Cekricek.id — 131 artikel ilmiah. Itu seluruh bahan yang dipetakan Adhitya Nugraha Pratama Putra dan Sali Rahadi Asi. Keduanya peneliti Psikologi Terapan Olahraga, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. Objek yang mereka hitung: riset mental imagery pada performa dan pemulihan cedera atlet. Rentang datanya 1977 sampai 2024. Sumbernya tunggal, pangkalan data Scopus. Tidak ada atlet yang diukur langsung di sini.
Laporannya terbit dengan judul A Study on Mental Imagery: The Effect of Mental Imagery on Sports Performance and Injury Recovery in Athletes Using Bibliometric Analysis. Pemuatnya Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Vol. 10 No. 1, terbitan 2025, halaman 21 sampai 38. Desainnya analisis bibliometrik, bukan uji lapangan. Sampelnya 131 artikel jurnal. Alat hitungnya tiga: Scopus, VOSviewer, dan RStudio.
131 Artikel Sepanjang 1977–2024
Artikel pertama muncul pada 1977. Sesudah itu kurvanya nyaris datar selama tiga dekade. Paper menyebut perkembangan riset di bidang ini masih kecil dan cenderung stagnan tiap tahun. Titik momentum baru tercatat pada 2008, ketika dua artikel terbit. Setahun berikutnya angkanya naik menjadi tiga. Kenaikan berjalan pelan, lalu sempat turun pada 2018 dengan hanya dua artikel.
Lonjakan berarti terjadi pada 2021 dengan 8 artikel. Puncaknya pada 2023: 14 artikel dalam satu tahun. Itu angka tertinggi sepanjang rentang data. Bandingkan dengan 2008 yang cuma dua. Tujuh kali lipat dalam lima belas tahun. Kurva itulah yang dibaca kedua peneliti sebagai naiknya perhatian akademik terhadap imagery, baik untuk performa maupun untuk pemulihan cedera.
Angka 131 terasa kecil dalam konteksnya sendiri. Muniandy dan koleganya, yang dikutip di bagian metode, menganalisis lebih dari 1.906 artikel psikologi olahraga. Rentang mereka hanya 2020 sampai 2023. Empat tahun, 1.906 artikel. Hampir setengah abad, 131 artikel. Mental imagery adalah ceruk kecil di dalam ceruk yang sudah kecil. Perbandingan itu penting sebelum membaca angka-angka berikutnya.
341 Sitasi untuk Satu Artikel 1977
341 sitasi. Itu milik artikel tertua di daftar, tulisan Michael J. Mahoney dan Marshall Avener pada 1977 di Cognitive Therapy and Research. Rata-rata sitasinya 7,10 per tahun. Isinya sederhana: atlet yang lebih sukses cenderung memakai imagery internal ketimbang imagery eksternal. Artikel itu menempati peringkat pertama tabel sitasi, dan sudah menempatinya selama puluhan tahun.
Imagery internal berarti membayangkan diri dari sudut pandang orang pertama, lengkap dengan sensasi tubuhnya. Imagery eksternal menempatkan diri sebagai tontonan, mirip menonton film. Selisih dua sudut pandang itu bertahan sebagai rujukan sejak 1977. Angka 341 adalah bukti umur dan jangkauan artikelnya. Ia bukan bukti bahwa isinya sudah diuji ulang berkali-kali.
Angka kedua lebih rendah tetapi lebih cepat. Artikel P. Gaudreau dan J.P. Blondin (2002) mengumpulkan 176 sitasi, rata-rata 7,65 per tahun. Isinya kuesioner strategi coping atlet di situasi kompetitif. Di posisi ketiga ada Melanie Gregg, Craig Hall, dan Andrew Butler (2010) dengan 165 sitasi dan 11,00 sitasi per tahun. Selisih total keduanya hanya sebelas sitasi.
Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
11,62 Sitasi per Tahun Membalik Urutan
11,62. Itu rata-rata sitasi per tahun milik Aidan Moran, Aymeric Guillot, Tadhg MacIntyre, dan Christian Collet (2012). Total sitasinya 151, hanya peringkat keempat di tabel. Namun per tahun, angka itu tertinggi di seluruh daftar. Mahoney dan Avener, pemuncak daftar total, hanya mencatat 7,10. Selisihnya jauh untuk dua artikel yang duduk berdekatan.
Urutan berbalik begitu angka dibagi umur. Memakai total sitasi, tiga teratas adalah artikel 1977, 2002, dan 2010. Memakai sitasi per tahun, tiga teratas berubah menjadi 2012, 2010, dan 2002. Artikel 1977 turun ke posisi kelima. Umur publikasi menyimpan keuntungan yang tidak selalu terlihat pada kolom total sitasi.
Isi artikel Moran dan koleganya (2012) menjelaskan sebagian angka itu. Motor imagery mengaktifkan area otak seperti korteks premotorik dan motorik primer. Intensitasnya lebih rendah daripada gerakan fisik sungguhan. Model latihan PETTLEP disebut sebagai cara menaikkan efektivitas imagery. Topik neurosains itulah yang paling cepat mengumpulkan sitasi di dalam tabel sepuluh besar tersebut.
Di dasar tabel, angkanya jauh lebih kecil. Molly Driediger dan koleganya (2006) mencatat 91 sitasi. Linda Warner dan M. Evelyn McNeill (1988) mencatat 85. Thomas Schack dan koleganya (2014) mencatat 81. Angela H. Nippert dan Aynsley M. Smith (2008) menutup daftar dengan 78 sitasi. Jarak ke peringkat pertama lebih dari empat kali lipat.
