 17 artikel.
Persoalannya, pertumbuhan jumlah tidak otomatis berarti pertumbuhan sumber pengetahuan. Analisis sitasi dalam tinjauan ini justru memperlihatkan pola yang memusat: segelintir studi menyedot pengaruh ilmiah yang besar. Karya Mahoney dan Avener tentang psikologi atlet elite, yang terbit paling awal dalam daftar, tercatat mengumpulkan 354 sitasi. Kuesioner strategi coping susunan Gaudreau dan Blondin menyusul dengan 192 sitasi. Nama-nama seperti Craig Hall, Aymeric Guillot, dan Aidan Moran disebut para peneliti sebagai simpul yang menahan arah perkembangan bidang ini, terutama pada urusan motor imagery. Pola semacam itu membuat perkembangan pengetahuan bergantung pada beberapa karya inti, bukan pada penyebaran bukti yang merata.
Pemusatan yang sama terlihat pada wadah dan asal risetnya. Jurnal paling produktif memuat 14 artikel, disusul Frontiers in Psychology dengan enam artikel, Journal of Sports Sciences lima artikel, dan Frontiers in Human Neuroscience empat artikel, sementara sejumlah jurnal lain menyumbang tiga artikel masing-masing. Secara geografis, riset ini terkonsentrasi di negara maju, terutama Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Sumbangan dari kawasan lain, tulis para peneliti, masih relatif terbatas dan menandai ketimpangan sebaran riset global. Sebaran jurnalnya sendiri lintas bidang, merentang dari psikologi olahraga dan sains keolahragaan sampai neurosains, yang menandakan imagery dipelajari sekaligus sebagai proses kognitif dan sebagai strategi latihan.
Baca juga Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Batas Tempat Penjelasan Ini Berhenti
Di titik ini penjelasan mekanismenya berhenti, dan batasnya perlu dinyatakan terang-terangan. Tinjauan bibliometrik tidak mengukur atlet mana pun. Ia mengukur literatur: berapa banyak yang terbit, siapa mengutip siapa, kata kunci apa yang berdekatan. Kedekatan dua kata kunci pada peta VOSviewer menunjukkan seberapa sering keduanya muncul bersama, bukan bahwa yang satu menyebabkan yang lain. Data pun diambil dari satu basis saja, Scopus, terbatas pada artikel jurnal berbahasa Inggris, sehingga kajian yang terbit sebagai buku, bab buku, prosiding, atau dalam bahasa lain tidak ikut terhitung. Ketimpangan geografis yang mereka catat sebagian juga merupakan bayangan dari pilihan basis data itu.
Para peneliti sendiri tidak menutupi lubang di badan literaturnya. “Namun, sejumlah keterbatasan masih ada, termasuk dominasi studi jangka pendek dan terbatasnya penerapan teknologi mutakhir dalam intervensi imagery,” tulis mereka pada bagian pembahasan. Dominasi studi jangka pendek itu berarti pertanyaan yang paling menentukan bagi ketangguhan mental — apakah efeknya bertahan melewati satu musim, satu cedera, atau satu kekalahan besar — belum terjawab oleh kumpulan bukti yang ada. Sebagian besar yang tersedia adalah potret sesaat, bukan rekaman panjang.
Karena itu, arah yang direkomendasikan tinjauan ini bukan penambahan jumlah studi, melainkan perubahan bentuknya. Para peneliti menyarankan desain longitudinal yang mengikuti atlet dalam rentang panjang, serta intervensi berbasis teknologi seperti realitas virtual, agar mutu bayangan yang selama ini sulit dikendalikan bisa distandarkan. Mereka juga mendorong pelatih dan praktisi olahraga menempatkan imagery sebagai strategi latihan yang terstruktur dan berbasis bukti, bukan sebagai kegiatan sampingan yang dijalankan seadanya menjelang pertandingan. Rekomendasi itu ditujukan kepada penyusun program pembinaan atlet, dan tinjauan ini tidak menyediakan takaran maupun bentuk latihan yang bisa disalin begitu saja.
Kembali ke atlet yang duduk terpejam di pinggir lapangan. Yang membuat adegan itu bukan kegiatan kosong adalah rangkaian yang bisa dilacak dalam literatur: bayangan yang disusun sengaja menyalakan pola saraf yang sama dengan gerakannya, sekaligus menata perhatian dan emosi yang menopang ketangguhan. Yang belum bisa dikatakan tinjauan ini adalah seberapa jauh dan seberapa lama rangkaian itu bertahan pada atlet sungguhan. Peta wilayahnya sudah tergambar cukup rapi, lengkap dengan rumpun, simpul, dan jalur sitasinya. Wilayah yang dipetakan itu sendiri masih menunggu diukur.














