Cekricek.id — 440,00 miligram per liter. Itu angka Chemical Oxygen Demand di titik ketiga Sungai Gentung, Kabupaten Pangkep. Baku mutu kelas dua untuk parameter itu 25 miligram per liter. Selisihnya 415. Angka itu bukan taksiran model, melainkan hasil uji laboratorium atas sampel air. Empat-empatnya diambil di aliran sungai yang sama.
Tiga penulis berdiri di balik angka 440,00 itu. Data tersebut dilaporkan Rusman Rasyid dari Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Khairun. Ia menulis bersama Nasrul dan Dinil Qaiyimah, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Makassar. Artikel mereka berjudul Analisis Indeks Pencemaran dan Prediksi Distribusi Kualitas Air Sungai Menggunakan Metode Spatial Inverse Distance Weighted (Studi Kasus: Sungai Gentung, Kabupaten Pangkep).
Jurnal Ilmu Lingkungan Volume 23 Nomor 5 memuatnya pada 2025, halaman 1213 sampai 1226. Lokasi kajiannya Desa Gentung, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sampel diambil di empat titik. Tujuh parameter diuji: suhu, TSS, TDS, pH, DO, BOD, dan COD. Acuannya Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, kelas dua.
Daftar Isi
Empat Titik, Selisih Indeks 3,65

Indeks pencemaran di titik satu 5,66. Titik dua 5,78. Titik tiga 6,04. Titik empat 2,39. Tiga titik pertama masuk kategori cemar sedang. Titik terakhir cemar ringan. Selisih antara angka tertinggi dan terendah 3,65. Dalam skala yang dipakai penelitian ini, jarak sebesar itu memisahkan dua kelas mutu yang berbeda.
Skala tersebut membagi nilai menjadi empat tingkat. Nol sampai 1,0 berarti kondisi baik. Di atas 1,0 hingga 5,0 cemar ringan. Di atas 5,0 hingga 10 cemar sedang. Lebih dari 10 cemar berat. Tidak ada satu titik pun yang masuk kategori baik. Angka terendah sekalipun, 2,39, sudah berada di kelas cemar ringan.
Empat titik itu dipilih secara purposive. Artinya lokasinya ditentukan berdasarkan pertimbangan, bukan diundi. Pilihan itu menjelaskan sebagian pola angkanya. Tiga titik ditempatkan di wilayah permukiman dan industri. Satu titik berada jauh dari keduanya. Selisih indeks 3,65 antara kedua kelompok itu sebagian adalah hasil desain sampel. Bukan berarti angkanya keliru.
Angka kedua lebih menarik. Indeks titik tiga, 6,04, hanya 0,26 di atas titik dua. Padahal COD titik tiga 440,00 miligram per liter. Di titik dua 372,00. Selisih 68 miligram per liter hanya menggeser indeks 0,26 poin. Indeks itu memampatkan selisih besar menjadi selisih kecil. Itu sifat metodenya, bukan kekeliruan pengukuran.
BOD 176 mg/l Ketika Batasnya 3 mg/l
BOD titik satu 139,20 miligram per liter. Titik dua 148,80. Titik tiga 176,00. Titik empat 16,43. Baku mutu kelas dua yang dicantumkan di tabel penelitian 3 miligram per liter. Artinya titik tiga hampir 59 kali di atas batas. Titik empat, yang paling bersih, masih lebih dari lima kali lipat. Tidak satu pun titik lolos.
Baca juga Sulfat Dikira Mengunci Metana Mangrove, Ternyata Tidak
Ada satu ketidakcocokan kecil di dalam artikel itu. Tabel baku mutunya mencantumkan BOD 3 miligram per liter. Paragraf pembahasan BOD menulis angka 4 miligram per liter. Selisih satu angka itu tidak mengubah kesimpulan. Dengan batas 3 maupun 4, nilai 176,00 tetap jauh di atasnya. Titik empat, 16,43, juga tetap melewati keduanya.
COD mengikuti pola yang sama. Titik satu 348,00 miligram per liter, titik dua 372,00, titik tiga 440,00. Titik empat 41,07. Batasnya 25 miligram per liter. Titik tiga 17,6 kali di atas baku mutu. Titik empat pun masih 1,6 kali. Rasio COD terhadap BOD di titik tiga sekitar 2,5. Penelitian ini tidak merinci sumber pastinya.
TSS titik satu 323,63 miligram per liter. Titik dua 303,65. Titik tiga 324,62. Titik empat 29,96. Baku mutunya 50 miligram per liter. Tiga titik pertama enam kali lipat di atas batas. Titik empat justru di bawahnya. Selisih titik tiga dan titik empat 294,66 miligram per liter, pada satu kali pengukuran.
TDS memberi angka terbesar. Titik satu 4.974,31 miligram per liter. Titik dua 5.363,87. Titik tiga 5.543,66. Titik empat 1.927,79. Tabel baku mutu dalam artikel itu menulis angka 1 miligram per liter untuk TDS. Angka itu janggal. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 mematok 1.000 miligram per liter untuk kelas dua. Dengan batas mana pun, empat titik itu lewat.
Dua parameter lolos di semua titik. Nilai pH bergerak dari 6,73 di titik satu ke 7,31 di titik empat. Rentang yang disyaratkan 6 sampai 9. Suhu berkisar 28,0 sampai 28,5 derajat Celsius. Deviasi yang diizinkan 3 derajat. Selisihnya tipis, hanya 0,5 derajat antartitik. Dua angka ini tidak menjelaskan pencemaran organiknya.