Satu kolom di tabel itu sulit diperiksa. Rata-rata sitasi per tahun ditulis tanpa penjelasan cara hitungnya. Warner dan McNeill dari 1988 mendapat 2,30. Driediger dan koleganya dari 2006, yang delapan belas tahun lebih muda, mendapat 2,52. Selisihnya tipis, padahal jarak tahunnya jauh. Paper tidak menerangkan pembaginya, sehingga kolom itu sukar diverifikasi pembaca.
Baca juga Kalimatnya Utuh, Maknanya Bergeser: Riset Bahasa dan Skizofrenia
Korelasi 0,79 dan Kontribusi 50 Persen
0,79. Itu koefisien korelasi yang dilaporkan R. Roure dan koleganya pada 1999. Artikelnya duduk di peringkat keenam dengan 95 sitasi dan 3,65 sitasi per tahun. Kualitas imagery di sana diukur lewat respons sistem saraf otonom, termasuk respons elektrodermal dan frekuensi napas. Ukurannya fisiologis, bukan laporan diri atlet.
Angka itu dinyatakan langsung di dalam paper. “Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang kuat (r = 0,79) antara kualitas imagery yang diukur melalui respons sistem saraf otonom (ANS) dan peningkatan performa olahraga,” tulis Adhitya Nugraha Pratama Putra dan Sali Rahadi Asi. Angka 0,79 tetap sebuah korelasi. Ia tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
Angka kedua lebih besar dan lebih rapuh. Lebih dari 50 persen. Itu kontribusi mental imagery terhadap keterampilan memukul yang dilaporkan Sumarno pada 2017, dalam konteks softball. Angka sebesar itu jarang muncul untuk satu variabel psikologis tunggal. Paper memakainya sebagai alasan menguji imagery pada cabang beregu yang unsur teknisnya tinggi.
“Sumarno (2017) menemukan bahwa mental imagery dapat berkontribusi lebih dari 50 persen dalam meningkatkan keterampilan memukul pada softball, yang menunjukkan bahwa teknik ini juga dapat diterapkan pada cabang olahraga beregu yang memiliki unsur teknis tinggi,” tulis kedua peneliti. Angka 50 persen itu berasal dari satu studi lain. Bukan dari hitungan bibliometrik ini.
Enam Klaster Kata Kunci, Tiga yang Diuraikan
Enam klaster kata kunci keluar dari VOSviewer. Namanya mental imagery, human, imagery, humans, sport, dan article. Dua di antaranya nyaris kembar: human dan humans. Hanya tiga klaster yang diuraikan isinya di dalam artikel. Tiga sisanya disebut namanya saja, tanpa rincian jumlah kata kunci maupun daftar anggotanya. Peta itu ditarik dari 131 artikel yang sama.
Klaster biru memuat 10 kata kunci, antara lain motor skills, motor imagery, sport psychology, dan motivation. Klaster merah memuat 17 kata kunci bertema psikologis, termasuk controlled study yang menandai metodologi. Klaster hijau memuat 13 kata kunci biografis: male, female, adult, young adult, dan adolescent. Hanya tiga angka itu yang tersedia untuk dibaca.
Baca juga Analisis Genom Ungkap Spesies Baobab Baru di Madagaskar
Klaster hijau menyimpan celah paling jelas. Sebagian besar riset dikerjakan pada kelompok remaja sampai dewasa muda. Riset pada atlet usia dini sangat sedikit. Di Indonesia, dua contoh disebut: Firmansyah (2011) pada keterampilan senam atlet 10 sampai 12 tahun, dan Hidayat (2011) pada bulu tangkis di kelompok usia yang sama.
Sebaran penerbitnya juga tipis. Tiga jurnal paling produktif masing-masing hanya menyumbang lima, lima, dan empat artikel dari 131 artikel yang dianalisis. Paper tidak menuliskan nama ketiga jurnal itu secara eksplisit, hanya cirinya. Satu di antaranya disebut dipimpin Prof. Axel Cleeremans. Dua lainnya dikenali lewat peringkat sitasi anggotanya, yaitu posisi kelima dan kesembilan.
Dua Tahun yang Tidak Cocok: 2008 dan 2012
Ada dua tahun yang tidak cocok di dalam satu naskah. Bagian hasil menyebut momentum riset dimulai pada 2008, saat dua artikel terbit. Bagian kesimpulan menyebut riset tumbuh pesat sejak 2012. Selisihnya empat tahun. Pembaca tidak diberi keterangan mana angka yang dipakai sebagai titik balik resmi kajian ini.
Batas temuan perlu ditulis terang. Ini analisis bibliometrik, bukan uji pada manusia. Datanya sekunder, seluruhnya dari satu pangkalan, yaitu Scopus. Buku dan prosiding sengaja dikeluarkan. Angka 131 karena itu bukan jumlah seluruh riset mental imagery di dunia. Ia jumlah artikel jurnal yang lolos satu rangkaian kata kunci, di satu basis data.
Sitasi juga bukan ukuran mutu. Ia mengukur perhatian. Angka 341 menandai artikel yang paling sering dirujuk, bukan yang paling sahih. Paper ini tidak menguji ulang satu pun temuan yang dikutipnya. Klaim tentang percepatan pemulihan dan berkurangnya atrofi otot berasal dari studi lain, misalnya Gregg dan koleganya pada 2010.
Satu angka terakhir: 14. Itu jumlah artikel pada 2023, tahun tersibuk sepanjang 1977 sampai 2024. Angka itu menunjukkan perhatian akademik sedang naik. Ia tidak menjawab pertanyaan yang paling sederhana: berapa banyak atlet yang benar-benar menjalani latihan membayangkan, di cabang apa, dan selama berapa lama.
















