Cekricek.id — Rumah pasien demam berdarah di Grogol jauh lebih sering berjentik.
Temuan itu dilaporkan Maulina Tri Handayani, Mursid Raharjo, dan Tri Joko dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Artikel mereka, Pengaruh Indeks Entomologi dan Sebaran Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Sukoharjo, terbit di Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Volume 22 Nomor 1 tahun 2023, halaman 46–54.
Desainnya kasus kontrol. Peneliti mendatangi 84 rumah di Kecamatan Grogol pada Maret dan April 2022. Empat puluh dua rumah dihuni penderita DBD, empat puluh dua rumah lain tidak. Kontainer air di tiap rumah diperiksa satu per satu, dan hasilnya dibandingkan antara dua kelompok itu.
Datanya dikumpulkan dengan tiga cara sekaligus. Peneliti mengamati langsung kondisi rumah, mewawancarai penghuninya, lalu menambahkan data sekunder kasus DBD dari catatan tahun 2021. Pengambilan sampelnya purposive, artinya rumah dipilih menurut kriteria yang sudah ditetapkan lebih dulu, bukan diundi.
Angka yang Membedakan
Selisih dua kelompok itu besar. Pada kelompok kasus, 64,3 persen rumah masuk kategori house index berisiko. Pada kelompok kontrol angkanya 9,5 persen. Uji chi-square memberi nilai p 0,000, jauh di bawah batas kemaknaan 0,05 yang dipakai peneliti.
Container index mengulang pola yang sama. Kelompok kasus berisiko 57,1 persen, kelompok kontrol hanya 4,8 persen. Breteau index dan angka bebas jentik bahkan menghasilkan angka yang identik dengan house index, yaitu 64,3 persen pada kasus berbanding 9,5 persen pada kontrol.
Keempat indeks berujung pada nilai p yang sama, 0,000. Peneliti menyimpulkan keempatnya berhubungan dengan kejadian DBD di Grogol. Analisis statistiknya dikerjakan dengan SPSS Statistics 23, sedangkan pemetaan sebaran kasusnya memakai perangkat lunak ArcGIS 10.8.
Empat Indeks, Satu Hasil
Keempat indeks itu mengukur hal yang berdekatan. House index menghitung persentase rumah yang ditemukan berjentik, dengan ambang berisiko 5 persen ke atas. Semakin tinggi nilainya, semakin banyak rumah yang menyediakan tempat berkembang biak bagi nyamuk penular dengue.
Container index menghitung persentase kontainer positif jentik dari seluruh kontainer yang diperiksa, dengan ambang yang sama, 5 persen. Breteau index memakai satuan berbeda, yaitu jumlah kontainer positif per seratus rumah. Ambang berisikonya 5 ke atas, dan nilai itu dibaca sebagai kepadatan jentik sedang hingga tinggi.
Baca juga Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak
Angka bebas jentik bekerja terbalik. Ia menghitung persentase rumah yang bersih dari jentik, dan target nasionalnya 95 persen. Di bawah angka itu sebuah wilayah masuk kategori berisiko. Keempat ukuran ini dipakai berbarengan supaya gambaran kepadatan jentik tidak bergantung pada satu angka saja.
Sebaran keempatnya di 84 rumah tidak jauh berbeda. House index berisiko ditemukan pada 31 rumah atau 36,9 persen dari seluruh sampel. Breteau index dan angka bebas jentik berisiko juga jatuh pada 31 rumah. Container index berisiko sedikit lebih rendah, 26 rumah atau 31 persen.
Ada satu hal yang tidak dijawab oleh keempat indeks tersebut. Ukuran-ukuran itu menghitung keberadaan jentik, bukan jumlah nyamuk dewasa yang benar-benar menggigit. Hubungan antara kepadatan jentik dan kepadatan nyamuk penular tidak selalu lurus. Papernya sendiri menyebut kualitas air di tempat perindukan ikut menentukan produktivitas habitat.
Bak Semen dan Ember
Peneliti mencatat apa yang mereka lihat di lapangan. Banyak warga masih memakai penampungan air berupa bak mandi dari semen dan keramik, dan jentik banyak ditemukan di dalamnya. Tumpukan barang bekas di luar rumah, seperti ember dan drum, juga positif jentik.
Rumah yang bersih punya kebiasaan berbeda. Mayoritas rumah negatif jentik memakai ember sebagai penampungan air sehari-hari, sementara rumah yang positif jentik mayoritas memakai bak mandi bersemen atau berkeramik. Ember gampang diangkat dan dikuras, bak semen tidak segampang itu. Perbedaan sederhana ini muncul berulang dalam catatan lapangan mereka.
Cahaya ikut menentukan. Jentik lebih banyak ditemukan pada kontainer dengan pencahayaan minim dan dinding berlumut. Nyamuk Aedes aegypti betina memang memilih tempat lembap dan sedikit sinar matahari. Suhu optimal perkembangbiakannya 24 hingga 28 derajat Celsius, dengan kelembapan 70 hingga 90 persen.
Perilaku nyamuknya menambah risiko. Aedes aegypti bersifat endofilik, yaitu suka beristirahat di dalam rumah, terutama di sudut yang gelap dan dekat penampungan air. Nyamuk ini juga mampu mengisap darah beberapa orang bergantian dalam waktu singkat. Penularan di dalam satu rumah karena itu bisa berlangsung cepat dan diam-diam.
