Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda

Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api

Ilustrasi bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik berlatar hutan dan kerucut gunung api, menggambarkan temuan permukaan yang dilaporkan dari Situs Mamuya di Halmahera Utara. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Selama hampir satu abad, bongkahan batu besar yang berserak di lereng-lereng Nusantara dibaca sebagai kabar dari zaman yang amat jauh, sesuatu yang berlangsung jauh sebelum aksara dikenal dan jauh sebelum kapal-kapal rempah menyusuri laut dalam. Megalitik, dalam pengertian lama itu, hampir selalu berarti purba. Anggapan tersebut kini digoyang oleh dua sampel arang dari sebuah kebun cengkeh di Halmahera lewat artikel Situs Mamuya di Maluku Utara dalam Konteks Budaya Megalitik Asia Tenggara, yang ditulis Marlyn J. Salhuteru, Lucas Wattimena, dan Karyamantha Surbakti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN bersama Irfan Ahmad dari Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Khairun, Godlief Arsthen Peseletehaha dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Utara, serta Muhammad Nur dari Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin.

Artikel itu terbit di jurnal Kapata Arkeologi Vol. 18 (2025) pada halaman 29–40, tahun terbit 2025, sebagai laporan penelitian Balai Arkeologi Maluku yang dikerjakan dalam dua musim lapangan, yaitu 2018 dan 2019. Musim pertama berupa studi pustaka dan survei permukaan sistematis di Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara; musim kedua memusatkan perhatian pada data vertikal lewat ekskavasi satu kotak seluas satu meter persegi yang digali dengan teknik spit setebal 10 sentimeter sampai kedalaman 136 sentimeter, ditambah wawancara dengan tokoh adat berusia di atas 55 tahun dan pertanggalan karbon 14 di Laboratorium Waikato, Selandia Baru.

Lokasi yang mereka pilih bukan lapangan upacara yang megah. Situs Mamuya berada di sisi barat laut Gunung Mamuya, sekitar 550 meter dari garis pantai dan hanya sekitar 50 meter dari permukiman penduduk, pada bentang lahan lereng bukit yang hari ini menjadi kebun cengkeh, pala, kelapa, dan kenari milik warga. Di permukaan tanah tercatat 58 bongkahan batu dengan rincian 49 batu berlubang, 5 batu berlubang sekaligus bergores, dan 4 batu berjejak perataan, ditambah 274 fragmen tembikar polos, 23 kerang Tridacna sp. yang enam di antaranya utuh, serta pecahan keramik asing.

Geldern 1945, Wales 1958, dan Gelombang yang Diandaikan

Untuk mengerti mengapa angka dari Mamuya terasa mengganggu, tulisan itu mengajak pembaca menengok dulu ke pertengahan abad ke-20, ketika pertanyaan besar tentang megalitik Asia Tenggara adalah pertanyaan tentang asal-usul. R. von Heine Geldern pada 1945 menyatakan bahwa kebudayaan megalitik masuk ke Indonesia dan Asia Tenggara dalam dua tahapan, antara 2.500–1.500 Sebelum Masehi sampai sekitar abad ke-3 Sebelum Masehi. Tiga belas tahun kemudian, Wales mengajukan hipotesis lain: kebudayaan itu berasal dari India Timur Laut di Assam, lalu menyebar ke Asia Tenggara mengikuti jalur persebaran manusia dan barang.

Keduanya lahir pada masa ketika laboratorium pertanggalan absolut belum menjadi bagian rutin kerja arkeologi di kawasan ini, dan penilaian tim peneliti BRIN terhadap warisan pemikiran itu tegas. “Kedua hipotesis tersebut tidak didukung oleh data pertanggalan absolut pada saat itu dan kurang kontekstual untuk digunakan sekarang,” tulis Marlyn J. Salhuteru dan tim penelitinya di bagian diskusi artikel tersebut. Sebagai gantinya mereka bersandar pada tinjauan regional Hasanuddin (2015), yang merangkum budaya megalitik Asia Tenggara sebagai sesuatu yang berhubungan dengan pemujaan, penguburan, lambang status, pertanian, dan bukti permukiman manusia, serta menyatakan bahwa kebudayaan megalitik di kawasan ini mempunyai persamaan dari segi jenis, bentuk, dan fungsi.

Baca juga Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku

Abad ke-15 di Lereng Gunung Mamuya

Baru pada 2019, ketika kotak galian dibuka, pertanyaan umur itu bisa dijawab dengan angka. Susunan lapisan tanah di keempat dinding kotak terendapkan berurutan tanpa indikasi terganggu: lapisan pertama berupa humus gembur cokelat kehitaman setebal 8–21 sentimeter, lapisan kedua berupa lempung kompak cokelat kemerahan setebal 37–69 sentimeter, lapisan ketiga lempung cokelat kekuningan setebal 3–52 sentimeter, dan lapisan keempat berupa debu vulkanik gembur berwarna hitam keabu-abuan setebal 1 sampai 11 sentimeter yang menerobos di bagian tengah lapisan ketiga.