Titik Empat: Indeks 2,39, Oksigen 1,92 mg/l
Titik empat memberi angka yang tidak konsisten. Indeksnya paling rendah, 2,39. TSS-nya 29,96 miligram per liter, di bawah baku mutu 50. BOD-nya 16,43, jauh di bawah tiga titik lain. Tetapi DO-nya 1,92 miligram per liter. Batas minimum kelas dua 4 miligram per liter. Titik paling bersih justru paling miskin oksigen.
Baca juga Empat Indeks Jentik dan Peta Kasus DBD Sukoharjo
Penulis tidak membedah kejanggalan itu secara khusus. Mereka lebih menyoroti tiga titik pertama, yang indeksnya di atas 5,0. Titik empat disebut sepintas saja. Rusman Rasyid, penulis utama dari Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Khairun, menulis satu kalimat kunci. “Keberadaan permukiman padat penduduk di tepi sungai memberikan dampak yang luar biasa terhadap kualitas dan kondisi air sungai,” tulisnya.
Kalimat itu menjelaskan titik satu sampai tiga. Ia tidak menjelaskan DO 1,92 miligram per liter di titik empat. Permukiman hanya menempati 0,83 persen lahan di wilayah kajian. Angka itu kecil. Dampaknya, menurut pengukuran, tidak kecil. Tiga titik dengan BOD di atas 139 miligram per liter berdiri dekat permukiman dan industri.
88,07 Persen Lahan Sekitar Berupa Tambak
Penggunaan lahan di sekitar sungai didominasi satu hal. Tambak menempati 88,07 persen. Sawah 10,76 persen. Permukiman 0,83 persen. Kebun campuran 0,18 persen. Kawasan industri 0,14 persen. Tambak dan sawah bersama-sama mengambil 98,83 persen. Dua kategori terakhir digabung pun tidak sampai satu persen. Luasnya kecil, letaknya yang menentukan.
Angka 88,07 persen itu perlu dibaca hati-hati. Tambak adalah lahan basah buatan. Air payau di dalamnya bisa menaikkan TDS. TDS titik tiga tercatat 5.543,66 miligram per liter. Titik empat 1.927,79. Penelitian ini tidak menguji salinitas. Tanpa angka salinitas, sumbangan tambak terhadap TDS tidak bisa dipisahkan dari limbah permukiman.
Acuan yang dipakai kelas dua. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 membagi mutu air sungai menjadi empat kelas. Kelas dua antara lain diperuntukkan bagi prasarana rekreasi air dan budi daya ikan. Dengan COD 440,00 miligram per liter, titik tiga jauh dari peruntukan itu. Artikelnya tidak menyebut kelas resmi Sungai Gentung.
Empat titik itu lalu diperluas menjadi peta. Metodenya Inverse Distance Weighted dengan power 2. Cara ini menaksir nilai di lokasi tanpa sampel berdasarkan jarak. Hasilnya rentang interpolasi, bukan pengukuran. Untuk BOD, rentangnya 16,43 sampai 175,99 miligram per liter. Untuk COD, 41,07 sampai 439,99. Batas rentang itu persis nilai titik sampelnya.
Baca juga Pusat Data AI Kenya Picu Kekhawatiran Air Naivasha
Itu batas yang penting dicatat. Peta interpolasi tidak menambah informasi baru di luar empat angka tadi. Ia hanya menyebarkannya secara ruang. Selisih 159,57 miligram per liter antara BOD tertinggi dan terendah menentukan seluruh gradasi warna petanya. Dengan empat titik, satu nilai ekstrem menggeser tampilan sebagian besar wilayah.
Indeks 6,04 dari Sekali Pengambilan Sampel
Penelitian ini bekerja dengan empat titik. Indeks 6,04 di titik tiga berasal dari satu kali pengambilan. Tidak ada pembanding musim hujan dan musim kemarau. Tidak ada pengulangan untuk menguji ragam data. Penulis sendiri menyebut kebutuhan itu. Mereka meminta pemantauan rutin dengan teknologi GIS. Permintaan itu mengakui empat angka sekali ukur belum cukup.
Kesimpulan mereka menyusun ulang tujuh parameter menjadi dua kelompok. “Konsentrasi suhu berada dalam kondisi baik, tetapi perhatian lebih diperlukan untuk parameter TSS, TDS, BOD, dan COD,” tulis mereka. Empat parameter bermasalah dari tujuh yang diuji. Nilai pH dan suhu aman. DO aman di 3 titik dari 4.
Angka-angka ini berlaku untuk satu sungai di satu kecamatan. Sungai Gentung mengalir di Desa Gentung, Kecamatan Labakkang. Empat titik tidak mewakili seluruh Kabupaten Pangkep. Indeks 6,04 juga bukan potret sepanjang tahun. Ia potret satu kali pengukuran di satu lokasi. Papernya sendiri tidak menaikkan temuan itu jadi klaim wilayah.
Yang tidak diukur juga banyak. Tidak ada data logam berat. Tidak ada hitungan bakteri koliform. Tidak ada angka produksi tambak di 88,07 persen lahan itu. Tidak ada jumlah penduduk di 0,83 persen wilayah permukiman. Tujuh parameter memberi gambaran fisik dan kimia. Mereka diam soal siapa yang terdampak.
Satu angka terakhir: 2,39. Itu indeks di titik empat, yang paling bersih dari empat titik. Ia tetap masuk kategori cemar ringan. DO di titik yang sama 1,92 miligram per liter, di bawah ambang 4. Dua angka itu datang dari sampel yang sama. Keduanya tidak memberi tahu apakah air di sana masih bisa dipakai warga.