Papernya menyandingkan hasil ini dengan penelitian terdahulu. Studi Hikmawan tahun 2018 di Kecamatan Dringu, Probolinggo, menemukan keterkaitan indeks rumah dengan prevalensi DBD. Studi Zulmi tahun 2017 di Jepara menyebut rumah dengan container index tinggi berisiko 5,588 kali lipat. Angka terakhir itu bukan hasil pengukuran di Grogol.
Baca juga Mencegah Perkawinan Anak Tidak Cukup dengan Regulasi
Peta yang Menggerombol
Bagian kedua penelitian ini memetakan kasus se-kabupaten. Sukoharjo mencatat 185 kasus DBD pada 2020 dan 222 kasus pada 2021. Kecamatan Grogol menyumbang 55 kasus, tertinggi di kabupaten itu, dengan Desa Cemani sebagai titik terbanyak. Kecamatan Tawangsari paling sedikit, hanya 3 kasus.
Sebaran itu ternyata tidak acak. Analisis autokorelasi antardesa menghasilkan indeks Moran 0,51, z-score 10,31, dan nilai signifikansi 0,000. Indeks Moran di atas nol berarti autokorelasi positif. Desa dengan kasus tinggi cenderung bertetangga dengan desa yang kasusnya juga tinggi.
“Peningkatan suatu kasus DBD di suatu desa akan mempengaruhi risiko penularan pada desa di sekitarnya,” tulis Maulina Tri Handayani bersama dua rekannya dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro dalam pembahasan artikel tersebut.
Peta kepadatan kasus mempertegas gambar itu. Analisis kernel density menempatkan Kartasura, Baki, Grogol, dan Gatak sebagai wilayah dengan kepadatan kasus tinggi sepanjang 2021. Keempat kecamatan itu berdampingan di sisi utara kabupaten. Peneliti menyarankan wilayah dengan kepadatan setinggi itu dijadikan prioritas pemantauan dan pengendalian oleh instansi kesehatan setempat.
Pola berkelompok bukan hal baru dalam literatur dengue Indonesia. Penelitian Rika tahun 2017 di Kota Bandung menemukan pola sebaran cluster dengan indeks Moran. Andri tahun 2017 di Tasikmalaya dan Andhy tahun 2019 di Bantul melaporkan pola yang serupa. Grogol menambah satu titik lagi pada daftar itu, kali ini disertai pengukuran jentik rumah per rumah.
Sampel yang Kecil
Ukuran penelitiannya perlu dibaca apa adanya. Respondennya 84 orang di satu kecamatan, dari dua belas kecamatan yang ada di Sukoharjo. Rumahnya dipilih secara purposive dengan pertimbangan subjektif peneliti, bukan diacak. Hasilnya menggambarkan Grogol pada satu musim, bukan Sukoharjo secara utuh, apalagi Jawa Tengah.
Angka statistiknya pun terbatas. Papernya melaporkan nilai p 0,000 untuk keempat indeks, tanpa rasio odds dan tanpa selang kepercayaan. Uji chi-square menunjukkan ada hubungan, bukan seberapa besar hubungan itu. Pembaca tidak bisa tahu berapa kali lipat risiko rumah berjentik di Grogol, dan angka dari Jepara tadi tidak bisa dipinjam untuk menambalnya.
Baca juga Bolsa Familia: Cara Brasil Mengekspor Program Bantuan Tunai
Judul artikelnya memakai kata pengaruh. Desain kasus kontrol dengan pengukuran jentik satu kali tidak cukup untuk membuktikan sebab-akibat. Jentik di bak mandi dan riwayat sakit penghuni juga dicatat pada waktu yang berbeda. Kasusnya berasal dari data 2021, pengukuran jentiknya dilakukan Maret dan April 2022.
Papernya tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Yang ada adalah pengakuan bahwa faktor lain ikut berperan pada kejadian DBD. Peneliti menyebut pendidikan, sanitasi, pengetahuan, dan persepsi masyarakat tentang penyakit ini sebagai faktor yang tidak mereka ukur. Daftar itu cukup panjang untuk sebuah penelitian dengan 84 responden.
Sisa Pertanyaan
Pertanyaan pertama soal arah hubungan. Rumah pasien memang lebih sering berjentik, tetapi nyamuk penular tidak berhenti di pagar rumah. Jentik di dalam rumah bisa saja penanda lingkungan sekitar yang sama-sama padat jentik, bukan sumber tunggal penularan bagi penghuninya.
Pertanyaan kedua soal wadah. Data lapangan menunjuk bak semen dan keramik sebagai tempat jentik paling sering ditemukan. Yang belum diukur adalah frekuensi pengurasannya. Bahan wadah dan kebiasaan menguras adalah dua hal berbeda, dan penelitian ini hanya mencatat yang pertama secara rinci.
Pertanyaan ketiga soal peta. Indeks Moran 0,51 menunjukkan kasus mengelompok, dan kelompoknya berada di kecamatan-kecamatan sisi utara yang dekat dengan Kota Surakarta. Kepadatan penduduk, mobilitas harian, dan kepadatan jentik bisa sama-sama menjelaskan pola itu. Penelitian ini tidak memisahkan ketiga kemungkinan tersebut.
Yang terukur baru satu hal: di 84 rumah di Grogol, jentik dan kasus DBD berjalan beriringan.