Lapisan kedua itulah yang dinyatakan sebagai lapisan budaya, karena sebagian besar fragmen tembikar dari dalam kotak berasal dari sana. Dua sampel arang diambil dari lapisan yang sama, satu dari spit 5 dengan nomor laboratorium 537958 dan satu dari spit 6 dengan nomor 537959, lalu dikirim ke Laboratorium Waikato. Keduanya menghasilkan umur yang persis sama, 380 ±30 BP, sehingga hunian Situs Mamuya ditempatkan pada rentang 1463–1629 Masehi dengan akurasi 95,4 persen, yakni sesudah letusan besar Gunung Api Dukono yang menyisakan lapisan abu tadi.

Isi kotak galian memperkuat gambaran hunian sehari-hari, bukan panggung ritual. Dari spit demi spit keluar pecahan tembikar polos, arang, satu pecahan porselin, satu pecahan stoneware, fragmen logam, bahkan satu selongsong peluru dari spit teratas. Rekonstruksi bentuk dari fragmen tepian dan dasar menghasilkan 70 persen wadah terbuka dan 30 persen wadah tertutup, dibuat dengan empat teknik: roda putar, pijit, gabungan roda putar dan pijit, serta tatap landas. Di antara pecahan tembikar itu dikenali forno sagu, cetakan untuk mengolah sagu. Pada kedalaman 63 sentimeter tercatat konsentrasi pecahan tembikar dan arang di sisi selatan dan barat kotak, sementara lantai galian makin ke bawah makin tertutup bongkahan batu besar sampai penggalian tidak bisa diteruskan.

Perbandingan ke Soppeng dan Maros dalam Kajian Hasanuddin

Persoalan berikutnya adalah fungsi, dan di sinilah rantai riset itu terasa paling nyata. Batu berlubang merupakan temuan permukaan yang dominan di Mamuya, tetapi ukurannya sama sekali tidak seragam: ada lubang yang hanya sedalam 0,5 sentimeter dan ada yang mencapai 10 sentimeter, ada yang berdiameter 4 sentimeter dan ada yang sampai 46 sentimeter, dengan jarak antarlubang yang tidak berpola. Para peneliti menyebut keteraturan yang terlihat justru berupa ketidakteraturan, atau amorphic, sebuah petunjuk bahwa lubang-lubang itu tumbuh dari pemakaian, bukan dari rancangan.

Wawancara tidak menolong. Sejumlah informan yang dimintai keterangan juga tidak mengetahui fungsi batu-batu berlubang tersebut, dan tidak ada hasil penelitian tentang batu berlubang tak terpola di situs lain se-Maluku Utara yang bisa dijadikan pembanding. Karena itu tim menarik perbandingan ke Sulawesi Selatan, tempat kasusnya sudah lebih dulu terbukti: di permukiman tua Mallawa, Maros, batu berlubang tak berpola dipakai menumbuk biji-bijian seperti kemiri, sedangkan lubang yang berpola di Soppeng, menurut kajian Hasanuddin (2015), berkaitan dengan alat permainan atau perhitungan waktu bertautan astrologi.

Baca juga Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi

Goresan pada batu menempuh jalur penalaran yang sama. Bentuknya hanya berupa garis horizontal, vertikal, dan diagonal, seluruhnya berjumlah 79 goresan, dengan irisan berbentuk V maupun U dan permukaan yang menunjukkan bekas benda logam keras seperti besi. Karena tidak ada penjelasan etnografis maupun tradisi tutur di Halmahera yang berkaitan, pembandingnya diambil dari Situs Tinco, Lawo, dan Umpungeng di Soppeng, tempat studi Balai Arkeologi Makassar yang dilaporkan Duli dan Nur (2016) serta Hasanuddin dan kawan-kawan (2016) membuktikan goresan semacam itu sebagai jejak pengasahan tombak besi dan taji besi.

Dari seluruh rangkaian itu, kesimpulan yang diambil sengaja ditahan pada tingkat yang paling hati-hati. “Jika dihubungkan dengan temuan lain seperti fragmen porselin, tembikar, kerang Tridacna sp., tampaknya asumsi yang paling aman adalah situs ini berhubungan dengan aktivitas hunian komunitas pekebun,” tulis para peneliti. Keterangan pemilik lahan menyokong pembacaan itu: lokasi Situs Mamuya sejak dulu adalah kebun yang diwariskan turun-temurun, sehingga megalitik di sana lebih dekat pada dapur dan ladang ketimbang pada altar. Batu berlubang dan batu bergores itu sendiri berukuran besar sehingga sulit dipindahkan, sebagian tertanam di dalam tanah dengan sisi berlubang atau bergores selalu menghadap ke atas, dan karena itu diasumsikan sebagian besar masih berada pada posisi aslinya.

