Candi Morangan Sengaja Tidak Dipugar Seluruhnya

Candi Morangan Sengaja Tidak Dipugar Seluruhnya

Reruntuhan Candi Morangan di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sebagian batunya dibiarkan tidak tersusun kembali. [Foto: Wikimedia Commons/Febri Ady Prasetyo (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Candi Morangan diusulkan tidak dipugar seluruhnya. Usul itu ditulis Pratama Dharma Surya, peneliti Banyan Art & Heritage, DI Yogyakarta. Judul artikelnya Konsep Arkeologi Eksperimental dalam Pengelolaan Warisan Budaya Situs Candi Morangan di Kabupaten Sleman. Isinya bukan laporan penggalian, melainkan sebuah rancangan pengelolaan situs.

Artikel tersebut terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Vol. 43 No. 1, Juni 2025, pada halaman 73–88. Naskahnya diterima 27 Juli 2024 dan disetujui 11 Juni 2025. Pilihan dasarnya tidak lazim untuk sebuah situs candi. Candi tidak dikembalikan ke bentuk utuh, dan kondisi terkini situs justru dijadikan bahan cerita.

Surya menyebut pendekatannya arkeologi eksperimental. Isinya rekonstruksi dan pengujian bangunan, teknologi, benda, serta konteks lingkungan masa lalu berdasarkan bukti arkeologi. Tujuannya memahami struktur, fungsi, dan penggunaannya pada masa lalu. Di Morangan, pendekatan itu diterjemahkan menjadi rancangan wisata edukasi berbasis masyarakat.

Runtuh Sejak 1884

Candi Morangan berdiri di Dusun Morangan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini ditemukan dalam kondisi runtuh pada 1884. Semak belukar dan material letusan Merapi menutupinya. Upaya penyelamatan kembali baru dilakukan pada 1965, setelah dilaporkan oleh pemilik tanahnya.

Jarak antara dua tanggal itu 81 tahun. Latar keagamaan candi adalah Hindu, dan buktinya temuan arca Agastya serta tiga buah yoni. Candi Induk menghadap ke arah barat. Candi Perwara menghadap ke arah timur.

Ragam hiasnya meliputi relief binatang, relief tanaman, dan hiasan kudu. Ragam hias itu serta gaya seni arcanya punya kesamaan dengan candi-candi di Kompleks Candi Prambanan. Dari kemiripan itulah usia candi diperkirakan. Angka usianya tidak tunggal di dalam naskah.

Bagian awal artikel menyebut Morangan sebagai situs peninggalan Hindu abad IX–X Masehi. Bagian hasil menyebut pembangunannya diperkirakan pada abad ke-9 Masehi. Keduanya merujuk sumber yang sama, yaitu Sedyawati dan kawan-kawan. Wajah lama candi masih terdokumentasi lewat foto 1931–1937 dari koleksi KITLV. Statusnya kini Cagar Budaya dan tunduk pada UU No. 11 Tahun 2010.

Lantai di Kedalaman

Angka paling menentukan dalam rancangan ini datang dari 2022. Ekskavasi tahun itu menunjukkan lantai candi berada 4,2 meter di bawah permukaan tanah sekarang. Ukuran diambil dari titik terbawah kaki candi perwara utara, dan sumbernya Balai Pelestarian Cagar Budaya DI Yogyakarta. Arti angka itu sederhana.

Sebagian besar struktur candi masih terkubur. Yang terlihat hari ini bukan seluruh bangunan, melainkan puncak dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Ekskavasi yang sama menemukan pagar dan gapura pagar sisi barat. Jaraknya kurang lebih 15 meter dari dinding terluar sisi barat candi induk, dan kotak ekskavasi itu dibuka lalu tidak ditutup kembali.

Baca juga 53 Mahasiswa Menguji Rute Sepeda Cagar Budaya Yogyakarta

Rancangan Tanpa Pemugaran

Rancangan dimulai dari batas lahan. Batas utara sekitar 30 meter, tepatnya di belakang kantor keamanan dan gudang. Batas timur sekitar 85 meter, batas selatan sekitar 30 meter, dan batas barat sekitar 85 meter. Pintu masuk dan keluar dirancang tunggal agar alur dan jumlah pengunjung mudah dipantau.