Batas temuan ini perlu dinyatakan terang. Seluruh data vertikal berasal dari satu kotak seluas satu meter persegi di satu situs, sehingga rentang 1463–1629 Masehi berlaku untuk lapisan budaya di titik itu, bukan untuk Halmahera secara keseluruhan. Fungsi batu berlubang dan batu bergores tidak dibuktikan di Mamuya sendiri melainkan dipinjam lewat analogi dari Sulawesi Selatan, sementara angka rinci di dalam artikel belum sepenuhnya rapat: jumlah bongkahan bergores disebut lima pada rincian survei tetapi tujuh pada uraian analisis, dan hitungan tembikar per spit tidak sama dengan angka pada tabel temuan ekskavasi.

Baca juga Prasasti 907 Masehi Menyebut Wayang, Kabar Tertua Pertunjukan Jawa

Setelah Abad ke-10: Mamuya dalam Rantai Asia Tenggara

Nilai angka Mamuya baru terbaca ketika disandingkan dengan pertanggalan yang sudah lebih dulu ada. Sampai penelitian ini dilakukan, tercatat sedikitnya 30 situs megalitik di Asia Tenggara yang telah dianalisis dengan pertanggalan absolut, dan Indonesia menyumbang jumlah terbanyak. Yang tertua di Indonesia adalah Situs Entovera di Lembah Besoa, Sulawesi Tengah, berumur 2.890 ±120 BP atau 1.387–831 Sebelum Masehi menurut Yuniawati (2006). Di Sumatera, 12 situs telah dipertanggalkan dengan yang tertua 1.660 ±160 BP dari Tebat Gunung, Sumatera Selatan, sebagaimana dilaporkan Prasetyo (2008).

Di Jawa, enam situs telah dipertanggalkan dengan umur tertua 1.280 ±170 BP dari Situs Pasir Angin, Jawa Barat (Prasetyo, 2006). Di luar Indonesia, kajian berjalan lebih lambat: baru delapan situs megalitik yang dipertanggalkan secara absolut, terdiri atas satu situs di Kamboja, satu di Thailand, dan enam di Malaysia, sementara Laos, Filipina, Vietnam, Timor Leste, Brunei Darussalam, dan Singapura belum menyumbang satu pun angka absolut. Yang tertua di kawasan ini adalah Ruma Ma’on Dakah di Sarawak, 3.770 ±40 BP atau 2.310–2.030 Sebelum Masehi menurut Lloyd-Smith (2012).

Dibandingkan deretan itu, 1463–1629 Masehi memang sangat muda — tetapi bukan tanpa teman. Prasetyo (2006) mencatat Situs Hiligeo di Nias berumur 260 ±120 BP dan Tundrumbaho 340 ±120 BP, sedangkan di Sarawak terdapat situs megalitik berumur 501 ±22 BP, yang dalam tabel perbandingan artikel ini disetarakan dengan rentang 1.408–1441 Masehi dan bersumber pada laporan Barker dan kawan-kawan (2009). Untuk kawasan Indonesia bagian timur, sebelum Mamuya hanya dikenal dua situs megalitik bertanggal setelah abad ke-10 Masehi, yaitu Tinco di Sulawesi Selatan yang berumur 760–320 BP atau sekitar abad ke-14 dan Situs Tatelu yang berumur 850 ±80 BP.

Sebelum penelitian ini, belum satu pun situs megalitik di Pulau Halmahera pernah diuji dengan pertanggalan absolut. Karena itu Mamuya masuk ke dalam rantai bukan sebagai kejutan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai mata rantai yang menutup satu celah dan sekaligus menguatkan bacaan bahwa tradisi megalitik Asia Tenggara terus berkembang setelah abad ke-10, terdorong oleh majunya teknologi logam dan teknik navigasi. Celah berikutnya sudah kelihatan: satu kotak galian di satu lereng kebun jelas belum cukup untuk menceritakan seluruh Halmahera, apalagi seluruh Maluku Utara. Para peneliti sendiri mengingatkan bahwa kepercayaan bercorak megalitik sampai hari ini masih dianut banyak masyarakat di Indonesia dan Malaysia, dari Toraja, Nias, Sumba, dan Sumbawa hingga Sarawak, sehingga garis antara yang purba dan yang masih hidup tidak pernah benar-benar tegas.

Baca Juga

Ilustrasi kubur bilik batu megalitik berlumut dengan sisa pigmen merah samar di padang rumput dataran tinggi
Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah
Ilustrasi pahatan aksara kuno pada permukaan batu.
Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Ilustrasi umbi-umbian pangan lokal di meja laboratorium berlatar danau dan perbukitan
Enam Umbi Papua Dibaca di Bawah Mikroskop untuk Kamus Butir Pati
Ilustrasi deretan tabung sampel sedimen dan mikroskop di meja laboratorium
Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024
Ilustrasi kapak batu prasejarah di tanah berdaun kering dengan latar lembah berkabut
444 Alat Batu Lembah Walennae dan Satu Bahan Baku yang Melimpah
Ilustrasi pahatan relief batu candi memperlihatkan pemanah menarik busur
Busur di Relief Candi Menyusut Delapan Abad, dari Vansa ke Saranga