Di dekat pintu itu ditempatkan loket tiket, ruang keamanan, ruang edukator, toilet, dan gudang. Papan informasi elektronik berlayar sentuh juga disediakan di area yang sama. Bahasanya tiga, yaitu Jawa, Indonesia, dan Inggris. Pengunjung bisa mencoba augmented reality untuk memainkan olahraga tradisional atau mengamati candi secara digital.

Kotak ekskavasi pagar sisi barat akan dibuka lebih lanjut dengan lebar empat meter. Kedalamannya menyesuaikan hasil 2022, yaitu 4,2 meter, atau sampai bagian terbawahnya. Area untuk pengunjung digali dua meter dari permukaan. Pembatas dipasang antara pengunjung dan pagar sisi barat, sementara dinding di sekelilingnya diberi penyangga demi keselamatan.

Area candi induk dan candi perwara akan diekskavasi sampai menyentuh lantai. Tujuannya memperjelas bentuk kaki candi induk dan candi perwara utara. Penggalian sedalam 4,2 meter hanya dilakukan pada area yang memang sudah terlihat lebih dalam dari tanah sekitarnya. Naskah juga menyebut peluang menemukan runtuhan batu lain dan struktur candi perwara tengah.

Temuan tidak diperlakukan seragam. Sebagian dibiarkan pada posisi saat ditemukan, sebagian lagi diselamatkan. Pilihan itu bergantung pada kebutuhan riset atau keunikan batunya. Sisi barat area tersebut punya fungsi tersendiri, sebab pengunjung dapat melihat lapisan stratigrafi di sana.

Skala warna dan tekstur tanah dipakai untuk membantu memahami lapisan itu. Sisi utara dibuat seperti tangga atau jalan miring untuk turun sampai lantai candi. Sisi timur berbatasan dengan jalan desa dan perlu disangga talud. Tidak semua bagian candi dibuka, dan tidak semua bagian dipugar.

Alasannya disebut jelas dalam naskah. Pengunjung diharapkan memahami transformasi alami situs. Termasuk di dalamnya pengaruh erupsi Merapi yang membuat candi ini terlupakan lalu ditemukan kembali. Rancangan ini juga bertujuan menunjukkan bagaimana metode arkeologi diterapkan, mulai dari ekskavasi, pemugaran, hingga interpretasi.

Baca juga Ganja CBD Efektif Dijadikan Penangkal Kecemasan

Terowongan dan Gazebo

Ada jalan desa beraspal di sisi selatan situs. Dalam rancangan ini jalan tersebut tidak lagi difungsikan untuk masyarakat. Akses dialihkan ke jalan lain setelah koordinasi dengan pihak terkait, terutama warga sekitar. Jalan itu bahkan dapat dihancurkan, tetapi bekas jalannya tidak diekskavasi.

Alasannya ada rencana lain di titik tersebut, dan rencana itu berbentuk terowongan. Terowongan menghubungkan sisi candi dengan lokasi penampungan batu. Fungsinya ganda, sebab terowongan sekaligus membuka candi perwara selatan. Berdasarkan ekskavasi 2022, candi perwara selatan diperkirakan berada di bawah jalan tersebut, dan penyangga memadai disebut sebagai syaratnya.

Di area penampungan, pengunjung melihat beragam batu candi yang telah ditemukan. Hasil susun coba juga ditempatkan di sana. Tersedia tiga hingga lima papan informasi digital beserta perangkat interaktif di dalamnya. Perangkat itu mengajak pengunjung merekonstruksi Candi Morangan dengan tiga tingkat kesulitan, mulai dari mudah, sedang, hingga sulit.

Setelah itu pengunjung dapat duduk di gazebo untuk beristirahat dan membaca. Gazebo dirancang lima buah, masing-masing berukuran 4 x 4 meter dan menghadap ke utara. Di depan tiap gazebo disediakan purwarupa kotak ekskavasi berukuran 2 x 2 meter. Pengunjung mempraktikkan ekskavasi di sana dengan panduan edukator atau staf yang bertugas.

Masyarakat tidak ditempatkan sebagai penonton. Naskah menyebut tiga peran, yaitu perancang kegiatan, pelaksana kegiatan, dan pengawas kegiatan. Peran pelaksana berupa pemandu atau fasilitator, dan diberikan setelah pelatihan. Peran pengawas mencakup pemantauan serta evaluasi kegiatan.

Yang Belum Diuji

Di titik ini rancangan tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Metode yang dipakai hanya observasi, studi literatur, dan analisis data sekunder. Pengamatan tidak langsung dilakukan lewat aplikasi Google Earth dan analisis foto lama Candi Morangan. Tidak ada pengukuran lapangan terhadap pengunjung di dalam naskah.

Naskah menyatakan batasnya sendiri secara terbuka. Arkeologi eksperimental tidak diterapkan secara fisik dalam bentuk rekonstruksi nyata atau simulasi arkeologi di lapangan. Pendekatan itu dipakai sebagai dasar konseptual untuk merancang model wisata edukatif. Konsekuensinya jelas, sebab seluruh manfaat yang disebut masih berstatus harapan.

Baca juga Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda

Belum ada pengunjung yang diuji dan belum ada purwarupa kotak ekskavasi yang dicoba. Yang tersedia baru rancangan di atas kertas dan citra satelit. Klaim manfaatnya bersandar pada literatur, bukan pada pengukuran di Morangan. “Oleh sebab itu, warisan budaya berubah dari sekadar pengetahuan menjadi pengalaman yang hidup,” tulis Pratama Dharma Surya.

Naskah juga mengakui satu jurang yang belum tertutup. Ahli dan pengunjung tidak menginginkan hal yang sama dari sebuah situs. Surya mengutip Mazzola untuk menjelaskan jarak itu. Perbedaan tersebut menggarisbawahi pentingnya memahami kebutuhan dan harapan beragam pihak.

“Para ahli arkeologi cenderung lebih menekankan aspek penemuan, rasa ingin tahu, dan ilmiah, sedangkan pengunjung mencari kombinasi antara hiburan, pendidikan, dan pengalaman langsung,” tulis Pratama Dharma Surya. Kegiatan berbasis arkeologi eksperimental karena itu perlu disesuaikan. Kekhasan situs percandian juga diakui berbeda dari situs prasejarah maupun kolonial. Situs percandian menekankan rekonstruksi arsitektural, dengan eksplorasi makna simbolik yang dimediasi teknologi digital.

Sisa Pertanyaan

Masalah di lapangan tidak menunggu rancangan selesai. Naskah menyebut kerusakan fisik akibat banjir dan lalu lintas kendaraan berat. Pelibatan masyarakat dalam strategi pelestarian dinilai masih minim. Padahal aspirasi lokal sudah ada lebih dulu.

Warga menginginkan pengelolaan candi segera dilakukan untuk mendukung perekonomian. Rancangan ini menempatkan pengelolaan parkir dan UMKM sebagai jalur ekonomi tersebut. Surya menyebut evaluasi berkala sebagai syarat lain. Ukurannya bisa berupa tingkat partisipasi masyarakat atau peningkatan kesadaran publik terhadap situs.

Keberhasilan pendekatan ini bergantung pada keberlanjutan program dan dukungan berbagai pihak. Institusi pendidikan di sekitar candi disebut sebagai mitra yang diperlukan. Tujuannya menghidupkan situs sebagai ruang belajar dan ruang interaksi lintas generasi. Rancangan itu sendiri disebut terbuka untuk dikembangkan sesuai temuan yang mungkin terungkap seiring waktu.

Yang belum dijawab naskah ini sederhana: apakah rancangan setebal itu sanggup berdiri di luar kertas.

Baca Juga

Dinding batu alam memanjang berukir relief naratif yang menggambarkan aktivitas keseharian masyarakat Bali kuno
Relief Yeh Pulu: Difoto Banyak, Dibaca Sedikit
Ilustrasi kubur bilik batu megalitik berlumut dengan sisa pigmen merah samar di padang rumput dataran tinggi
Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah
Ilustrasi detail relief batu candi memperlihatkan sosok bermahkota berkepala banyak
Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran
Ilustrasi undakan batu andesit menembus padang rumput di punggungan gunung berkabut
Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi
Ilustrasi dermaga batu menjorok ke laut dangkal dengan perahu nelayan di kejauhan
Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga
Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat